Sunday, May 31, 2015

Generasi Sehat Tanpa Tembakau

Saya memperhatikan anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SMP itu. Ia terlihat ragu-ragu.

Di depannya, selembar kertas kuesioner menunggu untuk diisi. 

Saya yang ditugasi sebagai asisten dalam acara bakti sosial di kelas 2 SMP tersebut, merasa penasaran.

"Ada kesulitan mengisi kuesioner, dek?" saya bertanya.

Anak laki-laki itu menjawab, "iya dok bingung dok."

Saya: "yang bikin bingung apa? tinggal diisi aja apa adanya kok."

Saya memperhatikan, ia bahkan belum mengisi pertanyaan nomor satu, yang bagi orang kebanyakan pastinya sangat mudah dijawab.

Pertanyaannya: Apakah Anda merokok? Terdapat pilihan, ya atau tidak. Tinggal disilang.

Beberapa saat saya menunggu ia kebingungan. Kemudian ia menyilang tidak

Saya meragukan kejujurannya.  


Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh di tanggal 31 Mei 2015, Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UI mengadakan serangkaian acara. Beberapa diantaranya yang saya turut berpartisipasi adalah bakti sosial di salah satu SMP di Jakarta Pusat pada tanggal 26 Mei 2015, dan seminar sehari di FKG UI tanggal 29 Mei 2015.

Generasi sehat tanpa tembakau, adalah tema yang diusung pada acara baksos selasa lalu. Sasaran baksos adalah anak-anak SMP dari kelas 1 - 3. Seperti yang kita ketahui, fakta yang bikin miris sekarang ini adalah anak-anak SMP sudah banyak yang merokok, dan tidak sedikit dari mereka yang bahkan sudah memulainya dari usia SD. :-(

Industri rokok menyasar anak muda dalam memasarkan produknya. Tentu saja, ini adalah hal yang efektif. Sekali anak muda kecanduan rokok, mereka akan ketergantungan terhadap rokok sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Ini prospek yang bagus. Untuk pabrik rokok.

Tapi, apa jadinya sumber daya manusia Indonesia kalau kecanduan rokok?

Indonesia adalah urutan ketiga terbanyak perokok, setelah Cina dan India. Menyedihkan. 

Masih mengkhawatirkan devisa negara berkurang kalau produksi rokok menurun?

Hmm...

Saat ini saja pemerintah sudah mengeluarkan trilyunan untuk tanggungan pengobatan penyakit-penyakit akibat rokok. Ini tidak sebanding dengan pendapatan negara dari produksi rokok. Ini kalau bicara untung rugi dari segi finansial.

Okelah, kalau ada perokok yang bilang, "gw punya duit kok kalau gw sakit!"

Tapi kalau Anda masih menggunakan fasilitas tanggungan dari negara (bpjs) untuk mengobati Anda saat Anda terkena berbagai penyakit akibat rokok, itu sama saja dengan... Anda membuat masyarakat Indonesia membiayai kesenangan Anda merokok. 

Akibat dari merokok? Saya yakin sudah banyak yang paham. Kini kasus kanker mulut sudah semakin meningkat. Dokter gigi umum seperti saya, diminta untuk waspada. Kami harus mengenali tanda-tanda keganasan dalam mulut. Setiap pasien yang datang, dianjurkan juga untuk diskrining mukosa mulutnya. Tidak hanya melihat gigi yang dikeluhkannya saja.

Kanker mulut adalah salah satu yang cepat sekali penjalarannya. Dalam waktu singkat kanker mulut bisa menjalar ke paru. Tidak sedikit yang terlambat dan akhirnya meninggal. Kalau sudah begini, kan kasihan juga ya. 

Pertanyaan seperti, "apakah Anda perokok?" dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam prosedur anamnesa, dan dicatat di medical record pasien tersebut. Selama ini drg termasuk saya ternyata memang menanyakan kebiasaan merokok ini, tapi hanya sebatas tanya dan tidak dicatat. Padahal merokok sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan gigi dan mulut.

Banyak hal yang saya pelajari dari seminar sehari OM kemarin, ada beberapa yang ingin saya share disini, diantaranya adalah:


Third-hand Smoker

Kalau kita sudah paham tentang second-hand smoker atau perokok pasif. Kini ada istilah third-hand smoker. Waduh ini bikin saya merinding. Kenapa? Karena bahkan jika si perokok sudah tidak ada di tempat tersebut, residu dari asap rokok menempel di aneka permukaan seperti dinding, gorden, meja, kursi, dll. Dan residu ini bersifat karsinogenik.

Residu rokok ini hanya bisa hilang dengan pembersih yang bersifat asam. Sedangkan sabun dkk itu bersifat alkali (basa). Pembersih asam ini tentu berupa zat kimia tertentu ya. Tidak disebutkan secara spesifik. Tapi yang jelas pembicara, Dr. Kartono Muhammad (ketua Indonesia Tobacco Control), menyarankan bagi perokok yang punya anak, ganti saja gorden dan sofa setiap habis merokok.

Whaaattt?!?!

Ya begitulah... Kalau nggak mau anaknya terpapar zat racun.

Beliau juga menyarankan kalau mau menginap di hotel dengan membawa anak-anak, tanya dulu. Apakah di dalam kamar hotel tersebut diperbolehkan merokok atau tidak. Kalau ya, maka Anda patut waspada. Karena permukaan meja, kursi, tempat tidur, kemungkinan besar sudah terpapar residu rokok yang bersifat racun ini. 


Rokok Elektrik

Rokok elektrik di-claim sebagai rokok yang lebih "sehat". Catat ini: nope! sama saja, kawan. Rokok elektrik berisi nikotin cari. Tetap mengandung nikotin yang membuat kecanduan. Bahkan dianalisa oleh para pakar, rokok elektrik ini justru lebih berbahaya karena tidak adanya larangan penggunaan untuk anak-anak dan merupakan gerbang bagi anak untuk mencoba rokok konvensional dan narkoba. 


Perilaku Hostile

Merokok akan memicu perilaku hostile. Ya karena nikotin yang berkurang dalam darah kalau belum dipasok lagi dengan menghisap rokok, akan membuat seseorang craving yang akan memicu perilaku hostile. Pembicara menghubungkan antara angka perokok di kalangan siswa yang meningkat, dengan kebiasaan tawuran pelajar. 

Foto bersama staf pengajar dan mahasiswa spesialis OM FKG UI, beserta teman-teman sejawat drg dari berbagai instansi.

Di seminar sehari kemarin, selain para pembicara dari FKG UI, panitia juga menghadirkan seorang spesialis Kedokteran Jiwa. Beliau menerangkan berbagai point seperti terjadinya craving tadi, beserta tahap-tahapannya untuk smoking cessation. Mulai dari tahap precontemplation (tahap dimana seseorang ingin berhenti tapi masih galau karena banyak alasan mengapa dia tidak bisa berubah) sampai tahap maintenance (berhasil berhenti) atau bahkan relapse (kembali menjadi perokok lagi). 

Source

Tips dari dokter psikiatri, jika niat ingin berhenti dan saat craving akan nikotin datang, lakukan 4D:
Delay
Drink water
Do something else


Berhenti merokok memang susah. Oleh karena itu butuh kombinasi dari motivasi diri sendiri, terapi dari dokter, serta dukungan keluarga dan lingkungan. Banyak saudara saya yang sudah berhasil berhenti merokok. Cintai diri sendiri, cintai keluarga kita. :-)

Source

May 31st is World No Tobacco Day
But...
Let's make everyday, no tobacco day, shall we? ;-)

Have a nice day my dear friends. 

Wednesday, May 27, 2015

Usia Yang Berkah

Alhamdulillah...

Jum'at tanggal 22 Mei 2015 kemarin, Vania genap berusia 7 tahun.

7 tahun menjadi ibu bagi seorang gadis kecil, yang beranjak besar.
7 tahun yang paling menyenangkan dalam kehidupan saya.
Dan insya Allah kami akan menjalani bertahun-tahun lagi... bersama dalam kasih sayang. Aamiin...


Seluruh do'a saya panjatkan kepada Allah SWT untuk gadis kecil yang Allah titipkan kepada saya. Tapi satu yang selalu saya panjatkan setiap waktu...

Dear Vania sayang,
Semoga usiamu berkah selalu... Allahumma aamiin... 



Terkadang kita memang diberi sakit...

Terkadang kita juga diuji dengan nilai di sekolah yang kurang baik...

Terkadang kita juga patah semangat...

Terkadang kita harus menunggu sukses dengan berjuta-juta kegagalan...

Tidak mengapa... Jalani saja peran kita...

Yang penting Allah ridho dan memberkahi selalu...

Usia yang berkah, itu juga yang saya do'akan kepada keluarga, saudara, dan teman-teman saya...

Karena, usia yang diberkahi Allah... adalah yang akan mengantar kita ke tempat yang terbaik... Baik di dunia maupun di kehidupan nanti... 

Insya Allah, aamiin... 

Sunday, May 17, 2015

Nostalgia di The Flavor Bliss

Kumpul keluarga sambil jalan-jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan adalah salah satu yang rutin kami lakukan. Tentu saja selain untuk refreshing, kami juga harus tetap menjaga silaturahmi. 

Jaman dulu, keluarga besar Papa saya sering mengadakan arisan keluarga di rumah secara bergantian. Tapi saya dan sepupu-sepupu saya sering merasa bosan. Hahahaaa... 

Anak-anak Papa hanya tiga, dan yang di Jakarta hanya dua. Jadi nggak terlalu repot kalau kumpul keluarga. Oleh karena itu alhamdulillah kami bisa berkumpul keluarga ke tempat-tempat menyenangkan, semacam The Flavor Bliss!


Keluarga kami kenal The Flavor Bliss tahun lalu, dan seringkali ketika saya tanya anak saya Vania ia mau jalan-jalan kemana, ia menjawab dengan mantap, "ke Little Jungle yang di Flavor Bliss!"

Ada dua alasan mengapa keluarga kami menyukai tempat hangout seperti The Flavor Bliss. Pertama, alasan safety. Kedua alasan nostalgia masa kecil. 

Mengapa saya memberi judul "nostalgia" untuk posting ini?

Saya dan adik-adik saya punya kenangan khusus akan tempat semacam ini. Saat saya SD dulu, 25 tahun yang lalu, Papa saya sedang menamatkan sekolah S2 di Naval Postgraduate School. Kampus ini terletak di salah satu kota kecil di Monterey, California. Kota kecil yang sepi, bersih dan asri.

Terdapat suatu wilayah yang bernama Carmel yang terletak dekat dengan pantai. Di Carmel ini ada pertokoan. Salah satunya ada milik orang Indonesia. Disanalah Mama saya pernah bekerja untuk membantu Papa menambah nafkah keluarga, karena uang saku mahasiswa tidak seberapa. The Barnyard Shopping Village di Carmel, adalah nama pertokoan itu.

Pertokoannya menyenangkan. Tidak seperti mall yang berada dalam gedung besar, pertokoan di The Barnyard Shopping Village unik, menurut saya. Tamannya bagus, jalanan luas, dan outdoor. Saya dan adik-adik saya pernah punya pengalaman trick-or-treating saat Halloween dulu. Kami keluar masuk berbagai toko, minta permen dan cokelat. Hahahaaa...

Betapa senangnya saya ketika di dekat tempat saya tinggal ada pertokoan yang mengingatkan akan masa kecil saya dulu! Papa dan Mama juga senang kesini. Kata Papa, "mirip Carmel yah Tia!"

Persis!

Dan di The Flavor Bliss tak hanya pertokoan, tapi juga lengkap dengan restoran-restoran asik, tempat mainan dan supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

The Flavor Bliss terletak di Alam Sutera, Tangerang. Tapi, tak hanya warga Tangerang dan sekitarnya yang menjadi langganan, saya yang warga Jakarta Timur pun hobi kesini. Padahal dekat rumah saya ada pertokoan macam The Flavor Bliss, tapi tidak selengkap disini.

@ Warung Rawit, The Flavor Bliss

@ Pho 24, The Flavor Bliss yeay! Free wifi!

Tempat makan banyak sekali variasinya. Mulai dari western sampai ke asian dan Indonesian food, ada. Mulai dari toko khusus buah, cokelat sampai bakery pun lengkap.

Tentu saja, yang paling menyenangkan buat cucu-cucu Opa adalah Little Jungle! Tempat mainan ini lengkap, dengan area toddler dan kids. Lengkap juga dengan arena flying fox mini dan tempat berlatih inline skate. Vania dan Aira kalau kesini, berjam-jam juga masih kurang.

Ada wifi-nya!



Untuk kami orangtuanya, saat menunggu anak bermain adalah saat-saat menjemukan. Kami bergantian menunggu anak-anak. Kunjungan kami tahun ini, sambil menunggu kami berbelanja di supermarket Loka. Tapi tahun lalu bocah-bocah ini juga ikutan belanja. Mereka senang sekali melihat trolley yang warna warni. Kalau keponakan saya Aira, senang karena ada trolley mini. 



Selain alasan nostalgia, masih ada satu lagi alasan kenapa keluarga kami senang hangout ke The Flavor Bliss. Safety.

Tidak seperti mall, yang di dalam gedung tinggi bertingkat-tingkat, pertokoan di The Flavor Bliss semua terletak di tanah. Hahahaaa... Outdoor. Jadi jalan-jalan disini seperti jalan-jalan di komplek perumahan. Hanya saja lebih menyenangkan. 

Jika di dalam mall, kami harus selalu waspada dan harus siap mengetahui kemana arah evakuasi jika terjadi bencana seperti kebakaran dan gempa bumi. 

Namun di The Flavor Bliss, kami jauh lebih tenang. Kalau terjadi bencana (yang mudah-mudahan tidak), evakuasi jauh lebih mudah, dan banyak area terbuka. Area terbuka adalah poin penting untuk titik berkumpul. Ini ada dalam kuliah saya, hospital disaster management. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara yang rawan bencana, memang manajemen bencana adalah salah satu hal penting yang harus diantisipasi.


Mengikuti The Flavor Bliss di berbagai akun media sosial, ternyata disini sering mengadakan berbagai macam event. Wah seru!

Ada dua poin penting lain bagi kami, yaitu mushola dan kamar kecil. Dekat area panggung ini ada mushola dan kamar kecil yang bersih bagi pengunjung. Urusan ibadah tidak ada kendala, alhamdulillah.

Bonusnya lagi, di restauran dan tempat bermain yang kami singgahi menyediakan wifi gratis. Yeay!

Untuk ke depan, sepertinya The Flavor Bliss menjadi salah satu getaway yang akan sering kami kunjungi. The Flavor Bliss memang lengkap.

Tempat bermain untuk anak. Checked!
Supermarket untuk belanja makanan dan sayur mayur. Checked!
Restauran yang bervariasi, yang bisa mengakomodasi para pecinta kuliner. Checked!
Toko khusus buah, cokelat, roti, baju. Checked!
Safety for disaster management. Checked!
Mushola. Checked!

Tak salah jika The Flavor Bliss mengklaim diri sebagai tempat untuk hangout, dan sebagai one stop destination untuk eat, play and shop. Mulai dari anak-anak sampai Opa Oma senang jalan-jalan kesini. Saya masih penasaran ke Bandar Djakarta dan Chocomory. Of course, going here once is never enough.

"Bunda, kapan kita ke The Flavor Bliss lagi?"

Untuk para pengunjung yang ingin mengetahui informasi seputar tenant, website The Flavor Bliss juga menyediakan informasi yang lengkap. More info:

Twitter @flavorbliss
Facebook flavorbliss.alamsutera
Youtube the flavor bliss
Instagram @flavorbliss

Selamat berakhir pekan, sahabat.. :-)

Friday, May 15, 2015

Cool Auntie

Saya menikmati peran yang saya jalani sekarang. Menjadi seorang ibu, seorang mahasiswa, seorang dokter gigi yang nggak praktek setiap hari, dan tentu saja seorang tante!

Saya sering menulis di posting-posting saya sebelumnya, bahwa salah satu cara bagi saya untuk refreshing dari kejenuhan adalah jalan-jalan. Dan, jalan-jalannya yang rame! Dalam artian, jalan bareng Vania serta keponakan-keponakan saya.

Masa kecil saya sebagian besar dihabiskan bersama dengan keluarga besar Papa saya. Papa adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, yang enam diantaranya adalah perempuan. Jadi, saya punya enam orang tante, dan tante-tante saya adalah teman-teman saya. Karena jaman saya kecil dulu, jarang ada anak sebaya saya di komplek perumahan tempat kami tinggal. 

Di mata saya, tante adalah seseorang yang sering membawakan oleh-oleh, sering memberi nasihat, sayang sama saya, sering mengajak saya jalan-jalan dan mengajak saya jajan... All the good things, minus marah-marah... Hehehe... Yap! Tante saya nggak ada yang pernah marah sama saya.

Dan, sekarang setelah saya menjadi tante, saya baru mengerti kenapa. :-D

Aira, Vania, baby Neila and me... @ Mall The Living World, Februari 2015

Jujur, saya hanya berusaha menjadi ibu yang baik untuk Vania. Walau demikian, saya bukanlah ibu yang sempurna. Ya... Saya juga pernah marah-marah kepada Vania, melarang ini dan itu, tentu saja dengan alasan yang logis.

Dan, Vania sepertinya belum bisa menerima perlakuan yang tidak sama, dari saya kepada dirinya dan kepada Aira!

Vania: "Kenapa sih Bunda nggak pernah marahin Aira? Nggak pernah ngelarang-ngelarang Aira? Semua yang Aira minta Bunda kasih?! Kalau aku sering dimarahin, sering dilarang-larang... Bunda lebih sayang Aira ya daripada sama aku?!"

Saya: (ouch!)

Saya kaget mendengarnya. Dan tak menyangka dia membandingkan dirinya dengan sepupunya. Walaupun, hal ini tentu saja menjadi bahan introspeksi buat diri saya. 

Penjelasan yang saya berikan kepada Vania adalah, bukan wewenang bunda untuk marah dan melarang Aira. Karena bunda bukan ibunya. Bunda hanya tantenya.

Lalu saya balikkan pertanyaan kepada Vania. "Vania pernah lihat Tante Ayu marah-marah dan melarang Aira ini dan itu?"

Vania mengangguk.

Saya: "Tapi Tante Ayu pernah nggak marahin Vania? Dan ngelarang Vania ini itu?"

Vania menggeleng.

Source

Tentu saja, kasih sayang ibunda melebihi siapapun di dunia ini. Oleh karena itu, tanggung jawab ibunda di dunia dan di akhirat adalah suatu hal yang menjadi sangat penting bagi seorang ibu. Jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan, dan jika seorang ibu sedang lelah, tentu saja manusiawi jika keluar marahnya. Marah, karena ingin anaknya menjadi sempurna. Menjadi yang terbaik. 

Walaupun tante juga sayang kepada keponakannya, tapi ternyata, saya tak bisa memarahi Aira. Saya hanya bisa memberi nasihat dan masukan. Final decision tentu saja di tangan kedua orangtuanya. 

Dan saya bersyukur sekarang Aira menganggap saya seperti saya dulu menganggap tante-tante saya. Kalau saya main ke rumahnya, semangat sekali ia menunjukkan video-video kegiatannya di sekolah. Selain kakak Vania, saya pun yang sering dipanggil untuk diajak main, entah mewarnai atau petak umpet. 

Saya nggak tau apakah Vania sudah paham atau belum, tapi saya menjelaskan sesuai kemampuan saya dengan bahasa yang mudah-mudahan bisa Vania mengerti. 

Happy Jum'at mubarok, my dear friends. :-)

Monday, May 11, 2015

Kue Putu...

Setelah menulis posting traditional games day di blog Vania, saya jadi ingin menulis kenangan saya tentang salah satu kue tradisional kesukaan saya. Kue putu!

Sekarang, tukang jualan kue putu ini sudah semakin jarang. Tapi kami selalu tau jika ada abang penjual kue putu, dikarenakan bunyi yang dihasilkan dari mesin uap kue putu yang khas sekali seperti bunyi peluit. 

Setiap kami berkesempatan bertemu dengan penjual kue putu dimanapun kami lewat, kami pasti beli. Dan, setiap kali kami beli, Papa dan Mama pasti akan bercerita cerita yang sama. Berulang-ulang. 

Jamannya Tia kecil, sekecil Vania. Setiap ada bunyi "tuittt" khas kue putu, pasti si Tia minta beli. Kalau nggak dibeliin nangis. Padahal belum tentu dimakan, paling hanya dimakan separuh saja. Tapi setiap hari beli. Karena dulu si abang kue putu sudah hapal, kalau saya nggak beli kue putu pasti nangis, si abang pasti bunyiin peluitnya keras-keras di depan rumah. Hahaha... Akhirnya Mama dan Papa hanya membeli dua buah saja setiap hari. 

Entah ya, faktor apa yang membuat saya selalu minta beli kue putu, padahal dimakannya juga cuma sedikit. Tapi yang jelas, sampai sekarang saya suka rasa kue putu dengan aroma pandannya yang khas dan rasa manis gula jawa yang... yummyy banget... 


Jaman dulu, si abang berjualan dengan dipikul, sekarang pakai gerobak. 

Gerobak kue putu ini kebetulan lewat di depan rumah adik saya tempo hari. 

Dengan cara masak seperti ini, saya bertanya-tanya apakah mungkin membuat sendiri di rumah. Tapi saya tadi coba googling dan ternyata banyak caranya. Hmm, mungkin kapan-kapan bisa dicoba salah satunya.. :-D

Tentu saja kalau makan kue putu buatan sendiri tidak ada bunyi khas yang membawa kenangan masa kecil bagi saya. :-D


Adik-adik saya nggak terlalu ngefans sepertinya dengan kue putu. Vania pun tidak. Akhirnya yang makan hanya saya, Papa dan Mama. Kenyaaangnyaa... Ini karena kue putu terbuat dari tepung beras, sehingga efeknya sama dengan makan nasi ya.. Hehehe..

Jadi, apa kue tradisional favoritmu, teman..?

Friday, May 8, 2015

Anak-anak dan Mukena

Apa yang sahabat lakukan jika memiliki anak perempuan yang mengenakan mukena baru? Atau mengenakan mukena bersama saudarinya yang jarang pula bertemu? Atau anak-anak sholat berjamaah bersama teman-teman?


Saya pribadi, yang saya lakukan adalah mengambil kamera untuk mengabadikan momennya. :-D

Kebetulan saat saya mengambil gambar-gambar di bawah ini saya memang sedang libur sholat. Syukurlah saya mendapat kesempatan unik untuk mengambil gambar ini. Dulu, anak-anak tetangga memang sering main ke rumah. Bahkan saat bermain sampai sore, mereka pulang hanya sebentar ke rumah masing-masing, untuk kemudian kembali lagi dan sholat Maghrib berjamaah di mushola kecil kami. 

Sekarang anak-anak ini sudah tumbuh semakin besar dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga jarang kembali berkumpul seperti dulu lagi. 

Sambil menunggu waktu Maghrib, anak-anak bermain di ayunan. Sudah lengkap dengan mukenanya.


Terkadang, ada-ada saja ide mereka. Saya menganggap ini unik. Selesai sholat, bukannya melipat dengan rapi mukena masing-masing, mereka malah bermain dengan mukenanya. Heboh, rame, dan lucu. Mereka menggelung mukena di kepala dan mengikat bagian bawahnya sehingga terbentuklah konde. Hahaha... 

Ulah bocah. 

Konde dari mukena.


Vania ingin meniru tapi belum berhasil. Dan lagipula, Vania tidak ingin dikonde, hanya ingin "rambut" panjang. Hahaha... Jadi, ia mengenakan sarung pasangan mukenanya di kepala dan jadilah ini. :-D

Berjamaah bersama Opa.

Saat ini yang main ke rumah Vania nggak sebanyak saat Vania TK dulu. Di antara teman-teman yang dulu, sudah banyak yang ABG, sehingga lebih memilih bermain bersama ABG juga. Yang masih usia SD antara kelas 1 - 5 masih sering berkunjung, walau tidak sampai malam seperti dulu. 

Bagaimanapun, cerita ini akan jadi kenang-kenangan untuk Vania. Sekarang, di rumah kami lebih mengutamakan sholat berjamaah dengan keluarga dan latihan membaca iqro setelahnya, tidak main-main lagi. :-)

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz,
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ
“Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak daripada shalatnya sendirian 27 kali.”

Tak terasa bulan Ramadhan sudah semakin dekat, semoga kita semua beruntung berjumpa dengan bulan penuh mulia ya, Allahumma Aamiin... Mari mempersiapkan diri, baik kesehatan tubuh maupun kebersihan hati untuk menyambutnya, insya Allah... 



Sunday, May 3, 2015

[Seminar Kesehatan] Tatalaksana Penyakit Lambung

Semenjak saya lulus sampai sekarang, saya belum pernah mengikuti seminar-seminar yang diselenggarakan oleh IDI. Tapi, karena saya harus memenuhi requirement SKP saya, dan saya hanya punya waktu kurang dari setahun, maka seminar IDI ini sepertinya akan rutin saya hadiri, insya Allah.

Ini sebenarnya peraturan baru dari PDGI. Diberlakukan mulai tahun 2014 kemarin, untuk perpanjangan STR. Buat sejawat yang membutuhkan, ada ilustrasi pengumpulan SKP disini.

@ Hermina Depok.

Penjelasan dari kepala security. Hehehe... Ini hal yang ingin saya catat saja. Nggak semua RS seperti ini. Terakhir saya dijelaskan masalah evakuasi saat terjadi bencana, adalah saat kuliah perdana di RS Sardjito Yogyakarta. Manajemen yang baik, insya Allah. Ke depan, pasti hal seperti ini menjadi standar prosedur.  

Anggota PDGI yang tedampar di seminar IDI. Dentists @KlinikTaradita48

Ternyata, peraturan baru ini membawa berkah. Alhamdulillah. Tentu saja kami jadi punya alasan untuk mendapat ilmu baru seputar perkembangan di dunia medis secara keseluruhan. Nggak melulu masalah gigi. Hehehe...

Tempo hari, temanya adalah Prosedur Diagnostik dan Penanganan Komprehensif Terkini Pada Penyakit Saluran Cerna dari Sudut Pandang Bedah, Penyakit Dalam dan Gizi

Pembicaranya adalah Dr. M. Yamin, Sp.PD (K-GEH), Dr. Adrian Ginting, Sp.B (K-BD), dan Dr. Nur'ashiah, Sp.GK.

Wah, saya pikir, ini "saya" banget. Bukan saja melihat dari kacamata dokter, tapi saya pun pasien penderita gastritis. Nah dr. Yamin dan dr. Ginting berbicara dengan bahasa kedokteran yang mungkin bukan kompetensi saya untuk menuliskannya kembali disini.

Secara garis besar kedua dokter di atas menjelaskan penerapan prosedur diagnostik yang disesuaikan dengan derajat keparahan sakit pasien. 

Penjelasan yang lebih bisa diterima masyarakat umum adalah dari Dr. Nur'ashiah, spesialis gizi klinik. Beliau memberi penjelasan tentang edukasi pasien mengenai diet yang tepat untuk lambung. 

Brosur dari Depkes

Penjelasannya cukup lengkap. Makanan apa yang disarankan, makanan mana perlu dibatasi dan mana yang perlu dihindari. 

Depkes punya brosurnya, yang bisa di download oleh siapa saja. Dr. Nur'ashiah menyarankan para dokter mendownload brosur ini dan memberikannya ke pasien. 

Dan walaupun saya bukan dokter umum, saya akan meneruskan informasinya. Jika ada sahabat yang membutuhkan, bisa download pdf nya disini: Diet Lambung

Salam sehat selalu untuk sahabat semua. :-)