Tuesday, April 28, 2015

Tentang Iqro ~ There's Always Room For More

Sepengetahuan saya, jaman dahulu memang banyak sekolah tidak mewajibkan siswanya mengaji? Apalagi yang di sekolah negeri. Wallahu'alam.

Yang jelas, nenek saya dengan 9 anak sepertinya tidak pernah mengajari anak-anaknya mengaji. Masing-masing anaknya belajar sendiri-sendiri. Tante dan Om saya ikut pengajian. Sedangkan Papa saya, otodidak saat pensiun ini. Alhamdulillah sekarang sudah mulai lancar. Nggak pakai iqro, langsung Al-Qur'an.

Mama saya apalagi, dengan asal usul keluarga non-muslim. Belajar agama pun baru saat nikah dengan Papa. Tapi Mama belajar baca sedikit-sedikit, diajari oleh Papa. 

Tapi saya bersyukur, sejak saya kecil, mungkin dari saat saya masuk SD, Mama sudah memanggil guru ngaji ke rumah, untuk mengajari saya. Saya masih ingat, namanya Tante Rukiah. Beliau adalah teman sekolah tante saya. Sekarang tinggal di Medan. Ah, mungkin kapan kalau saya ke Medan, saya harus bersilaturahmi dengan beliau.

Ohya, satu lagi yang lupa saya ceritakan. Eyang. Adik Papa yang tinggal bersama kami, mengasuh Vania dari kecil, pun belum bisa membaca Al-Qur'an. Saya tahu bahwa sesungguhnya bisa jadi ini adalah kewajiban saya. Seorang muslim, setidaknya harus dan wajib berusaha membaca Qur'an berbahasa Arab, walau dengan tersendat-sendat. 

Saya sebenarnya orang yang tidak sabaran. Saya merasa tidak bisa jadi bu guru. Walaupun Vania pernah menyatakan bu guru favoritnya adalah saya. ^_^

Dari TK A, Vania sudah ikut iqro di sekolah. Maka, sekarang iqronya lanjut saja, guru Vania di TK A dulu, bersedia untuk mengajar di rumah kami. Dengan perjalanan 2 tahun lebih yang berliku, sekarang Vania masuk iqro 4 yang (menurut Vania) semakin susah, dan akhirnya Vania lebih sering ngambek daripada nggak. Hadeh!

Alhamdulillah Kak Tri (guru iqro Vania), sabar, mau mengeksplorasi kira-kira Vania bisa diambil hati dengan cara bagaimana. Dan diantara yang pernah dilakukan kak Tri selama mengajar di rumah, adalah membuat prakarya. Vania diajari membuat prakarya dulu, baru mau membaca. 

Hasil kreasi dengan kak Tri. 

Namun, fase membuat prakarya ini tidak bertahan lama. Hanya beberapa kali pertemuan, dan Vania kembali ke sifat ngambeknya. Duh! Semangatnya menurun karena Vania merasa semakin susah bacanya. Saya motivasi dengan membaca Qur'an dekat Vania, tapi baru beberapa lembar Vania sudah bosan dan pergi bermain lagi. 

Ternyata, setelah dicari celahnya... Vania ingin teman saat belajar iqro. Ada anak tetangga di sekitar rumah yang baru iqro 4 juga. Jadilah kadang kak Ira ini menemani Vania, sekalian ia juga belajar. Saya bersyukur, Kak Tri nggak keberatan berapapun anak yang kak Tri ajar, yang penting kunjungannya efektif dan Vania mau belajar. 

Tapi kak Ira terkadang tak kelihatan batang hidungnya. Entahlah, mungkin sedang disuruh belanja oleh ibunya. Jadinya tempo hari itu, saya tiba-tiba punya ide.

Hey! Kenapa nggak Eyang yang belajar iqro nemenin Vania? Sekalian Eyang belajar! Kan Eyang belum bisa kan? Ayo Eyang!

(Saya menarik-narik tangannya si Eyang)

Si Eyang ngambek. "Nggak mau ah! Malu aku! Udah tua gini!"

Saya, "Ih nggak apa-apa! Baca Qur'an wajib! Yang penting berusaha belajar. Ayo Yang! Mau mulai kapan lagi?! Mumpung ada kak Tri..."

"Nggak mau! Ogah ah!"

Dan lamaaaa... Akhirnya saya geret saja si Eyang ke ruang belajar. Vania loncat-loncat kegirangan. Dia senengnya karena Eyang start dari iqro 1 sedangkan vania sudah iqro 4. Mau lomba katanya. Vania sudah menang sebelum mulai. Eh ya, dasar nih anak.

Memang saya pernah berkonsultasi dengan psikolog. Vania adalah tipe anak yang baru akan termotivasi belajar kalo dia punya "sparing partner", yaitu seseorang untuk berkompetisi. Kalau sendirian, dia kurang semangat. Apalagi jika menemui kesulitan, hilang sudah motivasinya. 

Akhirnya Eyang mau belajar iqro. Dan yang membuat saya terharuuu....

Di hari-hari dimana saya pulang malam sehabis praktek, Vania sudah tidur, tapi saya masih mendengar si Eyang sayup-sayup berlatih dengan huruf-huruf hijayyah. Subhanallah.

Vania yang nggak mau difoto menutup mukanya dengan bantal Mario. 

Saya mendapat banyak pelajaran dari orang-orang terkasih di sekitar saya. Eyang yang ternyata lebih bersemangat belajarnya dibanding Vania. Dan Kak Tri yang ikhlas membagi waktunya untuk 3 orang. Vania, Eyang dan kak Ira. 

There's always room for more. Semoga berkah untuk Kak Tri.

There's also room for more knowledge and skills in our brains, insya Allah... It's never too late to learn anything...

Berbagi layar monitor dengan Vania. Jika saat liburan (minggu), saya ingin menulis blog, sedangkan Vania ingin menonton Sofia. Hehehe... you see, there's always room for more...

Dan buat Papa, Mama dan Eyang, saya salut dengan semangat belajarnya. Alhamdulillah.

source

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

12 comments:

  1. tidak kenal umur ya untuk belajar. Semanga tterus belajarnya ya. Iy abetul bun waktu aku SD di sekolah gak ada pelajaran mengaji kecuali pelajaran agama. Untung di rumah dipaksa mengaji hehehe dipaksa kakrena suka bolos akunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. sama dong sama aku mbak.... :-P

      Delete
  2. semangat terus belajarnya, ya, Eyang ^_^

    ReplyDelete
  3. betul mak setuju, tak ada kata terlambat jika kita mau belajar. Semangat terus utk Vania, Eyang dan kak Ira :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, aamiin..
      Makasih mak Santi :)

      Delete
  4. Hihi... anak2 itu suka kalo berasa menang ya mbak. gimana nggak menang... hahahaha.
    Tapi jika itu bisa menjadi penyemangat cucu, eyang pasti mau. sayang pada cucu melebihi segalanya. Kita yg anaknya malah sudah jadi nomor sekian. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah mbak Susi betul banget... alhamdulillah eyang, opa dan oma pd sayang semua sm cucu :)

      Delete
  5. Aku seneng bgtt bacanyaaa. Vania jdi ada temen. Tambah raji pasti. Eyang smoga istiqomah, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah aamiin, makasih Idah.. :)

      Delete
  6. Iya sih, jaman aku kecil sekolah negeri nggak wajib mengaji. Sekarangpun di Jawa nggak ada jam khusus mengaji, hanya jadi satu dg pelajaran agama tp TPA diluar sekolah sudah banyak. Sekolah swasta Islam yg bagus jg makin banyak tp mahal. Beruntung sempat hidup di Riau, jadi anak2ku mengajinya bagus semua karena wajib mengaji. Rasanya tak ada anak Riau yg tak bisa mengaji.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah pd sudah bs mengaji... semoga barokah selalu ya mak Lusi.. :)

      Delete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)