Thursday, June 27, 2013

Vania's 2nd Long Trip: Medan

Horas :-D

Tepat di hari ulang tahun Jakarta ke-486 tanggal 22 Juni kemarin, kami berangkat ke Medan. Saya jadi sedih tak turut langsung menyaksikan ramainya perayaan kota kelahiran saya dan Vania ini. Hehehe.. 

Ceritanya, adik bungsu saya si Ilham dibuang dimutasi ke Medan. Selvi sebagai istri juga dalam waktu dekat akan menyusul adik saya ke Medan. Agenda kami di Medan, selain untuk mengisi liburan Vania, juga untuk mengunjungi Om Ilham yang sudah lebih dulu berangkat, dan untuk bersilaturahmi dengan saudara kami di kota ini (keluarga Selvi, adik ipar saya yang asli Medan). Asiknya ya Ilham, walau dimutasi tetap dekat dengan keluarga jadinya.. Hahaha.. Saya dan Opa ambil cuti 2 hari untuk acara kami kali ini..


Kami berangkat hari Sabtu pagi. Tak ada delay.. Namun ketika pesawat sedang menunggu giliran lepas landas, ia harus mengantri dulu. Lama. Sepertinya lalu lintas udara sedang ramai-ramainya.. Vania sampai protes berkali-kali ke saya. "Buuun, kok pesawatnya nggak lari-lari sih? Lama banget? Buuuun..."

Ya saya jawab saja bahwa kalau mau lepas landas pesawatnya bisa juga kena macet.. Huhuhu.. Salah nggak ya jawabannya..?


Kali ini rombongan kami ada 4 orang, saya dan Vania, serta Oma dan Selvi. Vania ini, paling nggak sabar menunggu lampu penanda sabuk pengaman padam, karena ia ingin berdiri di kursi kemudian nyebrang ke tempat duduk saya, untuk melihat awan. 

Berbeda dengan perjalanan Vania dari Jogja - Jakarta yang singkat, perjalanan Jakarta - Medan lebih lama, kurang lebih ditempuh selama 2 jam. Seperti biasa kalau suatu perjalanan sudah lebih lama dari satu jam.. Vania bosan. Saya sudah menyiapkan buku cerita. Namun selesai baca buku cerita yang super singkat itu, Vania bosan lagi. Akhirnya Vania nyanyi-nyanyi sendiri, sampai ada penumpang lain yang memperhatikan tingkahnya. Saya harap dia nggak terganggu, hehehe.. Dan alhamdulillah ketika makanan datang, Vania suka dengan menu makaroni dagingnya. :-D



Kami mendarat tepat tengah hari di Polonia Medan. Turun pesawat langsung disergap hawa yang panas. Saya merasa, Medan ini lebih panas dari Jakarta ya. Apa mungkin posisinya yang lebih dekat ke khatulistiwa ya?


Medan ya macet juga. Kata Vania, "Bun, ini di Medan apa di Jakarta sih?"
Nggak ada bedanya ya.. Hahaha..

Agenda kami siang itu, setelah menaruh barang-barang di Mess Yos Sudarso milik TNI AL di daerah Polonia, kami lanjut mengunjungi Mess Ilham di Bara Kuda.


Vania nggak bisa lihat space yang luas. Pasti lari-larian. :-D

Hari kedua dan ketiga kami disana, diisi dengan acara jalan-jalan bareng saudara kami, keluarganya Selvi. Buat saudara kami di Medan, Insya Allah cerita jalan-jalannya menyusul. Hehehe.. Ternyata, saudara kami di Medan juga menjadi silent reader blog ini. :-D

Insiden Baju Vania
Sore hari keempat adalah waktu yang kami agendakan untuk pulang ke Jakarta. Proses kepulangan kami diwarnai insiden kecil yang sangat besar dampaknya untuk kami semua. Sebelumnya, perkenalkan dulu, dibawah ini adalah baju renang Vania yang paling baru. :-D

Ini adalah baju renang Vania yang bersejarah.

Pesawat kami take-off jam 18:30 WIB sore itu. Boarding jam 18:10 WIB. Seumur hidup saya, baru kali ini saya menyayangkan kenapa pesawat harus on time, kenapa nggak delay saja. Hahaha.. 

Yaaa.. Bisa ditebak.. Kami hampir ketinggalan pesawat.

Berawal dari insiden kecil.. Seperti biasa, Opa meminta tolong kepada bapak pengurus dalam (PD) mess untuk urusan check in. Si Oma ribut saja, menyuruh saya mengosongkan satu koper kecil untuk diisi makanan oleh-oleh yang akan dibawa di cabin. Begonya, saya ya menurut saja. Koper kecil yang saat berangkat itu diisi oleh perlengkapan Vania, saya kosongkan. Kemudian perlengkapan Vania seperti baju cadangan dan lain-lain, masuk ke koper besar, yang kemudian dibawa oleh PD pada pukul 17:00 WIB ke bandara, langsung masuk bagasi. 

Kami agak santai karena boarding pukul 18:10 WIB, dan Mess Yos Sudarso yang berlokasi di daerah Polonia hanya berjarak sekitar 5 menit perjalanan mobil ke bandara. Pukul 17:30 WIB adalah rencana kami untuk berangkat ke bandara. Sebelumnya, urusan toilet diselesaikan di mess dulu. Termasuk Vania. Dan ternyata waktu Vania di kamar mandi, celananya Vania jatuh dong ke genangan air di pojokan kamar mandi. Aaarrrggghhh!!!

Betapa! Paniknya saya! Apalagi, ketika saya menyadari bahwa... Bajunya Vania sudah masuk bagasi semua... Aaarrrggghhh!!! 

Lemes, pengen nangis, entah apa lagi. Akhirnya kami pinjam setrikanya milik PD. Saya menyetrika celana Vania yang basah itu di kamar sambil berkali-kali istighfar. Celana panjang Vania yang nggak terlalu basah akhirnya bisa kering. Namun pakaian dalamnya, basah sekali. Tetap saya setrika saja sambil keringat dingin. 

Adik saya, Ilham dan Selvi, mempunyai inisiatif lain. Ilham pinjam motor milik PD. Ia dan Selvi ngebut ke toko baju anak bernama Hermes di daerah Polonia itu juga, yang cukup dekat dengan mess kami. Sayangnya, kok ndilalah, di toko Hermes itu nggak ada pakaian dalam anak-anak. Adanya baju renang. Ilham dan Selvi langsung memutuskan membeli baju renang 2 piece model bikini, dengan harapan Vania bisa mengenakan bawahannya sebagai ganti pakaian dalamnya yang basah.

Pukul 17:45 WIB... 25 menit sebelum boarding..

Pakaian dalam Vania kering juga.. Langsung saya pakaikan. Vania sudah merengek kedinginan di kamar. Ilham dan Selvi belum kembali dari toko. Saya panik dan merasa bersalah. Apalagi saat kami pulang itu, berbulan-bulan mungkin kami baru bisa bertemu dengan Ilham lagi. Oma sedih. 

Akhirnya kami naik ke mobil juga. Kami mengajak salah satu PD ikut di mobil, dengan harapan ketika kami bertemu di persimpangan jalan antara arah ke Bandara dan arah ke Hermes dengan Ilham dan Selvi, PD yang akan membawa pulang motornya sedangkan kedua adik saya itu langsung ikut di mobil. 

17:55 WIB.. 15 menit sebelum boarding. Kami stop di persimpangan. Dengan berdebar-debar menunggu Ilham dan Selvi yang belum nampak juga. Jika berada di posisi ini, saya merasakan waktu tercepat dan terlama. Satu menit bisa lama sekali saat menunggu adik saya, pada saat yang bersamaan satu menit itu juga terasa cepat sekali mendekati waktu keberangkatan pesawat.

Opa memutuskan jika sampai pukul 18:00 WIB mereka belum datang juga, kami langsung ke Bandara. Untungnya, sekitar pukul 17:58 WIB, motor PD yang dikendarai Ilham terlihat berbelok di tikungan. Mereka langsung berhenti di samping mobil, Ilham dan Selvi naik ke mobil, motor dibawa PD pulang ke mess. Cusss ke bandara.


Anehnya, bisa-bisanya kami pakai nyasar.. Salah masuk ke bagian kedatangan.. Wuah, ngebut mobilnya.. Setibanya kami di bandara, waktu menunjukkan pukul 18:05 WIB. Kami semua lari menuju gate masuk. Di depan gate, kami berpisah. Terharu melihat Oma yang memeluk Ilham dan Selvi sambil menangis. Bapaknya Selvi juga hadir mengantar kami. Saya, Vania, serta Opa dan Oma, langsung lari lagi menuju tempat boarding.

Saya kok merasa seperti di film Home Alone.

Ternyata sudah panggilan terkahir. Tepat pukul 18:10 WIB kami sudah menaiki shuttle bus. Ngos-ngosan. Oma sampai sesak. Hirup symbicort dulu untuk melegakan nafasnya. Ketika kami masuk ke pesawat, semua orang sudah duduk manis di kursinya, saya merasa malu jadinya. Ternyata seperti ini ya rasanya terlambat. Pintu pesawat langsung ditutup ketika saya mengencangkan sabuk pengaman.


Perjalanan saat maghrib.. Nggak banyak awan yang dilihat, begitu pikir saya. Tapi saya salah, ternyata, pertujukan spektakuler saya saksikan ketika kami berada di atas sana. Ditambah bonus jantung yang berdebar, sekaligus pasrah kepada Ilahi tentang nasib kami semua. Sekitar sejam semenjak take-off saya melihat segumpal awan di bagian kanan pesawat dengan petir yang sambar menyambar. Indah. Cantik. Menyeramkan. 

Bagaimana jika petir menyambar badan pesawat, adalah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala saya. Namun betapa kami melihat kuasa Allah. Dengan membaca asmaNya dan pasrah kepadaNya, saya bisa lebih tenang.


Kali ini di pesawat saya menyiapkan lebih banyak buku buat Vania. Diantaranya buku mewarnai, supaya ia ada kegiatan dan nggak bosan. Lelah menggambar, Vania makan malam dengan menu kentang. Kemudian nggak lama, ia tertidur.


Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di bandara Soetta tepat pada waktunya.. Pukul 20:45 WIB. Dan satu lagi penguji kesabaran saya.. Ternyata sampai di bandara, kami disediakan tangga untuk turun, bukan belalai seperti harapan saya. Soalnya, saya menggendong Vania berbobot 18 kg yang lumayan banget.. Hihihi... 

Pernahkah sahabat mengalami kejadian (hampir) ketinggalan pesawat? Mudah-mudahan pengalaman kami ini bisa menjadi pelajaran buat sahabat yang lain. Supaya lebih teliti lagi menyiapkan segalanya, apalagi yang berhubungan dengan anak kecil di pesawat. Lebih baik antisipasi daripada berantakan semuanya, bukan? :-)

Dan buat Vania pribadi, mudah-mudahan cerita ini bisa jadi kenang-kenangan tentang kecerobohan Bundanya dan pengorbanan Om Ilham dan Tante Selvi...

47 comments:

  1. wow :O aku ikut deg2an ini bacanya, emang bener ya kejadian kecil yang seolah sepele tapi berdampak besar, syukur tapinya gg sampai ketinggalan pesawat ya Tan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Ti... untung aja, last minute banget... hihihi..

      Delete
  2. memang kalo urusan sama pesawat itu deg2an vania hihi..
    tante juga suka macaron dagingnya hihihii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo bukan buatan rumah biasanya vania doyan deh Noph.. hahaha..
      kalo bikin macaroni di rumah nggak doyan dia, perasaan udah enak deh wkwkwk...

      Delete
  3. Aduh....bener-bener ya jeng, ikutan deg-degan juga jadinya, ke.....Kadang2 gak semua hari berjalan baik seperti yang kita harapkan ya. ..bener2 mepet banget, untunglah gaks ampai ketinggalan pesawat ya Vania.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, iya mbak Fitri.. vania sampe ikutan lari2 juga.. dia sih seneng2 aja diajak lari2an :-D

      Delete
  4. alhamdulillah ya gak telat, Oyen juga pernah tuh jadi penumpang terakhir, untung ditungguin, xixixi... mpe dipelerokin tuh ma penumpang lain... xixixii

    kebayang kemrungsungnya ya... salam Vania :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg bikin nggak enak itu yah mpok.. diliatin sama penumpang lain.. huhuhu...

      Delete
  5. Iihh,.. bund.. Aku ikut deg2an banget lo baca bagian akhirnya.. Udah tegang banget..

    Alhamdulillah selamat sampai tujuan...

    ReplyDelete
  6. wow,,,, vania hebat ya.... berani naik pesawat sampek Medan. :)

    Kalo saya pernah hampir ketinggalan kereta waktu mau ke China sama keluarga majikan mbak. Ada neneknya 80thn ikutan lari2 nguber waktu. yg lama sich saya, soale harus ngecek paspor dll. tp alhamdulillah masih bs masuk kereta meskipun sport jantung hikz

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun kasian si nenek... huhuhu...
      memang jadi pelajaran berharga buat qta ya Tar... :-D

      Delete
  7. Vania hobi ndenegrin certa ya Mbak. kalau dua jam, perlu brp buku yg di baca Mbak? Trs...kalau ketiduran duluan? hehehee..


    trs gak kebayang Mbak Thia gendong Vania saat nurunin tangga? semoga saja jalan kakinya gak jauh utk sampai claim bagasi Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. buku ceritanya cuma 3 kok Rie, (yg pas pulang, berangkat cuma satu makanya dia bosan heehehe..)... yg ada mewarnainya jg biar ada kegiatan..

      Rie. aku gendong vania lumayan jauh sampe masuk ke gedung bandaranya kan, terus ya aku paksa bangunin dia.. minta tolong, "vania bunda udah gak kuat"

      hihihi.. akhirnya bangun jg walau jalannya sempoyongan :-P

      Delete
    2. Kalau gendong vania sampai masuk gedung bandara, yaaaa....lumayan banget ya MBak. Untung VAnianya bisa dibangunin dan gak rewel.

      Eh, saya gak hanya pernah ngalami akan terlambat naik pesata. TApi ya terlambat beneran, waktu sampai giliran utk check in...eh sdh di tutup untuk nomer penerbangan saya. YA sudah deh, nambah lagi untuk bisa ikut penerbangan berikutnya dan nunggu sampai 5 jam kemudian. SUkses deh nongkrong di SoeTa kala itu lonely..

      Delete
    3. hihihi.. ternyata banyak yang punya pengalaman ketinggalan pesawat juga ya Rie :-D

      Delete
  8. Duh...ikutan sport jantung aku mbak heuheu...Alhamdulillah tapi semuanya baik2 aja ya, Vania jg kecapean krn panik ngeliat bundanya kali ya #eh? qiqiqi

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia mah seneng aja rin, diajak lari2an gitu.. wkwkwk..

      Delete
  9. Boro-boro terlambat naik pesawat Van.. masuk bandara aja kagak pernah.

    eh piye nih rasane naik pesawat ya Vania?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah begitu lah Uncle.. :-D
      biasa aja sih vanianya, cuma kupingnya bindeng aja :-D

      Delete
  10. wah mbak aku lebih parah lagi, ketinggalan pesawat pas mau nikah di palembang, gara2 ada kecelakaan di tol, mertuaku sampai nangis2 karena tenda udah dipasang, undangan udah disebar, suamiku sampai lemas nyender di tembok pintu masuk..... akhirnya kita baru bisa berangkat besoknya, dan alhamdulillah selamat sampai palembang, dan jadi juga nikah di sana, meskipun semuanya harus bergerak cepat ..........dramatis banget deh pokoke. Tapi jadi pengalaman positif, sejak itu selalu berangkat jauh lebih awal supaya ga kejadian lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampuuun.. stress deh kalo aku jd mbak Rina.. kok bisa ya...

      tapi alhamdulillah semuanya lancar ya pada akhirnya :-D

      tulis di postingan mbak Rina.. ini bisa jd kenang2an yg berharga banget...

      Delete
  11. Vania terlihat lincah dan ceria ya, Thia. Senang deh melihat dirinya tumbuh cantik dan aktif. :)

    Cerita soal ketinggalan pesawat, bukan 'hampir' lagi say, tapi emang ketinggalan beneran dan harus beli tiket baru. Hiks. Dua kali pulak. Haha. Ntar deh kapan2 di posting. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya alhamdulillah mbak Al.. Vania baik2 dan senang2 saja :)

      ditunggu postingannya mbak Al.. pasti seru deh ceritanya :-D

      Delete
  12. Kenapa medan panas ? karena mbak Thia barusan turun dari pesawat yang adem hhh
    Duh, saya sepakat kisahnya kok hampir mirip dengan home alone yang penuh kepanikan. Dibutuhkan sebuah kesabaran ketika menghadapi kondisi-kondisi yang menguras pikiran dan silih berganti, sebab kalo enggak bisa jadi semua malah menjadi kacau.
    Namun dengan perjalanan seperti ini akan memberikan banyak cerita yang mengesankan. benar kan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak Paaak... selama disana juga memang panas banget.. hihihi..
      kulit serasa terbakar..

      iya bener pak, pengalaman tak terlupakan ini :-D

      Delete
  13. Hi sayang, apa kabar hari ini? Bundamu hebat ya? betapa panik saat itu...ikut deg-degan juga Bun ketika membacanya, Alhamdulillahnya ada setrikaan ya? hihii

    Pilihanku ketika harus memisahkan koper baju dengan koper sedang yang bisa ditenteng, akan memasukkan baju ganti lengkap punya Faiz...untuk sesuatu yang tidak pernah ummi tahu (persiapan saja)

    Sesuatu yang terlambat emang enggak enak ya Bun, hihiii cerita yang akan menjadi kenangan indah buat Vania

    Salam
    Ummi Faiz

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasanya sih begitu mbak Astin.. hihihi..
      cuma yo ndilalah kemarin itu pas nggak teliti pas bajunya jatuh..
      benar-benar pelajaran yang tak terlupakan.. hehehe...

      Delete
  14. Saya membayangkan betapa sedihnya kala menyetrika agar segera kering itu karena saya pernah melakukannya, hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ingin dengar sebenarnya pengalaman Pak Amazzet menyetrika pakaian itu :-D

      Delete
  15. mbak thia...karena saya jarang naik pesawat....yg saya ingat sih sering lari untuk mengejar KRL hahahaha. Kemarin jumat saya paksa lari untuk mengejarnya karena ga mau telat lagi dan menunggu hinga 30 menit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mengejar KRL sudah jadi kegiatan sehari-hari ya Pak..
      saya membayangkan serunya.. ^_^

      Delete
  16. Alhamdulilaah, Penerbagnan Indonesia sudah mulai on time. Hihihi
    Vania terlihat senang dan menikmati perjalanan, Mba. Makannya lahap bener, ya. Hihihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vania lapar sepertinya.. ahahaha.. =))

      Delete
  17. pengen deh ngerasain naik pesawat, kayanya enak tuh

    ReplyDelete
  18. Ajakin Aa Fauzan dong kalau Vania naek pesawat lagi, hehe.

    ReplyDelete
  19. ikut sport jantung juga...
    ga kebayang kalo ketinggalan :(

    kalo di polonia, dulu sempet ketinggalan koper huhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh.. terus gimana akhirnya mak hilsya?

      Delete
  20. ya ampuuuuuuun, kalo dibikin filmnya, pasti penonton ikut deg deg an luar biasa ya Mbak

    aku pernah hampir ketinggalan pesawat
    dan itu di Changi. ya ampuuuuun maluuuu banget naik pesawat paling akhir sementara penumpang lain ngeliatin kita. sama persis gitu deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. malu yo mbak kalau dilihatin penumpang lain.. kesannya lalai gitu.. :-P

      Delete
  21. Waaahh, ikut deg-degan, Tia...dua menit ternyata bisa membedakan hasil akhir ya...Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu sama Ilham dan Selvi juga...
    Saya pernah mengalami kejadian serupa.
    Rasanya memang bikin kapok ya...huhuhu...berangkat lebih pagi dan memprediksi waktu memang nggak gampang. Apalagi kalo ada hal-hal yang terjadi diluar dugaan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. prediksi waktu dan antisipasi situasi.. *catet*
      jadi pelajaran berharga buat saya ini mbak .. :-D

      Delete
  22. Vaniaaaa...lucu bangeeeeettttt!
    Gemes ih!

    ReplyDelete
  23. Duh ikutan deg degan Jeng Thia.... rumus menyediakan 1 set baju cadangan di tas tangan bagi kita yang membawa kanak-kanak tetap berlaku kondisi apapun ya. Catatan yang sangat bermanfaat bagi setiap pembaca. Trim jeng Thia telah berbagi. Salam

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)