Tuesday, March 31, 2015

Suka Duka Mahasiswa Kelas Jauh

Saya baru sadar bahwa jurusan kuliah yang saya ambil tidak begitu populer, bahkan diantara karyawan UGM sendiri. Hehehe...

Jadi sekarang saya tak heran jika teman-teman kuliah saya dulu, mantan dosen saya waktu jaman S1, serta teman-teman sejawat saya, tidak begitu familiar dengan konsep perkuliahan MMR kelas Jakarta. Apalagi, teman-teman blogger yah... Hahaha...

Pertanyaan yang kerap saya dapat adalah.. "Jadi sekarang tinggal di Jogja?"

Sebenarnya bukan jurusan kuliahnya yang tidak populer sih..
Tapi tipe kelasnya...

Waktu kemarin saya ke Jogja dan mengurus administrasi ini dan itu di DAA (Direktorat Administrasi Akademik), petugasnya nggak ngerti bahwa MMR juga ada kelas di Jakarta.

Petugas bertanya, "Kalau kelas Jakarta kenapa nggak urus admin di kampus Saharjo?"

Begitu kami jawab, kami adalah mahasiswa MMR Jakarta, dan bukan MM Jakarta, si mbak petugas malah bingung. "Hah? Emang MMR ada di Jakarta?"

Hahahaaa... Astaga...

FYI, kampus UGM Jl. Dr. Saharjo di Tebet itu adalah milik MM UGM. Bukan milik UGM secara keseluruhan. Jadi kelas MMR (Magister Manajemen Rumah Sakit) yang berada dibawah Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, menyewa sebidang kantor di daerah Kuningan. Tepatnya di Gedung Granadi yang letaknya tepat di depan Kemenkes, Jl. HR Rasuna Said. 

Foto ini saya ambil saat pulang kuliah... Biasanya kuliah selesai sekitar jam 20:00 WIB... 

Dulu, ada juga seorang "teman" yang mengatakan, "UGM kan di Jogja. Kalo kuliah UGM Jakarta berarti abal-abal tuh! Hahahaaa.."

Kalimat yang terakhir saya tulis itu lumayan ngejleb.. Makanya saya masih ingat sampai sekarang. Hahaha... Baiklah... Terserah lah ya mau dibilang apa.. Bagi saya, yang penting ilmunya bermanfaat, Insya Allah...

Kenapa tidak di UI? 

Kalau saya ditanya begitu, biasanya saya menjawab karena apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik dari Allah. Begitupun takdir dimana kita sekolah. Angkatan saya, MMR Jakarta 2013, sepertinya satu kelas yang unik. Dari semua angkatan MMR Jakarta, yang rata-rata isinya belasan sampai dengan dua puluhan mahasiswa, rasanya baru kelas saya saja yang mahasiswanya paling banyak. Bukan itu saja, setengah dari mahasiswanya adalah dokter-dokter senior yang sudah memiliki nama. Bahkan banyak dari mereka yang sudah S3! 

Kembali lagi ke soal takdir. Saya nggak tau maksudnya Allah apa, tapi yang pasti baik. FYI, mahasiswa di kelas saya ada 46 orang (yap! Banyak!). Mahasiswa Jakarta (murni) adalah 17 orang, sedangkan 29 orang lainnya adalah dokter-dokter dan karyawan RSCM yang ditugaskan belajar manajemen rumah sakit (biasanya yang ditugaskan belajar adalah beliau-beliau yang menduduki jabatan struktural seperti Ka Dept dan Direktur).

Foto ini saya ambil hari Jum'at minggu lalu. Setelah kopdar dengan sobat blogger, saya kuliah tapi agak telat. Hahaha... 

Kelebihan yang saya dapat, kami banyak mendengar pengalaman-pengalaman beliau-beliau yang sudah senior ini. Kekurangannya, saya yang masih anak bawang butuh waktu lama untuk menyerap pelajaran dimana speed mengajar dosennya disesuaikan dengan beliau-beliau yang senior. Tapi senangnya, ada beberapa dokter RSCM yang bersedia meluangkan waktu beliau untuk belajar bersama dengan saya dan teman-teman yang masih junior. 

Tenaga pengajar MMR kelas Jakarta, adalah dosen yang sama dengan yang mengajar MMR di UGM Jogja. Kelas yang diadakan di Jakarta adalah di hari Jum'at dan Sabtu. Memang kami yang di Jakarta harus sedikit mengalah dengan Jogja, karena tetap kelas Jogja yang lebih dahulu. Walau begitu, keuntungannya adalah, setiap ujian (yang sudah pasti Jogja duluan), kami bisa bertanya kisi-kisinya. Hahahaaa... 

Jika teman-teman disini pernah atau sering ke Granadi, mungkin ada sekali waktu melihat pemandangan bapak-bapak atau ibu-ibu menarik koper kesana kemari. Pemandangan yang lumayan unik di sebuah gedung perkantoran. Kemungkinan besar beliau-beliau itu adalah dosen MMR dari Jogja. Kami yang di Jakarta harus banyak sabar karena dosen seringkali tidak tepat waktu, dikarenakan delay pesawat dan banyak hal lainnya. Pernah juga kami "libur" hampir sebulan lamanya, terkait meletusnya Gunung Kelud tahun lalu. 

Kekurangan lainnya dari menjadi mahasiswa kelas jauh adalah, kami tidak dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Selama ini saya sering pesan buku lewat teman saya di Jogja yang mengambil langsung ke penerbit. Tapi kami sekarang sudah masuk penulisan tesis. Kami sangat butuh referensi lebih banyak lagi. Maka, dari sekian mahasiswa Jakarta, saya dan dua orang teman saya, dr. Titin Nurlaila dan drg. Ery Nurcahya, nekat ngebolang ke Jogja.

Tujuannya, selain ingin memanfaatkan perpustakaan, adalah untuk menemui dosen pembimbing kami (ya iya dong mahasiswa yang menghampiri dosen.. kasihan kalau dosen terus yang mendatangi mahasiswa di Jakarta, hehehe...) dan untuk mengurus administrasi (SPP dan aktifasi e-mail untuk mendapatkan jurnal-jurnal gratisan). 


Giliran saya yang geret-geret koper kesana kemari di lingkungan kampus. 



Ruang arsip tesis jadi salah satu tujuan kami.

Hmm.. Selfie tetep dong ya! Hahahaa.. Ini adalah salah satu manfaat buku, yaitu bisa jadi tripod darurat. Hehehe...

Selama 3 hari di Jogja saya tinggal di hotel yang nggak jauh dari kampus. Ini salah satu hotel baru yang lumayan oke kualitasnya, baik dari segi pelayanan maupun kenyamanan. Hotel Citradream ini terletak dekat monumen Tugu. Karena kami bertiga, kemana-mana kami menggunakan taksi. Biaya dibagi tiga, lebih murah meriah. Hehehe... Taksi yang biasa kami pesan adalah Jas Taxi yang lumayan cepat response-nya. Nomor telponnya juga mudah diingat. 


Kami pesan hotel tanpa sarapan pagi. Memang diniatkan karena kami yakin dekat hotel pasti banyak yang jual sarapan pagi, lebih murah pula. Maklum, kantong mahasiswa. Apapun yang bisa dihemat, benar-benar diperjuangkan. Hahaha...

Di satu pagi kami memanfaatkan waktu untuk jalan pagi sambil mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Pemandangan Gunung Merapi dari jendela kamar kami. 


Dekat dengan hotel dan monumen Tugu, ada Pasar Kranggan. Disini kami membeli sarapan pagi. Banyak dijual nasi gudeg, ada juga bubur ayam, dan lain-lain. 


Waktu kami habis di kampus. Tapi malam sebelum pulang kami sempatkan jalan-jalan ke Malioboro. Saya harus membeli oleh-oleh titipan Vania. Dari hotel kami hanya lurus saja, kami turun di stasiun Tugu untuk menemani teman saya ngeprint tiket pulang. Tak jauh kami sudah tiba di jalan Malioboro.

Kami menjajal rumah makan lesehan yang banyak bertebaran sepanjang Malioboro. Menurut pengalaman  teman saya, banyak yang kurang pas di lidah, tapi kami menemukan tempat makan yang lumayan. Lesehan ini letaknya tepat di depan Hotel Ibis. 


Di Malioboro kami hanya mampir toko Mirota. Wah senang deh saya disini. Selain suasananya yang khas Jawa, barangnya juga lengkap. Mulai dari makanan, minuman kering, kain dan baju batik, lukisan, aneka wayang dan masih banyak lagi, ada disini. One stop shopping untuk belanja oleh-oleh. Saya membeli baju batik, cokelat dan bakpia disini. Seorang pria berblankon memainkan piano dan seorang ibu membatik menjadi pemandangan yang menghibur untuk pengunjung. 




Urusan tesis, dilanjutkan di Jakarta dan kami berjanji rajin berkirim e-mail dengan dosen di Jogja. Terakhir, di perjalanan saya ke bandara, tak lupa saya membeli satu lagi oleh-oleh favorit Vania. Yup! Gudeg Yu Djum!

Yogyakarta... Is a place I always wanna go back to.. ^_^

Banyak teman saya menanyakan informasi seputar MMR UGM ke saya. Saya akan share link-nya disini juga untuk teman-teman yang membutuhkan. PH GMU dan MMR UGM.


Monday, March 23, 2015

Menyambung Silaturahmi di Semanggi

Temans... Saya mau pamer... 

Hahaha...

Jum'at minggu lalu saya bertemu dengan dua emak blogger yang cantik-cantik. Yeay! Mbak Irma Bintang Timur dan Mbak Lidya Mama Calvin.. Alhamdulillah, Allah beri kesempatan lagi bersilaturahmi dengan sahabat blogger...

Pagi itu saya dan mbak Lidya janjian main ke tempat mbak Irma di apartemennya di daerah Semanggi. Salahnya saya yang suka teledor dan lupaan nggak menanyakan alamatnya secara persis, untung mbak Lidya memberi tahu pagi-pagi sekali.. Hehehe... 


Kami disambut di lobby apartemen dengan sang tuan rumah yang super ramah dan selalu penuh senyum... Dari lobby kami mampir alfamart dan langsung naik ke apartemen mbak Irma. Kami disajikan aneka buah-buahan, kue-kue, teh dan pisang goreng buatan mbak Irma yang yummy!

Mbak Lidya membawa serta si kecil Alvin yang baru saja lomba tahfiz sehari sebelumnya. Alvin lucu dan imut-imut.. Hehehe... dan pintar foto juga!

Klik! Hasil fotonya masih di mbak Lidya.. Hihihi...

Setelah beberapa potong makanan dan secangkir teh... Kami turun ke bawah, ke tepi kolam renang yang ada playgroundnya... ^_^

Alvin main di playground yang tersedia di tepi kolam renang.. 

Sementara Alvin main, kami melanjutkan bincang-bincang... Seperti di dunia maya, di dunia nyata pun mbak Irma dan mbak Lidya sangat menyenangkan diajak ngobrol.. :-D

Kayaknya saya akan pusing kalau tinggal di atas sana @_@


Hari beranjak siang dan mbak Irma mengajak kami maksi di foodcourt... 
Hmm... Kalau saya tinggal di apartemen bisa bahaya.. Bisa jadi saya jajan setiap hari.. Hahaha...

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari silaturahmi dengan sahabat blogger...

Saya mendapat pengetahuan baru tentang ecocash dan istilah-istilah asing dunia internet dari mbak Lidya (yang sampai sekarang pun saya belum paham banget sih, hahaha...)

Saya mendapat sharing pengalaman mbak Irma dalam menghadapi tinggal serumah dengan keluarga yang sudah lanjut usia... Rasa sayangnya terhadap mereka, dan terkadang rasa sebelnya juga... Bagaimanapun kondisi kehidupan kita sekarang, siapapun orang yang bersama kita, pastinya akan membuat kita lebih dewasa ke depannya... Aamiin...

Saya juga belajar untuk menjadi orang yang netral di manapun saya berada, seperti mbak Irma dan mbak Lidya.. ^_^


Sampai setelah makan siang pun, mbak Irma masih membekali kami dengan oleh-oleh...
Baik banget mbak Irma... Terima kasiiih...

Alhamdulillah seneeeng deh ketemu sama mbak Irma, mbak Lidya dan si kecil Alvin!

Do'a saya untuk mbak Irma sekeluarga dan Mbak Lidya sekeluarga... Semoga Allah berkahi selalu dan semoga kita bisa ketemu lagi... Aamiiin...

catatan: saya paling nggak bisa membuat judul.. jadi ya... gitu deh... (-___-)"

Thursday, March 19, 2015

Dija's Special Five

Blog Little Dija adalah salah satu blog yang paling sering saya kunjungi. Selain karena saya suka mengikuti perkembangan Little Princess Dija, hal lain yang saya sukai adalah model baju-baju Dija, serta gayanya yang cantik saat difoto.  ^_^

Menurut saya, mengambil gambar anak-anak itu susahnya minta ampun. Mulai dari yang nggak bisa berhenti bergerak sehingga membuat gambar blur... Sampai kalaupun iya mau difoto, ya gayanya nyeleneh yang kayaknya nggak pantes dipajang di blog.. Hahaha... Saya dulu sampai sempat bertanya tips dari Ola Elsa tentang cara membuat Dija pintar berpose. :-D

Buat saya pribadi, kedua hal itu (model baju dan pose berfoto) menjadi inspirasi bagi saya dalam mengabadikan momen indah anak dan keponakan-keponakan saya lewat lensa kamera.:-D

Selama lebih dari 4 tahun mengenal Dija lewat blog (mudah-mudahan suatu hari bisa ketemu ya, Dija... :-D), sampai tak terhitung outfit dan pose mana saja yang saya suka. Semua bagus! Jadi, untuk Dija kali ini saya browsing lagi blog Dija dan memilih 5 foto dibawah ini yang menjadi favorit saya... ^_^

8 months old Dija

Dija yang berkulit putih dengan gaun merah tampak ceria... ^_^
"A little girl is sugar and spice and everything nice." (unknown) 

1,5 year old Dija

Salah satu gaun Dija dengan warna favorit Ola Elsa. Gayanya Dija menggambarkan jelas rasa ingin tahu seorang anak terhadap benda-benda di sekitarnya. Rasa ingin tahu yang sudah jarang ada pada diri orang dewasa.. 
"Children make you want to start life over." (Muhammad Ali)

2 years 8 months old Dija

Saya suka gaunnya yang hijau... Warna favorit saya! Dan tentu saja, gayanya Dija manis sekali!
"While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about." (Angela Schwindt)

3 years and 9 months old Dija

Baju olahraga yang penuh warna! Foto ini menampakkan keceriaan Dija... Dija yang sehat dan aktif, adalah karunia untuk keluarga.
"Children need the freedom and time to play. Play is not a luxury. Play is necessity." (Key Redfield Jamison)

4 years and 11 months old Dija

Gaun motif apel yang manis, dear Dija! Senyumnya anggun sekali. Dija sudah besar sekarang..
“When I was 5 years old, my mother always told me that happiness was the key to life. When I went to school, they asked me what I wanted to be when I grew up. I wrote down ‘happy’. They told me I didn’t understand the assignment, and I told them they didn’t understand life.”
(John Lennon)

Lewat posting ini, Vania dan Bunda ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-5 untuk Dija yang akan merayakan ulang tahunnya di tanggal 23 Maret 2015 nanti. Semoga Allah selalu memberkahi usia Dija, dan menjadikan Dija anak yang membawa kebahagiaan untuk keluarga dan teman-teman Dija selalu. 
Aamiin ya Allah. 

4 Maret - 23 Maret 2015

Monday, March 16, 2015

Panduan Berhaji Dengan Buku Dahsyatnya Ibadah Haji


Judul Buku: Dahsyatnya Ibadah Haji - Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah
Penulis: Abdul Cholik
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Cetakan I tahun 2014
Halaman: ix + 233 halaman 
ISBN: 998141907  978-602-02-4810-3
Harga: Rp. 47.800,- 

Selalu terharu hati saya setiap kali saya membaca buku, mendengar cerita atau melihat film dari orang-orang yang melaksanakan ibadah haji. Saya pribadi sudah ingin sekali kesana, tapi mungkin masih terkendala kemampuan, baik secara finansial maupun kesiapan keluarga. Insya Allah suatu saat nanti akan ada waktu yang tepat. 

Walau belum mendaftar sebagai calon haji, namun bukan berarti tidak ingin mengetahui seluk beluknya ibadah haji serinci-rincinya dari sekarang. Saya sering mendengar pengalaman muslim muslimah sepulang dari ibadah haji, termasuk orangtua saya sendiri, tapi saya masih belum ada bayangan sejelas-jelasnya bagaimana kondisi dan situasi di kota suci tersebut. Apa yang harus saya bawa? Apa yang harus saya persiapkan? Apa yang harus saya lakukan jika saya mengalami kesulitan? Dan masih banyak lagi pertanyaan serupa.

Ternyata pertanyaan-pertanyaan saya dapat terjawab dengan membaca buku Pakde Abdul Cholik. Tips-tips dan tatalaksana berhaji di buku ini dibagi menjadi 61 cerita. Menjadi sangat menarik karena merupakan pengalaman pribadi penulis. 

Dengan gayanya Pakde yang suka guyon, buku Dahsyatnya Ibadah Haji memberikan kita gambaran yang sangat jelas tentang semua hal yang harus dipersiapkan, mulai dari urusan benda sampai ke urusan hati. Tentu saja Pakde sukses membuat saya tertawa di beberapa ceritanya, seperti di bab "Nikmati Penerbangan dengan Tertib"  dan di bab "Jangan Latah, Ah" yang menggambarkan beberapa perilaku jamaah haji yang unik dan lucu.  

Tidak hanya lucu, namun juga membuat terharu pembaca. Saat membaca pengalaman rohani penulis saat bermuhasabah saat prosesi Wukuf di Arafah, saya ikut menitikkan air mata mengingat dosa-dosa diri saya sendiri. Dan siapa yang tidak ingin segera ke tanah suci saat mengetahui hal seperti ini:
Seorang sahabat memberi tahu bahwa saat wukuf di Arafah seperti ini langit tergulung sehingga do'a kita bisa langsung kepada-Nya, tanpa halangan. Wallahu'alam bishawab.

Lewat buku ini juga penulis menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui jika jamaah menghadapi kesulitan di tanah suci, seperti tersesat, kekurangan makanan (perihal masalah katering jamaah haji tahun 2006/2007 yang mengalami kendala), kehilangan uang, cara mudah menghitung jumlah thawaf dan sa'i, menjaga keamanan diri sendiri dengan selalu bersama teman sekelompok, dan masih banyak lagi. Paling penting buat saya pribadi yang mudah putus asa adalah, untuk selalu menjaga hati dari segala macam penyakit hati. Intinya, sabar...!

Buku ini terdapat beberapa salah pengetikan, seperti di halaman 17 "tingkat empat", halaman 130 "Pimpinan rombongan selanjutnya memberi tahu agar kami memanfaatkan waktu untuk istirahat karena kami akan melaksanakan...." (tidak ada lanjutannya di halaman 131), dan halaman 137 "alhamdulillah, saya dan istri dapat melempar...." (tidak ada lanjutan, tapi pastinya yang dimaksud adalah melempar jumrah).

Saya sangat menyukai buku ini dan merekomendasikannya untuk muslim dan muslimah yang akan berangkat ke tanah suci. Sedikit kesalahan ketik sama sekali tidak mengurangi nilai buku ini. Malah, buku ini penting untuk saya simpan dan jangan sampai hilang, sampai saatnya saya bisa menunaikan ibadah haji nanti. Insya Allah. Waktunya kapan, sepenuhnya hanya Allah yang tahu. Saya mengaminkan sebaris kalimat dari penulis di bagian penutup.
Haji adalah ibadah memenuhi panggilan Allah SWT. Jika Allah berkehendak tentu tak akan ada yang bisa menghalangi.

Aamiin ya Rabbal'alamiin... 


* * *



Monday, March 9, 2015

Hadiah Kecil Berarti Besar

Rasanya tidak ada yang membuat hati kita lebih terharu daripada pemberian dari si buah hati yang mereka persiapkan dengan sungguh-sungguh.. ^_^

Vania sering memberikan saya hadiah yang dia buat sendiri. Macam-macam kreasinya, mulai dari amplop, bunga, kipas, dan lain-lain. 

Pada ulang tahun saya Oktober tahun lalu, Vania mempersiapkan sesuatu yang ia beli. Ia membuka celengannya, dan membeli di toko mainan dekat rumah. Ia menghadiahi saya sepasang kaos kaki berwarna pink dan sebuah bros bunga besar warna pink cerah. 


Saya bukan orang yang suka dengan aksesoris apapun. Aksesoris yang saya pakai biasanya hanya jam tangan, dan satu bros kecil untuk jilbab saya. 

Tapi, kali ini... Wow... Bros itu besar sekali. Saya bingung membayangkan bagaimana saya mengenakan bros sebesar itu di baju saya. Saya nggak pede. Tapi saya tidak ingin mengecewakan Vania. Saya tersenyum dan menggendong Vania, sambil memeluknya, mengucapkan terima kasih setulus hati saya.

Saya terpikir mungkin saya akan mengenakannya kalau bepergian ke rumah saudara yang sudah sangat memahami Vania. Hmm... Baiklah... Saya lalu membuka kaitan bros untuk mencobanya.

Tapi... oh sedihnya... Kaitan bros itu lepas... :-(

Saya paham, bros ini bukan bros mahal. Oleh karena itu kualitasnya juga kurang baik. Tapi ini adalah hadiah pemberian Vania, dan itu berarti segala-galanya untuk saya. 

Saya melirik Vania yang sedang asyik bermain, sepertinya dia tidak menyadari apa yang terjadi. Di tengah kebingungan, mata saya menangkap seonggok tas hitam polos yang hampir selalu saya kenakan kemanapun saya pergi. 


Aha! Saya langsung punya ide.
Saya ini orang yang sangat tidak kreatif. Tapi, asal tujuan saya tercapai, apapun bentuknya saya nggak terlalu peduli. Hahaha...

Saya menggunting sepotong pita, dan mengikat bagian dari peniti bros yang masih ada. Kemudian bros itu saya ikat di salah satu tali tas hitam saya. Jadilah tas saya lebih "berwarna".

Waaah... tas saya yang berwarna hitam dan membosankan kini menjadi cantik dan memiliki ciri khas tersendiri. Saya menyukainya! Alhamdulillah!

Bros itu tidak saya pakai sesekali. Tapi setiap hari. Vania bahagia sekali!

Vania sering menanyakan, "Bun, ada yang muji tas Bunda nggak?"

Saya selalu menjawab, "Ada. Teman-teman Bunda bilang tasnya Bunda lucu dan cantik karena ada bunganya..."

Dan, saya tidak berbohong... ^_^

Saya begitu bangga bercerita kepada teman-teman saya bahwa ini adalah hadiah pemberian Vania untuk ulang tahun saya. Dan di blog ini pun saya membagikan cerita yang sama. ^_^


Hadiah sekecil apapun, dari orang yang istimewa di hidup kita, tentu akan sangat berarti. Kebahagiaan orang yang kita sayangi saat mengetahui bahwa kita menyukai hadiahnya, itu lebih membahagiakan daripada hadiah itu sendiri. Jadi, sebenarnya siapa ya yang memberi hadiah? ^_^

* * *

Tulisan ini diikutkan di acara mbak Susindra Kado Maret: Hadiah Kecil Berarti Besar



Monday, March 2, 2015

Motivasi Opa Untuk Vania

Saya ingat sekali ketika saya SD dulu... Sekitar kelas 2 atau kelas 3.. Saya ingin sekali ikut beladiri silat. Tapi... nggak boleh sama Mama saya. Alasannya, karena anak perempuan harusnya nari, bukan silat. Saya nggak suka nari. Saya sukanya silat. Kalo kata saya, orang yang bisa silat itu keren... Hahaha...

Karena nggak dapat ijin, akhirnya sampai lulus SD pun saya nggak ikut ekstra kurikuler apapun. Hanya iqro dengan memanggil guru rutin ke rumah sampai saya mampu membaca Al-Qur'an.

Tapi tahukah teman? Keinginan itu ternyata saya pendam. Saat SMP, kami sekeluarga merantau ke negeri orang selama 2 tahun. Disini, akhirnya Papa bersedia menjadi guru privat buat saya dan adik-adik saya. Itu juga karena kedua adik saya laki-laki semua. Papa ingin mengajarkan adik-adik saya karate, jadilah saya ikut-ikutan. Kami hanya belajar gerakan-gerakan dasar di basement rumah kami.

Papa juga pernah karate waktu SMA dan menyelesaikan sampai sabuk cokelat. Papa berhenti sebelum bisa sabuk hitam karena masuk AKABRI.

Kembali ke Indonesia lagi-lagi saya tak ada waktu untuk ekstra kurikuler, karena harus belajar belajar dan belajar mengejar ketertinggalan pelajaran sekolah selama 2 tahun. (Di blog saya yang lama saya pernah menulis bahwa kurikulum USA tidak sama dengan Indonesia, dan di Indonesia beban belajarnya jauh lebih berat).

Akhirnya baru kelas 1 SMA saya bisa bernafas agak lega.

Saya dan adik saya yang pertama ikut karate di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta Selatan. Kami berdua, diantar jemput Papa setiap latihan. Adik laki-laki saya yang terakhir malah nggak suka olah raga sama sekali.

Saya suka sekali dengan suasana latihan. Saya tertantang. Walau kadang badan biru-biru kena tonjok dan tendangan, saya nggak keberatan. Hahaha...

Tapi saya sedih juga karena hanya bisa sampai sabuk biru. Kelas 3 SMA saya kembali disibukkan dengan belajar karena target saya adalah untuk lolos UMPTN. Saya mulai jarang-jarang masuk dan akhirnya stop sama sekali ketika mulai masuk kuliah karena hampir setiap hari kuliah saya sampai sore. 

Sementara saya kuliah, adik saya melanjutkan karate di SMAnya dan dia berhasil mencapai sabuk cokelat. Kyu-nya lupa.. Dan entah kenapa mungkin ya, mencapai sabuk hitam itu susah sekali, dan adik saya pun berhenti ketika dia mulai kuliah kedinasan.

Saya baru ingat orangtua saya nggak pernah mendokumentasikan saya dan adik saya saat latihan. Dan hanya ijazah ini yang saya punya sebagai kenang-kenangan. ^_^

Setelah saya lulus kuliah dan belum praktek, saya kembali "bergerilya". Kali ini saya coba-coba bela diri lainnya. Hahaha... Hanya menuntaskan rasa penasaran saya. Saya coba aikido. Diantara teman-teman saya ada seorang ibu muda dengan anaknya yang berusia 4 tahun. Si ibu dan si anak berlatih bersama. Saat itu memang kelas dewasa dan anak di GOR Bulungan, digabung. Hanya pasangannya saja disesuaikan kalau sedang berlatih jurus.

Saya sampai bercita-cita nanti kalau punya anak, saya akan latihan bela diri lagi dan mengajak anak saya berlatih bersama. Ketika Vania usia dua tahun, kami pindah ke rumah kami sekarang ini. Di dekat sini ada tempat Aikido di Halim, tapiii... Dewasa dan anak dipisah kelasnya, beda hari pula!

Ada padepokan pencak silat di TMII, tapi hanya menerima siswa anak-anak. Hiks! Padahal saya inginnya bareng supaya saya bisa jadi motivasi. Vania sendiri tidak ada keinginan ikut bela diri. Keinginan saya tidak tercapai. Saya akhirnya melupakan saja tentang hal itu.

Tak disangka, saat masuk SD Nizamia Andalusia, Vania diwajibkan untuk memilih diantara 3 intra kurikuler yang semuanya nggak ada yang favorit buat dia. Hahahaa...

Intra kurikuler ini, nilainya masuk ke raport. Tiga kegiatan itu adalah: menari, tae kwon do, dan futsal. Futsal sudah jelas saya coret dari pilihan. Hahaha...

Saya memberi Vania pilihan, "Vania, pilih menari atau tae kwon do? Ini wajib loh"

Vania hanya mengedikkan bahu.

"Vania paling suka mana?" saya tanya.

"Hmm... Dua-duanya suka, deh," jawab Vania. Ya Tuhan, jawaban yang membingungkan!

"Vania paling nggak suka yang mana?" saya nggak menyerah.

Vania jawab, "nggak suka dua-duanya... Hehehe... Iqro aja deh Bun ada nggak?"

Astagaaaa...

"Nggak ada, Vania! Pilih nari apa tae kwon do?! Buruan!"

Kembali dia mengedikkan bahu. Hadeh!

Sepertinya sekolah Vania "memaksa" anak muridnya untuk rajin bergerak. Selain olahraga seminggu sekali, dan berenang dua minggu sekali, anak-anak diwajibkan memilih intra kurikuler yang semua pilihannya melibatkan gerak tubuh. That's great!

Vania yang nggak punya pendirian memilih antara nari dan tae kwon do, saya nilai sebagai peluang. Saya masukkan motivasi supaya ia pilih tae kwon do saja. Hahahaa... 


Semester 1 di kelas 1 SD ini, Vania malas-malasan latihan. Ia ternyata nggak begitu tertarik tae kwon do. Ia sering mengeluh capek, dan sering ijin kalau latihan tae kwon do. Akhirnya di raport nilainya adalah C! Wew! Ya sudahlah Vania, saya juga nggak memaksa.

Kalau untuk alasan capek, saya nggak percaya pada Vania. Pulang sekolah ia mampu berjam-jam lari-larian bersama teman-teman tetangganya. Jadi jelas, stamina (seharusnya) bukan kendala.

Saya tanyakan ulang kepada Vania untuk semester 2, apa mau pindah ke nari. Jawabannya kurang lebih sama dengan di atas. Capek deh!

Kebetulan di bulan Januari ada ujian kenaikan tingkat. Saya yang galau Vania diikutkan apa tidak, akhirnya diyakinkan oleh teman-teman Emak-emak Nizamia, Opa Vania pun meyakinkan, "udah coba aja dulu. Namanya juga usaha."

Sampai saya sempat "menteror" si sabam dengan pertanyaan-pertanyaan seputar apakah Vania memungkinkan untuk ikut ujian atau tidak. Hahaha... Dan sabam justru meyakinkan saya kalau ujian dari putih ke kuning nggak seberapa berat, kemungkinan nggak lulus kecil, dan pengalaman sabam justru anak-anak yang sabuknya berubah jadi kuning bisa jadi lebih termotivasi. Hmm.. Oke deh!

Sebelum maju untuk diuji, saya bisiki Vania. "Vania yang semangat ya! Vania nanti jadi jagoannya Bunda!"

Hmm.. Yang pita pink itu masih kurang power.. Hahaha...

Dan ternyata betul, kawan!
Begitu Vania dan teman-temannya "dilantik" dengan sabuk baru, saya lihat auranya beda. Vania bangga sekali dengan sabuk kuningnya! Dan semenjak punya sabuk kuning sampai sebulan ini Vania nggak pernah absen latihan. Dia lebih semangat dan nggak pernah lagi mengeluh tentang latihan tae kwon do. Wah, alhamdulillah!

Mudah-mudahan Vania ke depan tambah semangat! Aamiin!

Vania dengan sabuk kuningnya tentu saja membuat bangga. Bukan hanya saya, tapi juga Opa dan Omanya! Yaa! Akhirnya Mama saya ikhlas punya cucu perempuan yang ikut bela diri! ^_^

Begitu bangganya Opa Vania, sampai-sampai Papa saya rela mencari foto lamanya...

Papa saat latihan karate di Gunung Gede. Ini waktu Papa SMA.

Suatu malam, Vania dipangku Opa sambil diceritakan waktu Opa muda. Berbekal foto di atas itu, Opa Vania menyuntikkan semangat kepada Vania, untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik dimana pun kita berada. Dan bahwa Opa bangga sama Vania. Vania tersipu dan terlihat bangga akan dirinya. Duh, terharu saya...

Saya nggak akan memaksa Vania untuk terus ikut tae kwon do. Biar Vania sendiri yang memutuskan apakah harus lanjut dan kapan akan berhenti. Let her follow her heart...

Untuk sementara ini, sabuk kuning sudah cukup membuat saya bangga akan dirinya.. Insya Allah.. Dan tentu saja, memuaskan keinginan saya yang sudah saya pendam lama dari SD... ^_^