Tuesday, January 12, 2016

Melihat Dari Dekat Kehidupan Di Alam Bebas

Alhamdulillah, libur lebaran tahun ini, saya sekeluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke Medan. Kunjungan kami kesana, untuk menengok kelahiran keponakan saya, putra dari adik bungsu saya. 

Saya sebenarnya sangat menyukai bepergian ke alam bebas, melihat keindahan alam, mengambil hikmah dari alam. Namun, karena keterbatasan sumber daya, saat ini Allah belum memampukan saya untuk berpetualang ke banyak belahan bumi. Walau begitu, kesempatan yang diberikan Allah kepada kami untuk mengunjungi salah satu museum yang cukup ternama di Medan, adalah sesuatu yang sangat saya syukuri. 


Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, sebuah galeri milik seorang pengusaha ternama yang juga seorang taxidermist, Rahmat Shah, ayah dari artis cantik Raline Shah. Galeri ini memili arsitektur yang unik. Bahkan, dari jalan raya pun seseorang pasti bisa menebak apa isinya. 



Alhamdulillah, Vania bisa belajar banyak di museum ini. Dia bisa melihat dari dekat, seperti apa rupa hewan yang hanya bisa ditemui di alam bebas. Hal ini tidak bisa didapat dengan hanya menonton Animal Planet, misalkan. Membayangkan tidak sama dengan melihat aslinya.


Rahmat galeri adalah salah satu museum yang cukup ketat pengawasannya terhadap pengunjung, yang mana hal ini sangat baik sekali menurut saya. Lokasi museum sangat rapi dan bersih. Di antara peraturan yang paling penting yang harus sangat dipatuhi pengunjung adalah:
  1. Dilarang menggunakan lampu blitz saat mengambil foto.
  2. Dilarang menyentuh hewan yang diawetkan di dalam museum.


Larangan sinar blitz adalah karena sinar akan merusak warna asli dari bulu atau kulit hewan yang diawetkan. Larangan menyentuh pun dengan tujuan yang sama. Bayangkan jika ribuan pengunjung museum ini semua diperbolehkan menyentuk hewan-hewan yang diawetkan ini, mungkin setahun lagi kondisinya tidak akan sama. Walaupun begitu, memfoto di dalam museum masih diperbolehkan.

Saya sadar, beberapa hewan yang diawetkan ini tidak berada di dalam kotak kaca, dan juga tidak dipagari. Beberapa kali saya mendengar seseorang "berteriak" kepada pengunjung yang penasaran "pak, bu, tolong jangan dipegang... tolong jangan difoto pakai blitz.."

Dan tak berapa lama, pengumuman dari speaker ke seluruh museum dikumandangkan untuk tidak menyentuh dan tidak menggunakan blitz. Ternyata, banyak petugas museum yang tersebar ke seluruh bagian museum, menyamar sebagai pengunjung biasa. Mereka akan segera menegur jika pengunjung tak patuh aturan.

Sudahlah, patuhi saja. Lagipula, anak cucu kita pula yang akan menikmati pelajaran di museum ini, jika hewan-hewan awetan ini dapat bertahan lama. Sehingga, kawan-kawannya yang masih hidup di habitat aslinya tidak berkurang hanya karena kita membutuhkan mereka untuk pelajaran science.


Melihat hewan-hewan ini dalam bentuk dan ukuran aslinya, membuat Vania sedikit takut. Terlebih kepada seekor macam tutul di atas sana yang sepertinya sedang mengintai keberadaan kami. Namun tak berapa lama, Vania sudah terbiasa dengan lingkungan sekitarnya.


Qadarullah. Sudah sunnahNya bahwa sebagian hewan adalah untuk dimakan hewan yang lainnya. Sama seperti Allah sudah menghalalkan hewan ternak untuk kita makan. Melihat adegan buatan di atas, jangankan Vania, saya pun takjub. Segala puji bagi Allah dengan segala kebesaranNya. 


Museum ini juga menyediakan sensasi night safari, dengan suasana yang dibuat mendekati aslinya. Gelap. Dingin. Dengan bunyi-bunyian hutan di malam hari. Vania? Tentu saja takut, dan akhirnya minta saya gendong. 


Walau saya bertanya-tanya, semua proses yang dilalui hewan-hewan ini mulai dari habitat aslinya di alam bebas sampai mereka berakhir di museum ini, namun saya berharap niat dari pemilik museum ini adalah untuk menjadikan semua koleksi disini sebagai pelajaran kepada para pengunjung supaya kita semua senantiasa melestarikan alam Indonesia.

Saya tidak berharap siapapun menjadikan kegiatan taxidermi ini sebagai semacam hobi untuk mengkoleksi semua jenis hewan yang ada. I hope this stops here. Wallahu'alam.


Tentu saja, bepergian, bagi saya, tidak hanya sekedar bepergian tanpa makna. Tapi bepergian juga sebagai sarana bagi saya dan keluarga untuk mengambil hikmah dari perjalanan. Dimanapun, kapanpun. Insya Allah. Seperti yang Allah ingatkan di Qur'an surat Al-An'am (6): ayat 38.

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun."

* * *

29 comments:

  1. keren bgt museumnya...asik vania nengok adik sepupu di medan ya

    ReplyDelete
  2. Aku koq nga tau yach mbak sama museum ini hehehe.. Thanks yach untuk info nya, kalau pulang pengen nyempetin kesini juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih yang asli Medan, kapan pulang kampung mba Adel?
      Hehehe :-D

      Delete
  3. Terima kasih mbak Thia sudah turut mendukung Gerakan PKK Warung Blogger

    salam lestari deh buat Vania

    salam PKK

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam untuk sahabat Warung Blogger :-)

      Delete
  4. itu beneran hewan yang di awetkan mba??

    ReplyDelete
  5. Wahh keren juga ya... kalo ke medan mampir ahh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sangat bermanfaat museumnya, banyak pelajaran yang bisa kita ambil :-)

      Delete
  6. Jeng Thia apa khabar? semoga yang terbaik ya Jeng, ooh Vania sudah tinggi banget. Selalu menikmati alam bebas pengingat kebesaranNya ya Jeng. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bu Prih.. alhamdulillah kami baik bu...
      Terima kasih bu Prih... punten belum blogwalking lagi...
      terima kasih sekali lagi bu Prih..
      Wassalam :-)

      Delete
  7. Sowan sekalian jalan-jalan ya Vania...
    Aku jadi penasaran cara ngawetin hewan-hewan yang gede hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru Noph liatnya... hehehe.. aku justru penasaran ngawetin hewan yang kecil..
      kebayang susahnya.. hihihi...

      Delete
  8. Vaniia takuut krn kebayang yang aslinya pasti ya, Mbak. Hahaha
    Aku yg gde aja kadang merinding. Meski tau udah diawetkan. :D

    Apakabar, Mbak? Semoga sehat sll, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya Idah...

      Alhamdulillah baik idah... terima kasih ya... ^_^

      Delete
  9. Wah keren banget Mbak... jadi semua hewan itu hewan asli yang diawetkan? Bukan sekedar patung?
    Wow... darimana ya dapatnya hewan2 buas yang diawetkan itu? Jadi pengen ke Medaaannn. Pasti tiket masuknya mahal ya Mbak.

    ReplyDelete
  10. Keren banget mbakkkk...... waaahhh

    ReplyDelete
  11. Liburan ke museum bagus dan bisa mengedukasi anak
    tapi hewan-hewan apakah dari alam liar dibunuh terus diawetkan? kalo begitu kasian juga ya, apalagi banyak dari koleksinya merupakan hewan-hewan langka

    ReplyDelete
  12. Hai all, ada promo baru nih dengan bayaran lumayan, cukup posting atau tulis review Anda akan mendapat bayaran tanpa batasan. Semakin banyak Anda posting atau menulis review maka semakin besar bayaran yang Anda terima. Untuk informasi lebih lanjut silahkan cek link ini ya guys: http://casinofounder.com/promosi/?lang=id


    ReplyDelete
  13. halo kak.. wah blognya keren-keren nih.. ooo iya kak kalau ingin tahu tentang web gratis yukk disini saja.. terimakasih

    ReplyDelete
  14. wah ternyata medan juga keren-keren tempat wisatanya

    ReplyDelete
  15. bagus banget mueseumnya, selain itu kita dpat mempelajari semua tentang alam bebas lewat museum itu.

    ReplyDelete
  16. bagus banget museumnya sekalian nambah ilmu nih

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)