Monday, March 2, 2015

Motivasi Opa Untuk Vania

Saya ingat sekali ketika saya SD dulu... Sekitar kelas 2 atau kelas 3.. Saya ingin sekali ikut beladiri silat. Tapi... nggak boleh sama Mama saya. Alasannya, karena anak perempuan harusnya nari, bukan silat. Saya nggak suka nari. Saya sukanya silat. Kalo kata saya, orang yang bisa silat itu keren... Hahaha...

Karena nggak dapat ijin, akhirnya sampai lulus SD pun saya nggak ikut ekstra kurikuler apapun. Hanya iqro dengan memanggil guru rutin ke rumah sampai saya mampu membaca Al-Qur'an.

Tapi tahukah teman? Keinginan itu ternyata saya pendam. Saat SMP, kami sekeluarga merantau ke negeri orang selama 2 tahun. Disini, akhirnya Papa bersedia menjadi guru privat buat saya dan adik-adik saya. Itu juga karena kedua adik saya laki-laki semua. Papa ingin mengajarkan adik-adik saya karate, jadilah saya ikut-ikutan. Kami hanya belajar gerakan-gerakan dasar di basement rumah kami.

Papa juga pernah karate waktu SMA dan menyelesaikan sampai sabuk cokelat. Papa berhenti sebelum bisa sabuk hitam karena masuk AKABRI.

Kembali ke Indonesia lagi-lagi saya tak ada waktu untuk ekstra kurikuler, karena harus belajar belajar dan belajar mengejar ketertinggalan pelajaran sekolah selama 2 tahun. (Di blog saya yang lama saya pernah menulis bahwa kurikulum USA tidak sama dengan Indonesia, dan di Indonesia beban belajarnya jauh lebih berat).

Akhirnya baru kelas 1 SMA saya bisa bernafas agak lega.

Saya dan adik saya yang pertama ikut karate di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta Selatan. Kami berdua, diantar jemput Papa setiap latihan. Adik laki-laki saya yang terakhir malah nggak suka olah raga sama sekali.

Saya suka sekali dengan suasana latihan. Saya tertantang. Walau kadang badan biru-biru kena tonjok dan tendangan, saya nggak keberatan. Hahaha...

Tapi saya sedih juga karena hanya bisa sampai sabuk biru. Kelas 3 SMA saya kembali disibukkan dengan belajar karena target saya adalah untuk lolos UMPTN. Saya mulai jarang-jarang masuk dan akhirnya stop sama sekali ketika mulai masuk kuliah karena hampir setiap hari kuliah saya sampai sore. 

Sementara saya kuliah, adik saya melanjutkan karate di SMAnya dan dia berhasil mencapai sabuk cokelat. Kyu-nya lupa.. Dan entah kenapa mungkin ya, mencapai sabuk hitam itu susah sekali, dan adik saya pun berhenti ketika dia mulai kuliah kedinasan.

Saya baru ingat orangtua saya nggak pernah mendokumentasikan saya dan adik saya saat latihan. Dan hanya ijazah ini yang saya punya sebagai kenang-kenangan. ^_^

Setelah saya lulus kuliah dan belum praktek, saya kembali "bergerilya". Kali ini saya coba-coba bela diri lainnya. Hahaha... Hanya menuntaskan rasa penasaran saya. Saya coba aikido. Diantara teman-teman saya ada seorang ibu muda dengan anaknya yang berusia 4 tahun. Si ibu dan si anak berlatih bersama. Saat itu memang kelas dewasa dan anak di GOR Bulungan, digabung. Hanya pasangannya saja disesuaikan kalau sedang berlatih jurus.

Saya sampai bercita-cita nanti kalau punya anak, saya akan latihan bela diri lagi dan mengajak anak saya berlatih bersama. Ketika Vania usia dua tahun, kami pindah ke rumah kami sekarang ini. Di dekat sini ada tempat Aikido di Halim, tapiii... Dewasa dan anak dipisah kelasnya, beda hari pula!

Ada padepokan pencak silat di TMII, tapi hanya menerima siswa anak-anak. Hiks! Padahal saya inginnya bareng supaya saya bisa jadi motivasi. Vania sendiri tidak ada keinginan ikut bela diri. Keinginan saya tidak tercapai. Saya akhirnya melupakan saja tentang hal itu.

Tak disangka, saat masuk SD Nizamia Andalusia, Vania diwajibkan untuk memilih diantara 3 intra kurikuler yang semuanya nggak ada yang favorit buat dia. Hahahaa...

Intra kurikuler ini, nilainya masuk ke raport. Tiga kegiatan itu adalah: menari, tae kwon do, dan futsal. Futsal sudah jelas saya coret dari pilihan. Hahaha...

Saya memberi Vania pilihan, "Vania, pilih menari atau tae kwon do? Ini wajib loh"

Vania hanya mengedikkan bahu.

"Vania paling suka mana?" saya tanya.

"Hmm... Dua-duanya suka, deh," jawab Vania. Ya Tuhan, jawaban yang membingungkan!

"Vania paling nggak suka yang mana?" saya nggak menyerah.

Vania jawab, "nggak suka dua-duanya... Hehehe... Iqro aja deh Bun ada nggak?"

Astagaaaa...

"Nggak ada, Vania! Pilih nari apa tae kwon do?! Buruan!"

Kembali dia mengedikkan bahu. Hadeh!

Sepertinya sekolah Vania "memaksa" anak muridnya untuk rajin bergerak. Selain olahraga seminggu sekali, dan berenang dua minggu sekali, anak-anak diwajibkan memilih intra kurikuler yang semua pilihannya melibatkan gerak tubuh. That's great!

Vania yang nggak punya pendirian memilih antara nari dan tae kwon do, saya nilai sebagai peluang. Saya masukkan motivasi supaya ia pilih tae kwon do saja. Hahahaa... 


Semester 1 di kelas 1 SD ini, Vania malas-malasan latihan. Ia ternyata nggak begitu tertarik tae kwon do. Ia sering mengeluh capek, dan sering ijin kalau latihan tae kwon do. Akhirnya di raport nilainya adalah C! Wew! Ya sudahlah Vania, saya juga nggak memaksa.

Kalau untuk alasan capek, saya nggak percaya pada Vania. Pulang sekolah ia mampu berjam-jam lari-larian bersama teman-teman tetangganya. Jadi jelas, stamina (seharusnya) bukan kendala.

Saya tanyakan ulang kepada Vania untuk semester 2, apa mau pindah ke nari. Jawabannya kurang lebih sama dengan di atas. Capek deh!

Kebetulan di bulan Januari ada ujian kenaikan tingkat. Saya yang galau Vania diikutkan apa tidak, akhirnya diyakinkan oleh teman-teman Emak-emak Nizamia, Opa Vania pun meyakinkan, "udah coba aja dulu. Namanya juga usaha."

Sampai saya sempat "menteror" si sabam dengan pertanyaan-pertanyaan seputar apakah Vania memungkinkan untuk ikut ujian atau tidak. Hahaha... Dan sabam justru meyakinkan saya kalau ujian dari putih ke kuning nggak seberapa berat, kemungkinan nggak lulus kecil, dan pengalaman sabam justru anak-anak yang sabuknya berubah jadi kuning bisa jadi lebih termotivasi. Hmm.. Oke deh!

Sebelum maju untuk diuji, saya bisiki Vania. "Vania yang semangat ya! Vania nanti jadi jagoannya Bunda!"

Hmm.. Yang pita pink itu masih kurang power.. Hahaha...

Dan ternyata betul, kawan!
Begitu Vania dan teman-temannya "dilantik" dengan sabuk baru, saya lihat auranya beda. Vania bangga sekali dengan sabuk kuningnya! Dan semenjak punya sabuk kuning sampai sebulan ini Vania nggak pernah absen latihan. Dia lebih semangat dan nggak pernah lagi mengeluh tentang latihan tae kwon do. Wah, alhamdulillah!

Mudah-mudahan Vania ke depan tambah semangat! Aamiin!

Vania dengan sabuk kuningnya tentu saja membuat bangga. Bukan hanya saya, tapi juga Opa dan Omanya! Yaa! Akhirnya Mama saya ikhlas punya cucu perempuan yang ikut bela diri! ^_^

Begitu bangganya Opa Vania, sampai-sampai Papa saya rela mencari foto lamanya...

Papa saat latihan karate di Gunung Gede. Ini waktu Papa SMA.

Suatu malam, Vania dipangku Opa sambil diceritakan waktu Opa muda. Berbekal foto di atas itu, Opa Vania menyuntikkan semangat kepada Vania, untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik dimana pun kita berada. Dan bahwa Opa bangga sama Vania. Vania tersipu dan terlihat bangga akan dirinya. Duh, terharu saya...

Saya nggak akan memaksa Vania untuk terus ikut tae kwon do. Biar Vania sendiri yang memutuskan apakah harus lanjut dan kapan akan berhenti. Let her follow her heart...

Untuk sementara ini, sabuk kuning sudah cukup membuat saya bangga akan dirinya.. Insya Allah.. Dan tentu saja, memuaskan keinginan saya yang sudah saya pendam lama dari SD... ^_^

17 comments:

  1. Bela diri untuk melindungi diri. Gerakan-gerakan yang dipelajari sejak kecil akan menguat ketika besar. Semoga Vania tetap semangat mencapai sabuk hitam

    ReplyDelete
  2. Vaniaaa... keren banget sih kamyu.... beneran jadi jagoannya mama nanti ya nak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. insya Allah... aamiin...
      Kanaya juga ya.. hehehe ^_^

      Delete
  3. Akhirnya, tercapai juga cita-cita Tia buat punya anak yang bisa tae kwon do...hehehe, ikut seneng yaaa!
    Anak seumur Vania kadang tidak bisa menentukan pilihan. Jadi orang tua memang harus agak 'agresif' menawarkan ini dan itu. Kalo ternyata suka, Alhamdulillah. Kalo nggak ya dicari lagi apa yang bakal diminati oleh anak kita.
    Duluuuu, saya bercita-cita smoga Risa bisa masuk Paskibraka tingkat nasional. Eh, tingkat sekolah aja ternyata nggak Tia. Tapi syukurlah, cita-cita saya supaya Risa bisa berenang dan main alat musik tercapai...berkat bujukan dan rayuan, serta sedikit paksaan di awalnya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang penting orangtua mengenalkan dan tidak memaksa yah mbak Irma...
      makasih sharing nya mbak Irma... ^_^

      Delete
  4. Vaniaaa... hebat sudah sabuk kuning... semangat terus berlatih yaa...

    ReplyDelete
  5. Vania heubat..fai baru mulai udah berhenti aja taekwondonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fai hobinya yang lain kali yah mbak?
      hehehehe...

      Delete
  6. waaaa pada jago beladiri ya, Faiz masih geleng-geleng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Faiz masih eksplorasi yah mak... ^_^
      enjoy, Faiz.!

      Delete
  7. Motivasinya pas banget hingga anak termotivasi ya mbak. apalagi Vania sudah sabuk kuning...
    Apakabar mbak? duh lama banget gak main ke sini. masih tahap ngeblog lagi setelah lama absen. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah kabar baik mbak susi.. sama nih mbak... aku lagi mau mulai mendisiplinkan posting paling nggak seminggu sekali mbak... hehehe

      Delete
  8. Replies
    1. Gak jago sih mbak...
      Dan bukan karate, ini tae kwon do.. heheheh

      Delete
  9. Salam kenal mba, saya Mia, baru pertama kali mengunjungi blog ini karena tertarik dengan review Nizamia Andalusia. Bulan ini kemungkinan saya pindah ke Bambu Apus, saya ingin bertanya2 mengenai sekolah untuk anak saya usia 3.5 tahun, namun kontak di web-nya tidak bisa dihubungi... Boleh minta informasinya mba, saya sebaiknya menghubungi kemana mengenai TK Nizamia Andalusia? Terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)