Monday, February 9, 2015

Makan Bersama Keluarga

Saya sebenarnya tidak terlalu paham kebudayaan leluhur saya. Tapi yang saya lihat, orangtua saya dari dua suku yang berbeda, punya kebiasaan keluarga yang berbeda pula.

Jamannya Eyang saya dulu (orangtua Papa), Eyang Putri dan Eyang Kakung yang asli Jawa Timur, jarang makan bersama. Mungkin ya, asumsi saya, orang Jawa itu sangat menghormati kepala keluarga. Sehingga, Eyang Kakung adalah orang yang pertama makan, bagian lauk pauk pun dapat yang terbaik. Misalkan saja, ayam, pasti eyang kakung dapat dada ayamnya, anak-anak dapat bagian-bagian lainnya, barulah terakhir Eyang Putri makan cakarnya.

Hmm, sebuah "pengorbanan" yang menurut saya pribadi nggak seimbang.. Atau mungkin saja Eyang Putri hanya doyan cakarnya... Hehehe.. Padahal di Islam, wanita sangat dimuliakan ya?

Baiklah, sejarah keluarga adalah sesuatu yang seharusnya kita hargai untuk kita ambil pelajarannya.

Semenjak Papa berkeluarga, dan sejauh ingatan saya, keluarga saya selalu makan bersama setiap ada kesempatan. Baik saat sarapan, makan siang saat libur, maupun makan malam. Saya saat ini baru sadar, ternyata kebiasaan makan bersama itu, Mama saya yang membawanya dari keluarganya.

Mama saya yang asli Sulawesi Utara selalu punya kebiasaan makan bersama. Karena disana menunya keseringan ikan, jadi tidak ada judulnya "the best part for the daddy", karena masing-masing anggota keluarga mendapat satu ekor ikan. Entah ya, kalau ikannya besar dan ada bagian tengahnya, ekornya, dll.. Hahaha... Tapi setahu saya disana banyak ikan deho (sejenis tuna kecil) yang satu ekornya memang pas untuk satu orang.

Kebiasaan itu pun akhirnya kami bawa sampai sekarang ini. Sampai 37 tahun usia pernikahan Papa dan Mama (Ya! Kami baru membuat syukuran wedding anniversary Mama Papa tanggal 8 Februari 2015 kemarin! Alhamdulillah!).


Ternyata, setelah saya baca-baca, kebiasaan makan bersama keluarga ini sangat baik dampaknya untuk masing-masing anggota keluarga. Terutama untuk perkembangan anak.

Saya ada cerita sedikit tentang seorang (katakanlah) kerabat kami. Si Bapak memang terkenal sangat keras dalam memimpin keluarganya. Keluarga mereka jarang sekali makan bersama. Biasanya si Bapak duluan yang makan, baru Ibu. Anak-anaknya pun makan kapanpun mereka mau.

Suatu saat keluarga mereka mengalami masalah. Seharusnya masalah bisa dibicarakan baik-baik. Tapi coba tebak, justru si Ibu meminta tolong kepada Mama saya untuk menyampaikan uneg-unegnya kepada si Bapak. Lah, Mama saya bingung. Dalam batin Mama, "situ kan bojone, kenapa saya yang disuruh ngomong?"

Akhirnya Mama saya menguatkan si Ibu untuk berbicara.

Akhir ceritanya saya kurang paham. Tapi yang jelas, saya jadi mengambil kesimpulan sendiri. Oh, jangan-jangan komunikasi yang tidak lancar ini akibat mereka hampir tidak pernah duduk bersama...?

Saya juga tidak berani menggeneralisir bahwa, setiap keluarga yang tidak pernah makan bersama akan mengalami masalah komunikasi. Yang jadi fokus saya hanya, bahwa makan bersama berdampak baik bagi seluruh anggota keluarga.

Saya jarang ada di rumah saat makan malam, maka saat sarapan saya manfaatkan baik-baik untuk bertukar informasi dengan orangtua dan Vania. 

Keluarga kami biasa membicarakan apa saja di meja makan. Mulai dari perkembangan cucu-cucu Opa dan Oma, aktifitas mereka di sekolah, rencana liburan keluarga, kinerja tukang bangunan, sampai politik.

Vania saja sempat panik karena pilihan saya kalah di pilpres kemarin. Hahahaa!

Vania: "Udah Bunda ganti pilihan saja! Cepet Bun! Nanti Bunda kalaaaah!"

Hahahaaa! Sebegitunya penting kemenangan untuk anak kecil... ^_^

Dan entah apa yang ada di kepala Vania saat saya dan Papa saya membincangkan situasi politik saat ini di meja makan. Hahaha! FYI, kami bicara dengan bahasa yang santun loh! Dan tentu saja tidak menjelek-jelekkan pihak manapun.^_^

Pastinya saya merasakan benar dampak positifnya bagi perkembangan Vania. Vania akan bercerita tentang apa saja di meja makan. Bahkan kami jadi tahu tentang kelakuan teman-teman tetangganya dan ucapan-ucapan mereka yang kurang baik, sehingga kami bisa meluruskan semua yang kurang benar, sebelum terlambat.

Semoga sampai remaja, dewasa, dan seterusnya.. Vania bisa terbuka kepada saya dan Opa Omanya.. Dan semoga kami bisa membimbing Vania melewati segala perubahan dirinya dari masa kecil sampai dewasa nanti..

Semoga Allah melindungi kita semua.. Allahumma aamiin...

10 comments:

  1. kami juga suka sekali makan bersama dan bercerita apa saja, sejak menikah,jadi kangen suasana makan di keluarga besarku***hope in Idul Fitri saja, pulang kampungnya.

    Salah satu cara menjalin komunikasi, ya di meja makan, ya Mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mendekatkan secara emosional antar anggota keluarga yah maak...

      Delete
  2. appy anniversary untuk papa mamanya ya. Umur pernikahannya sama dengan umurku :-D sudah tua juga ternyata ya aku

    ReplyDelete
  3. Selamat untuk Opa & Oma-nya Vania ya.

    ReplyDelete
  4. selamat ultah perkawinan buat opa dan oma..
    tumpengnya enak banget keliatannya ..,

    ReplyDelete
  5. Happy Anniversary buat orangtuanya ya Bun...37 tahun luar biasa sekali, semoga sehat terus dan selalu bersama,amin...

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)