Tuesday, July 16, 2013

Pengalaman Pertama Nonton Bioskop

Liburan sebelum Ramadhan kemarin, Vania bunda ajak nonton bioskop. Ini adalah pertama kalinya untuk Vania pergi ke bioskop. Bunda juga sebenarnya agak nggak yakin juga. Pikir bunda, pasti Vania akan bosan duduk selama sekitar 1,5 jam. Oleh karena itu, bunda ajak salah satu teman Vania, tetangga dekat rumah, untuk bersama-sama nonton bioskop, antisipasi kalau-kalau Vania bosan.

Kami berangkat ke PIM pagi hari, ke toko obatnya Oma dulu, bermain sebentar, kemudian makan di Food Court PIM 2.. ^_^


Bunda pilihkan yang jam tayang pukul 12:30 siang.. Filmnya, Monster University.. Karena di PIM 2 tiket nontonnya lebih mahal, maka bunda pilih Cinema XXI yang di PIM 1 saja.. Hehehe.. Saat itu hari Selasa, HTM Rp.40.000,-

Vania ini sudah 5 tahun usianya, oleh karena itu bunda pikir bisa lah ya, mengerti situasi dan berusaha tenang. Tapi, ternyata bunda salah. Hahaha..

Bunda ajak Kak Ayu yang berusia 10 tahun. Dan ia sama bosannya dengan Vania.. Waduuuh... Kami berempat, Oma tidur, Kak Ayu dan Vania bosan (bosannya Ayu ditandai dengan duduk di kursi, kemudian sebentar-sebentar berdiri, kemudian tiduran nggak jelas, dan selalu berubah posisi). Sedangkan Vania lebih vokal. Film baru berlangsung 30 menit, kemudian Vania bilang bosan. Hadeuh! 

Otomatis yang menikmati film ya bunda sendirian.. Hahaha.. Bundanya sih cuma bawa anak tetangga satu. Coba satu RT ya mungkin bisa lebih rame. Tapi alamat bangkrut bundanya ini.. Hahaha..

Kalau kendala bahasa... Hmmm... Padahal bunda sudah berusaha menjadi penerjemah yang super cerewet (walau bisik-bisik) selama film berlangsung. Tapi tetep Vania bosan. Jadi, mungkin kendala bahasa bukan faktor utama kebosanan.

Selesai makan popcorn, timbul bosannya.

Akhirnya dengan segala bujuk rayu, Vania mau juga menonton film sampai selesai. Fuiiih..!


Beberapa hari kemudian, Vania kedatangan saudara dari Semarang, Kakak Cia, yang bunda ceritakan disini. Karena liburan, maka bunda ajak jalan-jalan Vania bareng Kak Cia. Tujuannya yang dekat saja, karena siangnya Bunda harus kerja. Ke TMII, nonton di Keong Mas. Hihihi.. ^_^


Tiket sekali nonton teater imax adalah Rp.30.000,-.. Film diputar pukul 12:30 siang juga. Film dengan judul Indonesia Indah III ini hanya berdurasi sekitar 45 menit. Lebih aman lah ya buat anak seperti Vania.. :-D

Buat emak-emak sekarang, film Indonesia Indah III pasti nggak asing lagi ya? Hehehe.. Iya, itu sepertinya film yang sama dengan yang bunda Vania lihat dulu saat masih SD. Walau begitu, Vania takjub sekali melihat layar yang bessaaarrr sekali...

Oma, Mama Cia, Kakak Cia, Vania. Kali ini, Oma nggak ketiduran. Hahaha..


Perpaduan antara layar yang besar, bahasa Indonesia yang jelas, serta film yang tidak monoton (karena menyoroti aneka budaya Indonesia dari berbagai daerah), sukses membuat Vania betah duduk tenang. Apalagi pengambilan sudut pandangnya yang bagus.. Pegunungan dilihat dari atas.. Melintasi lautan, lembah, sungai... Seperti kita ini mengalaminya sendiri.. Ini juga yang membuat bunda Vania saat kecil dulu terkesan sekali melihat film di dalam teater imax ini...  ^_^

Vania tertawa senang melihat keindahan alam Indonesia.

Sayangnya, film Indonesia Indah ini seharusnya dibuat versi terbarunya. Mosok, di film ini masih ada propinsi Timor Timur? Duh duh.. Bagaimana ya? Banyak sekali pelajar yang nonton film ini, bisa jadi salah persepsi dong ya nantinya? 

Jika ada pihak pariwisata Indonesia (khususnya pihak TMII) yang kebetulan membaca blog Vania ini, kami ingin mengusulkan bahwa memang sangat perlu dipertimbangkan pembuatan film Indonesia Indah versi baru. Pasti laku! Apalagi, saat kami nonton itu, banyak juga loh bule-bule yang nonton juga.. ^_^

Buah Berformalin

Tempo hari saya dan Vania seperti biasa, belanja bulanan.. Namun saat pulang saya teringat satu buah yang Vania suka, dan lupa saya beli... Jeruk.. Untungnya di dekat rumah saya banyak sekali kios-kios buah.. Kebetulan kemarin saya mampir di satu kios buah dimana saya belum pernah mampir.. 

Di kios buah yang satu ini, buah-buahannya jauuuh lebih murah.. Jeruk buat Vania, anggur, buah naga, dan pear korea.. Semua rata-rata Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,-.. Yang paling membuat saya kaget adalah, saya baru saja membeli pear korea di supermarket, dua buah, seharga sekitar Rp. 28.000,-.. Sedangkan di kios itu saya bisa dapat pear korea dua buah hanya seharga Rp.10.000,-.. Bagus-bagus pula.. Saya sempat bertanya-tanya, tapi akhirnya saya beli juga.. 

Saya sempat menanyakan ke beberapa teman saya, dan semuanya nggak tau kenapa harga buah-buahan di kios buah begitu murahnya.. Kemudian, hari minggu kemarin teman saya mengabarkan saya bahwa ada acara Reportase Investigasi di Trans TV, bahasannya adalah tentang buah berformalin. Kebetulan, pikir saya.. 

Sayangnya, saya hampir telat menontonnya. Acara hampir habis. Tapi saya sempat lihat bagian yang menjelaskan tentang bagaimana membedakan buah berformalin dengan buah segar asli. Ada tiga cara, yaitu:
  1. Menggunakan test kit khusus untuk mengetahui adanya kandungan formalin yang harganya lumayan mahal. Namun di Trans TV kemarin ditampilkan cara lain menggunakan buah naga, yang sayangnya kurang saya pahami benar-benar langkah demi langkahnya. Cara dengan buah naga ini adalah hasil inovasi siswa SMU di Jawa.
  2. Mencium baunya. Bau buah yang direndam formalin tidak segar seperti khas buah pada umumnya. 
  3. Tangkainya. Jika tangkainya layu sedangkan buahnya segar, maka buah itu kemungkinan sudah direndam dalam formalin.

Kebetulan saya membeli pear korea di supermarket dan di kios buah. Maka kedua pear itulah yang saya bandingkan. Benar saja. Dari baunya sudah beda. Tangkainya juga kelihatan bedanya. Yang kiri yang masih ada stickernya adalah buah yang saya beli di supermarket, sedangkan yang kanan adalah buah yang saya beli di kios buah. Dari tekstur kulitnya juga ternyata beda. Kita tau bahwa pear korea kulitnya sedikit berbulu.. Nah, buah yang kanan sudah tidak ada lagi bulunya.. Halus, mulus...

Bisa di klik gambar untuk memperbesar. Tangkai buah yang kanan sudah layu.

Namun tidak seharusnya dengan adanya kejadian ini kita jadi takut makan buah ya? Untuk lebih berhati-hati, tim reportase investigasi juga memberitahu cara mengantisipasinya.. Selain lebih jeli memilih, setiap buah yang akan dikonsumsi juga selayaknya dicuci bersih. Idealnya, dicuci dibawah air mengalir selama 1-2 menit, kemudian dikupas.

Selain dilapisi lilin, buah-buahan import seperti apel, pear, anggur dan jeruk sunkist ternyata bisa juga direndam formalin ya.. Pantas saja bisa tahan sampai berbulan-bulan lamanya. 

Memang sebaiknya kita kembali ke buah-buahan lokal ya.. ^_^

Pepaya, mangga, pisang, jambu.. Dibeli dari pasar minggu.. 

Hihihi..
Lagu itu saya hapal saat saya kecil dulu..
Dan sepertinya ya, apa yang tumbuh di dekat tempat tinggal kita adalah yang terbaik dari Allah untuk tubuh kita.. Zat gizi dari buah-buahan khas Indonesia pasti lebih pas buat tubuh orang Indonesia ya..? Wallahu'alam.. ^_^

Karena kemarin saya beli jeruk medan di antara buah-buahan import yang (walaupun tidak 100%, namun sepertinya hampir semua) diberi formalin, saya jadi ragu untuk memberikannya ke Vania. Jangan-jangan disuntikkah atau gimana? Kalau secara manis sih ya manis jeruk biasa ya.. Mudah-mudahan aman ya..

Untuk para pelaku perendaman buah dengan formalin, apa nggak terpikir ya kalau anaknya makan buah itu bagaimana akibatnya? Saya rasa penjual di kios-kios buah tidak mengerti hal ini, mereka hanya mengambil buah secara grosir.

Saya cuma bisa berdo'a supaya penggunaan formalin tidak merambah ke buah-buahan lokal.. Amin ya Allah..

Tuesday, July 9, 2013

Kemajuan Renang Vania

Posting ini hanya sebagai catatan pribadi.

Sama seperti posting sebelumnya tentang membaca, posting ini pun bunda buat sebagai catatan pribadi, bukan untuk membandingkan Vania dengan anak lainnya namun untuk pembandingan Vania dengan keadaan Vania sendiri sebelumnya.

Selama libur sekolah dua minggu ini, Vania cukup sering menghabiskan waktu di kolam renang. Bisa dibilang hampir setiap hari minta berenang. Bunda hanya sukses menolak permintaan Vania di hari-hari mendung yang dingin, hehehe.. Ada perasaan takut jika masuk ke air yang suhunya dingin begitu, Vania pernah bibirnya sampai membiru, tubuhnya menggigil, namun dengan keras kepalanya masih mau main di air. Kalau bunda nggak marah saat itu, mungkin Vania bisa terserang hypothermia. Na'udzubillah.

Pemanasan dulu.. ^_^

Alhamdulillah, selama libur sekolah tahun ini, Vania kedatangan teman bermain dari Semarang. Hehe.. Bukan teman sih, lebih tepat disebut "tante". Kakak Cia, begitu Vania memanggilnya. Kakak Cia ini sebenarnya adalah sepupunya bunda, namun karena usianya lebih dekat dengan Vania, hanya 3 tahun lebih tua, Kakak Cia menolak dipanggil "tante".. :-D

Tentu saja kegiatan berenang jadi semakin asik kalau ada temannya ya.. Sebelum masuk ke air, tentu harus pemanasan dulu.. Peregangan dan lari-lari kecil, supaya otot nggak kaget dan supaya tubuh lebih hangat.. ^_^


Sebelumnya, jika masuk ke kolam renang, maka otomatis Vania harus bunda pegangin.. Mulai dari tangga hingga bagian tengah kolam, ya masih bunda pegangin.. Belum mau dilepas, bahkan ketika pakai ban juga Vania takut jika bunda atau Opa Oma jauh-jauh.. 

Sekarang, ada kemajuan.. Vania sudah mau (dan bisa) sendiri.. Walaupun bunda khawatir juga, karena tinggi air di bagian paling dangkal ini saja mencapai hampir setengah kepala Vania. Tapi Vania tenang saja dan mau berlatih gerakan kaki di palang besi tanpa bantuan bunda. Gerakannya sudah cukup bagus, insya Allah..


Kalau berenang ke tengah kolam, tentu saja Vania masih pakai ban karena belum bisa mengambang.. Bunda hanya konsentrasi ke gerakan Vania.. Bagaimana caranya supaya Vania bisa berenang maju dengan gerakan kaki dan tangan yang benar..


Ketika bunda lihat Vania sudah ada kemajuan dalam hal menjaga keseimbangan, maka ban diganti dengan pelampung yang di lengan. Menurut pengamatan bunda, dengan menggunakan pelampung di lengan ini, Vania berusaha lebih keras dalam menjaga keseimbangan.. Dan insya Allah hal ini akan membantunya dalam hal belajar mengambang, bukan?


Selain bunda, yang mengajarkan Vania berenang tentu saja Opa dan Oma. (Oma nggak ditampilin fotonya karena kami sama-sama pakai kerudung, tapi masuk ke kolam renang dilepas..)


Terlihat Vania mudah lelah jika memakai pelampung di lengan ini. Mungkin karena Vania berusaha berenang dan dalam waktu bersamaan harus manjaga keseimbangan juga..

Sebenarnya, Vania semangatnya luar biasa.. Hanya saja bunda yang selalu harus cek kondisi Vania setiap saat. Warna bibirnya, warna tangannya, detak jantungnya (pegang dada kirinya). Jika dirasa detak jantung Vania terlalu cepat, maka bunda akan suruh Vania istirahat sejenak, duduk di tangga. Rasanya mengkhawatirkan jika dipaksakan.


Insya Allah Vania sudah bisa berenang dengan bantuan pelampung di lengan ini. Kemarin baru saja lomba dengan Oma dari ujung ke ujung (di kolam yang panjangnya hanya sekitar 10 meter). Tapi, menurut bunda itu sudah lumayan jauh untuk ukuran anak 5 tahun. 


Di akhir satu putaran lomba dengan Oma, detak jantung Vania cepat sekali. Kalau sudah begini harus istirahat dulu.. Bunda juga nggak paham seratus persen ya, mungkin lain waktu bisa konsultasi dengan dokter olahraga jika ada kesempatan.

Setelah belajar berenang yang benar dan melelahkan, boleh berenang santai sambil main bola.. ^_^

Kalau sudah beberapa kali bolak balik dan bunda rasa sudah cukup buat Vania, biasanya bunda masukkan bola-bola plastik ke kolam dan Vania boleh berenang santai dengan ban. Yaaa, dengan bantuan ban Vania berenangnya bisa lebih santai, dalam artian nggak ngos-ngosan lagi, karena keseimbangan sudah dibantu dengan ban. 


Biasanya, sekali berenang bunda kasih jatah waktu 30-45 menit. Bahkan pernah sampai bunda kasih kelonggaran hingga 1 jam. Bundanya saja capek ya apalagi Vania hehehe.. Tapi setiap kali disuruh udahan pasti ribut.. Vania nggak mau keluar dari air, padahal sampai jari kakipun sudah keriput semua. Dasar anak-anak ya.. Main air itu adalah surga sepertinya bagi mereka, hehe.. ^_^

Monday, July 8, 2013

Pasien Lansia

Saya masih sibuk memikirkan pasien lansia yang tempo hari tertidur di kursi gigi, ketika saya hampir diserempet motor yang mengebut di halaman kampus, menuju tempat parkir.

Saya merutuk dalam hati. "Dasar anak muda! Pasti mahasiswa baru!"

Ketika pengemudi motor itu akhirnya turun dari kendaraannya, ia langsung menyapa saya dengan tertawa riang.

"Mbak, ayo kita lanjutkan pembuatan gigi palsunya!" ujarnya sambil memamerkan mulut ompongnya.


Saturday, July 6, 2013

Wisata Kuliner dan Wisata Sejarah di Kota Medan

Saya masih ingin melanjutkan sedikit catatan tentang perjalanan keluarga kami ke Medan tempo hari. Jika hari kedua kami disana kami diajak ke Berastagi oleh keluarga besar Selvi, maka hari ketiga dan keempat kami hanya ditemani oleh Selvi dan ibunya, karena yang lain bekerja, kembali ke aktifitas masing-masing. Bagi saya, tidak ada kata "basi" untuk catatan perjalanan. Apapun bentuknya, karena setiap momen dalam hidup kita memang pantas untuk dikenang, bukan? :-)

Hari pertama saya berada di kota ini, saya gagal menuruti keinginan saya untuk mencicipi kuliner khas Medan. Itu karena, di kota ini kebanyakan rumah makan yang ada adalah rumah makan Padang. Hehehe.. Nggak ada bedanya dengan Jakarta dong.. Hanya saja ada satu hal yang membuat beda, yaitu ada tambahan minuman khas Terong Belanda, atau minuman Martabe (Markisa Terong Belanda).

Ayam goreng rempah, dan di sebelah sana ada sepiring jengkol.

Akhirnya kami makan siang di rumah makan Padang juga. Di rumah makan ini saya memberanikan diri mencoba sesuatu yang belum pernah saya cicipi seumur hidup saya. Jengkol! 

Hihihi.. Jengkolnya, dibumbui seperti bumbu balado. Pedas. Wah saya penasaran lah ya. Sepertinya enak. Baunya, biasa saja.. Seperti makanan lainnya. Ketika saya cicipi, rasanya seperti tempe.. Tapi setelah dikunyah-kunyah terasa pahitnya. Ternyata pahit ya? Pahitnya pahit getir, nggak seperti pare yang adalah sayuran favorit saya. Saya nggak jadi makan jengkolnya. Cukup satu gigit saja. Hahaha..


Mess Yos Sudarso di Polonia tempat kami menginap lokasinya cukup dekat dengan KFC yang buka 24 jam. Susah mencari sarapan, akhirnya kami mengandalkan resto fast food ini. Scrambled eggs jadi menu harian, dan buat Vania, ia suka makan pancake. Di atas itu adalah hasil modifikasi pancake ala Vania. Dia nggak suka pancake dengan cairan gulanya, maka ia taburkan milo di atasnya. Barulah lahap makannya. 

Bertemu Dengan Seorang Nenek
Saya ingin mengabadikan di sini cerita pada suatu pagi saat kami akan membeli sarapan ke KFC. Saat saya dan Vania akan naik ke mobil, tak seberapa jauh di depan kami terlihat seorang nenek yang sudah sepuh sedang berjalan dituntun oleh  mbaknya. Sepertinya si mbak dari Jawa. Si Nenek dengan semangat melambai-lambai ke arah kami. Tak mau gede rasa, saya menengok ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Saya heran, apa maksudnya ya? Sepertinya saya tidak kenal dengan beliau.

Begitu dekat, si Nenek langsung menjawil pipi Vania sambil memuji-muji. "Duuuh, cantiknya... Nanti besar jadi anak pintar ya!"

Saya merasa salah tingkah, tapi mengaminkan saja dalam hati. Vania diam saja sambil menatap bingung. Kemudian, berbasa basi saya menanyakan kabarnya.

"Saya ini tinggal di ujung sana.." jawab si Nenek sambil menunjuk sebuah rumah besar tak jauh dari mess. "Dia ini yang mengurus saya sehari-hari," sambil menunjuk si mbak di sampingnya. "Dia bantuin saya buang air ke kamar mandi, padahal malam-malam loh.." cerita si Nenek. Kemudian ia melanjutkan, "Nanti main ya, ke rumah..."

Lalu si Nenek meneruskan jalan paginya sambil tertatih-tatih. Saya langsung dihinggapi perasaan sedih. Mungkin si Nenek ini anak-anaknya sukses semua, punya rumah besar, punya kerjaan mapan, bisa menggaji seseorang untuk mengurus ibunya. Tapi ibunya kesepian. Bahkan orang tak dikenal seperti kamipun diajak main ke rumahnya. Bagaimana ya jika nanti saya tua? Apakah jika Allah memberi saya usia sampai tua, saya akan seperti itu nasibnya? Dan itu menyadarkan saya untuk memanfaatkan setiap detik yang saya punya dengan Vania. Berharap, kelak ia besar ia tak akan melupakan saya...

Istana Maimoon
Sehari setelah ke Berastagi, saya usulkan untuk berkeliling saja di kota Medan. Sudah ribuan pastinya ya cerita-cerita di berbagai blog tentang objek wisata yang kami kunjungi ini. Tapi buat Vania, pastinya ini adalah yang pertama kali. Begitu mendengar mau ke "istana" Vania mengkhayal apakah dia bisa seperti princess nanti disana. Hihihi.. 

Istana Maimoon.

Masuk ke area Istana Maimoon, kami dikenakan tarif parkir sebesar Rp.5.000,-. Di pelataran parkir Istana Maimoon banyak terdapat kios-kios yang menjual aneka souvenir khas Sumatra Utara. Kebanyakan kaos bertulisan "Lake Toba". Duh, padahal Danau Toba masih sekitar 6 jam perjalanan dari Kota Medan ya. Banyak keluarga dan sahabat saya yang tidak mengetahui hal ini. Saya juga baru tau. Begitu saya sampai di Medan, teman-teman saya bertanya via bbm, "Hai Vaniaaa.. Udah ke Danau Toba belum?" Hadeeeh...

Anyway, saya membeli kaos-kaos untuk oleh-oleh teman-temannya Vania disini. Cukup terjangkau, kaos berukuran S yang bahannya lumayan bagus dihargai Rp.20.000,-

Masuk ke istananya, dikenakan tarif Rp.5.000,- per orang, belum termasuk guide. Ada pemandu wisatanya, hanya saja kami tidak memakai jasa pemandu, dan kurang paham juga berapa biayanya. 

Ternyata istananya nggak terlalu menarik buat Vania. Ya iyalah ya, ini sebenarnya museum tentang kesultanan Deli kok ya.. Hehehe.. ^_^

Saya suka dengan arsitektur dan desain interiornya. Cantik.

Toko souvenir. 

Di bagian belakang ada ruangan-ruangan untuk menjual aneka souvenir. Termasuk juga buku-buku sejarah tentang kesultanan Deli. Hati-hati, ada satu bilik yang menjual souvenir yang kita dilarang memfotonya. Padahal sih isinya sama saja dengan souvenir yang dijual di ruangan lainnya. Hehehe. Bisa juga menyewa baju adat dan berfoto dengan biaya yang relatif terjangkau. Rp.20.000,- untuk sewa bajunya dan Rp.20.000,- untuk foto yang bisa langsung jadi. Sayang sekali Vania menolak memakai baju adat. 

Stop. Bagian kanan dari istana ini ferboden bagi pengunjung.

Sepertinya sebagian besar dari bangunan istana ini diperuntukkan untuk tempat tinggal ya. Terlihat dari adanya jemuran pakaian, ayunan anak, dan benda-benda keseharian lainnya. 

Rumah-rumahan untuk Meriam Puntung.

Meriam Puntung adalah salah satu legenda dari Sumatra Utara. Bendanya ada di dalam rumah-rumahan yang terletak di pelataran Istana Maimoon ini. Sayangnya, ketika kami tiba disana kok ndilalah penjaganya sedang keluar, entah kapan baliknya. Pintunya digembok. Padahal banyak pula pengunjung dari mana-mana. Ada satu bis anak sekolah dari Jambi, kami sendiri lebih jauh lagi datangnya dari Jakarta. Daripada menunggu lama tak jelas, apalagi dibawah terik matahari kota Medan yang menyengat, kami putuskan untuk menyudahi saja kunjungan ke Istana Maimoon ini. 

Legenda Meriam Puntung. Klik gambar untuk memperbesar. 

Saya penasaran, seperti apa sih Meriam Puntung itu? Pakai digembok segala. Akhirnya saya googling saja ya. Ternyata seperti ini toh. :-D

Meriam Puntung. Gambar dari sini

Masjid Al-Mashun
Tidak jauh dari Istana Maimoon ada Masjid Raya Al-Mashun yang terkenal itu. Hampir selalu jadi ikon kota Medan ya Masjid ini. Kami tidak sholat disana, tapi balik ke Mess. Papa yang sudah sholat disana bercerita, karena panasnya kota Medan, maka saat sholat Dzuhur mau berwudhu kaki Papa sampai perih saking panasnya lantai di pelataran masjid. Hahaha.. Mungkin ini lebay juga si Papa ya. 


Ohya, kalau mau masuk ke area masjid ini, harus pakai kerudung ya. Kalau tidak, bisa dapat pinjaman kerudung dari bapak pengurus masjid di depan pintu masuk, seperti si Selvi itu.

Tempat wudhu.

Sejarah Masjid Raya Al-Mashun. Klik gambar untuk memperbesar.

Ada banyak sekali objek wisata yang kami lewatkan, karena satu dan lain hal. Salah satunya yang sudah saya catat ingin saya kunjungi adalah Rumah Tjong A Fie. Sayangnya rumah yang juga museum sejarah Tjong A Fie ini terletak di pinggir jalan raya yang cukup padat, yaitu di Jalan Ahmad Yani, sederetan dengan ruko-ruko tanpa ada tempat parkir yang memadai. Kami hanya lewat saja di depannya. 

Rumah Tjong A Fie.

Merdeka Walk
Objek wisata lain yang membuat saya penasaran adalah Merdeka Walk. Kata Selvi, kalau mau kesini, baiknya malam-malam. Saya heran, memangnya siang nggak buka ya toko-tokonya? Dan apa sih yang membuat lokasi ini spesial sampai-sampai dinobatkan sebagai The Coolest Hangout Place in Medan?



Kata si Selvi sih, kalau malam sering ada pertunjukan. Oh ternyata ada panggung di tengah-tengahnya. Sayangnya jika malam tiba, Vania yang terlalu letih dari acara jalan-jalan seharian biasanya langsung tidur. Baiklah tak apa kami ke sini siang hari, hanya untuk memuaskan rasa penasaran kami. Ternyata kedai makanan banyak juga yang buka saat siang, walau tak banyak pengunjung yang datang. 


Tadinya, kami hendak makan di salah satu kedai itu. Di bawah tenda. Namun ternyata siang hari yang terik, membuat suhu udara di bawah tenda menjadi semakin panas. Sehingga kami putuskan saja untuk membawa makanan yang sudah terlanjur kami pesan, untuk makan malam. Untuk makan siang akhirnya kami memilih makan di Pizza Hut yang ada di area Merdeka Walk ini juga. Adem. Hahaha..

Bolu Meranti
Ke Medan belum lengkap dong ya kalau belum beli oleh-oleh. Bolu Meranti adalah tujuan pertama kami. Cabang yang terletak di Jalan Kriung ini dipenuhi pengunjung. Antri. Subhanallah ya, betapa laris manisnya bolu ini. Mereka sudah menyiapkan kotak kardus untuk dibawa di cabin pesawat, yang isinya bisa 4, 6 atau 8 kotak bolu. Kami beli 6 kotak untuk oleh-oleh. Per kotak bolu harganya bervariasi mulai dari Rp.45.000,- (yang standar). 

Di toko ini ternyata nggak menjual bolu saja ya. Ada kue-kue lainnya seperti nastar dan soes. Nah saya coba yang soes ini. Harga yang tertera adalah Rp.8.000,- Kami pesan saja 6 buah. Saya kira per kue harganya Rp.8.000,-.. Hmm, seperti mahalnya salah satu bakery di Jakarta. Hehehe.. Ternyata yang kami dapat adalah satu kotak mika dengan isi 3. Wah banyak juga! Saya coba.. Wow! Eennaaaakkk! Lebih enak dari bolunya. Kulit soesnya lembut, fla di dalamnya creamy.. Kalau ke Medan lagi, saya pasti beli kue soes ini lagi. Sayangnya soes nggak bisa bertahan selama kue bolu ya. Harus langsung makan saat itu juga. 

Soesnya enak banget!

Jalan Mojopahit
Selain bolu Meranti, banyak juga oleh-oleh khas Medan lainnya, seperti bika ambon, dll. Jalan Mojopahit adalah salah satu jalan yang dipenuhi toko oleh-oleh.. Kalau Papa sukanya makan bika ubi. Ubi disini maksudnya adalah singkong. Bika ubi ini lebih lembut daripada bika ambon. Kami beli satu kotak untuk dibawa pulang. Satu kotaknya seharga sekitar Rp.20.000,- 

Gambar atas: bika ubi. Gambar bawah: lemang (lomang).

Kalau lemang itu dibawa oleh adik ipar saya si Selvi, yang pulang belakangan. Saat kami disana kami nggak sempat beli. Enak. Lemangnya gurih dengan saus manis yang lembut. 


Pancake Durian
Oleh-oleh khas Medan yang tak ketinggalan kami bawa pulang adalah Pancake Durian dan sirup Terong Belanda. Seperti jengkol yang di atas saya ceritakan, sebenarnya saya ingin sekali mencicipi pancake durian ini. Sayangnya begitu bagian atas pancake digunting, aroma kuat durian langsung menguar, menyerang penghidu saya hingga sukses membuat saya mabuk. Saya nggak kuat dekat-dekat dengan durian. 

Tapi bagi yang suka dengan pancake durian, kabarnya pancake durian yang paling enak adalah yang di restoran Nelayan. Restoran Nelayan ini terdapat di Sun Plaza atau di Merdeka Walk. Kapten Endang (kakaknya Selvi) banyak mendapat pesanan pancake durian buatan resto Nelayan dari para pejabat di Jakarta. 

Saya dan Vania suka minum sirup terong belanda saja. Tulisannya, dibuat dari buah asli loh. Dan terbukti juga sih saat saya diamkan satu pitcher sirup di kulkas, larutan terong belandanya mengendap di bagian bawah pitcher. Sirup terong belanda banyak dijual di toko-toko oleh-oleh yang di Jalan Mojopahit tadi.

Begitulah, cerita jalan-jalan kami. Buat sang penerus mimpi, Bunda bercita-cita keliling dunia bersamamu.. Menjadi pengembara di bumi Allah.. Sekarang, bermimpi dulu.. Ah, siapa tau ya suatu hari nanti terkabul.. Bismillah saja.. :-D

Monday, July 1, 2013

Wisata Alam dan Wisata Religi di Berastagi

Hari Minggu yang lalu saat kami berkesempatan ke Medan, saudara kami mengajak kami menikmati indahnya Berastagi. Dan memang menyenangkan sekali, suhu udara di dataran tinggi Berastagi sangat kontras dengan suhu udara yang panas di kota Medan. Dan walaupun perjalanan naik ke Berastagi cukup macet, tapi nggak semacet perjalanan ke Puncak Pass Bogor.. :-D

Kami berangkat agak terlambat.. Sekitar jam 10 pagi itu kami baru bertolak dari Mess Yos Sudarso, Polonia. Sekitar jam 9 pagi, saudara kami sudah datang dari rumahnya ke mess tempat kami menginap. Sayangnya karena si Ilham sedang nggak enak badan, akhirnya setelah ditunggu ia memutuskan nggak ikut serta.

Ini adalah pertama kalinya bagi Vania bertemu saudara baru, yaitu keluarganya Selvi, adik ipar saya yang asli Medan. Vania hanya akrab dengan Selvi karena memang sebelumnya Selvi dinas di Jakarta. Ketika adik saya Ilham pindah ke Medan, Selvi pun ikut mengurus surat pindah ke tempat yang sama.

Dira, Zia, Selvi dan Vania. Dira asik main tablet sedangkan Vania masih sibuk mengamati situasi.

Dira dan Zia adalah kakak beradik, keponakan Selvi dari kakaknya. Dira seumuran Vania, 5 tahun, sedangkan Zia adiknya berumur 3,5 tahun. Pertemuan pertama mereka diwarnai kekakuan. Vania masih belum mau dekat-dekat, apalagi berbicara dengan Dira dan Zia.

Untuk memecah kekakuan, saya memutar otak. Baiklah.. Saya putuskan mengajak mereka bertiga main petak umpet. Sebelumnya hompimpa dulu dong ya. Hehehe.. Saya tanya dulu, orang Medan main hompimpa nggak? Ternyata main juga. Hahaha...

Giliran jaga pertama, Vania. Dira ngumpet ditemani Opa, sedangkan Zia ngumpet dengan bibinya. Vania mencari, ketemu, kaget, anak-anak tertawa, dan semua lari-lari mengejar hong! Wah ternyata, berhasil juga.. Hahaha.. Alhamdulillah, akhirnya Vania mau juga berinteraksi dengan Dira dan Zia... Dira dan Zia pun yang tadinya agak malu-malu akhirnya bisa menjadi akrab dengan keluarga kami. Sudah mau saya gandeng tangannya dan mau bergaya saat saya ambil fotonya. ^_^

Pemandangan alam di sepanjang perjalanan ke Berastagi. Subhanallah, indahnya. ^_^
 
Makan siang di rumah makan wajik, Berastagi.

Sekitar jam 12:30 siang itu, kami berhenti di sebuah rumah makan, seingat saya namanya adalah rumah makan wajik (kalau ndak salah). Dan memang ketika kami duduk yang disajikan pertama kali adalah kue wajik beserta kue manis lainnya. Menu andalan disini adalah pecal lontong. Pecel dalam bahasa Jawa, sedangkan orang Sumatra Utara mengistilahkan dengan sebutan Pecal. Intinya sih sama saja, hanya sayurannya yang menurut saya sedikit berbeda. 

Ternyata ya Dira dan Zia susah makan. Tapi saya membuat perlombaan buat Vania dan Dira. Seperti yang saya ceritakan disini, Vania kemana-mana bawa permen di tasnya untuk iming-iming supaya mudah makan nasinya. Kemarin, cara ini cukup berhasil buat Dira. Ia mau saya beri hadiah permen asal dimakan nasinya. Walaupun makannya nggak sebanyak Vania, tapi lumayan lah ya.. Hahaha.. Peace ah mbak Endang (bundanya Dira & Zia). Menu buat anak-anak adalah nasi ayam goreng. Vania juga mau makan lalapan daun selada walau sedikit.

It's a duel! Hayooo, lomba makannya.. Opa jadi juri.. ^_^

Selesai makan siang, kami memasuki kawasan Bukit Kubu, yang berupa padang rumput yang sangat luas, tempat para wisatawan menikmati waktu bercengkrama dengan keluarga. Setiap mobil yang masuk ke kawasan Bukit Kubu ini dikenakan biaya Rp.100.000,- (2013 - per orang tidak dihitung lagi). Biaya sekian sudah termasuk satu buah layangan, sewa satu tiker dan biaya parkir.

Sebelah utara padang rumput, terdapat Bukit Kubu Hotel.

Ke sebelah selatan ada Gereja Protestan Karo. Arsitekturnya khas Sumatra Utara yang cantik banget. ^_^

Opa sedang bermain layang-layang.

Kami kesana mengendarai dua mobil. Kami menggelar tiker di bawah salah satu pohon. Satu tiker luas sekali, sehingga dua tiker muat untuk kami semua. Selain layangan, ada juga permainan flying fox, dan aneka mainan anak-anak yang dijual di kios-kios kecil.

Ketika saya sholat, Vania jalan-jalan bersama Tante Endang serta Dira dan Zia. Vania sudah mau bergabung bersama saudara-saudaranya, padahal ini hari pertama mereka bertemu. Ini adalah kemajuan yang besar untuk Vania. ^_^

Bukit Kubu yang ramai pengunjung di hari minggu. Hotel Bukit Kubu di kejauhan.

Selesai sholat di musholla yang terletak di sekitar Hotel, saya dan Selvi membeli beberapa mainan seperti pistol-pistolan balon sabun dan bola, serta rujak ala Berastagi. Rujak ala Berastagi (menurut saya) agak aneh karena sausnya cair seperti air.. Sepertinya gulanya beda ya.. Hehehe.. Tapi buah-buahannya oke banget. Manisan jambu batu adalah favorit saya. ^_^

Pistol-pistolan balon sabun di Berastagi harganya Rp.20.000,- sama dengan yang di TMII. Harganya seragam setanah air sepertinya ya.. Hehehe.. Dan ya, logat itu penting! Dua bola itu harganya Rp.15.000,- per buah, dan saya tawar dua Rp.25.000,-.. Baru berhasil ketika Selvi menawar dengan logat kentalnya. Hahaha...

Taman Alam Lumbini
Dari Bukit Kubu, kami menuju ke Taman Alam Lumbini. Lokasi ini ternyata cukup mudah ditemukan. Patokannya, jika sudah naik ke Berastagi akan menemui Tahura (Taman Hutan Raya), kemudian nggak jauh dari situ ada Tugu Buah Jeruk, yang seingat saya merupakan persimpangan jalan. Jika akan ke Bukit Kubu belok kanan, sedangkan jika akan ke Taman Alam Lumbini belok kiri. Tidak ada 1 km, ada belokan ke kiri dan sebuah Pagoda berwarna keemasan yang megah sudah terlihat di kejauhan.

Ini adalah Replika Pagoda Shwedagon yang di Myanmar, yang juga berfungsi sebagai International Buddhist Center.

Masuk ke lingkungan pagoda ini gratis, tidak dipungut biaya sepeser pun. Kami langsung mencium aroma hio begitu melewati gerbang masuk. Di dalam, ada sebuah orang-orangan boneka yang Vania ingin sekali foto bersamanya. Sayangnya, kalau mau foto harus membeli produk terlebih dahulu. Barang yang dijual macam-macam, ada alat tulis, buku dan sebagainya. Dan semua hasil penjualan adalah untuk sumbangan bagi umat Buddha. :-)


Di sekeliling pagoda terdapat berbaris-baris objek yang menyerupai tabung. Entah apa istilahnya. Tidak ada papan keterangan namanya (ya iyalah ya, ini kan tempat sembahyang umat Buddha, bukan tempat yang khusus diperuntukkan sebagai objek wisata).. Tabung-tabung itu ada keterangannya, yaitu untuk diputar searah jarum jam. Saya kurang paham maknanya. Pasti ada maksud tersendiri ya. Vania memutar semaunya saja, dan bahkan memanfaatkannya untuk bermain petak umpet. Hehehe.. Serombongan orang chinese di gambar atas dengan tertib memutar semua tabung searah jarum jam.

Arsitektur yang cantik sekali. Cat berwarna emas menambah kesan megah.

Gong!

Sebelah kanan adalah tempat meletakkan hio.

Puas melihat-lihat, kami turun ke taman di bawah.. Taman terletak di sebuah lembah.. Taman ini akan tutup pada pukul 17:00 WIB. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16:45 WIB. 15 menit tersisa kami manfaatkan sebaik mungkin. Tamannya memang indah sekali. Ditata dan dirawat dengan baik.

Keindahan Taman Alam Lumbini.

Ada jembatan gantung dengan puluhan lampion di bawahnya. Cantik sekali.

Patung dengan pakaian adat Karo. Ini berdasarkan penjelasan Selvi yang memang asli dari keluarga Karo (Tarigan).

Tepat pukul 17:00 WIB petugas menggunakan toa memberitahu kami untuk segera naik. Walaupun naiknya cukup tinggi namun tangganya lumayan landai, sehingga tidak membuat lelah. Oma dan Ibunya Selvi tidak ikut turun ke bawah, para nenek ini menunggu di kafe yang terletak di halaman pagoda. Disana dijual aneka minuman dan pop corn.

Sebenarnya, kami yang berlainan agama diperbolehkan masuk ke pagoda. Hanya saja waktunya sudah habis. Ketika kami naik ke atas, terlihat tempat hio yang kembali penuh dengan asap. Saatnya saudara-saudara kami sembahyang ya.. ^_^

Seorang umat yang bersembahyang di depan replika Patung Dewi Kwan Im.

Zia, Vania dan Dira. ^_^

Di halaman pagoda juga dipenuhi kolam-kolam yang ditanami bunga teratai. Sepertinya bunga teratai punya makna khusus untuk saudara-saudara kita umat Buddha ya..

Dira: "Eh.. Ada ikannya! Keciiill.."  Vania: "Mana? Mana..?"

Di sekeliling pagoda juga terdapat kebun sayuran yang luas. Macam-macam tumbuh disini, di antaranya lobak, strawberry, kubis, brokoli, dan bahkan ada pohon terong belanda. 


Kami turun sekitar pukul 17:30 WIB. Di tengah perjalanan kami mampir dulu ke Penatapan. Nah, saya bingung sekali ketika saudara kami memeberitahu kami akan dibawa ke Penatapan. Apa itu Penatapan? Siapa menatap apa? Hehehe... 

Ooh.. Ternyata.. Penatapan adalah rumah-rumah makan jagung rebus/ bakar di sepanjang jalan yang berliku-liku di dataran tinggi Berastagi, mirip seperti yang kami dapati jika naik ke Puncak Pass Bogor. Kami memang menatap indahnya alam dan kota Medan di kejauhan. Kursi-kursi ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung yang datang dapat menikmati keindahan alam.

Menatap di Penatapan.

Di Penatapan, Vania pesan mie rebus sebagai makan malam. Suhu udara menurun drastis ketika hari beranjak sore. Sayang sekali saya lupa membawakan Vania jaket. Untungnya mie rebus yang hangat cukup membantu. Kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 18:00 WIB, dan tiba di kota Medan sekitar pukul 21:30 WIB. Luar biasa macetnya Medan.

Buat saudara-saudara kami di Medan, terima kasih ya untuk jalan-jalannya. Nanti lain waktu kalau ke Jakarta, insya Allah kami ajak jalan-jalan ya.. ^_^

Saya mendapat beberapa kosa kata baru selama jalan-jalan di Medan.. Satu yang lucu adalah ketika saya bergandengan dengan Vania di depan sebuah rumah makan, kemudian Ibunya Selvi berteriak, "Hati-hati ada kereta!"

Jantung saya hampir copot. Kemudian saya celingak celinguk dan satu-satunya kendaraan yang saya lihat adalah sebuah motor yang melaju dengan kecepatan rata-rata. Oh ternyata di Medan, kereta itu adalah motor, dan motor itu adalah mobil. Hihihi.. ^_^
`