Monday, February 23, 2015

Bekal Jalan-Jalan

Untuk kegiatan jalan-jalan, saya hampir selalu mengajak anak saya Vania dan keponakan saya Aira. Kalau kata Vania, jalan-jalan kalau tidak rame, ya tidak seru!

Gara-gara GA Keke Naima, saya jadi kepikiran tentang suatu benda (yang isinya beberapa benda) yang selalu saya bawa saat saya jalan-jalan dengan bocah-bocah ini. Kalau kata Mama saya, "Kamu mau kuliah, apa?! Pake bawa-bawa gituan segala?! Penuh-penuhin mobil saja..."

Map aktifitas ^_^

Map di atas itu, biasanya saya bawa kalau acara jalan-jalan keluarga yang perlu menginap. Kalau di kamar hotel, yang namanya anak-anak pasti butuh aktifitas. Map ini isinya macam-macam, mulai dari buku aktifitas, buku cerita, majalah Bobo dan Mombi, pensil warna, kotak pensil lengkap dengan isinya, print-out worksheet anak-anak dari web yang sesuai dengan usia mereka, games kartu, sampai dengan kertas origami, gunting, dan double-tape untuk membuat kerajinan tangan.

Isi map aktifitas.

Benda-benda di atas biasanya mereka gunakan untuk mengisi waktu sebelum tidur. Selain menggunakan benda-benda tersebut sesuai fungsinya, kami juga bisa membuat aktifitas lainnya. Misalnya, bermain petak umpet. 

Kamar hotel kerap menjadi tempat yang membosankan untuk Vania. Tapi karena luasnya segitu-gitu saja, maka tak ada ruang untuk bermain yang lebih aktif, akhirnya saya mengusulkan bermain petak umpet. Hanya saja yang ngumpet bukan orangnya, tapi bendanya. Ya buku, kotak pensil, atau apa saja. Bisa jadi satu kegiatan yang seru loh!

Atau bisa juga membawa buku gambar dan alat gambar ke taman kota, untuk menggambar pemandangan disana. Macam seniman di Itali sana. Hehehe...

Kalau jalan-jalannya hanya sebentar di dalam kota, atau malah bepergian jauh dengan pesawat, saya biasa membawa map plastik yang lebih tipis. Isinya kurang lebih sama, hanya lebih sedikit. Nggak termasuk kertas origami dan alat kerajinan tangan lainnya. ^_^

Untuk destinasi yang jauh itu, setelah kami landing di tempat tujuan, saya pasti usahakan untuk mampir ke mall terdekat dan (kalau bisa) cari Gramedia, untuk membeli beberapa item kelengkapan beraktifitas anak. Saya nggak pernah membeli buku dan barang-barang non-makanan di bandara, dikarenakan harganya yang nggak masuk akal. Hehehe...

Sambil menunggu pesanan makanan di restoran.

Awalnya, Vania yang hobi menggambar ini sering bosan kalau saya ajak jalan-jalan. Bosannya, hanya kalau dia harus menunggu sesuatu, seperti menunggu makanan terhidang di meja, menunggu seluruh anggota keluarga selesai sholat di masjid, dan lain-lain.

Suatu ketika, kami makan di Solaria. Disana kalau mau order, pengunjung mengisi lembaran kertas menu dan tersedia juga pensilnya. Vania yang bosan mulai mencoret-coret di bagian belakang kertas menu. Saya langsung terpikir untuk meminta saja kertas menu bekas dari mbak kasir. Ternyata memang kertas menu yang sudah tak terpakai itu banyak sekali. Vania diberi satu tumpuk kertas, juga dipinjamkan pensilnya.

Adik sepupu Vania, Aira, langsung mencontoh kegiatan kakak Vania.

Akhirnya saya fasilitasi saja hobi mereka. Saya hobi berburu benda-benda untuk kegiatan anak, mulai dari aneka buku aktifitas dan alat tulis yang saya beli di toko buku, sampai dengan worksheet atau activity sheet yang gratisan di internet. Kalau Vania lebih suka kertas HVS polos yang bisa ia gambar sesuka hatinya, keponakan saya Aira suka sekali mengerjakan worksheet matematika. Selesai satu, ia akan minta lagi dan lagi dan lagi...

Membawa map ini memang repot, dan bawaan saya jadi tambah berat... Tapi, map aktifitas ini sangat berguna untuk menghilangkan kebosanan para bocah, kapan pun, dimana pun.. ^_^ It's worth it!

* * *



Tuesday, February 17, 2015

Evaluasi Kegiatan Membaca: Bermain di Rimba Baca

Mengajak anak untuk mencintai membaca ternyata tidak mudah, apalagi untuk anak yang sering berinteraksi dengan teman-teman tetangga yang rata-rata hobinya main di luar (yang ini nggak apa-apa sih), dan main tablet (yang ini mengkhawatirkan).

Pengaruh oleh saya sebagai bundanya Vania jadi agak berkurang..

Oleh karena itu saya harus melakukan evaluasi terhadap diri saya sendiri. Hal-hal apa yang tidak saya kerjakan padahal seharusnya dikerjakan. Dan hal-hal apa yang tidak seharusnya saya kerjakan namun justru saya kerjakan. Tujuannya jelas, supaya Vania biasa dan suka membaca...

Beberapa tahun lalu ketika Vania masih duduk di TK, saat dia belum terlalu intensif bermain dengan teman-temannya, justru Vania rajin membaca. Di TK B, ia membaca ensiklopedia kedokteran milik saya, dan begitu terpukaunya dengan susunan tulang, jalur pembuluh darah, organ-organ dalam tubuh, dan sebagainya...

Sekarang, keinginannya membaca jauuuh berkurang... Memang saya akui kontrol terhadap Vania juga berkurang dikarenakan hal-hal yang membuat saya panik. Hahaha...

Baiklah, saatnya evaluasi... ^_^

Untuk saat ini saya mengambil satu referensi saja, yaitu dari web RIF (Reading Is Fundamental). Ada satu artikel yang berjudul Children Who Can Read, But Don't... (oopss, ini vania banget sepertinya).

Kenapa ada anak yang tidak suka membaca?
Alasan yang biasa anak-anak kemukakan adalah sebagai berikut:
  1. Membaca membosankan
  2. Nggak ada waktu
  3. Terlalu sulit
  4. Nggak penting
  5. Nggak menyenangkan
Untuk Vania pribadi, alasan yang dia kemukakan adalah... Nggak ada waktu (duuuh sibuknya nggak ketulungan ibu kecil satu ini).

Pulang sekolah, sudah terdengar teman-temannya memanggil di luar pagar. Yah dia senang kalau ada teman bermain, akhirnya main sampai sore, bahkan sampai sholat maghrib bareng... Dan setelah makan malam dia begitu lelahnya sampai tak sempat lagi membaca.

Saat hari libur, saya pergunakan untuk mengajak Vania membaca bersama. Selama nggak diinterupsi dengan anak-anak tetangga biasanya kegiatan ini berjalan lancar.

Alhamdulillah Vania sudah paham pentingnya mencari informasi dari buku, dan kalau membaca buku cerita atau buku ilmu pengetahuan dengan saya, dia senang sekali. Jadi poin 1, 3, 4 dan 5 nggak berlaku untuk Vania.

Mungkin untuk anak lain bisa dicari trik sehingga ia menyadari pentingnya dan menyenangkannya kegiatan membaca.


Untuk orangtua, jangan melakukan ini!
  1. Menceramahi anak 
  2. Menyuap anak (maksudnya bribing)
  3. Menghakimi prestasi sekolah anak. Jangan kaitkan kesenangan membaca dengan prestasinya di sekolah (baik maupun buruknya)
  4. Mengkritisi pilihan anak. Membaca apapun lebih baik daripada tidak sama sekali. 
  5. Menetapkan target-target yang tidak masuk akal, perihal kebiasaan membaca. 
  6. Jangan terlalu membesar-besarkan persoalan membaca, sehingga tak akan membuat anak merasa tertekan.

Di antara keenam poin di atas mungkin poin 1 dan 6 pernah saya lakukan. Baiklah, saatnya memperbaiki diri sendiri.

Dan hey! Di artikel tersebut ada berbagai cara untuk meningkatkan minat baca anak... Di antaranya yang sudah saya lakukan di rumah, adalah:
  1. Mulai dari hal-hal yang menarik minat anak. Untuk Vania pastinya masih berubah-ubah. Saat ini sedang senang sekali membaca kisah-kisah princess, seperti Sofia the First, princess muslimah, dll.
  2. Suka kegiatan membaca dimulai dari diri sendiri, saya sebagai ibunya memang sering membaca. Tapi cenderung diabaikan kalau Vania lagi "sibuk" >_<
  3. Memfasilitasi kegiatan membaca bersama dengan teman-teman tetangga atau memotivasi untuk story telling kepada adik sepupunya, Aira. 
  4. Jika Vania ada pertanyaan yang bisa dicari di buku, saya catat dan kita cari bersama-sama. 
  5. Dongeng sebelum tidur.
  6. Saya sering menghadiahi buku untuk Vania. 
Dan masih banyak lagi kegiatan positif lainnya, yang sepertinya bisa saya mulai di rumah sendiri.

Ohya, Vania punya perpustakaan favorit yang sering ia kunjungi. Vania kesini mungkin sekitar dua kali sebulan. Disana banyak sekali buku-buku favorit anak (dan dewasa juga!).

Rimba Baca! (ada juga kah sahabat yang sering kemari?)

Lokasinya ada di belakang RS Fatmawati, Cilandak, JakSel. Vania jadi member sudah hampir setahun yang lalu. Kalau member boleh meminjam buku selama seminggu (dan boleh memperpanjang seminggu). Tempatnya cozy, pernah si Oma menemani Vania kesini dan sampai ketiduran di sofanya. Hahaha...

Koleksi topinya lucu-lucu. ^_^ Selain baca buku cerita, Vania dan Aira suka bergaya dengan aneka macam topi ini. ^_^

Buku dikategorikan berdasarkan usia. Buku untuk dewasa ada di lantai atas (koleksinya banyak mulai dari sejarah, politik, novel, buku masakan sampai komik).

Sebenarnya saya betah berlama-lama disini. Hanya saja yang namanya bocah hanya bisa duduk tenang sekitar 15 menit, sambil mendengarkan saya cerita, atau Vania membaca sendiri. Tapi kalau sudah mulai lari-larian seperti ini lebih baik disudahi saja kunjungannya, daripada tak sengaja merobek buku >_<

Selain kegiatan pinjam meminjam buku, Rimba Baca juga aktif membuat acara-acara. Misalkan lomba kostum saat halloween kemarin, yoga anak-anak dan dewasa, kelas art and craft, dan banyak lagi. Sayangnya Vania belum ada kesempatan mengikuti salah satunya. Hihihi...

Bulan Februari ini Vania belum ke perpustakaan lagi. Mudah-mudahan akhir pekan ini saya bisa membawa Vania ke sana insya Allah... ^_^

Have a happy Tuesday, my friends..

Monday, February 9, 2015

Makan Bersama Keluarga

Saya sebenarnya tidak terlalu paham kebudayaan leluhur saya. Tapi yang saya lihat, orangtua saya dari dua suku yang berbeda, punya kebiasaan keluarga yang berbeda pula.

Jamannya Eyang saya dulu (orangtua Papa), Eyang Putri dan Eyang Kakung yang asli Jawa Timur, jarang makan bersama. Mungkin ya, asumsi saya, orang Jawa itu sangat menghormati kepala keluarga. Sehingga, Eyang Kakung adalah orang yang pertama makan, bagian lauk pauk pun dapat yang terbaik. Misalkan saja, ayam, pasti eyang kakung dapat dada ayamnya, anak-anak dapat bagian-bagian lainnya, barulah terakhir Eyang Putri makan cakarnya.

Hmm, sebuah "pengorbanan" yang menurut saya pribadi nggak seimbang.. Atau mungkin saja Eyang Putri hanya doyan cakarnya... Hehehe.. Padahal di Islam, wanita sangat dimuliakan ya?

Baiklah, sejarah keluarga adalah sesuatu yang seharusnya kita hargai untuk kita ambil pelajarannya.

Semenjak Papa berkeluarga, dan sejauh ingatan saya, keluarga saya selalu makan bersama setiap ada kesempatan. Baik saat sarapan, makan siang saat libur, maupun makan malam. Saya saat ini baru sadar, ternyata kebiasaan makan bersama itu, Mama saya yang membawanya dari keluarganya.

Mama saya yang asli Sulawesi Utara selalu punya kebiasaan makan bersama. Karena disana menunya keseringan ikan, jadi tidak ada judulnya "the best part for the daddy", karena masing-masing anggota keluarga mendapat satu ekor ikan. Entah ya, kalau ikannya besar dan ada bagian tengahnya, ekornya, dll.. Hahaha... Tapi setahu saya disana banyak ikan deho (sejenis tuna kecil) yang satu ekornya memang pas untuk satu orang.

Kebiasaan itu pun akhirnya kami bawa sampai sekarang ini. Sampai 37 tahun usia pernikahan Papa dan Mama (Ya! Kami baru membuat syukuran wedding anniversary Mama Papa tanggal 8 Februari 2015 kemarin! Alhamdulillah!).


Ternyata, setelah saya baca-baca, kebiasaan makan bersama keluarga ini sangat baik dampaknya untuk masing-masing anggota keluarga. Terutama untuk perkembangan anak.

Saya ada cerita sedikit tentang seorang (katakanlah) kerabat kami. Si Bapak memang terkenal sangat keras dalam memimpin keluarganya. Keluarga mereka jarang sekali makan bersama. Biasanya si Bapak duluan yang makan, baru Ibu. Anak-anaknya pun makan kapanpun mereka mau.

Suatu saat keluarga mereka mengalami masalah. Seharusnya masalah bisa dibicarakan baik-baik. Tapi coba tebak, justru si Ibu meminta tolong kepada Mama saya untuk menyampaikan uneg-unegnya kepada si Bapak. Lah, Mama saya bingung. Dalam batin Mama, "situ kan bojone, kenapa saya yang disuruh ngomong?"

Akhirnya Mama saya menguatkan si Ibu untuk berbicara.

Akhir ceritanya saya kurang paham. Tapi yang jelas, saya jadi mengambil kesimpulan sendiri. Oh, jangan-jangan komunikasi yang tidak lancar ini akibat mereka hampir tidak pernah duduk bersama...?

Saya juga tidak berani menggeneralisir bahwa, setiap keluarga yang tidak pernah makan bersama akan mengalami masalah komunikasi. Yang jadi fokus saya hanya, bahwa makan bersama berdampak baik bagi seluruh anggota keluarga.

Saya jarang ada di rumah saat makan malam, maka saat sarapan saya manfaatkan baik-baik untuk bertukar informasi dengan orangtua dan Vania. 

Keluarga kami biasa membicarakan apa saja di meja makan. Mulai dari perkembangan cucu-cucu Opa dan Oma, aktifitas mereka di sekolah, rencana liburan keluarga, kinerja tukang bangunan, sampai politik.

Vania saja sempat panik karena pilihan saya kalah di pilpres kemarin. Hahahaa!

Vania: "Udah Bunda ganti pilihan saja! Cepet Bun! Nanti Bunda kalaaaah!"

Hahahaaa! Sebegitunya penting kemenangan untuk anak kecil... ^_^

Dan entah apa yang ada di kepala Vania saat saya dan Papa saya membincangkan situasi politik saat ini di meja makan. Hahaha! FYI, kami bicara dengan bahasa yang santun loh! Dan tentu saja tidak menjelek-jelekkan pihak manapun.^_^

Pastinya saya merasakan benar dampak positifnya bagi perkembangan Vania. Vania akan bercerita tentang apa saja di meja makan. Bahkan kami jadi tahu tentang kelakuan teman-teman tetangganya dan ucapan-ucapan mereka yang kurang baik, sehingga kami bisa meluruskan semua yang kurang benar, sebelum terlambat.

Semoga sampai remaja, dewasa, dan seterusnya.. Vania bisa terbuka kepada saya dan Opa Omanya.. Dan semoga kami bisa membimbing Vania melewati segala perubahan dirinya dari masa kecil sampai dewasa nanti..

Semoga Allah melindungi kita semua.. Allahumma aamiin...

Monday, February 2, 2015

What's Up, Vania..?

Sudah lama saya tidak mengabadikan cerita tentang Vania disini...

Well, it's about time.. ^_^

Alhamdulillah akhir-akhir ini banyak sekali hal yang membuat saya bangga akan Vania... Menurut informasi dari gurunya, Vania bagus kemajuannya, baik dari segi akademis, maupun kemajuan sosial-emosional...


Foto di atas saya ambil ketika saya mengajaknya belajar di taman dekat rumah.
Menjelang UAS tahun lalu, saya mengajak Vania melihat langsung apa yang dipelajarinya di sekolah. Seperti bagian-bagian tanaman, kategorisasi hewan, dll...

Vania senang sekali.
Selesai belajar ia saya persilahkan untuk main bebas.
Bahagia belajar, bahagia bermain.
Hasil UAS-nya pun... Alhamdulillah!



Vania juga suka ikut beraktifitas di dapur.
Tetap dalam pengawasan saya dan eyangnya, Vania saya bebaskan memakai pisau, telenan, dan memasukkan bahan masakan ke dalam penggorengan. Sekarang ini, Vania sedang suka makan tahu mendoan.. ^_^

Selesai masak, tidak sabar ia ingin langsung memakan hasil masakannya...
Dan saya pun tak sempat lagi mengabadikan hasilnya... Hahaha...
Tapi, saya punya foto di bawah ini... Bola-bola cokelat yang Vania buat bersama-sama temannya ini pun jadi kesukaan Vania... Hiasannya, murni idenya Vania... ^_^


Dan, kreasi paling baru dari Vania adalah buku cerita... ^_^
Mungkin ia mendapat ide karena saya sering mendongeng sebelum tidur dengan buku-buku cerita anak... Kalau dilihat dari segi cerita, saya mendapat gambaran bahwa Vania mengekspresikan dirinya yang sedang "berjuang" melawan rasa malunya dalam bersosialisasi.

Saya berdo'a dalam hati, semoga di kehidupan nyata Vania mampu merealisasikan cita-citanya menjadi seorang yang ramah dan mudah berteman. Insya Allah. Aamiin...


  1. Suatu hari ada anak dari kerajaan bernama putri lia.
  2. Putri lia berjalan-jalan dan menemukan teman baru. Putri lia mengajak teman barunya berkata. dan menanyakan nama. dan teman barunya menjawab nama saya Nani.
  3. Teman baru lia sudah pulang dan dia bertemu teman lagi bernama tara. Mereka berdua menemui bunga raksasa, mereka sangat kagum.
  4. Tak sengaja tara dan lia melewati rumah Nani. Nani baru kenal tara, mereka bertiga bersahabat.


5. Lia maju dan melihat bunga.
6. Musim salju telah tiba. 3 anak berganti musim salju.
7. Salju turun. 3 anak gembira.
8. Musim salju telah tiba, anak-anak membentuk salju menjadi manusia salju atau beruang salju. Anak-anak gembira.

Ah, Vania...
Tentu saja pergi ke negara 4 musim juga menjadi cita-citanya. Vania ingin punya pengalaman seperti bundanya dulu. Saya katakan pada Vania, bahwa mungkin saya tidak bisa membawanya kesana, karena keterbatasan kemampuan dan biaya. Saya akhirnya memotivasi Vania untuk berusaha sendiri, belajar yang rajin, sehingga negara Indonesia bisa memberikan Vania beasiswa nantinya..

"Nanti kalau Vania dapat beasiswa, Bunda diajak ya,.. Vania..."

"Pasti, Bunda..."