Wednesday, October 9, 2013

Memilih Lokasi Rumah

Berbicara tentang pemilihan lokasi rumah, keluarga kami punya pengalaman yang cukup unik. Saat ini, kami tinggal di sebuah perumahan di daerah Jakarta Timur. Sebelumnya keluarga kami tinggal di sebuah komplek Angkatan Laut di daerah Jakarta Selatan. Kami pindah ke perumahan umum dikarenakan Papa saya pensiun. Memiliki rumah sendiri yang bersertifikat hak milik menjadi tujuan kami saat kami akan pindah dulu.

Setelah keluarga kami pindah ke rumah baru yang baru dibangun, saat itu usia Vania sekitar 3 tahun. Meninggalkan rumah tempat Papa tinggal selama 50 tahun lebih, membuat kami sedih tak terkira. Papa mendokumentasikan seluruh sudut rumah, serta lingkungan tempat kami tinggal, setiap jalan, gang serta tikungan. Lucunya, Vania tiba-tiba menangis histeris saat kami semua meninggalkan rumah tempat saya dibesarkan itu. Anak batita, bagaimana ia bisa mengerti bahwa sebuah rumah bukan hanya tempat kita tinggal? Tapi sebuah rumah juga tempat dimana hati kita tinggal.

Dalam memilih lokasi rumah, setiap keluarga tentu saja memiliki kriteria masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Untuk kami pribadi, kami memilih lokasi yang masih banyak terdapat pepohonan, asri dan sejuk. Keluarga kami juga ingin mendesain sendiri eksterior serta interior rumah, oleh karena itu kami sekeluarga sepakat untuk mencari kaveling yang bersertifikat hak milik, sehingga kami pun dapat membangun rumah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kami. 


Kondisi lingkungan yang asri dan sejuk dengan pepohonan adalah syarat pertama kami dalam mencari lokasi rumah. Kesegaran udara menjadi tujuan kami demi kesehatan seluruh anggota keluarga.

Hal kedua yang kami pertimbangkan dalam memilih kaveling untuk membangun rumah, adalah akses jalan. Tentu saja, walau sejuk dan asri tapi akses ke jalan raya sulit, berliku-liku dan tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan,  hal ini akan merugikan penghuni perumahan tersebut. Syukurlah kami mendapat kaveling di sebuah perumahan yang letaknya dekat dengan pintu tol, sehingga memudahkan bagi aktivitas kami sekeluarga.

Ketiga, yang jadi pertimbangan kami adalah tersedianya air bersih. Hal ini berkaitan dengan poin pertama. Lingkungan yang asri dan sejuk karena banyaknya pepohonan biasanya memiliki air tanah yang berlimpah. Tentu saja pemeriksaan air tanah di laboraturium tetap kami lakukan demi kesehatan seluruh anggota keluarga.

Hal keempat yang menjadi pertimbangan adalah warga sekitar. Pada beberapa kasus, pembelian kaveling tidak sama dengan pembelian unit rumah di dalam cluster/ real estate. Dalam sebuah cluster/ real estate hampir dapat dipastikan semua warga adalah pendatang baru. Di perumahan saya, ada mereka yang kami sebut sebagai warga asli. Membangun hubungan antar tetangga yang baik terutama dengan warga asli akan sangat membantu kenyamanan tempat tinggal kita secara jangka panjang. Konflik sekecil apapun dapat mengakibatkan dampak negatif.

Kelima, tentu saja kebersihan lingkungan sekitar. Masih berkaitan dengan poin nomor empat. Tetangga kami ada yang merupakan warga asli. Kita tentu tidak akan "didengar" oleh mereka yang "menguasai wilayah" jika kita menolak adanya pemeliharaan hewan ternak seperti kambing, ayam atau kelinci. Pemeliharaan hewan ternak tentu saja berdampak kurang baik bagi sebuah lingkungan tempat tinggal, apalagi jika kotoran hewan ternak tersebut berceceran di jalan. Hal ini dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit infeksi saluran pernafasan atas.

Keenam, yang menjadi pertimbangan kami berikutnya adalah masalah keamanan. Hal ini dapat diketahui dari menggali informasi tentang reputasi dari lokasi yang akan dituju. Kerjasama antar warga untuk membangun pos satpam serta menggaji satpam adalah hal yang baik untuk dilakukan.

Seperti yang saya tulis di atas, sebuah rumah bukan hanya sebuah tempat tinggal, namun juga sebuah tempat dimana hati kita berada. Kenyamanan dan keamanan jangka panjang adalah sesuatu yang mutlak. Lebih baik mempertimbangkan segala hal dimuka daripada menyesal di kemudian hari. ^_^