Sunday, April 12, 2015

Berusaha Menghilangkan Kebiasaan Panik

Saya punya kebiasaan buruk, teman. Saya mudah cemas dan cepat panik!!!

Jika sahabat yang membaca posting ini pernah satu sekolah sama saya, pasti sangat paham dengan tabiat saya yang satu ini. Bahkan sahabat-sahabat saya di FKG dulu menjuluki saya "Miss Panic". Hadeuh!

Akhir-akhir ini, sudah beberapa kejadian yang membuat saya panik dan nggak mampu berpikir jernih. Misalkan kejadian habisnya buku pesanan, dimana buku pesanan teman-teman yang saya titipkan di kampus dikabarkan habis oleh seorang teman. Bagaimana saya tidak panik?! Ketika uang buku sudah dibayarkan ke saya, sedangkan uang tersebut sudah saya transfer semua ke pihak Jogja, dan buku sudah dikirim semua ke Jakarta, kemudian di saat ada beberapa teman yang belum mengambil buku pesanannya, bukunya dikabarkan habis?!

Wah! Malam itu saya sampai menangis...

Sebelum saya konfirmasi ke pihak kampus, saya sudah duluan terpuruk. Stress memikirkan berapa banyak yang harus saya ganti kerugiannya, sampai minta maaf berkali-kali di grup whatsapp kepada teman-teman. Apalagi catatan saya hanya satu copy dan itu ada di kampus. Semakin sedih saya malam itu... 

Pagi harinya, saya baru bisa konfirmasi dan ternyata, buku itu ada!

Si mbak yang menjaga buku mengatakan ia tak memberi buku ke sembarang orang dan hanya memberikan kepada yang namanya tertera di catatan saya! Alhamdulillah!

Ternyata!!!

Tapi... yang saya sesalkan adalah reaksi pertama saya... yaitu panik berlebihan!
Sampai saya mungkin menganggu teman-teman saya di whatsapp malam-malam dengan permintaan maaf saya yang berkali-kali. 

Source

Dengan adanya kejadian tersebut, Papa saya memberikan catatan ke saya. Catat: ini benar-benar catatan! Papa menyuruh saya menuliskannya di kertas untuk saya simpan dan untuk selamanya saya ingat dan saya implementasikan di keseharian saya.

Catatan dari Papa:
  1. Semua transaksi serah terima, pengiriman, pembayaran, dokumen apapun, harus dibuat bukti tertulis hitam di atas putih.
  2. Bukti harus dibuat double atau lebih. Baik berupa hard copy maupun soft copy.
  3. Setiap mendengar berita yang mengejutkan, tenangkan diri. Anggap berita belum benar.
  4. Dahulukan konfirmasi (tabayyun).
  5. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Sabar dalam membuat keputusan akhir. Keputusan dibuat berdasarkan minimal 3 input data atau 3 sumber. 
  6. Jika kita di posisi sendiri menangani banyak orang, pakailah manajemen air bah. Tetap menjadi karang di antara beraneka gelombang yang menghantam. 
  7. Jangan menikam diri sendiri (ya! Saya sering menyalahkan diri sendiri!).
  8. Pahami makna surat Al-Falaq. Berlindung dari makhluk Allah yang tidak baik, termasuk hati kita sendiri. 

Source

Dan sifat pencemas itu yang saya yakini menyebabkan saya menderita salah satu penyakit kronis saya... Gastritis!

Saya rasa banyak juga diantara kita yang menderita gastritis... Buktinya, sampai saat saya publish posting ini, posting Pengalaman Gastroscopy masih menjadi salah satu dari 5 posting yang paling popular di blog saya. Di statistik blog saya juga menunjukkan hal yang sama. Perihal prosedur endoskopi, khususnya gastroscopy masih menjadi salah satu yang sering dicari orang.

Wah wah wah!

Tapi menderita sakit lambung itu nggak enak kawan... Apalagi kalau gas yang di lambung itu nggak bisa keluar. Duuuh, sesak rasanya... 

Kondisi kurang tidur karena minggu lalu Vania demam beberapa hari lamanya, ditambah stress memikirkan ujian yang akan dijalani serta deadline penulisan bab 2 tesis, membuat saya terkapar.

DR. Dr. Suyanto Sidik, Sp.PD, K-GEH, adalah teman Papa saya waktu di TNI AL dulu. Beliau praktek di RS Pondok Indah. Menurut berbagai penelitian yang beliau baca, gastritis itu...

50% pikiran.
30% makanan/ minuman.
20% kelainan anatomis atau penyakit kronis yang memperberat.

Hmm... Baiklah...
Saya berobat ke beliau rasanya seperti "dimarahi" oleh Papa!
Bukan diperiksa yang rumit ini itu, tapi malah dinasihati panjang lebar tentang merubah pola hidup menjadi lebih positif!

Yang ikhlas, yang sabar! Wew!

Walau saya sudah niatkan berubah, tetap yang namanya luka di lambung nggak bisa sembuh instan yah, teman...

Akhirnya dalam seminggu kemarin saya 2x injeksi pantozol (obat untuk gastritis). Dan injeksi yang kedua dilakukan Jum'at tengah malam setelah pulang kuliah saya berusaha menahan nyeri dan mual tapi akhirnya nggak kuat juga. Keberadaan saya di IGD kemarin sempat saya posting di wall FB saya, karena kondisi pasien-pasien di kanan dan kiri saya yang memprihantikan. 

Selama satu jam, saya menikmati waktu saya diinfus. Walau saya berusaha mengalihkan pikiran saya dari suasana hectic IGD, tetap saja pikiran saya menangkap suara-suara di sekitar saya. Sebelah kanan saya seorang pemuda 26 tahun yang meninggal dunia entah karena apa. Sebelah kiri saya seorang bayi berusia 3 bulan yang muntah-muntah darah. Pada akhirnya bayi itu dirawat inap.

Saya membayangkan putri kecil saya Vania yang sedang tertidur pulas di rumah, insya Allah dan seterusnya berada dalam keadaan sehat wal afiat. 

Alhamdulillah... 
Saya merasa bersyukur. Bukannya saya senang di atas penderitaan orang lain. Tapi saya bersyukur tidak diberi ujian diluar batas kemampuan saya.

Begitu saya sampai di rumah, saya mendapatkan hadiah yang membuat saya terharu sangat. 

Saya nggak ngerti kepada header-nya "happy birthday" padahal baik saya maupun vania nggak sedang berulang tahun. Asumsi saya mungkin memang Vania suka sama ulang tahun dan nggak sabar nunggu hari ultahnya. Hahaha... 

So sweet! Sampai nangis saya membacanya... 

Source

A hug from the right person, indeed... ^_^

Iya, Vania sayang... Bunda akan berusaha sehat....

Selamat menjalani hari-hari yang menyenangkan, teman-teman...


24 comments:

  1. Wah sama banget dg aku mak. Dulu keluar masuk IGD rekam jantung & injeksi utk sakit lambung. Alhamdulillah 2 tahun ini kok nggak pernah lagi, padahal nggak anti makanan apapun. Ngopi juga masih walaupun kopi yg lebih ringan. Mungkin ada hubungannya dg suka panik itu ya? Skrg saya memang agak santai tp suami (kebetulan sedang tugas lain kota) tetap reaksi cepat nelponin orang2 kalau saya butuh apa2, takut kalau nggak cepat ada solusi saya kumat paniknya hahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus jaga kesehatan dan jaga perasaan yah mak Lusi... biar bisa sehat terus, insya Allah :)

      Delete
  2. Vania gambarnya bagus banget...

    Sehat2 terus ya Bunda....

    ReplyDelete
  3. Oh ini yang waktu itu diceritakan ya bun :) Allhamdulillah sudah selesai ya. Aduh maaf banget aku ga tau bunda vania sakit, smeoga sehat selalu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Lidya, yg kmrn kucerita, hehehe.. aamiin.. makasih ya mbak.. :)

      Delete
  4. Saya juga terkena sifat panik ini kok bunda. Ketika ada hal yagn tidak sesuai dengan rencana, respon tubuh saya sudah gak karuan, keringat dingin dan tangan bergetar seakan-akan kesalahan ada pada saya semua. bagaimana nanti saya bertanggung jawab?

    Mencoba untuk tenang sesaat bisa mengurangi rasa panik ini, tapi ya gitu de, tetap saya kelihatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Persis seperti itu juga aku...
      Panik dan sering merasa bersalah...
      Tp mudah2an bisa dilatih utk tetap tenang :)

      Delete
  5. Artikel bagus ini sebenarnya bisa menjadi dua artikel
    Yang satu tentang panik dan yang satunya tentang gas itu Jeng
    Banyak berdzikir agar nggak mudah panik
    Semoga gasnya berkurang da sehat selalu
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Pakde... Pakde ada saja idenya hehehe...
      Aamiin.. sudah lebih sehat sekarang insya Allah...
      terima kasih Pakde yg baik ^_^

      Delete
  6. Tiaaa...ikut tarharu vaca tulisan Vania disini...duh, anak itu memang selalu bikin hati kita hangat ya!
    Smoga Tia cepet pulih dan jangan kambuh lagi penyakit gastritis-nya.
    Menjadi lebih santai itu bisa dilatih, Tia.
    Contohnya saya. Saya ini orangnya apatis abis. Orang mau maju kemana juga saya nggak pernah ambil pusing. Jeleknya, saya jadi pasrah. Tapi pelan-pelan saya ubah sifat pasrah tadi menjadi semeleh kalo orang Jawa bilang. Nggak ngoyo, tapi tetep harus berusaha optimal.
    Sifat panik Tia ini ada bagusnya sepanjang tidak berlebihan. Iya, dengan sifat mudah panik, artinya Tia juga mudah berempati pada kesulitan otang lain. Itu bagus kan?
    Tapiiiii...hehe, ya itu tadi, jangan berlebihan karena akan merugikan diri sendiri...peluk saya, Tia...smoga pagi ini Tia udah sehat kembali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Irma... ini lagi latihan untuk lebih santai menghadapi apapun..
      kita berkebalikan yah mbak.. hihihi...
      bisa saling mengingatkan,
      alhamdulillah aku udah lebih sehat, terima kasih mbak Irma... ^_^

      Delete
  7. Coba share dari kejadian yang pernah saya alami. Bila tiba-tiba ada kabar "mak jeder", hal pertama yang sebaiknya dilakukan, lihat apa yang terjadi, kemudian selidiki apa benar, bagai mana kronologisnya. terkedang kita terlalu khawatir dan berfikir kemana-mana, namun sebenarnya yang terjadi tidak lah seperti yang difikirkan. Salam bu, semoga cepet baikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang pertama2 harus menenangkan diri dulu yah Ciput, baru bisa berpikir jernih :)
      aamiin, makasih ya Ciput.. :)

      Delete
  8. wah... paniknya level lumayan akut yah bun :D

    eniwei salam kenal yah bun
    numpang baca2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... lagi berusaha memperbaiki diri kok :D
      monggo Depz, terima kasih ya :)

      Delete
  9. aku mbrebes mili bacanya mba Thia, apalagi yang pas tulisannya Vania, memang bunda itu enggak boleh sakit supaya anak-anak enggak sedih yaaa. :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak juga khawatir liat emaknya sakit yah mbak Rina...
      harus sebisa mungkin acting strong di depan mereka sepertinya hehehe... :-D

      Delete
  10. Assalamu'alaikum, apa kabar mbak Tiaaaa ....
    Apa yang disampaikan Papa, persis banget dengan yang dilakukan almarhum mertua saya yang nota bene juga seorang tentara, yang begitu teliti, hati hati terhadap hal-hal yang kita sendiri sering mengabaikannya. Saya banyak belajar dari mertua, agar tidak panik dalam menghadapi perkara-perkara apapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumsalam Pak Ies...
      alhamdulillah sudah lebih sehat Pak... :)
      wah tentara memang disiplin sekali yah Pak...
      beda sama aku yg udahlah panik, teledor pula...
      ahahahahaha...

      Delete
  11. Huuuaaa,, saya juga kadang-kadang suka gitu Mbak, panik sendiri klo ada apa2.
    Pernah tuh 2010an lalu, lemari kantor dibobol org yg jahat, ada bbrp item yg hilang, mana waktu itu pak boss lg gak ada di tempat, jadilah saya nelangsa sendiri sibuk mikir yg nggak2, mikirlah saya yg harus ganti kerusakan dan barang yg hilang itu, sibuk ngitung sendiri, hiikkss mana cukuplah du gaji saya utk itu smua..huhuhuhh. padahal mah pak boss tidak setega itu. Lagian bukan sy yg salah koq, tp sayanya aja yg panikan dan lebay :D

    Oh ya sekarang udh sehat lg kan ya Mbak? Td waktu lihat fotonya kirain Mbak ultah trnyata nggak. Pasti terharu bgt ya Mbak dapat ucapan gtu dari Vania tersayang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Diah... kita harus latihan lebih santai dan tenang, seperti nasihat teman2 di atas.. hehehe...
      semoga diah juga nggak panikan lagi yah...
      iyaa ucapan dari orang terkasih itu motivasi terbesar dalam hidup.. :)
      makasih ya Diah. :)

      Delete
  12. Kebalikan nya dari aku, aku orang nya woles banget malah ngak ada panik2nya terlalu santai hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman2 yg santai dan yg panikan.. bisa saling melengkapi yah.. hehehe...

      Delete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)