Monday, December 16, 2013

Melihat Permasalahan Dari Dua Sisi

Sudah dua bulan lebih saya tidak menyambangi blog ini.. *bersih-bersih debu yang menumpuk*
Fuih...

Alasannya, ah tidak usah pakai alasan mungkin ya...?
Saya hanya sedang asyik menikmati hidup saya yang sekarang, sampai-sampai saya hampir melupakan blog kesayangan saya serta teman-teman blogger yang sudah menemani saya dalam suka dan duka... Hiks.. Maafkan..

Akhir-akhir ini... Ada satu hal yang cukup menganggu bagi saya... 
Bukan mau curcol, namun justru sebaliknya...
Saya ingin mengajak sahabat semua untuk melihat semua permasalahan dari dua sisi..

Mungkin sebagian sahabat blogger saya sudah mengetahui bahwa saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana di jurusan Magister Manajemen Rumahsakit UGM, di Jakarta.

Masalah yang kami hadapi adalah, jadwal yang selalu tentatif..
Kami sebagai mahasiswa Jakarta berusaha memaklumi, dikarenakan hampir semua dosen berdomisili di Yogyakarta, jadwal kuliah Jakarta bisa sewaktu-waktu berubah. Kadang sudah ada jadwal kuliah namun tiba-tiba batal. Kadang yang tadinya jadwal kosong tiba-tiba bisa jadi ada kuliah.

Saya sebagai sekretaris kelas, kadang merasa bersalah... Apalagi jika yang tadinya jadwal kosong kemudian tiba-tiba ada kuliah. Bukan apa-apa, sebagian teman sekelas saya banyak yang sudah sepuh, dan beberapa beliau-beliau ini adalah direktur/ direktris rumahsakit yang sibuknya di luar nalar. Suatu kali saya pernah mendapat keluhan dari beliau-beliau, karena yang bersangkutan sudah sudah membeli tiket ke luar kota sedangkan tiba-tiba ada jadwal kuliah..

Baiklah. Tapi tidak apa. Selama perubahan masih H-1, kami mahasiswa masih memaklumi.

Kejadian yang baru saja terjadi dua hari kemarin adalah yang terparah.
Jadwal kuliah adalah hari Jum'at 13 Desember 2013, pukul 14:00 WIB.

Pukul 13:00 WIB. Saya sudah siap berangkat, ketika admin MMR UGM Jakarta mengkontak saya untuk mengabarkan ke mahasiswa lainnya, bahwa kuliah dibatalkan.

WHAAAT?!?!

Oke... Tarik nafas dulu. Kuliah dibatalkan 1 jam sebelumnya.

Sedangkan teman-teman saya berdatangan dari segala penjuru JaBoDeTaBek. Menembus macetnya Jakarta yang luar biasa...

Bete?! Oooh sangat...  

Dan mereka bertubi-tubi memenuhi timeline grup di blackberry dan whatsapp dengan berbagai keluhan... Tapi alhamdulillah pada akhirnya kami saling menyemangati untuk sabar dan tabah...

Beberapa dari kami, termasuk saya, akhirnya tetap ke kampus tanpa pulang balik. Kami belajar bareng dan diskusi. Nah, tidak sia-sia juga kan...?

gambar pinjam dari sini

Baiklah... Mari kita melihat permasalahan dari kedua sisi...

Yang akan mengisi kuliah kami Jum'at siang itu adalah direktur salah satu rumahsakit besar di Jakarta. Saya mendapat kabar dari seorang teman dekat saya, bahwa rumahsakit itu sedang mengalami permasalahan yang cukup pelik. Adalah Pak Giman, salah satu admin MMR UGM Jakarta yang akhirnya mengatakan kepada kami, dosennya sampai-sampai hampir menangis karena menyesal tidak bisa datang mengajar hari itu...

Nggak perlu mengeluh dan complain tidak karuan, kan?

Coba kita menaruh diri kita di posisi si dosen... Hmm..

Dan kalau saya bisa mengambil hikmah yang lebih besar lagi...

Memang MMR UGM, khususnya yang Jakarta, dosen sering tidak masuk dan jadwal kuliah sering tidak jelas. Kedengaran seperti reputasi yang kurang baik ya...?

Tapi coba ditilik dari sisi lain... Bahwa memang dosen MMR UGM adalah orang-orang hebat yang luar biasa sibuk... Dan coba tebak, betapa beruntungnya kita yang bisa dapat kesempatan menuntut ilmu dari mereka..? Insya Allah... Yang penting berusaha saja... :-)

gambar pinjam dari sini

Hal kedua yang ingin saya ceritakan...

Setelah perceraian, saya menjadi sosok yang sangat sensitif. Saya sempat merasa rendah diri. Saya pun trauma terhadap sosok laki-laki. Apalagi, mereka yang sudah pernah menikah kemudian bercerai. Dalam pikiran saya, pastilah si istri yang jadi korban, dan pada setiap perceraian, yang salah sudah pasti suaminya. Seperti kasus saya sendiri.

Jangankan untuk tujuan menikah, berteman pun mungkin saya enggan dengan mereka yang berstatus duda...

Tapi, tunggu dulu...

Sebelumnya, ingin sekali saya menuliskan ini... Mengingatkan diri sendiri dan kita semua.. Bahwa Allah Maha Mendengar... Allah lebih dekat dari urat nadi, dan kesedihan sekecil apapun, Allah pasti tau...

Perkenalan saya dengan seorang duda bermula saat Idul Adha kemarin.

Seperti kita semua tahu, setiap selesai sholat Ied, ada khotbah. Pak ustad yang berceramah saat itu mengatakan bahwa... "Wanita yang tidak punya suami itu tidak punya harga diri. Tidak punya tempat untuk berbakti."

Saya yang duduk mendengarkan langsung terdiam. Sekujur tubuh saya kaku. Hati saya sakiiitttt sekali... Ingin saya berteriak... "Wahai pak ustad, bagaimana dengan takdir saya...? Saya dulu punya suami yang kemudian saya gugat! Apakah itu menjadikan saya wanita rendahan..? Tidak punya harga diri...?"

Astaghfirullah...

Saya berjalan pulang, dan selama di perjalanan air mata saya tak terbendung. Orangtua saya hanya bisa memaklumi, dan membesarkan hati saya, bahwa seorang ustad bisa saja salah bicara..

Saya kemudian curhat di grup blackberry di antara teman-teman dekat saya semasa kuliah di FKG dulu.. Semua menyatakan bahwa perkataan pak ustad tidak ada dalilnya... Dan di tengah kegalauan saya, saat itulah (kalau saya melihat ke belakang)... Allah menjawab beribu pertanyaan dan keraguan saya...

Salah seorang teman baik saya di grup blackberry tersebut langsung japri ke saya... "Li... Lo sekarang lagi single? Mau nggak gue kenalin ke kakak gue? Kakak gue juga divorce.."

Dalam hati... Saya langsung ciut... Hah?! Duda dong...? Gimana nolaknya ya...?

Tapi hati kecil saya berbisik, jangan dulu berprasangka...

Setelah cerita banyak, saya pun paham... Bahwa tidak selalu pihak suami yang salah saat perceraian terjadi.. Bermula dari situ, kami berkenalan...

Lupakan saja tentang persepsi pribadi yang negatif dan berusaha melihat setiap permasalahan dari kedua sisi, secara objektif, dan tentu saja positif... 

Coba saja kalau saya memelihara pikiran picik saya... Mungkin saya tidak akan pernah berkenalan dengan duda baik hati yang telah menjadi sahabat baik saya saat ini... 

Bahkan, Vania pun sudah mulai suka bermain dengannya... 

Saya ambil positifnya dari persahabatan kami... Dengan saling tukar pikiran dan pengalaman, saya merasa bisa lebih memahami permasalahan rumah tangga, dan tentu saja mengikis sedikit demi sedikit rasa trauma saya... 

gambar pinjam dari sini

Entah bagaimana rencana Allah ke depan... Saya pasrahkan semua kepada-Nya...

Yang jelas, untuk saat ini... Saya menikmati persahabatan kami... Insya Allah, alhamdulillah...

Apa kabar sahabat blogger semua..? Bismillah.. Mulai bewe satu per satu aaah... Kangeeen.. ^_^

12 comments:

  1. Hai mbak, memang sudah lama deh mbak Tia menghilang hehehe, selalu semangat ya..
    Aku pernah ikutan kuliah alih jenjang sabtu minggu, memang kendala utamanya jadwal yang tidak tentu dan suka berubah mbak :),

    ReplyDelete
  2. Kalau sola perkuliahan..Paham bgt jeng he he he soale kan operator perkuliahan, dan soal berita satunya lagi, alhamdulillah bgt....masih ingat pas waktu ketemu, sampai sekarang rasanya gak enak bgt sama dikaw...mudah2an selanjutnya berita baik buat dikaw dan Vania ya, amin...

    ReplyDelete
  3. Semuanya pasti ada hikmahnya. Dan memang hanya kepada Allah lah kita mengadu.

    ReplyDelete
  4. aku doakan yang terbaik buat Mbak Thia....juga buat Vania.
    who knows yaa....

    tapi aku salut Mbak, dirimu bisa berpikiran logis bin rasional sehingga mampu membuka hati semudah itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Qta berteman, mbak Elsa.. Dia kakak dari sahabatku kuliah..

      Ada yg salah kah..?

      Delete
    2. bukan salah Mbak...

      tapi who knows?????
      ya kan? ya kan???

      Delete
    3. aku aja ...sampai sekarang masih belum bisa berpikir logis bin rasional..belom bisa membuka hati.

      loh, kok jadi curhat
      hahahahhaaa

      Delete
    4. maksudku dari berpikiran sangat apatis, lalu kemudian bisa berubah. gak mudah loh. karena aku sangat sangat mengerti rasanya

      Delete
  5. Semoga kuliahnya lancar terus ya mbak..

    ReplyDelete
  6. oh.., kirain Thia ngambil kuliahnya di Jogja..., kl gitu biar banyak kendala ya harus berbesar hati ya..., Thia tampaknya sudah siap banget
    salam buat Vania ya

    ReplyDelete
  7. ya ampun mbk,apa kabarrrrrrrrrrrrr???kangennn vania nihhh.....apapu itu,saya mendukung bunda vania ajalah,yang terbaik,semoga Allah memberkahi aminnnn ^^
    #pelukkkkkkkk

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)