Thursday, December 17, 2015

Aku dan Mama di Gorontalo

Bone Bolango, Gorontalo, Februari 2007.

Sahabat Di Waktu Senang dan Susah

Untuk orang seusia saya, pastinya cukup banyak fase kehidupan yang sudah dilalui. Kenangan pahit manis masa sekolah, saya dapatkan saat kuliah S1. Kuliah di bidang kedokteran gigi bukan suatu hal yang mudah dilalui. Mulai dari beban belajar, perilaku dosen, sampai perilaku pasien kerap membuat kami mengurut dada. Semua hal yang harus kami lalui itulah yang mendekatkan kami. Tanpa dukungan teman, mustahil rasanya bisa lulus dari sana. :-D

1998 sampai hari ini... Tak terasa 17 tahun lebih persahabatan kami...
Tak beda jauh dari mbak Adel yang sudah menjalani persahabatan sekian belas tahun lamanya...

Sunday, December 13, 2015

Keajaiban Kata Maaf

Kata orang...

Memberi maaf itu lebih berat daripada meminta maaf...

Tapi di suatu hari di bulan Agustus lalu...

Saya menemukan sesuatu yang lebih berat...

Yaitu di saat kita, dengan hati ikhlas, bersedia meminta maaf, dimana seharusnya kita yang menerima permohonan maaf...


Awalnya berat...

Berat sekali...

Jika seseorang sudah menyakiti hati kita... Sudah merugikan kita lahir dan batin... Lalu akankah kita sudi memohon maaf padanya?

Banyak orang tak sudi. Termasuk saya.

Hey, dia yang salah. Kenapa saya yang harus meminta maaf?!

Tapi...

Itulah yang membebaskan hati ini dari bangkai busuk yang kita bawa-bawa...

Sekalinya berhasil melakukannya...

Maka insya Allah selanjutnya akan mudah... Dengan ijin Allah SWT...

Lagipula, tau dari mana diri ini, bahwa diri ini yang benar?
Jangan-jangan, memang kita punya salah? Atau, kita punya salah di tempat lain, lalu Allah menegur kita dengan caraNya?

"Paling tidak, meminta maaflah padanya, karena merasa sampeyan paling benar," begitu jawab beliau.

Sebuah kalimat yang menusuk sampai ke hati yang paling dalam.

Tapi hati nurani saya mengakui kebenaran kata-katanya.

Dan sekalinya berhasil melakukannya...

Maka hati ini insya Allah, tidak lagi merasakan ada titik-titik kebencian dan warna hitam disana. Hati ini lebih sejuk rasanya.

Ah, betapa sayangnya Allah pada diri ini...

Sudah mengijinkan saya bertemu dengan mereka...

Alhamdulillah.

Keajaiban dariNya tidak sebatas rejeki materi yang tiba-tiba melimpah. Tidak juga sebatas kemudahan jalan hidup yang tiba-tiba terbentang di depan mata. Tapi di atas itu semua, keajaiban dariNya yang paling indah, adalah sembuhnya hati yang sakit. 

Semoga diri ini istiqomah selalu di jalanMu ya Rabb.
Do'aku untuk sahabat-sahabatku semua. 
:-)


Sunday, December 6, 2015

Gerakan Jum'at Berkah

"Assalamu'alaikum Nek... Apa kabar?" tanya saya seraya menjabat tangannya.

Si Nenek hanya tertawa, memperlihatkan absennya mayoritas gigi di rongga mulutnya.

"Nenek... Usianya berapa tahun..?"

"Sepuluh tahun..." jawabnya lagi, masih sambil tertawa.

Tiba-tiba ada rasa ngilu terselip di hati saya.



Di atas adalah cuplikan percakapan saya dengan seorang Nenek di sebuah panti jompo daerah Ceger, di suatu hari di bulan September yang lalu. Jika ada sahabat saya disini yang berteman dengan saya di FB, mungkin ada sedikit gambaran tentang kegiatan saya dan teman-teman akhir-akhir ini.

Sudah beberapa bulan ini saya meninggalkan blog, namun posting mbak Monik membuat saya semangat kembali mengaktifkan blog tersayang saya ini. :)

Sedikit flashback...

Suatu hari, mama dari teman anak saya di sekolahnya, mengabarkan tentang sebuah training, yaitu training Pola Pertolongan Allah. Setelah lama bertanya dan mempertimbangkan, akhirnya saya memutuskan ikut. Dan ternyata, saya sadar begitulah cara Allah supaya saya lebih dekat denganNya. 

Singkat cerita, para alumni PPA ini sangat aktif, berbeda dengan para alumni training sejenis yang pernah saya ikuti, walaupun lebih terkenal. Persahabatan antar alumni sangat terasa. Mereka benar-benar menerapkan prinsip, bahwa kita harus membantu orang lain supaya Allah pun membantu kita keluar dari kesulitan-kesulitan hidup. 

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. 3: 92)

Penerapan dari ayat tersebut lahir dalam bentuk kegiatan mingguan, yang mereka beri istilah GJB (Gerakan Jum'at Berkah), atau JumBer. Setiap minggu para alumni PPA di seluruh Indonesia melaksanakan kegiatan ini. Walau mungkin beberapa sahabat tidak dapat hadir secara fisik, namun do'a dan aliran dana insya Allah senantiasa mengalir. Banyak atau sedikitnya, sama sekali bukan halangan. Momen kebersamaan dan hikmah dari setiap kegiatan itulah yang membuat saya pribadi merasa bahagia menjadi bagian dari komunitas ini.

Saya alumni yang terhitung baru. Saya ikut kelas PPA di tanggal 30 Agustus 2015 yang lalu. Namun sudah banyak sekali hikmah yang saya dapat sampai saat ini. Salah satunya adalah ketika saya ditunjuk sebagai PJ Jumber di tanggal 25 September 2015 kemarin. Hari itu adalah sehari setelah Hari Raya Idul Adha. Itu adalah momen yang sangat spesial untuk saya. 

Beberapa hari sebelumnya, saya dan seorang teman PPA survei ke Panti Sosial Budi Mulia yang berlokasi di daerah Ceger. Kami berkenalan dengan para petugas dan nenek kakek yang masih cukup sehat jiwanya. Para nenek dan kakek yang masih sehat di panti ini membuat kegiatan sendiri, berupa aktifitas kreasi kerajinan tangan seperti bros, gantungan kunci, keset, dan masih banyak lagi.

Ah, mereka bahagia sekali kami berkunjung seperti ini.
Saat kami selesai melakukan survei tentang keadaan nenek dan kakek disana, kami pamit untuk pulang.

"Sering-sering main kesini ya..." ujar salah seorang nenek.

Di suatu hari di bulan September, sepulang sekolah Vania saya ajak survei ke panti sosial untuk lansia ini.

Pada hari Jum'atnya, saya sudah berada di lokasi sejak sebelum sholat Jum'at. Saya berbincang-bincang dengan salah seorang pengurus panti. Bu Mur namanya. Beliau bercerita bahwa panti sosial ini menampung para lansia terlantar, yang memang tidak punya keluarga, atau tak ada keluarga yang mau mengurusnya.

Saya terkesiap.

"Jadi, masih ada nenek kakek disini yang sebetulnya masih punya keluarga?" saya bertanya.

"Iya! Bahkan, pernah ada suatu kali seorang kakek diletakkan begitu saja oleh anaknya di depan panti, diturunkan dari mobil," ujar bu Mur.

"Dan kalau keluarganya berhasil kami lacak dan bisa dihubungi, keluarga itu harus menandatangani surat kesepakatan. Bahwa apapun yang terjadi dengan orangtuanya, maka kami (pihak panti) nggak akan menghubungi mereka. Istilahnya, nenek kakek udah kita urusin, maka akan kita urus sampai meninggal. Nggak ada urusan lagi sama keluarganya. Karena memang mereka juga nggak peduli. Banyak nenek dan kakek disini yang psikosis (sakit jiwa) karena derita hidupnya, kasian..." bu Mur menambahkan.

Saya beristighfar dalam hati. Berdo'a semoga saya tidak memperlakukan orangtua saya seperti itu (na'udzubillah!) dan semoga saya pun kelak jika diberi usia panjang, tidak diperlakukan seperti itu pula oleh anak saya. Tak terasa air mata sudah mendesak ingin keluar. Tapi saya kemudian memilih untuk lebih berkonsentrasi kepada cerita bu Mur tentang aneka aktifitas yang dilakukan di panti ini.

Panti ini sudah disubsidi oleh pemerintah, walaupun tidak 100% kebutuhannya benar-benar terpenuhi. Mereka masih memerlukan barang-barang seperti alat-alat mandi, dsb. Ada sekitar 210 lansia tinggal disini. Dan, kalau satu orang diberi sesuatu, maka semua harus diberi. Kami dari PPA kemarin, karena keterbatasan dana, maka hanya menyediakan goodie bag dengan isi aneka biskuit (kue kering) yang memang mudah dikunyah oleh lansia, tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis.

Informasi dari pengurus panti, nenek dan kakek disini, dikunjungi dan dihibur saja bahagianya sudah luar biasa. Insya Allah. Alhamdulillah.

Tak berapa lama setelah sholat Jum'at, teman-teman saya alumni PPA mulai berdatangan satu per satu. Kakek dan nenek juga satu per satu mulai hadir di aula. Kami memulai acara dengan kata sambutan dari sahabat PPA dan wakil dari pimpinan panti. Acara dilanjutkan dengan sedikit tausiah (kultum), kemudian games dan menari serta menyanyi.

Senam jari! Vania juga ikut loh... ^_^

Selesai acara di aula, maka ada pembagian goodie bags..
Acara di aula tidak terlalu lama, maksimal 1 jam... Ini dikarenakan nenek dan kakek tidak sanggup duduk lama-lama... Pasti ada saja hajatnya, hehehe...

Nenek dan kakek yang kurang sehat dan tidak dapat berjalan ke aula, maka goodie bag-nya kami antarkan ke kamarnya. Kami juga melihat-lihat nenek dan kakek dengan beragam aktifitasnya. Duh, bahagia sekali mereka, hasil kerajinan tangannya kami borong. ^_^

Pembagian goodie bags... Vania aktif sekali, alhamdulillah. Vania mendapatkan do'a-do'a yang terbaik dari nenek dan kakek di panti ini. Supaya kelak jadi anak pintar yang sholeha. Ya Allah, aamiin... perkenankan do'a beliau-beliau... 

Seorang kakek sedang membuat keset (kiri)... Beberapa volunteer anak muda sedang mengadakan kegiatan senam bersama (kanan).

Saya dan teman-teman PPA.

Momen yang sangat berarti dalam hidup saya.

Acara diakhiri dengan sholat Ashar berjamaah di masjid di dalam panti. Masjid yang cukup besar dan sejuk. Dikelilingi oleh taman yang indah. Nenek dan kakek yang bahkan sulit berdiri pun dengan tertatih masih semangat sholat berjamaah di masjid. Duh, malunya diri ini.

Tanpa terasa, air mata saya akhirnya tumpah ruah di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang. Hikmah dan pelajaran hidup yang sangat penting, saya dapatkan hari itu. Ya Allah...

Betapa bersyukurnya saya dengan keadaan orangtua saya yang sehat jiwa dan raga... Betapa beruntungnya saya...

Rabbana... Sesungguhnya, bukan tanpa alasan Engkau mentakdirkan hamba tinggal dekat dengan orangtua. Justru itu ladang pahala buat hamba. Ampuni hamba yang sering mengeluh karena keadaan..

Ya Allah... Tak terhitung nikmatMu...

Ya Rabb... Tanamkanlah dalam hati bahwa... Jika kami membantu seseorang... Bukan kami pahlawannya. Tapi mereka... Ya, mereka! Mereka adalah orang-orang yang Engkau kirimkan pada kami... Untuk meringankan beban dosa kami di akhirat nanti...

Hilangkan kesombongan itu dari hati kami ya Rabb... Jangan biarkan kami lupa...

Jadikanlah hamba dan sahabat-sahabat hamba disini, termasuk orang-orang yang Engkau mudahkan dalam jalan kebaikan... Aamiin ya Rabbal 'alamiin...

* * *

“Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando's Giveaway: Spread The Good Story"




Thursday, October 8, 2015

Obat Anti Galau

Teman-teman yang mengenal saya, baik teman blogger maupun teman sekolah, pasti sudah paham kelakuan saya...

Yang gampang panik lah...
Yang suka galau lah...

Yang akhirnya semua itu berakhir di ruang UGD, karena obat maag tidak mempan lagi yang lewat minum... Ya, di titik terparah tingkat stress yang saya alami, obat maag itu harus diinjeksikan ke dalam tubuh saya, supaya lebih efektif.

Saya sungguh sangat ingin meninggalkan dunia penuh kegalauan dan kepanikan.

Kita hidup, sejatinya selalu berhadapan dengan masalah.

Tak ada seorang pun hidup tanpa masalah.

Tapi, bagaimana kita menangani masalah tersebut, itu yang menandakan kualitas diri kita. Bukan di depan manusia, tapi di hadapan Allah SWT.

Saya yang dulu sudah "tahu" bahwa setiap ada masalah, petunjuk penyelesaiannya adalah selalu kembali ke agama.

Saya sering mendengar ceramah-ceramah, membaca Qur'an, sholat wajib dan sunnah, sedekah, puasa.

Semua sudah saya kerjakan.

Tapi sekarang saya sadar, ternyata, selama ini... SAYA BELUM PAHAM.

Kenapa?

Karena saya masih sering galau.
Masih sering mencari jalan keluar dengan minta tolong ke sesama manusia (curhat berkepanjangan sampai tak sadar menjelek-jelekkan pihak-pihak tertentu).

Ah, begitu banyaknya dosa saya.

Sampai suatu ketika...

Allah SWT membenturkan saya kepada suatu masalah, yang tidak seorang manusiapun dapat memberi solusi.

Masalah tesis. Perbedaan pendapat antara dosen. Kendala di tempat penelitian. Saya tidak bisa maju penelitiannya.

Saya merasa... Semua pintu tertutup.

Di saat itulah... Allah SWT menegur saya lewat seorang teman saya.

Dia mengajak saya ikut training PPA (Pola Pertolongan Allah).

Source: PPA

YA! Di saat tak seorang pun mampu membantu saya, saya baru berpaling ke Allah. Allah saya letakkan di prioritas paling akhir dalam daftar pemberi pertolongan kepada saya.

Betapa zalimnya!

Ya Allah...................................

Tapi Allah masih sayang sama saya. Allah masih memberikan saya kesempatan untuk hidup dan bertaubat...........

Tanggal 30 Agustus 2015, di sebuah aula di hotel Sofyan Inn Tebet, di sebuah acara training, saya baru merasa betapa cintanya Allah SWT kepada hambaNya.

I'm speechless, actually...

Di posting ini pun saya tak tau lagi mau menulis apa... Hanya air mata ini yang membanjiri meja komputer saya...

Satu kalimat yang membuat saya tenang, adalah testimoni dari Papa saya...

"Tia... Papa liat kamu banyak berubah semenjak ikut PPA.... Bagus! Papa udah nggak pernah denger lagi kamu mengeluh..."

FYI, Papa saya adalah tempat saya curhat, tempat saya menumpahkan segala keluh kesah. Dan Papa dengan bijak akan memberikan nasihat-nasihat untuk selalu kembali kepadaNya.

Setiap saat saya curhat.... Setiap saat Papa sudah menjelaskan kepada saya..

Tapi ternyata saya yang bodoh ini tidak mengerti juga. Akhirnya lewat PPA, saya baru paham. Mendengarkan ceramah Aa Gym, saya baru paham. Mendengarkan nasihat Papa, saya baru paham.

Beda, sahabat-sahabat.... Rasanya bedaaa sekali... Antara tau dan paham, itu sangat jauuuh berbeda.... Hal ini tidak bisa saya rangkai dalam kata-kata. Rasanya hanya ada disini, di dalam hati....

Walaupun pemahaman saya, belum seberapa... Walaupun iman di hati masih naik turun... Walaupun masih banyaaaaaakkkk sekali yang harus saya pelajari.... Walaupun saya masih harus mengulang PPA berkali-kali... Tapi sekarang saya tau kemana saya harus menuju... Allah memberikan bala bantuanNya berupa keluarga dan sahabat yang selalu mengingatkan kepadaNya...

Allah, terima kasih telah memberi saya kesempatan.... Untuk bertaubat....

Berserah dirilah.... Letakkan Allah di prioritas utama...

Kembali ke masalah tesis....
Akhirnya dengan sisa harapan yang ada...
Di saat semua pintu tertutup...
Di saat tak seorang manusiapun dapat membantu...
Di atas sajadah saya....
Dengan air mata membasahi mukena saya...
Saya menengadah...

"Allah..... Ampuni saya, ya Allah...Hanya kepadaMu saya bergantung... Saya tidak dapat mengandalkan dosen saya, tidak pengelola program studi, tidak orangtua saya, tidak juga teman-teman saya. Tidak ada dari mereka semua yang dapat membantu saya keluar dari masalah ini, ya Allah... Hanya ENGKAU ya ALLAH yang dapat membantu saya.... Saya pasrahkan semua kepadaMu...."

Di saat itulah... Keajaiban terjadi...
Hanya satu kalimat BBM dari dosen, maka saya dapat melanjutkan penelitian saya...

Itu semua karena ALLAH!
ALLAH yang menggerakkan hati manusia...
ALLAH yang memberi kemudahan...

Sekarang, ingin sepiring siomay pun saya minta ke Allah!

Saya mengaktifkan blog ini lagi, juga karena saya ingin sahabat-sahabat saya merasakan keindahan yang sama. Ingin sahabat-sahabat saya juga merasakan betapa cintanya Allah untuk kita..

Akhir kata, setan tentu tak akan menyerah. Kerikil di jalan hijrah ini tambah banyak. Gangguan di hati ini untuk kembali masuk dunia galau, banyak sekali.

Tapi saya bersyukur, dikaruniai sahabat-sahabat alumni PPA yang sudah seperti keluarga. Kami saling mengingatkan untuk selalu Just Focus on Allah.

Duh gusti Allah, begitu banyaknya nikmat dariMu....

Semoga saya terhindar dari penyakit maag karena stress....
Kalaupun suatu hari sahabat mendapati saya kambuh sakit maag lagi...

Tak mengapa...
Insya Allah sebagai penggugur dosa-dosa saya yang segunung banyaknya...

Taubat...
Taubat...



Friday, June 19, 2015

Masih... Belum... Selesai...

Setelah beberapa kali mencoba menulis di blog...

Ternyata saya gagal, saudara-saudara...

Yep!

Saya gagal multitasking...

Source


Saya bahkan nggak mampu membuat satu posting pun!

Bukan karena kurang waktu...

Tapi murni karena ketidakmampuan otak saya untuk multitasking...

Di sela-sela berpikir dan menulis, saya ingin refreshing dengan ngeblog...

Bermenit-menit dilewati di depan halaman blog dan tak satu kalimatpun tertulis disana...

Padahal... begitu banyak yang ingin saya ceritakan... Tentang acara akhir tahun Vania... Tentang puasa Vania... Tentang kemudahan-kemudahan dari Allah yang sering saya rasakan... 

Alhamdulillah...

Tapi... 

Ah ya sudahlah...

Bahkan untuk blogwalking pun saya kehilangan energi...

Source

Baiknya memang hiatus dulu mungkin ya...

Jadi iri dengan mereka yang mampu berpikir banyak hal dalam waktu bersamaan...

Subhanallah...

Untuk sahabat-sahabat blogger saya... untuk sementara waktu ini, saya hanya bisa kangen baca-baca tulisan sobat sekalian...

Puluhan jurnal, ebook dan textbook menunggu untuk dibaca...

:-(

Hmm... Ya sudahlah, nikmati saja deh...

source

Mohon maaf lahir batin ya sahabat semua....
Selamat menikmati indahnya Ramadhan.. Semoga membawa berkah untuk kita semua...

- akhirnya berhasil nulis satu posting yang isinya cuma... ya begitulah... -


Sunday, May 31, 2015

Generasi Sehat Tanpa Tembakau

Saya memperhatikan anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SMP itu. Ia terlihat ragu-ragu.

Di depannya, selembar kertas kuesioner menunggu untuk diisi. 

Saya yang ditugasi sebagai asisten dalam acara bakti sosial di kelas 2 SMP tersebut, merasa penasaran.

"Ada kesulitan mengisi kuesioner, dek?" saya bertanya.

Anak laki-laki itu menjawab, "iya dok bingung dok."

Saya: "yang bikin bingung apa? tinggal diisi aja apa adanya kok."

Saya memperhatikan, ia bahkan belum mengisi pertanyaan nomor satu, yang bagi orang kebanyakan pastinya sangat mudah dijawab.

Pertanyaannya: Apakah Anda merokok? Terdapat pilihan, ya atau tidak. Tinggal disilang.

Beberapa saat saya menunggu ia kebingungan. Kemudian ia menyilang tidak

Saya meragukan kejujurannya.  


Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh di tanggal 31 Mei 2015, Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UI mengadakan serangkaian acara. Beberapa diantaranya yang saya turut berpartisipasi adalah bakti sosial di salah satu SMP di Jakarta Pusat pada tanggal 26 Mei 2015, dan seminar sehari di FKG UI tanggal 29 Mei 2015.

Generasi sehat tanpa tembakau, adalah tema yang diusung pada acara baksos selasa lalu. Sasaran baksos adalah anak-anak SMP dari kelas 1 - 3. Seperti yang kita ketahui, fakta yang bikin miris sekarang ini adalah anak-anak SMP sudah banyak yang merokok, dan tidak sedikit dari mereka yang bahkan sudah memulainya dari usia SD. :-(

Industri rokok menyasar anak muda dalam memasarkan produknya. Tentu saja, ini adalah hal yang efektif. Sekali anak muda kecanduan rokok, mereka akan ketergantungan terhadap rokok sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Ini prospek yang bagus. Untuk pabrik rokok.

Tapi, apa jadinya sumber daya manusia Indonesia kalau kecanduan rokok?

Indonesia adalah urutan ketiga terbanyak perokok, setelah Cina dan India. Menyedihkan. 

Masih mengkhawatirkan devisa negara berkurang kalau produksi rokok menurun?

Hmm...

Saat ini saja pemerintah sudah mengeluarkan trilyunan untuk tanggungan pengobatan penyakit-penyakit akibat rokok. Ini tidak sebanding dengan pendapatan negara dari produksi rokok. Ini kalau bicara untung rugi dari segi finansial.

Okelah, kalau ada perokok yang bilang, "gw punya duit kok kalau gw sakit!"

Tapi kalau Anda masih menggunakan fasilitas tanggungan dari negara (bpjs) untuk mengobati Anda saat Anda terkena berbagai penyakit akibat rokok, itu sama saja dengan... Anda membuat masyarakat Indonesia membiayai kesenangan Anda merokok. 

Akibat dari merokok? Saya yakin sudah banyak yang paham. Kini kasus kanker mulut sudah semakin meningkat. Dokter gigi umum seperti saya, diminta untuk waspada. Kami harus mengenali tanda-tanda keganasan dalam mulut. Setiap pasien yang datang, dianjurkan juga untuk diskrining mukosa mulutnya. Tidak hanya melihat gigi yang dikeluhkannya saja.

Kanker mulut adalah salah satu yang cepat sekali penjalarannya. Dalam waktu singkat kanker mulut bisa menjalar ke paru. Tidak sedikit yang terlambat dan akhirnya meninggal. Kalau sudah begini, kan kasihan juga ya. 

Pertanyaan seperti, "apakah Anda perokok?" dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam prosedur anamnesa, dan dicatat di medical record pasien tersebut. Selama ini drg termasuk saya ternyata memang menanyakan kebiasaan merokok ini, tapi hanya sebatas tanya dan tidak dicatat. Padahal merokok sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan gigi dan mulut.

Banyak hal yang saya pelajari dari seminar sehari OM kemarin, ada beberapa yang ingin saya share disini, diantaranya adalah:


Third-hand Smoker

Kalau kita sudah paham tentang second-hand smoker atau perokok pasif. Kini ada istilah third-hand smoker. Waduh ini bikin saya merinding. Kenapa? Karena bahkan jika si perokok sudah tidak ada di tempat tersebut, residu dari asap rokok menempel di aneka permukaan seperti dinding, gorden, meja, kursi, dll. Dan residu ini bersifat karsinogenik.

Residu rokok ini hanya bisa hilang dengan pembersih yang bersifat asam. Sedangkan sabun dkk itu bersifat alkali (basa). Pembersih asam ini tentu berupa zat kimia tertentu ya. Tidak disebutkan secara spesifik. Tapi yang jelas pembicara, Dr. Kartono Muhammad (ketua Indonesia Tobacco Control), menyarankan bagi perokok yang punya anak, ganti saja gorden dan sofa setiap habis merokok.

Whaaattt?!?!

Ya begitulah... Kalau nggak mau anaknya terpapar zat racun.

Beliau juga menyarankan kalau mau menginap di hotel dengan membawa anak-anak, tanya dulu. Apakah di dalam kamar hotel tersebut diperbolehkan merokok atau tidak. Kalau ya, maka Anda patut waspada. Karena permukaan meja, kursi, tempat tidur, kemungkinan besar sudah terpapar residu rokok yang bersifat racun ini. 


Rokok Elektrik

Rokok elektrik di-claim sebagai rokok yang lebih "sehat". Catat ini: nope! sama saja, kawan. Rokok elektrik berisi nikotin cari. Tetap mengandung nikotin yang membuat kecanduan. Bahkan dianalisa oleh para pakar, rokok elektrik ini justru lebih berbahaya karena tidak adanya larangan penggunaan untuk anak-anak dan merupakan gerbang bagi anak untuk mencoba rokok konvensional dan narkoba. 


Perilaku Hostile

Merokok akan memicu perilaku hostile. Ya karena nikotin yang berkurang dalam darah kalau belum dipasok lagi dengan menghisap rokok, akan membuat seseorang craving yang akan memicu perilaku hostile. Pembicara menghubungkan antara angka perokok di kalangan siswa yang meningkat, dengan kebiasaan tawuran pelajar. 

Foto bersama staf pengajar dan mahasiswa spesialis OM FKG UI, beserta teman-teman sejawat drg dari berbagai instansi.

Di seminar sehari kemarin, selain para pembicara dari FKG UI, panitia juga menghadirkan seorang spesialis Kedokteran Jiwa. Beliau menerangkan berbagai point seperti terjadinya craving tadi, beserta tahap-tahapannya untuk smoking cessation. Mulai dari tahap precontemplation (tahap dimana seseorang ingin berhenti tapi masih galau karena banyak alasan mengapa dia tidak bisa berubah) sampai tahap maintenance (berhasil berhenti) atau bahkan relapse (kembali menjadi perokok lagi). 

Source

Tips dari dokter psikiatri, jika niat ingin berhenti dan saat craving akan nikotin datang, lakukan 4D:
Delay
Drink water
Do something else


Berhenti merokok memang susah. Oleh karena itu butuh kombinasi dari motivasi diri sendiri, terapi dari dokter, serta dukungan keluarga dan lingkungan. Banyak saudara saya yang sudah berhasil berhenti merokok. Cintai diri sendiri, cintai keluarga kita. :-)

Source

May 31st is World No Tobacco Day
But...
Let's make everyday, no tobacco day, shall we? ;-)

Have a nice day my dear friends. 

Wednesday, May 27, 2015

Usia Yang Berkah

Alhamdulillah...

Jum'at tanggal 22 Mei 2015 kemarin, Vania genap berusia 7 tahun.

7 tahun menjadi ibu bagi seorang gadis kecil, yang beranjak besar.
7 tahun yang paling menyenangkan dalam kehidupan saya.
Dan insya Allah kami akan menjalani bertahun-tahun lagi... bersama dalam kasih sayang. Aamiin...


Seluruh do'a saya panjatkan kepada Allah SWT untuk gadis kecil yang Allah titipkan kepada saya. Tapi satu yang selalu saya panjatkan setiap waktu...

Dear Vania sayang,
Semoga usiamu berkah selalu... Allahumma aamiin... 



Terkadang kita memang diberi sakit...

Terkadang kita juga diuji dengan nilai di sekolah yang kurang baik...

Terkadang kita juga patah semangat...

Terkadang kita harus menunggu sukses dengan berjuta-juta kegagalan...

Tidak mengapa... Jalani saja peran kita...

Yang penting Allah ridho dan memberkahi selalu...

Usia yang berkah, itu juga yang saya do'akan kepada keluarga, saudara, dan teman-teman saya...

Karena, usia yang diberkahi Allah... adalah yang akan mengantar kita ke tempat yang terbaik... Baik di dunia maupun di kehidupan nanti... 

Insya Allah, aamiin... 

Sunday, May 17, 2015

Nostalgia di The Flavor Bliss

Kumpul keluarga sambil jalan-jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan adalah salah satu yang rutin kami lakukan. Tentu saja selain untuk refreshing, kami juga harus tetap menjaga silaturahmi. 

Jaman dulu, keluarga besar Papa saya sering mengadakan arisan keluarga di rumah secara bergantian. Tapi saya dan sepupu-sepupu saya sering merasa bosan. Hahahaaa... 

Anak-anak Papa hanya tiga, dan yang di Jakarta hanya dua. Jadi nggak terlalu repot kalau kumpul keluarga. Oleh karena itu alhamdulillah kami bisa berkumpul keluarga ke tempat-tempat menyenangkan, semacam The Flavor Bliss!


Keluarga kami kenal The Flavor Bliss tahun lalu, dan seringkali ketika saya tanya anak saya Vania ia mau jalan-jalan kemana, ia menjawab dengan mantap, "ke Little Jungle yang di Flavor Bliss!"

Ada dua alasan mengapa keluarga kami menyukai tempat hangout seperti The Flavor Bliss. Pertama, alasan safety. Kedua alasan nostalgia masa kecil. 

Mengapa saya memberi judul "nostalgia" untuk posting ini?

Saya dan adik-adik saya punya kenangan khusus akan tempat semacam ini. Saat saya SD dulu, 25 tahun yang lalu, Papa saya sedang menamatkan sekolah S2 di Naval Postgraduate School. Kampus ini terletak di salah satu kota kecil di Monterey, California. Kota kecil yang sepi, bersih dan asri.

Terdapat suatu wilayah yang bernama Carmel yang terletak dekat dengan pantai. Di Carmel ini ada pertokoan. Salah satunya ada milik orang Indonesia. Disanalah Mama saya pernah bekerja untuk membantu Papa menambah nafkah keluarga, karena uang saku mahasiswa tidak seberapa. The Barnyard Shopping Village di Carmel, adalah nama pertokoan itu.

Pertokoannya menyenangkan. Tidak seperti mall yang berada dalam gedung besar, pertokoan di The Barnyard Shopping Village unik, menurut saya. Tamannya bagus, jalanan luas, dan outdoor. Saya dan adik-adik saya pernah punya pengalaman trick-or-treating saat Halloween dulu. Kami keluar masuk berbagai toko, minta permen dan cokelat. Hahahaaa...

Betapa senangnya saya ketika di dekat tempat saya tinggal ada pertokoan yang mengingatkan akan masa kecil saya dulu! Papa dan Mama juga senang kesini. Kata Papa, "mirip Carmel yah Tia!"

Persis!

Dan di The Flavor Bliss tak hanya pertokoan, tapi juga lengkap dengan restoran-restoran asik, tempat mainan dan supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

The Flavor Bliss terletak di Alam Sutera, Tangerang. Tapi, tak hanya warga Tangerang dan sekitarnya yang menjadi langganan, saya yang warga Jakarta Timur pun hobi kesini. Padahal dekat rumah saya ada pertokoan macam The Flavor Bliss, tapi tidak selengkap disini.

@ Warung Rawit, The Flavor Bliss

@ Pho 24, The Flavor Bliss yeay! Free wifi!

Tempat makan banyak sekali variasinya. Mulai dari western sampai ke asian dan Indonesian food, ada. Mulai dari toko khusus buah, cokelat sampai bakery pun lengkap.

Tentu saja, yang paling menyenangkan buat cucu-cucu Opa adalah Little Jungle! Tempat mainan ini lengkap, dengan area toddler dan kids. Lengkap juga dengan arena flying fox mini dan tempat berlatih inline skate. Vania dan Aira kalau kesini, berjam-jam juga masih kurang.

Ada wifi-nya!



Untuk kami orangtuanya, saat menunggu anak bermain adalah saat-saat menjemukan. Kami bergantian menunggu anak-anak. Kunjungan kami tahun ini, sambil menunggu kami berbelanja di supermarket Loka. Tapi tahun lalu bocah-bocah ini juga ikutan belanja. Mereka senang sekali melihat trolley yang warna warni. Kalau keponakan saya Aira, senang karena ada trolley mini. 



Selain alasan nostalgia, masih ada satu lagi alasan kenapa keluarga kami senang hangout ke The Flavor Bliss. Safety.

Tidak seperti mall, yang di dalam gedung tinggi bertingkat-tingkat, pertokoan di The Flavor Bliss semua terletak di tanah. Hahahaaa... Outdoor. Jadi jalan-jalan disini seperti jalan-jalan di komplek perumahan. Hanya saja lebih menyenangkan. 

Jika di dalam mall, kami harus selalu waspada dan harus siap mengetahui kemana arah evakuasi jika terjadi bencana seperti kebakaran dan gempa bumi. 

Namun di The Flavor Bliss, kami jauh lebih tenang. Kalau terjadi bencana (yang mudah-mudahan tidak), evakuasi jauh lebih mudah, dan banyak area terbuka. Area terbuka adalah poin penting untuk titik berkumpul. Ini ada dalam kuliah saya, hospital disaster management. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara yang rawan bencana, memang manajemen bencana adalah salah satu hal penting yang harus diantisipasi.


Mengikuti The Flavor Bliss di berbagai akun media sosial, ternyata disini sering mengadakan berbagai macam event. Wah seru!

Ada dua poin penting lain bagi kami, yaitu mushola dan kamar kecil. Dekat area panggung ini ada mushola dan kamar kecil yang bersih bagi pengunjung. Urusan ibadah tidak ada kendala, alhamdulillah.

Bonusnya lagi, di restauran dan tempat bermain yang kami singgahi menyediakan wifi gratis. Yeay!

Untuk ke depan, sepertinya The Flavor Bliss menjadi salah satu getaway yang akan sering kami kunjungi. The Flavor Bliss memang lengkap.

Tempat bermain untuk anak. Checked!
Supermarket untuk belanja makanan dan sayur mayur. Checked!
Restauran yang bervariasi, yang bisa mengakomodasi para pecinta kuliner. Checked!
Toko khusus buah, cokelat, roti, baju. Checked!
Safety for disaster management. Checked!
Mushola. Checked!

Tak salah jika The Flavor Bliss mengklaim diri sebagai tempat untuk hangout, dan sebagai one stop destination untuk eat, play and shop. Mulai dari anak-anak sampai Opa Oma senang jalan-jalan kesini. Saya masih penasaran ke Bandar Djakarta dan Chocomory. Of course, going here once is never enough.

"Bunda, kapan kita ke The Flavor Bliss lagi?"

Untuk para pengunjung yang ingin mengetahui informasi seputar tenant, website The Flavor Bliss juga menyediakan informasi yang lengkap. More info:

Twitter @flavorbliss
Facebook flavorbliss.alamsutera
Youtube the flavor bliss
Instagram @flavorbliss

Selamat berakhir pekan, sahabat.. :-)

Friday, May 15, 2015

Cool Auntie

Saya menikmati peran yang saya jalani sekarang. Menjadi seorang ibu, seorang mahasiswa, seorang dokter gigi yang nggak praktek setiap hari, dan tentu saja seorang tante!

Saya sering menulis di posting-posting saya sebelumnya, bahwa salah satu cara bagi saya untuk refreshing dari kejenuhan adalah jalan-jalan. Dan, jalan-jalannya yang rame! Dalam artian, jalan bareng Vania serta keponakan-keponakan saya.

Masa kecil saya sebagian besar dihabiskan bersama dengan keluarga besar Papa saya. Papa adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, yang enam diantaranya adalah perempuan. Jadi, saya punya enam orang tante, dan tante-tante saya adalah teman-teman saya. Karena jaman saya kecil dulu, jarang ada anak sebaya saya di komplek perumahan tempat kami tinggal. 

Di mata saya, tante adalah seseorang yang sering membawakan oleh-oleh, sering memberi nasihat, sayang sama saya, sering mengajak saya jalan-jalan dan mengajak saya jajan... All the good things, minus marah-marah... Hehehe... Yap! Tante saya nggak ada yang pernah marah sama saya.

Dan, sekarang setelah saya menjadi tante, saya baru mengerti kenapa. :-D

Aira, Vania, baby Neila and me... @ Mall The Living World, Februari 2015

Jujur, saya hanya berusaha menjadi ibu yang baik untuk Vania. Walau demikian, saya bukanlah ibu yang sempurna. Ya... Saya juga pernah marah-marah kepada Vania, melarang ini dan itu, tentu saja dengan alasan yang logis.

Dan, Vania sepertinya belum bisa menerima perlakuan yang tidak sama, dari saya kepada dirinya dan kepada Aira!

Vania: "Kenapa sih Bunda nggak pernah marahin Aira? Nggak pernah ngelarang-ngelarang Aira? Semua yang Aira minta Bunda kasih?! Kalau aku sering dimarahin, sering dilarang-larang... Bunda lebih sayang Aira ya daripada sama aku?!"

Saya: (ouch!)

Saya kaget mendengarnya. Dan tak menyangka dia membandingkan dirinya dengan sepupunya. Walaupun, hal ini tentu saja menjadi bahan introspeksi buat diri saya. 

Penjelasan yang saya berikan kepada Vania adalah, bukan wewenang bunda untuk marah dan melarang Aira. Karena bunda bukan ibunya. Bunda hanya tantenya.

Lalu saya balikkan pertanyaan kepada Vania. "Vania pernah lihat Tante Ayu marah-marah dan melarang Aira ini dan itu?"

Vania mengangguk.

Saya: "Tapi Tante Ayu pernah nggak marahin Vania? Dan ngelarang Vania ini itu?"

Vania menggeleng.

Source

Tentu saja, kasih sayang ibunda melebihi siapapun di dunia ini. Oleh karena itu, tanggung jawab ibunda di dunia dan di akhirat adalah suatu hal yang menjadi sangat penting bagi seorang ibu. Jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan, dan jika seorang ibu sedang lelah, tentu saja manusiawi jika keluar marahnya. Marah, karena ingin anaknya menjadi sempurna. Menjadi yang terbaik. 

Walaupun tante juga sayang kepada keponakannya, tapi ternyata, saya tak bisa memarahi Aira. Saya hanya bisa memberi nasihat dan masukan. Final decision tentu saja di tangan kedua orangtuanya. 

Dan saya bersyukur sekarang Aira menganggap saya seperti saya dulu menganggap tante-tante saya. Kalau saya main ke rumahnya, semangat sekali ia menunjukkan video-video kegiatannya di sekolah. Selain kakak Vania, saya pun yang sering dipanggil untuk diajak main, entah mewarnai atau petak umpet. 

Saya nggak tau apakah Vania sudah paham atau belum, tapi saya menjelaskan sesuai kemampuan saya dengan bahasa yang mudah-mudahan bisa Vania mengerti. 

Happy Jum'at mubarok, my dear friends. :-)

Monday, May 11, 2015

Kue Putu...

Setelah menulis posting traditional games day di blog Vania, saya jadi ingin menulis kenangan saya tentang salah satu kue tradisional kesukaan saya. Kue putu!

Sekarang, tukang jualan kue putu ini sudah semakin jarang. Tapi kami selalu tau jika ada abang penjual kue putu, dikarenakan bunyi yang dihasilkan dari mesin uap kue putu yang khas sekali seperti bunyi peluit. 

Setiap kami berkesempatan bertemu dengan penjual kue putu dimanapun kami lewat, kami pasti beli. Dan, setiap kali kami beli, Papa dan Mama pasti akan bercerita cerita yang sama. Berulang-ulang. 

Jamannya Tia kecil, sekecil Vania. Setiap ada bunyi "tuittt" khas kue putu, pasti si Tia minta beli. Kalau nggak dibeliin nangis. Padahal belum tentu dimakan, paling hanya dimakan separuh saja. Tapi setiap hari beli. Karena dulu si abang kue putu sudah hapal, kalau saya nggak beli kue putu pasti nangis, si abang pasti bunyiin peluitnya keras-keras di depan rumah. Hahaha... Akhirnya Mama dan Papa hanya membeli dua buah saja setiap hari. 

Entah ya, faktor apa yang membuat saya selalu minta beli kue putu, padahal dimakannya juga cuma sedikit. Tapi yang jelas, sampai sekarang saya suka rasa kue putu dengan aroma pandannya yang khas dan rasa manis gula jawa yang... yummyy banget... 


Jaman dulu, si abang berjualan dengan dipikul, sekarang pakai gerobak. 

Gerobak kue putu ini kebetulan lewat di depan rumah adik saya tempo hari. 

Dengan cara masak seperti ini, saya bertanya-tanya apakah mungkin membuat sendiri di rumah. Tapi saya tadi coba googling dan ternyata banyak caranya. Hmm, mungkin kapan-kapan bisa dicoba salah satunya.. :-D

Tentu saja kalau makan kue putu buatan sendiri tidak ada bunyi khas yang membawa kenangan masa kecil bagi saya. :-D


Adik-adik saya nggak terlalu ngefans sepertinya dengan kue putu. Vania pun tidak. Akhirnya yang makan hanya saya, Papa dan Mama. Kenyaaangnyaa... Ini karena kue putu terbuat dari tepung beras, sehingga efeknya sama dengan makan nasi ya.. Hehehe..

Jadi, apa kue tradisional favoritmu, teman..?

Friday, May 8, 2015

Anak-anak dan Mukena

Apa yang sahabat lakukan jika memiliki anak perempuan yang mengenakan mukena baru? Atau mengenakan mukena bersama saudarinya yang jarang pula bertemu? Atau anak-anak sholat berjamaah bersama teman-teman?


Saya pribadi, yang saya lakukan adalah mengambil kamera untuk mengabadikan momennya. :-D

Kebetulan saat saya mengambil gambar-gambar di bawah ini saya memang sedang libur sholat. Syukurlah saya mendapat kesempatan unik untuk mengambil gambar ini. Dulu, anak-anak tetangga memang sering main ke rumah. Bahkan saat bermain sampai sore, mereka pulang hanya sebentar ke rumah masing-masing, untuk kemudian kembali lagi dan sholat Maghrib berjamaah di mushola kecil kami. 

Sekarang anak-anak ini sudah tumbuh semakin besar dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sehingga jarang kembali berkumpul seperti dulu lagi. 

Sambil menunggu waktu Maghrib, anak-anak bermain di ayunan. Sudah lengkap dengan mukenanya.


Terkadang, ada-ada saja ide mereka. Saya menganggap ini unik. Selesai sholat, bukannya melipat dengan rapi mukena masing-masing, mereka malah bermain dengan mukenanya. Heboh, rame, dan lucu. Mereka menggelung mukena di kepala dan mengikat bagian bawahnya sehingga terbentuklah konde. Hahaha... 

Ulah bocah. 

Konde dari mukena.


Vania ingin meniru tapi belum berhasil. Dan lagipula, Vania tidak ingin dikonde, hanya ingin "rambut" panjang. Hahaha... Jadi, ia mengenakan sarung pasangan mukenanya di kepala dan jadilah ini. :-D

Berjamaah bersama Opa.

Saat ini yang main ke rumah Vania nggak sebanyak saat Vania TK dulu. Di antara teman-teman yang dulu, sudah banyak yang ABG, sehingga lebih memilih bermain bersama ABG juga. Yang masih usia SD antara kelas 1 - 5 masih sering berkunjung, walau tidak sampai malam seperti dulu. 

Bagaimanapun, cerita ini akan jadi kenang-kenangan untuk Vania. Sekarang, di rumah kami lebih mengutamakan sholat berjamaah dengan keluarga dan latihan membaca iqro setelahnya, tidak main-main lagi. :-)

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz,
صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ
“Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak daripada shalatnya sendirian 27 kali.”

Tak terasa bulan Ramadhan sudah semakin dekat, semoga kita semua beruntung berjumpa dengan bulan penuh mulia ya, Allahumma Aamiin... Mari mempersiapkan diri, baik kesehatan tubuh maupun kebersihan hati untuk menyambutnya, insya Allah... 



Sunday, May 3, 2015

[Seminar Kesehatan] Tatalaksana Penyakit Lambung

Semenjak saya lulus sampai sekarang, saya belum pernah mengikuti seminar-seminar yang diselenggarakan oleh IDI. Tapi, karena saya harus memenuhi requirement SKP saya, dan saya hanya punya waktu kurang dari setahun, maka seminar IDI ini sepertinya akan rutin saya hadiri, insya Allah.

Ini sebenarnya peraturan baru dari PDGI. Diberlakukan mulai tahun 2014 kemarin, untuk perpanjangan STR. Buat sejawat yang membutuhkan, ada ilustrasi pengumpulan SKP disini.

@ Hermina Depok.

Penjelasan dari kepala security. Hehehe... Ini hal yang ingin saya catat saja. Nggak semua RS seperti ini. Terakhir saya dijelaskan masalah evakuasi saat terjadi bencana, adalah saat kuliah perdana di RS Sardjito Yogyakarta. Manajemen yang baik, insya Allah. Ke depan, pasti hal seperti ini menjadi standar prosedur.  

Anggota PDGI yang tedampar di seminar IDI. Dentists @KlinikTaradita48

Ternyata, peraturan baru ini membawa berkah. Alhamdulillah. Tentu saja kami jadi punya alasan untuk mendapat ilmu baru seputar perkembangan di dunia medis secara keseluruhan. Nggak melulu masalah gigi. Hehehe...

Tempo hari, temanya adalah Prosedur Diagnostik dan Penanganan Komprehensif Terkini Pada Penyakit Saluran Cerna dari Sudut Pandang Bedah, Penyakit Dalam dan Gizi

Pembicaranya adalah Dr. M. Yamin, Sp.PD (K-GEH), Dr. Adrian Ginting, Sp.B (K-BD), dan Dr. Nur'ashiah, Sp.GK.

Wah, saya pikir, ini "saya" banget. Bukan saja melihat dari kacamata dokter, tapi saya pun pasien penderita gastritis. Nah dr. Yamin dan dr. Ginting berbicara dengan bahasa kedokteran yang mungkin bukan kompetensi saya untuk menuliskannya kembali disini.

Secara garis besar kedua dokter di atas menjelaskan penerapan prosedur diagnostik yang disesuaikan dengan derajat keparahan sakit pasien. 

Penjelasan yang lebih bisa diterima masyarakat umum adalah dari Dr. Nur'ashiah, spesialis gizi klinik. Beliau memberi penjelasan tentang edukasi pasien mengenai diet yang tepat untuk lambung. 

Brosur dari Depkes

Penjelasannya cukup lengkap. Makanan apa yang disarankan, makanan mana perlu dibatasi dan mana yang perlu dihindari. 

Depkes punya brosurnya, yang bisa di download oleh siapa saja. Dr. Nur'ashiah menyarankan para dokter mendownload brosur ini dan memberikannya ke pasien. 

Dan walaupun saya bukan dokter umum, saya akan meneruskan informasinya. Jika ada sahabat yang membutuhkan, bisa download pdf nya disini: Diet Lambung

Salam sehat selalu untuk sahabat semua. :-)


Tuesday, April 28, 2015

Tentang Iqro ~ There's Always Room For More

Sepengetahuan saya, jaman dahulu memang banyak sekolah tidak mewajibkan siswanya mengaji? Apalagi yang di sekolah negeri. Wallahu'alam.

Yang jelas, nenek saya dengan 9 anak sepertinya tidak pernah mengajari anak-anaknya mengaji. Masing-masing anaknya belajar sendiri-sendiri. Tante dan Om saya ikut pengajian. Sedangkan Papa saya, otodidak saat pensiun ini. Alhamdulillah sekarang sudah mulai lancar. Nggak pakai iqro, langsung Al-Qur'an.

Mama saya apalagi, dengan asal usul keluarga non-muslim. Belajar agama pun baru saat nikah dengan Papa. Tapi Mama belajar baca sedikit-sedikit, diajari oleh Papa. 

Tapi saya bersyukur, sejak saya kecil, mungkin dari saat saya masuk SD, Mama sudah memanggil guru ngaji ke rumah, untuk mengajari saya. Saya masih ingat, namanya Tante Rukiah. Beliau adalah teman sekolah tante saya. Sekarang tinggal di Medan. Ah, mungkin kapan kalau saya ke Medan, saya harus bersilaturahmi dengan beliau.

Ohya, satu lagi yang lupa saya ceritakan. Eyang. Adik Papa yang tinggal bersama kami, mengasuh Vania dari kecil, pun belum bisa membaca Al-Qur'an. Saya tahu bahwa sesungguhnya bisa jadi ini adalah kewajiban saya. Seorang muslim, setidaknya harus dan wajib berusaha membaca Qur'an berbahasa Arab, walau dengan tersendat-sendat. 

Saya sebenarnya orang yang tidak sabaran. Saya merasa tidak bisa jadi bu guru. Walaupun Vania pernah menyatakan bu guru favoritnya adalah saya. ^_^

Dari TK A, Vania sudah ikut iqro di sekolah. Maka, sekarang iqronya lanjut saja, guru Vania di TK A dulu, bersedia untuk mengajar di rumah kami. Dengan perjalanan 2 tahun lebih yang berliku, sekarang Vania masuk iqro 4 yang (menurut Vania) semakin susah, dan akhirnya Vania lebih sering ngambek daripada nggak. Hadeh!

Alhamdulillah Kak Tri (guru iqro Vania), sabar, mau mengeksplorasi kira-kira Vania bisa diambil hati dengan cara bagaimana. Dan diantara yang pernah dilakukan kak Tri selama mengajar di rumah, adalah membuat prakarya. Vania diajari membuat prakarya dulu, baru mau membaca. 

Hasil kreasi dengan kak Tri. 

Namun, fase membuat prakarya ini tidak bertahan lama. Hanya beberapa kali pertemuan, dan Vania kembali ke sifat ngambeknya. Duh! Semangatnya menurun karena Vania merasa semakin susah bacanya. Saya motivasi dengan membaca Qur'an dekat Vania, tapi baru beberapa lembar Vania sudah bosan dan pergi bermain lagi. 

Ternyata, setelah dicari celahnya... Vania ingin teman saat belajar iqro. Ada anak tetangga di sekitar rumah yang baru iqro 4 juga. Jadilah kadang kak Ira ini menemani Vania, sekalian ia juga belajar. Saya bersyukur, Kak Tri nggak keberatan berapapun anak yang kak Tri ajar, yang penting kunjungannya efektif dan Vania mau belajar. 

Tapi kak Ira terkadang tak kelihatan batang hidungnya. Entahlah, mungkin sedang disuruh belanja oleh ibunya. Jadinya tempo hari itu, saya tiba-tiba punya ide.

Hey! Kenapa nggak Eyang yang belajar iqro nemenin Vania? Sekalian Eyang belajar! Kan Eyang belum bisa kan? Ayo Eyang!

(Saya menarik-narik tangannya si Eyang)

Si Eyang ngambek. "Nggak mau ah! Malu aku! Udah tua gini!"

Saya, "Ih nggak apa-apa! Baca Qur'an wajib! Yang penting berusaha belajar. Ayo Yang! Mau mulai kapan lagi?! Mumpung ada kak Tri..."

"Nggak mau! Ogah ah!"

Dan lamaaaa... Akhirnya saya geret saja si Eyang ke ruang belajar. Vania loncat-loncat kegirangan. Dia senengnya karena Eyang start dari iqro 1 sedangkan vania sudah iqro 4. Mau lomba katanya. Vania sudah menang sebelum mulai. Eh ya, dasar nih anak.

Memang saya pernah berkonsultasi dengan psikolog. Vania adalah tipe anak yang baru akan termotivasi belajar kalo dia punya "sparing partner", yaitu seseorang untuk berkompetisi. Kalau sendirian, dia kurang semangat. Apalagi jika menemui kesulitan, hilang sudah motivasinya. 

Akhirnya Eyang mau belajar iqro. Dan yang membuat saya terharuuu....

Di hari-hari dimana saya pulang malam sehabis praktek, Vania sudah tidur, tapi saya masih mendengar si Eyang sayup-sayup berlatih dengan huruf-huruf hijayyah. Subhanallah.

Vania yang nggak mau difoto menutup mukanya dengan bantal Mario. 

Saya mendapat banyak pelajaran dari orang-orang terkasih di sekitar saya. Eyang yang ternyata lebih bersemangat belajarnya dibanding Vania. Dan Kak Tri yang ikhlas membagi waktunya untuk 3 orang. Vania, Eyang dan kak Ira. 

There's always room for more. Semoga berkah untuk Kak Tri.

There's also room for more knowledge and skills in our brains, insya Allah... It's never too late to learn anything...

Berbagi layar monitor dengan Vania. Jika saat liburan (minggu), saya ingin menulis blog, sedangkan Vania ingin menonton Sofia. Hehehe... you see, there's always room for more...

Dan buat Papa, Mama dan Eyang, saya salut dengan semangat belajarnya. Alhamdulillah.

source

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).