Tuesday, June 17, 2014

Tentang Resistensi Antibiotik

Singkat cerita, beberapa hari ini Vania terserang batuk pilek.. Tapi, bukan hal itu yang membawa saya mengunjungi dokter anak langganan Vania, dr. Syarifah Hanum, SpA. di Mitra Keluarga Cibubur. Vania ada masalah pencernaan. Tapi syukurlah, insya Allah bukan masalah besar.

Hal yang ingin saya tulis disini adalah share dari dr. Syarifah Hanum, tentang penyalahgunaan antibiotik. Untuk Vania sendiri, memang batuknya disebabkan bakteri, terlihat dari keadaan tenggorokannya yang memerah, sehingga antibiotik cefixime yang sedang  saya berikan diinstruksikan untuk dilanjutkan saja sampai habis. 

Namun.. Seperti pendahulunya, semisal amoxicillin atau cefadroxil... Cefixime kabarnya juga mengalami penyalahgunaan sehingga sekarang ada kemungkinan bakteri-bakteri yang beredar sudah resisten terhadap antibiotik yang satu ini (juga)..

Dr. Syarifah Hanum adalah dokter anak yang menurut saya sangat komunikatif terhadap pasien. Saat kunjungan kami kemarin, beliau pun cerita tentang beberapa perilaku orangtua dari pasiennya yang menyalahgunakan antibiotik..

Misalnya...
  1. "Dok, anak saya jangan diberi antibiotik. Kasihan dok, anak saya nanti kebal sama antibiotik.."
  2. "Dok, saya nggak tega kasih anak saya antibiotik banyak-banyak. Jadi kalau disuruhnya 2 sendok, saya cuma kasih 1 sendok saja.."
  3. "Anak saya panas udah 3 hari jadi saya kasih cefixime aja dok, 2 hari sembuh."

Tiga pernyataan di atas adalah beberapa contoh perilaku orangtua pasien yang diceritakan dr. Syarifah Hanum kepada kami. Dan masih banyak lagi kasus yang berbeda tapi intinya sama.

Untuk pernyataan no.1, FYI, anak kita dari sel kecil dalam perut ibunya juga sudah resisten terhadap antibiotik.. Karena antibiotik adalah obat untuk membunuh bakteri, bukan untuk membunuh manusia... :-D

Jadi sebenarnya yang resisten terhadap antibiotik adalah bakteri, bukan manusianya.. ^_^

Untuk pernyataan no.2 dan no.3, hampir sama... Saking takutnya sama antibiotik, sehingga orangtua mengurangi dosis pemakaian dan lama pemakaian.. FYI, ini adalah perilaku kita untuk lebih menyehatkan bakteri... :-D

Analoginya...

Saat anak kita diimunisasi... Adalah proses saat anak kita disuntikkan sejumlah bakteri/ virus yang "dilemahkan"... Tujuannya, supaya sistem imun dalam tubuh mengenali musuhnya.. Sehingga saat benar-benar ada infeksi menyerang, sistem imun dapat mengatur strategi perang dengan benar.

Nah.. Untuk kasus penyalahgunaan antibiotik, persis seperti itu yang kita lakukan terhadap bakteri. Kita memberinya dosis kecil obat pembunuh bakteri, bakteri hanya pingsan sebentar, dan ketika pemakaian antibiotik dihentikan sebelum bakteri benar-benar mati, bakteri akan sehat kembali dengan kekuatan yang lebih!

 Bakteri-bakteri yang sudah kuat ini, akan menular ke siapa saja... 

Source

Jadi, walaupun kita sudah menjaga anak kita baik-baik dan menggunakan antibiotik secara bijaksana, tetap saja sangat besar kemungkinan anak kita terjangkit bakteri yang sudah berevolusi ini..!

Tanpa kita semua paham dan bekerjasama dengan para ahli kesehatan (dokter, perawat, dkk), kita akan menciptakan dunia untuk anak-anak kita yang berisi dengan bakteri-bakteri yang kebal terhadap aneka jenis obat...

Ada baiknya, kalau anak sakit, pertama kali kita kunjungi adalah orang ahlinya, seperti dokter anak.. Ikuti semua perintahnya. Jangan dulu mendengarkan kata orang tentang resistensi antibiotik, apalagi orang yang berbicara bukan pakar dalam bidangnya.. Mohon maaf, nanti bisa salah kaprah..

Sebagai catatan saja, ini juga yang terjadi di bidang kesehatan gigi.. Hilang sakit gigi, stop juga antibiotik. Kalau anak sakit mungkin lebih banyak orang yang akan perhatian terhadap kesehatan anaknya. Tapi tidak dengan gigi. Cenderung disepelekan. Tapi, intinya sama saja. Resistensi bakteri terhadap antibiotik. Dan kalau pasien tak kunjung sembuh, terpaksa diresepkan obat yang lebih mahal kan.. :-(

Hmm..

Saya yakin, sahabat-sahabat saya disini sudah paham... Tapi, mungkin di luar sana ada beberapa orangtua yang belum benar-benar paham.. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini dapat bermanfaat. ^_^

36 comments:

  1. Kalau anakku dikasih antibiotik pasti aku habisin. Soalnya aku memang pernah dengar kalau minum antibiotik harus habis meski udah sembuh.
    Kadang ada orang yang aneh, dia keputihan terus minum antibiotik katanya biar gak keputihan. Aku gak tahu dapet resep itu dari mana. Yang pasti aku agak anti kalau ke obat. Seminimal mungkin aku gak minum obat kalau sakit sekedar panas atau sakit yang ringan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tubuh kita memang cerdas, mbak Enny.. utk kondisi2 tertentu tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri.. namun memang terkadang perlu bantuan obat.. walau harus hati2 dan bijak pemakaiannya.. :-)

      Delete
  2. Saya dulu juga begitu, Mbak, ngatur dokter untuk melindungi anak. Kuatir banget soalnya kelebihan antibiotik kan juga gak baik bagi manusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Evi, terlalu banyak obat tentu tak baik bagi tubuh manusia..

      Oleh karena itu, antibiotik memang tidak boleh asal diberikan.. ia diberikan saat benar-benar diperlukan.. namun saat sudah diresepkan, memang harus diminum sesuai dosis dan ketentuan.. ^_^

      Delete
  3. Mkah mbk sharingnya..setidaknya bt bekal diri sendiri dan kl punya anak hehe...salam ketjup bt vania,smg sehat selalu ;)

    ReplyDelete
  4. Aku juga termasuk yang agak gimana gitu tentang antibiotik, tapi saat sakit dan dokter meresepkan itu ya diminum sampai habis. Yang gak setuju itu, jika tanpa ahlinya kita meresepkan antibiotik sendiri. Banyak loh yang mengkonsumsi antibiotik untuk mengobati sakit gigi dan berhenti saat giginya sudah sembuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya noph, itu yg bahaya...
      Menyalahgunakan obat.. :'(

      Delete
  5. Cocok juga ma dsa yg sekarang di Hermina Jatinegara gak gampang kasi antibiotik kecuali perlu bgt.., sekarang samaan dsanya sama Triplet's mom..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah punya DSA yg cocok, yah mbak.. :-)

      Delete
  6. Iya Tia, saya juga termasuk orang tua yang sangat patuh pada nasihat dokter anak Risa dulu. Selain orangnya hangat, baik, perhatian dan komunikatif. dia juga gampang datang kalo tiba-tiba aja Risa harus dirawat di rumah sakit.
    Untuk diketahui, dulu itu Risa hampir sebulan sekali sakit, dan selalu dikasih antibiotik. Bahkan pernah beberapa kali masuk rumah sakit dalam kondisi hampir tidak sadar karena dehidrasi dan dokter itu langsung datang, lengkap dengan suster yang dipanggil dari rumah sakit lain untuk memasukkan jarum infus ke nadi Risa yang *dia hafal banget* sangat kecil.
    Balik ke antibiotik, menurut saya, sesuai usia anak, kekebalan tubuh anak juga akan makin meningkat sehingga otomatis seiring pertambahan usia anak juga jadi jaarang sakit. Otomatis jarang pula kan minum antibiotik.
    Jadi sepakat dengan Tia, kalo masalah antibiotik ini, memang harus dihabiskan sesuai dosis yang diberikan dokter :)
    Smoga Vania selalu sehat ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah DSA Risa baik hati.. senangnya.. ^_^
      Iya mbak Irma, alhamdulillah skrg Risa udah jd anak yg sukses insya Allah...
      Aamiin utk do'anya, semoga mbak Irma sekeluarga sehat selalu yaa.. :-)

      Delete
  7. kadang ada yang merasa anaknya sudah sembuh lalu obatnya tidak di habiskan ya

    ReplyDelete
  8. ya ampuun Thia.. gambar itu mengingatkan aku pada masa-masa kuliah kemariiiin :)

    apa kabar? masih di Yk? udh bereskah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah mak hilsya udah selesai.. aku kayaknya masih jauh dari kata "beres" huhuhu..

      Delete
  9. benar juga ya, memberi obat yang disarankan dokter dikurangkan akan dampak terhadap penyembuhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah dokter anak lebih paham yaa Leony :-)

      Delete
  10. Wow.. ternyata begitu, info yang sangat berguna nih mba Thia klo-kalo nanti Dhe punya anak atau ada ponakan yang sakit. Tq ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Dhe.. :-)
      Semoga bermanfaat.. :-)

      Delete
  11. Saking takutnya orang tua dengan obat, sampai mengira bisa membunuh. :)
    Btw, saya alergi dengan amoxilin lho, Mba. Gatel2 kalau minum antibiotik ini.

    Vania, sehat selalu, yes!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya dikasih antibiotik jenis lain yah Idah kalau memang perlu..

      Tapi sehat selalu yah Idah, biar ndak usah minum obat.. :-)

      Aamiiin..

      Delete
  12. Nambah Info nih mbak buat orang tua dan yang belum jadi orang tua :)

    ReplyDelete
  13. Setahuku ya kalau udah minum antibiotik harus dihabiskan dong... Paling enggak, minta dengan golongan yang rendah dulu, jangan langsung dikasih golongan tinggi seperti quinolon.... kalau anak yang rendah Inza Allah masih mempan, tapi kalau sudah enggak mempan...setingkat di atasnya dulu...

    Vaniaaa...dah baikkan kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Astin.. minum antibiotik ada tahapannya.. ;-)

      Alhamdulillah vania udah sehat skarang.. salam sehat utk faiz yaa.. :-)

      Delete
  14. Aku pernah bersitegang dengan dokter dan pegawai apotek gara-gara antibiotik. Aku suka menolak kalau dikasih antibiotik. Kecuali ada alasan yang kuat. Biasa aku pakai madu sama propolis untuk menggantikan antibiotik sintetis mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pakai herbal oke itu lebih baik mbak Ika.. :-)

      Delete
  15. Lapor mbak, aku nurut kok kalo sama dokter, kalo disuruh dihabiskan ya dihabiskan meski udh ga sakit he he. tapi emang ya, terlalu banyak informasi yang disepakati benar (meski sebetulnya tidak benar) seringkali membuat orang awam bingung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Orin,.. terlalu bnyk informasi.. tapi memang jd pasien seharusnya cerdas dan bnyk bertanya kpd dokter..

      Sehat selalu yah Rin ;-)

      Delete
  16. ternyata gawat juga kalo bakteri bisa bangkit kembali saat pengobatannya berhenti ditengah jalan....kebanyakan dokter sudah jarang berkomunikasi aktif dengan pasien dan orang tua pasien..seperti yg dilakukan oleh dr,Syarifah.......artikel ini membuat saya lebih paham tentang antibiotik....
    terimakasih...keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi dokter memang seharusnya banyak bicara supaya pasiennya jg paham.. :-)

      Salam jg dari jakarta pak hariyanto..

      Delete
  17. Bicara soal anti biotik ...
    saya itu paling parno ...
    Saya alergi dengan Penisilin ... dan ini menurun ...
    sehingga apapun penyakitnya ... siapapun dari kami ...
    maka kalimat wajib yang saya ucapkan adalah ... "Dok saya alergi penisilin"

    :)

    Salam saya

    (22/6 : 1)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama dgn Idah yg alergi penisilin yah Om..

      Semoga sehat selalu utk Om NH dan keluarga.. :-D

      Delete
  18. Ini serem sekali:

    Untuk kasus penyalahgunaan antibiotik, persis seperti itu yang kita lakukan terhadap bakteri. Kita memberinya dosis kecil obat pembunuh bakteri, bakteri hanya pingsan sebentar, dan ketika pemakaian antibiotik dihentikan sebelum bakteri benar-benar mati, bakteri akan sehat kembali dengan kekuatan yang lebih!

    Sy takut kalo keseringan dapat antibiotik (buat anak2) tapi kalo lagi parno, mending gak saya kasih sekalian daripada membuat bakteri jadi makin kuat Mbak. Mending saya cari cara lain (alternatif) ....

    TFS ya .. sharing seperti itu bermanfaat, apalagi diberikan dalam bahasa senderhana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang pemberian antibiotik itu jangan, kalau nggak benar2 perlu mbak Mugniar...

      Sama2 mbak, semoga sehat selalu.. aamiin.. :-)

      Delete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)