Monday, August 25, 2014

Pertimbangan Memilih SD

Apa kabar sahabat blogger semua?

Tak terasa sudah hampir sebulan saya biarkan blog ini berdebu... Acara silaturahmi dan liburan lebaran yang dilanjutkan dengan 3 minggu penuh stress menyambut ujian, membuat saya akhirnya sangat merindukan menulis kenangan disini..

Alhamdulillah bulan Agustus tahun ini adalah bulan yang bersejarah untuk Vania. Untuk pertama kalinya, Vania masuk SD. 

Awalnya, tidak mudah bagi saya untuk merasa tenang.. Apalagi sekolah ini adalah sekolah pindahan dari Kalibata, yang baru pindah tahun ajaran ini juga ke lokasi baru.. Baru juga gedungnya. Dalam artian, baru dibangun tahun 2013 kemarin... Wew!

Banyak suara-suara ragu dari para Mama teman Vania sekolah di TK..

"Mak... Itu sekolah belum kelihatan wujudnya, padahal sudah bulan Mei! Nanti Vania mau sekolah dimana?!"

Dan suara senada lainnya...

Akhirnya dari TK Vania, hanya Vania seorang yang memilih sekolah ini...

Rasa ragu yang sempat terselip di hati berubah menjadi rasa syukur ketika setelah lebaran, saat ketika menjelang target hari pertama sekolah dimulai di lokasi baru, akhirnya saya mendapati gedung sekolah sudah jadi dan rapi. Surprised! 

Gedung ini dibangun dari nol sampai jadi, hanya dalam waktu 9 bulan.. ^_^

Bukan dari segi bangunan sekolah saja yang sempat membuat saya was-was...
Ada sedikit dongeng terkait Nizamia...

Saat saya telah selesai melakukan pembayaran uang masuk, saya dibuat terkejut dengan beberapa statement yang saya temui di web... Testimoni tentang sekolah Nizamia Andalusia...

Ternyata sekolah Nizamia Andalusia didirikan oleh Nurcholis Madjid.

Untuk yang peduli tentang Islam dan cara pandangnya, tentu tokoh tersebut punya reputasi yang cukup kontroversial. Hati saya sempat bimbang, dan sempat berpikir untuk pindah. Tapi bagaimana caranya? Padahal saya sudah bayar uang masuk lunas?

Kamis minggu lalu, pihak Nizamia mengadakan pengajian bulanan dan acara pemotongan tumpeng dalam rangka peresmian gedung sekolah baru. Acara ini seperti menjawab kebimbangan di hati saya. 

Di acara tersebut Bu Zahra Fajardini, Ibu kepala sekolah sempat bercerita tentang motivasinya membangun sekolah. Dan detik yang membuat saya ikut menitikkan air mata adalah ketika beliau bercerita tentang kain kafan yang beliau beli, yang diletakkan dilemari, sehingga setiap hari beliau melihat kain itu dan mengingat mati.. Sehingga sekolah yang didirikan ini semoga menjadi tabungan bagi beliau kelak di akhirat nanti.. Subhanallah!

Ceramah yang disampaikan oleh Ustad Doddy Al-Jambari juga membuat hati saya tenang, karena insya Allah pemahaman akidah sejalan dengan yang saya yakini selama ini.

Saat ini, yang ada di hati saya adalah keyakinan bahwa walau ada keterkaitan atau hubungan keluarga sekalipun (dimana di antara keduanya saya belum pasti benar), cara pandang antara dua manusia bisa jadi berbeda... Saya hanya ingat Rasulullah SAW dengan paman beliau... 

Dan dimanapun anak kita bersekolah, kita sebagai orangtua wajib meluruskan segala pemahaman yang keliru... Pengaruh bisa datang dari mana saja, baik teman sekolah, buku bacaan, dll... Kita nggak akan mampu mengontrol semuanya supaya sejalan dengan ideologi kita, yang bisa kita lakukan hanya menguatkan anak dari akarnya, bukan? ^_^

Sekarang setelah hingar bingar ujian usai, dan setelah kebimbangan di hati saya terhadap sekolah Nizamia sirna.. Saya ingin menulis tentang perjalanan saya dan Vania dalam memilih sekolah... ^_^


Banyak pertimbangan saya dalam memilih sekolah untuk anak... Diantaranya:

1. Visi dan misi sekolah
Mau dididik seperti apakah anak muridnya kelak? Ini penting untuk saya ketahui.. ^_^

2. Jenis sekolah
Usia Vania 6 tahun saat masuk SD, sehingga dia sudah hampir pasti tidak akan diterima di SD negeri. Jadi swasta lah sasarannya. Dan karena salah satu aspek yang bagi saya penting adalah aspek agama, maka SD swasta Islami lah yang jadi pilihan kami.

Tapi punya label Islam itu tidak cukup buat saya.. Saya harus tau... Islam yang bagaimana yang diajarkan di sekolah..? ^_^

3. Keramahan pihak sekolah
Selama tahun terakhir Vania di TK, saya banyak mengunjungi SD-SD swasta Islam yang bertebaran di Jakarta. Beberapa ramah, beberapa kurang ramah. Hal ini saya perhatikan dari mulai saya menanyakan perihal sekolah, cara pendaftaran, biaya, tes masuk, dsb..
Ada juga SD Islam yang (maaf) terkesan meremehkan ketika saya menanyakan tes masuk dan biaya..

4. Lokasi dan kondisi fisik sekolah
Menghabiskan waktu berjam-jam bagi anak untuk menuju dan pulang dari sekolah adalah sesuatu yang "nggak deh yaaa"

Energi anak seharusnya terfokus pada upaya belajar dan bersosialisasi di sekolah... Nggak semestinya mereka didera stress karena jalanan... :-(

5. Tes masuk
Ah yaaa... Tes masuk juga menjadi pertimbangan saya... Saya setuju bahwa sekolah adalah tempat mendidik anak... 

Pastinya tes masuk yang ramah kepada anak menunjukkan itikad baik pihak sekolah dalam komitmennya mendidik anak. Insya Allah.. 

6. Kecocokan anak
I believe in love at first impression...
Jika dia sreg hatinya, pasti ke depannya akan lebih mudah... Insya Allah...
Walaupun feeling anak nggak ada alasannya, tapi patut dipertimbangkan...

"Yaaa... Pokoknya suka aja..." begitu Vania pernah utarakan ke saya...

7. Kemampuan finansial
Cocok dalam semua aspek dan kualitas oke, tapi kalau nggak bisa bayar SPP yaaa lucu juga yah.. Hahahaa...

Dan saya yakin, mahalnya sekolah bukan jaminan kualitasnya... Insya Allah... ^_^

8. Keterbukaan sekolah terhadap orangtua (komunikasi)
Seberapa penting keterlibatan orangtua terhadap kegiatan dan perkembangan anak di sekolahnya? Pastinya, sekolah yang berkualitas akan menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua.. ^_^

Apalagi ya..? :-D

Alhamdulillah, kedelapan kriteria saya di atas cocok dengan pilihan kami di Nizamia Andalusia. Sebenarnya Vania juga ikut tes masuk di Global Islamic School di Condet, dan diterima. Saya nilai kedua sekolah ini sama bagusnya.. Dan karena GIS kendalanya ada di akses jalan yang melewati beberapa titik macet, akhirnya kami menjatuhkan pilihan kami di Nizamia Andalusia.

Mulai dari visi misi sekolah yang sejalan dengan saya, serta keramahan semua pihak sekolah yang mengagumkan bagi saya. Semua ramah insya Allah, mulai dari pak satpam di tempat parkir sampai dengan kepala sekolah. 

Tes masuk, agak berbeda dengan GIS. Saya perhatikan di Nizamia, anak-anak pertama kali datang diajak bermain untuk mencairkan suasana. Kemudian mereka masuk ke kelas. Saya kurang tau apa yang terjadi di kelas, tapi menurut laporannya Vania bisa mengerjakan semua perintah dengan baik. Kemampuan membaca dan berhitung bukan menjadi pertimbangan utama di Nizamia. Sejauh yang saya tahu, justru yang jadi pertimbangan adalah sikap belajar dan kemandirian.


 

Gambar di atas adalah buku komunikasi antara orangtua dengan pihak sekolah. Kami juga diberi pick-up card untuk menjemput anak. Waktu Vania TK, Vania juga punya buku komunikasi seperti ini. Namun karena saya pemalas (ups), saya jarang menulis di buku itu dan lebih sering berbicara saja langsung dengan guru. Saya baru sadar itu buku komunikasi TK belum saya buka-buka lagi semenjak Vania diterima di TK sampai dia lulus. Hahahaaa...

Agak berbeda dengan di Nizamia kali ini. Setiap hari Vania wajib membawa buku komunikasi ini. Jadi walaupun saya nggak pernah menulis di buku itu, guru Vania setiap hari memberi laporan di buku itu, menjelaskan kegiatan dan pelajaran apa saja yang dilakukan murid-murid.. Setiap hari... 

Vania nggak pernah bawa alat tulis, buku tulis, buku teks, dll.. Semua disediakan di sekolah, dipakai di sekolah dan tidak dibawa pulang... Kecuali nanti kalau mau ujian... ^_^

Isi tas Vania setiap hari hanya buku komunikasi, baju ganti dan makanan... :-D


Ohya, satu lagi tolok ukur bahwa suatu sekolah cocok dengan anak kita adalah... Melihat senyumnya yang manis setiap akan berangkat dan pulang sekolah... ^_^

Alhamdulillah...

More info @ Nizamia Andalusia

Salah satu video Nizamia yang membuat saya terharu.. ^_^