Saturday, February 25, 2017

Perjuangan Menyelesaikan Tesis

Alhamdulillah, akhirnya mood untuk cerita di blog, datang lagi... ☺

Saya ingin berbagi kisah tentang usaha saya menyelesaikan tesis, yang penuh dengan keringat dan air mata... Hahaha....

Siapa tau, jikalau ada sahabat blogger yang sedang menyelesaikan tesis juga, bisa tetap semangat setelah membaca kisah saya... ☺

Lumayan memakan waktu. Tapi tak masalah. Kakak kelas saya banyak yang akhirnya tak selesai dan akhirnya harus menandatangani surat pengunduran diri karena kalau tidakpun mereka tetap akan di drop out dari kampus. Saya salah satu yang ditakdirkan ganti topik tesis 2 kali, ganti tempat penelitian 1 kali dan 1 kali tragedi  yang membuat gaduh antar dosen dan pengelola di program studi yang saya ambil. Para dosen menyebutnya dengan "kasus Lyliana"... Kalau ingat kasus itu, duh Gusti....




Awalnya...
Salah seorang teman sekelas adalah direktur RSAB Harapan Kita. Beliau memiliki beberapa topik yang memang dibutuhkan untuk diteliti di rumah sakit yang beliau pimpin. Saya dan beberapa teman saya mengajukan diri untuk meneliti di rumah sakit beliau. Dari sekian topik yang perlu diteliti, salah satunya adalah manajemen gizi. Saya memilih topik ini, karena ada seorang saudara saya yang memang ahli gizi, sehingga harapan saya dapat meminta untuk dibimbing selain pembimbing dari kampus.

Saya maju untuk presentasi ide topik penelitian (suatu hari di bulan Februari 2015). FYI, dalam presentasi topik penelitian ini, dilakukan di dua tempat, semua mahasiswa Jakarta presentasi di kampus Jakarta, ada beberapa prof hadir di Jakarta, sedangkan ada juga beberapa dosen dan prof yang memantau dan berkomentar kepada kami dengan cara webinar dari Jogja. Setelah saya memaparkan ide saya, pada sesi tanya jawab salah seorang dosen dari Jogja yang juga ahli gizi meragukan kemampuan saya.

"Kamu ini kan dokter gigi, gizi itu rumit, kalau nggak punya basic gizi, kamu akan kesulitan."

Saya diminta ganti topik oleh beliau.

Deg! Saya tersinggung. Bukankah beliau tau betapa susahnya cari ide penelitian? Saya merasa dilecehkan secara keilmuan, hahaha.... Dalam batin saya mencatat nama dosen ini, karena saya ingin mencari tau kenapa beliau seperti itu. Sebut saja namanya Bu UH. Ada kesan galak di diri beliau. Kami belum pernah bertemu, dikarenakan beliau tidak pernah mengajar mahasiswa di Jakarta.

Saya pikir, apapun itu bisa dipelajari. Terlebih lagi, teman sekelas saya yang direktur pun percaya saya bisa mengerjakannya. Tapi saya harus menerima masukan tersebut, dan harus mengganti topik penelitian saya.

Akhirnya saya niatkan berkunjung ke Jogja menemui Bu UH demi memperjelas maksud dan untuk mendiskusikan metode penelitian lain yang sudah saya siapkan untuk menjadi topik penelitian. Saya dengan seorang teman saya yang sama-sama diminta mengganti topik pun berangkat ke Jogja, saya pernah menceritakannya disini. Syukurlah, bu UH ini bersedia ditemui oleh kami berdua, walaupun beliau belum resmi menjadi pembimbing tesis kami.

Kami menunggu beliau di ruang tamu MMR, dan beliau mendatangi kami. Seketika runtuh prejudis saya yang menyangkanya galak dan suka melecehkan. Hahaha... Justru, beliau begitu karena beliau sangat ingin memudahkan mahasiswa! Saya pun baru paham di kunjungan saya berikutnya, ternyata kantor Bu UH itu bukan di MMR, tapi di bagian ilmu gizi. Dan itu gedungnya beda, lumayan jauh jalannya. Saat kami kesana untuk diskusi topik, beliau yang mendatangi kami di MMR! Tidak menyuruh kami datang ke gizi.

Masya Allah. Orangnya mungil, berjilbab dan suka tersenyum.

Bahkan sore itu juga, kami berdua dicarikan topik oleh beliau. Sambil sesekali terlihat memijit-mijit kepala tanda berpikir keras. Beliau bersedia pusing demi kami. Biasanya dosen kebanyakan akan tinggal lempar tugas saja, "sudah cari topik baru sana!"

Bu UH mencarikan buat kami. Kami hanya tinggal mempelajarinya saja. Dan 3D 2N di Jogja, kami pulang ke Jakarta dengan membawa topik baru.

Benarlah pepatah, tak kenal maka tak sayang... Hahaha...

Ternyata, saya bisa saja tetap meneliti di bagian gizi, hanya saja diganti fokus penelitiannya supaya tidak mendalami kebutuhan gizi pasien, jadi hanya menyoroti manajemen mutu dari bagian gizi. Hal ini lebih mudah.

Akhirnya, saya pun berkunjung ke RSAB Harkit untuk mengambil data awal. Dan apa yang saya temukan? Ternyata mutu di RSAB Harkit sudah sempurna, sahabat! Sore itu, saya pulang ke rumah sambil menangis. Saya coba telpon bu UH, mengabarkan bahwa indikator mutu di RSAB Harkit sudah melampaui harapan.

Beliau menjawab dengan nada menyesal, "Aduh kamu nggak bisa terusin disitu. Apa lagi yang harus diteliti? Kira-kira bisa nggak cari tempat lain?"

Saya mengiyakan. Saya meyakinkan diri saya, bahwa rencana Allah pasti sempurna. Allah pasti akan menggantikannya dengan tempat penelitian yang lebih baik..

Dan benar demikian adanya...

Allah menggantikan dengan sebuah rumah sakit, yang memang membutuhkan apa yang akan saya lakukan. Keuntungan untuk mereka pihak rumah sakit. Keuntungan untuk saya? Lebih dekat dengan birokrasi yang lebih mudah ditembus. Karena memang rumah sakit milik TNI AL, dan saya bolak balik kesana tidak membutuhkan waktu lama.

Rencana Allah memang sempurna. ☺

Tak lama setelah mengumpulkan data awal, saya dan teman-teman MMR ujian pra proposal di Jogja. Dan proposal saya (sayangnya Bu UH tak hadir saat saya presentasi), sekali lagi "dimentahkan" oleh dosen penguji. Sudah terlalu banyak yang meneliti itu, begitu alasan mereka. Dan nggak cocok untuk S2, topik ini terlalu mudah. Padahal lokasi penelitiannya bagus, rumah sakit tentara, mereka pun ingin mengetahui seperti apa dalamnya.

Saya tersenyum.☺

Kalau mau naik kelas memang harus tebal muka. Kalau tak dosa seharusnya saya nggak malu. Dan ikhlas saja. Sekali lagi, rencana Allah pasti sempurna.

Ternyata metode penelitian saya harus ditambah lagi, jadi lebih rumit, sehingga cocok untuk S2. Setelah ujian pra proposal, saya dan teman-teman resmi mendapatkan dosen pembimbing. Pembimbing 1 saya seorang dokter bertitel PhD yang juga dosen di UNS, berinisial AP. Dan Pembimbing 2 saya adalah Bu UH! Yeay! Saya senang sekali...

Namun, tetap saja, masukan semua dosen penguji harus benar-benar dituntaskan. Berminggu-minggu saya tidur pun memimpikan aneka metode yang saya baca di banyak jurnal. Pilih yang mana? Ini kombinasi dengan ini dan itu, jadi bagaimana?

Akhirnya di bulan Agustus 2015 saya siap ujian proposal. Kaget juga karena ternyata saya termasuk yang lebih awal maju, dibanding ke-44 teman sekelas saya. Proposal saya mengenai pengembangan desain mutu di unit rawat inap disetujui, alhamdulillah... Ide bagus dan sangat bermanfaat, begitu komentar dosen penguji. Alhamdulillah...

Setelah ujian proposal inilah tragedi itu terjadi...

Never ending editing. Source.

Saya dan teman-teman dijadwalkan ujian proposal di tanggal 22 dan 29 Agustus 2015. Saya dapat jadwal di tanggal 22 Agustus 2015 pagi. Untuk ujian, sudah pasti semua dosen pembimbing harus hadir. Sebelum hari H saya sudah menyiapkan segala syarat ujian, dan inisiatif saya menghubungi Bu UH (tugas pengelola prodi untuk menghubungi dosen pembimbing dan menjadwalkan ujian mahasiswa). Ternyata Bu UH berhalangan hadir untuk tanggal 22 Agustus 2015.

Pengelola di kampus Jakarta juga mengkonfirmasi, bahwa ujian Lyliana ditunda, sampai tanggal 29 Agustus 2015. Pada tanggal 22 Agustus tersebut saya tetap hadir di kampus, memberi dukungan kepada teman-teman yang presentasi, mencatat apa saja pertanyaannya, dan sebagainya. Lalu kemudian di jam yang seharusnya giliran saya (tadinya), yang sayapun sudah yakin nama saya akan dilewati, tiba-tiba nama saya dipanggil oleh KDP (Ketua Dewan Penguji).

Saya maju dan menjelaskan bahwa Pembimbing 2 saya, Bu UH berhalangan hadir sehingga diundur ke tanggal 29 Agustus.

KDP mengatakan, "Loh bagaimana sih?! Saya sudah jauh-jauh datang dari Jogja. Untuk menghemat waktu, sudah maju saja!"

Saya: "Tapi, dok... Bagaimana dengan bu UH?"

KDP: "Bu UH biar nanti saya yang ngomong."

Teman-teman sekelas menyemangati, "ayo maju, Ly!"

Namun, dosen pembimbing lain terdiam, karena hal ini jelas melanggar etika. Termasuk pembimbing 1 saya (yang hadir untuk menguji teman saya) pun terdiam tak berkomentar. Tapi, yang memberi perintah adalah KDP! Maka, mau tak mau saya maju presentasi.

Hari itu saya pulang dengan hati lega. Karena satu ujian sudah terlewati.

Tapi...

Ternyata berbuntut panjang. Saat beberapa hari setelahnya saya menelpon bu UH untuk meminta bimbingan, beliau kaget!

"Apa?! Kamu udah maju proposal?! Kan saya bilang kemarin nggak bisa??"

Saya menjelaskan singkat tentang perintah KDP (Dr. M).

"Jadi begitu?! Dr. M nggak bilang apa-apa tuh ke saya??"

Suara Bu UH sedikit tergetar. Saya menangkap kekecewaan disana. Tapi jelas kejujuran saya ada buktinya. Ada rekaman dan berita acara. Saya sudah menolak karena bu UH tak hadir.

Tak lama setelah saya telpon, Bu UH mengirimkan saya email yang berisi masukan untuk draft tesis saya, beserta pesan beliau bahwa beliau kemungkinan tidak bisa menjadi pembimbing saya lagi.

Email dari Bu UH


Hati saya hancur. Berasa diputusin pacar... #duh

"Kamu nggak salah! Kalau disuruh ujian ulang lagi, jangan mau! Kamu udah ujian. Tapi sepertinya saya tidak bisa membimbing lagi." Bu UH menambahkan via telpon.

Akhirnya antara bu UH, Dr. M, dan Dr. A (kepala pengelola MMR), terjadi kegaduhan. Mereka menggelar rapat darurat. Apakah saya sah sudah ikut ujian? Apa harus ujian ulang?

Saya pun bersitegang dengan Dr. A, karena kasus ini jelas adalah kesalahan pengelola.

Saya: "Saya akan melakukan apapun untuk lulus dok!"

Dr. A: "Dan kami pun akan melakukan apapun supaya mahasiswa lulus!"

(Percakapan di atas terjadi dengan nada tinggi karena marah ~ kalau dipikir sekarang berani banget saya marah pada seorang dosen #duh).

Dr. AP (pembimbing 1 saya), pun hanya bisa menenangkan dan berharap pihak MMR dapat menyelesaikan dengan baik.

Di saat seperti ini, tak ada manusia yang bisa saya mintai pertolongan. Saat inilah saya mengikuti kelas Pola Pertolongan Allah (PPA), dan saya mendapat pencerahan disana. Maka kepada Allah lah diri ini mengadu. Kira-kira seminggu saya kerjakan semua ibadah sunah, memperbaiki yang wajib, dan menata hati serta banyak bertaubat.

Tiba-tiba, di hari Jum'at (3 minggu setelah kejadian), Dr. A menghubungi saya bahwa, saya tidak harus ujian lagi dan Bu UH tetap jadi pembimbing saya. Lega...


Di taman kampus

Setelah kejadian tersebut, saya mengurus dokumen untuk ijin mengambil data, uji validitas instrumen penelitian, dan lain-lain. Masa-masa tenang.

Sekitar awal tahun 2016 saya baru mengambil data. Keringat dan air mata kembali berhamburan.

Mulai dari ditolak pasien yang tidak ingin saya wawancara, perlakuan responden dari pihak rumah sakit yang tidak bersahabat, diomongin di belakang saya bahwa souvenir yang saya kasih nggak layak (iyaaaa saya pengennya kasih mobil buat semua responden, tapi apa daya duit tak adaaa....). Lagipula toh ini untuk kepentingan rumah sakit juga.

Lelah... Setelah sekitar 200++ responden, akhirnya saya bisa input data. Menulis hasil, pembahasan dan kesimpulan. Lalu kejar mengejar dosen untuk bimbingan pun dilakukan...

Ke kampus Jogja...
Ke bandara...
Ke hotel...
Ke lapangan olah raga...
Menyelinap ke ruang rapat...
Ke restoran...
Bolak balik Jogja Jakarta...
Pagi... Siang... Sore... Malam...

Pokoknya, kalau dosen P1 dan P2 sudah menyatakan ada waktu jam sekian di suatu tempat, maka itu adalah peluang yang tak boleh disia-siakan.

Jaman saya S1 dulu, perjuangannya tak sampai seperti ini. Menemui dosen cukup di ruangannya, di kampus. Eh, sekali saya ke rumah dosen malam-malam... Wew... Segala puji bagi Allah untuk pengalaman ini...

Akhirnya setelah jatuh bangun menyelesaikan tulisan, saya dijadwalkan ujian hasil tanggal 19 Agustus 2016. Dan ujian tesis (sidang akhir atau istilahnya pendadaran) tanggal 23 September 2016.

Untuk ujian hasil, saya terbang PP satu hari, nggak nginep di Jogja. Dan ternyata ini pilihan buruk, sahabat. Saya nervous, lelah, dan bingung. Maka setelah ujian hasil saya terhenyak karena begitu banyak kesalahan dan hal yang tidak dapat saya jelaskan.

Setelah perbaikan, untuk ujian akhir tanggal 23 September, saya lebih mempersiapkan diri. Datang 2 hari sebelum hari H. Tapi ternyata....

Saya jatuh sakit...

Insomnia...
Diare...
Gastritis...
Migrain...
Vertigo...
Demam...

Penyakit apa ini??? Kenapa datang sebelum ujian akhir?!?!

Hahaha.... Ternyata begitulah...

Untungnya di Jogja saya ditemani tante saya. Waktu saya kebanyakan dihabiskan di hotel, dipijat oleh tante saya. Pijat kepala, punggung, kaki... Hahaha....

Bahkan Bu UH begitu baiknya kepada saya. Beliau mempersilakan saya untuk mendiskusikan power point sehari sebelum ujian, apakah sudah bagus atau belum. "Udah tenang aja..." Begitu ujarnya. She's an angel, really...

Di hari H... Saya kerahkan usaha terakhir saya...

Ada sedikit tips dari teman yang sudah spesialis, "elo kalo mau tenang ngadepin ujian, sebelum presentasi lo tilawah aja.. Surat apa aja, ayat apa aja..."

Saya hadir setengah jam sebelum ujian. Setelah menyambungkan laptop dengan LCD proyektor, sisa waktu yang tersisa saya gunakan sebaik-baiknya. Semua buku saya tutup, dan saya buka app Qur'an di hp. Karena ada waktu setengah jam, maka saya pilih QS. Yasin, yang biasanya berdurasi setengah jam kalau saya baca dengan artinya. Selesai saya membacanya, 4 orang dosen penguji mulai memasuki ruangan. Dan terakhir saya membaca do'a Nabi Musa saat menghadapi Firaun, dengan penuh kepasrahan...


Saya lebih tenang, alhamdulillah. Ada perbedaan ekspresi para dosen penguji dengan saat ujian hasil sebulan sebelumnya. Kalau saat ujian hasil wajah mereka berkerut, maka pada saat ujian akhir, mereka mengangguk-angguk sambil sesekali mencatat. Saat tanya jawab pun berjalan lancar.

Setelah selesai, saya diminta meninggalkan ruangan. Dewan penguji mendiskusikan tentang saya di ruang tertutup, apakah saya lulus atas tidak. Saya pikir diskusi ini akan berjalan lama, saya ingat saat saya dulu pernah bertemu kakak kelas, seorang dokter senior, yang keluar ruang ujian dengan mata berkaca-kaca. Beliau menunggu di koridor kampus, seperti yang saya lakukan saat itu. Beliau meremas-remas jari tanda gelisah. Walaupun, ketika kakak kelas dipanggil masuk kembali, beliau disalami tanda kelulusan, namun ekspresi kegelisahan saat menunggu hasil itu tak pernah saya lupa.

Saat duduk di koridor itu, saya tak merasakan gelisah. Ternyata yang saya rasakan adalah kepasrahan. Saya sudah berusaha seoptimal mungkin, sekarang terserah Allah, begitu batin saya.

Ternyata tak sampai 5 menit, saya sudah kembali dipanggil masuk. Dengan gugup saya berdiri di depan menunggu pengumuman.

Ketua Dewan Penguji bertanya, "Lyliana, apakah tadi merasa bisa melalui ujiannya?"

Dengan wajah pasrah saya menjawab, "Saya nggak tau, dok..."

Dan keempat dewan penguji menertawakan saya. Sepertinya itu bukan jawaban yang umum. Hahahaaa...

Akhirnya...

KDP: "Selamat, Lyliana. Anda dinyatakan lulus, dengan nilai A."

Dan saat itu, perasaan saya seperti Frodo di bawah ini....

Finally done. Source.

Segala puji bagi Allah.. Tak lupa sujud syukur di mushola kampus setelah saya menyalami semua dewan penguji dan berterima kasih kepada kedua dosen pembimbing saya.

Jika tidak berganti topik... Jika tidak berganti tempat penelitian... Jika tidak ada kasus... Mungkin semangat survival di dalam diri saya tak akan hidup. Maha Besar Allah yang rencanaNya selalu sempurna.

Selesai ujian, saya pulangkan draft tesis dan buku-buku ke hotel. Saya masukkan ke dalam kardus untuk dipacking pulang Jakarta. Done! Lalu saya dan tante saya piknik ke (depan foto) menara Pisa Italy. Hahahaa.....

De Mata Trick Eye Museum

Kisah yang saya ceritakan di atas tentu saja bukan hanya saya yang mengalaminya. Saya mewakilkan seluruh teman-teman saya sesama mahasiswa Jakarta dengan dosen yang bedomisili di Yogyakarta. Tambahkan kesibukan yang super tinggi dari masing-masing dosen dan mahasiswa yang rata-rata dokter senior itu. Luar biasa perjuangan mereka.

Bagi teman-teman saya mahasiswa MMR UGM Jakarta, jika harus mengejar dosen sampai ke ujung dunia pun akan dilakukan. Dan cobaan saya juga tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cobaan yang harus dilalui teman-teman saya. Banyak dari teman saya yang harus menanggung sakit kepala karena keinginan Pembimbing 1 dan 2 berbeda, tak searah.

Beruntungnya saya, Bu UH dan Dr. AP adalah dua sahabat baik. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur padaNya, memiliki dosen pembimbing yang sahabatan. Anak kami pun seumuran. Anak saya, anak Bu UH, anak Dr. AP. Mudah sekali berkomunikasi dengan beliau berdua. Segala puji bagi Allah atas segala nikmatNya.

Maka.... Saya tak habis pikir jika ada mahasiswa yang tidak sopan terhadap Bu UH dan Dr. AP yang super duper baiknya. Saya capture curhatan Bu UH di laman FBnya tempo hari.



Saya kalau ketemu mahasiswa x tersebut, pengen nyolot. Hahaha... Nggak tau kau bagaimana perjuangan mahasiswa Jakarta untuk menyelesaikan tesis. Bahkan selevel direktur RS saja juga sama mengejar dosen dan menunda agenda apapun. Luar biasa, jika ada mahasiswa yang sudahlah tinggal satu kota dengan dosen, punya dosen baik, tapi tidak dapat bersyukur untuk itu. Fuih!

Akhir kata, saya menulis ini untuk menunjukkan betapa lemahnya saya sebagai manusia, betapa bodoh dan tidak tau apa-apanya diri ini. Tanpa selalu mengingat dan memohon bantuanNya, diri ini tak berdaya. Bahkan saya pun tidak tau setelah lulus ini mau apa? Mau kemana? Mau menjadi apa? Saya sama sekali buta. Maka kini saya bertanya kepada Allah, saya harus berbuat apa sekarang. Ya Allah, tuntun saya ke jalan yang Engkau ridhoi. Allah adalah sebaik-baiknya penolong.

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu siarkan."
(QS. Ad Dhuha: 11)

6 comments:

  1. Jeng Thia, selamat ya....perjuangan yg tak sia-sia bahkan berbuah manis. Selamat mengamalkan ilmu ya Jeng. Setelah rehat sejenak mau lanjut ke jenjang S3, hayuuk salam tuk Vania.

    ReplyDelete
  2. Selamat yach Mbak Lyliana. Perjuanganmu membuahkan hasil. Dan sukses terus yach.

    ReplyDelete
  3. Behhhh Perjuangan banget yah mba,,,, untung saya gak jadi ambil S2 hihihi jadi gak tahu nikmatnya kerjain Tesis #Loch

    ReplyDelete
  4. Tante Thia hebaaat !!!
    semoga kelak Dija juga bisa seperti tante thia
    sudah jadi dokter, tapi terus sekolah lagi ambil s2
    alhamdulillaaah thesisnya selesai ya tante

    Dija ikut lega

    ReplyDelete
  5. Ife kupereka mankhwala kuchiza mavuto osiyanasiyana thanzi, ntchito mankhwala amene wapatsidwa ndi mbewu akhoza kuchiza matenda kwathunthu.
    Ndipo ngakhale m'munsimu za za anime Bakuman

    Obat Epilepsi
    Obat Jantung Bocor Anak
    Obat Lipoma
    Obat Gerd
    Obat Herbal Alami
    All About One Piece

    ReplyDelete
  6. ruar biasa perjuangannya Bunda Vania...


    alhamdulillah sudah kelar, ikutan deg degan bacanya, kembali ngeblog lagi dunk ya ....

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)