Sunday, May 31, 2015

Generasi Sehat Tanpa Tembakau

Saya memperhatikan anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SMP itu. Ia terlihat ragu-ragu.

Di depannya, selembar kertas kuesioner menunggu untuk diisi. 

Saya yang ditugasi sebagai asisten dalam acara bakti sosial di kelas 2 SMP tersebut, merasa penasaran.

"Ada kesulitan mengisi kuesioner, dek?" saya bertanya.

Anak laki-laki itu menjawab, "iya dok bingung dok."

Saya: "yang bikin bingung apa? tinggal diisi aja apa adanya kok."

Saya memperhatikan, ia bahkan belum mengisi pertanyaan nomor satu, yang bagi orang kebanyakan pastinya sangat mudah dijawab.

Pertanyaannya: Apakah Anda merokok? Terdapat pilihan, ya atau tidak. Tinggal disilang.

Beberapa saat saya menunggu ia kebingungan. Kemudian ia menyilang tidak

Saya meragukan kejujurannya.  


Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh di tanggal 31 Mei 2015, Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UI mengadakan serangkaian acara. Beberapa diantaranya yang saya turut berpartisipasi adalah bakti sosial di salah satu SMP di Jakarta Pusat pada tanggal 26 Mei 2015, dan seminar sehari di FKG UI tanggal 29 Mei 2015.

Generasi sehat tanpa tembakau, adalah tema yang diusung pada acara baksos selasa lalu. Sasaran baksos adalah anak-anak SMP dari kelas 1 - 3. Seperti yang kita ketahui, fakta yang bikin miris sekarang ini adalah anak-anak SMP sudah banyak yang merokok, dan tidak sedikit dari mereka yang bahkan sudah memulainya dari usia SD. :-(

Industri rokok menyasar anak muda dalam memasarkan produknya. Tentu saja, ini adalah hal yang efektif. Sekali anak muda kecanduan rokok, mereka akan ketergantungan terhadap rokok sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Ini prospek yang bagus. Untuk pabrik rokok.

Tapi, apa jadinya sumber daya manusia Indonesia kalau kecanduan rokok?

Indonesia adalah urutan ketiga terbanyak perokok, setelah Cina dan India. Menyedihkan. 

Masih mengkhawatirkan devisa negara berkurang kalau produksi rokok menurun?

Hmm...

Saat ini saja pemerintah sudah mengeluarkan trilyunan untuk tanggungan pengobatan penyakit-penyakit akibat rokok. Ini tidak sebanding dengan pendapatan negara dari produksi rokok. Ini kalau bicara untung rugi dari segi finansial.

Okelah, kalau ada perokok yang bilang, "gw punya duit kok kalau gw sakit!"

Tapi kalau Anda masih menggunakan fasilitas tanggungan dari negara (bpjs) untuk mengobati Anda saat Anda terkena berbagai penyakit akibat rokok, itu sama saja dengan... Anda membuat masyarakat Indonesia membiayai kesenangan Anda merokok. 

Akibat dari merokok? Saya yakin sudah banyak yang paham. Kini kasus kanker mulut sudah semakin meningkat. Dokter gigi umum seperti saya, diminta untuk waspada. Kami harus mengenali tanda-tanda keganasan dalam mulut. Setiap pasien yang datang, dianjurkan juga untuk diskrining mukosa mulutnya. Tidak hanya melihat gigi yang dikeluhkannya saja.

Kanker mulut adalah salah satu yang cepat sekali penjalarannya. Dalam waktu singkat kanker mulut bisa menjalar ke paru. Tidak sedikit yang terlambat dan akhirnya meninggal. Kalau sudah begini, kan kasihan juga ya. 

Pertanyaan seperti, "apakah Anda perokok?" dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam prosedur anamnesa, dan dicatat di medical record pasien tersebut. Selama ini drg termasuk saya ternyata memang menanyakan kebiasaan merokok ini, tapi hanya sebatas tanya dan tidak dicatat. Padahal merokok sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan gigi dan mulut.

Banyak hal yang saya pelajari dari seminar sehari OM kemarin, ada beberapa yang ingin saya share disini, diantaranya adalah:


Third-hand Smoker

Kalau kita sudah paham tentang second-hand smoker atau perokok pasif. Kini ada istilah third-hand smoker. Waduh ini bikin saya merinding. Kenapa? Karena bahkan jika si perokok sudah tidak ada di tempat tersebut, residu dari asap rokok menempel di aneka permukaan seperti dinding, gorden, meja, kursi, dll. Dan residu ini bersifat karsinogenik.

Residu rokok ini hanya bisa hilang dengan pembersih yang bersifat asam. Sedangkan sabun dkk itu bersifat alkali (basa). Pembersih asam ini tentu berupa zat kimia tertentu ya. Tidak disebutkan secara spesifik. Tapi yang jelas pembicara, Dr. Kartono Muhammad (ketua Indonesia Tobacco Control), menyarankan bagi perokok yang punya anak, ganti saja gorden dan sofa setiap habis merokok.

Whaaattt?!?!

Ya begitulah... Kalau nggak mau anaknya terpapar zat racun.

Beliau juga menyarankan kalau mau menginap di hotel dengan membawa anak-anak, tanya dulu. Apakah di dalam kamar hotel tersebut diperbolehkan merokok atau tidak. Kalau ya, maka Anda patut waspada. Karena permukaan meja, kursi, tempat tidur, kemungkinan besar sudah terpapar residu rokok yang bersifat racun ini. 


Rokok Elektrik

Rokok elektrik di-claim sebagai rokok yang lebih "sehat". Catat ini: nope! sama saja, kawan. Rokok elektrik berisi nikotin cari. Tetap mengandung nikotin yang membuat kecanduan. Bahkan dianalisa oleh para pakar, rokok elektrik ini justru lebih berbahaya karena tidak adanya larangan penggunaan untuk anak-anak dan merupakan gerbang bagi anak untuk mencoba rokok konvensional dan narkoba. 


Perilaku Hostile

Merokok akan memicu perilaku hostile. Ya karena nikotin yang berkurang dalam darah kalau belum dipasok lagi dengan menghisap rokok, akan membuat seseorang craving yang akan memicu perilaku hostile. Pembicara menghubungkan antara angka perokok di kalangan siswa yang meningkat, dengan kebiasaan tawuran pelajar. 

Foto bersama staf pengajar dan mahasiswa spesialis OM FKG UI, beserta teman-teman sejawat drg dari berbagai instansi.

Di seminar sehari kemarin, selain para pembicara dari FKG UI, panitia juga menghadirkan seorang spesialis Kedokteran Jiwa. Beliau menerangkan berbagai point seperti terjadinya craving tadi, beserta tahap-tahapannya untuk smoking cessation. Mulai dari tahap precontemplation (tahap dimana seseorang ingin berhenti tapi masih galau karena banyak alasan mengapa dia tidak bisa berubah) sampai tahap maintenance (berhasil berhenti) atau bahkan relapse (kembali menjadi perokok lagi). 

Source

Tips dari dokter psikiatri, jika niat ingin berhenti dan saat craving akan nikotin datang, lakukan 4D:
Delay
Drink water
Do something else


Berhenti merokok memang susah. Oleh karena itu butuh kombinasi dari motivasi diri sendiri, terapi dari dokter, serta dukungan keluarga dan lingkungan. Banyak saudara saya yang sudah berhasil berhenti merokok. Cintai diri sendiri, cintai keluarga kita. :-)

Source

May 31st is World No Tobacco Day
But...
Let's make everyday, no tobacco day, shall we? ;-)

Have a nice day my dear friends. 

12 comments:

  1. untung saja dikeluargaku gak ada yg merokok.
    Rokok itu gak baik tapi heran aja knp orang tetep aja doyan

    ReplyDelete
  2. Langkah panjang yang perlu dimulai ya Jeng Tia, dari aspek litbang komoditas juga sudah mulai dipangkas perhatiannya. Salam

    ReplyDelete
  3. Pernah dengar juga kalau rokok elektrik ngga berbahaya. Ternyata sama saja ya, Mbak.

    Alhamdulillaah tiga lelaki di rumah bukan perokok. :)

    ReplyDelete
  4. Wah baru tau istilah third hand smoker, sungguh mengerikan. Bapak saya dirumah masih merokok dan di rumah juga ada bayi anaknya adik saya. Susah sekali mb untuk membuat Bapak berhenti merokok, sepertinya sudah jadi kebiasaan yang mendarah daging.

    ReplyDelete
  5. Miris juga kalau ada anak usia SD merokok mbak. Biasanya saya menanyakan rokok buat siapa kalau ada anak usia SD beli rokok. Katanya sich beliin bapak tapi ternyata di rokok sendiri, tapi sembunyi2

    ReplyDelete
  6. kalau anak SD biasnaya meniru orang terdekat ya bun

    ReplyDelete
  7. temen kantor saya lagi gila sm rokok elektrik ni mba. emang rasanya macem2. tapi ternyata bahayanya sama aja ya sama rokok biasa.

    ReplyDelete
  8. Haduhhh...
    Aku gak paham dengan rokok elektrik ini. Ayah Vay itu, dulu tidak merokok, tapi belakangan kok malah bergaya amat dengan rokok elektrik.... ck ck...

    ReplyDelete
  9. nah, sepertinya yang rokok elektrik ini yang masih salah kaprah, ya, Mbak. Masih banyak yang menganggap rokok elektrik ini aman.

    ReplyDelete
  10. Hehehe aslinya saya sudah baca artikel ini.. berhubung saya ahli hisap. jadi saya mlipir enggak ikutan komen..

    yo wis saya komen mbak Thia.. sahuuuuur

    ReplyDelete
  11. Di keluargaku ada yang ngerokok juga. Hiks. :( Bingung mau ngomong buat nasehatinnya gimana. Huhu

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)