Friday, June 21, 2013

Cerita-cerita Musholla

Saya tidak mengerti mengapa, di suatu tempat yang kerap dipakai ibadah pun, bisa terjadi hal-hal seperti ini. Walaupun tampaknya, tak menganggu, namun cukup membuat hati saya ketar-ketir. 


Kami sekeluarga menempati rumah kami ini sejak 3 tahun yang lalu. Bermula dari tanah kosong, orangtua saya membangun dari nol. Awal-awal kami tinggal disini, memang kerap kali kami mendengar bunyi-bunyian yang bukan dari manusia. Begitulah kesimpulan kami, karena halaman belakang rumah kami tertutup (tidak ada jalan masuk dari depan, dan tidak bisa dilewati kecuali jika melintasi bagian dalam rumah). Namun saat Isya menjelang (sekitar jam 8-9 malam), kami sering mendengar orang bersiul dari arah pojok halaman. 

Sebenarnya, kami sudah membuat pengajian dengan warga di sini sebelum kami pindah kemari. Sebelumnya, kami tidak memiliki musholla, hanya tempat sholat saja yang disediakan di satu sudut rumah, itupun bukan sebuah kamar tertutup. Namun dengan segala pertimbangan akhirnya musholla itu dibangun oleh Opa. Letaknya di halaman belakang. 

Suara-suara orang bersiul di halaman belakang rumah itu, kami abaikan saja. Hilang sendiri. Sudah dua tahun lebih tak ada kejadian-kejadian aneh, sampai dengan awal tahun ini. Kejadian-kejadian itu, terjadi lagi. Entah apa pemicunya..

Kejadian pertama terjadi tempo hari, sekitar waktu Ashar. Saat itu, Papa saya sudah selesai sholat dan sedang istirahat di kamar. Mbak Atun (si Cachan), sedang menyapu halaman belakang. Termasuk juga akan menyapu musholla. Namun ketika Cachan akan masuk musholla, dilihatnya seseorang sedang duduk menghadap kiblat (pintu musholla ada di belakang), sedang berdo'a, pakai baju hitam. Cachan tanpa berpikir panjang, langsung keluar musholla. Dikiranya, Papa masih berdo'a. Begitu Papa bangun, keluar dari kamar dengan masih memakai baju koko warna biru muda, si Cachan kaget.

Kejadian kedua, terjadi saat kami berkumpul di ruang makan. Pintu ruang makan ini, membuka ke arah musholla. Saat itu sedang berkumpul saya, Vania dan adik ipar saya, Selvi. Adzan Maghrib berkumandang.. 

Selvi: "Ayooo.. Vania kita sholat nyoook!"

Sebuah suara dari arah musholla: "Ayok, Sel!"

Saya pun mendengar dua kata itu. "Ayok, Sel!"

Selvi: "Tuh, Vania.. Opa udah di musholla.."

Saya, sambil mengerutkan kening, baru ingat sesuatu.. "Sel, kayaknya Opa tadi masih di kamar deh.."

Tepat saat itu, Papa keluar kamar, menuju kamar mandi, baru akan berwudhu. 

Kejadian ketiga, terjadi jam 3 malam.. Saat itu si Cachan ingin ke dapur. Cachan tinggal bersama suaminya di sebuah (bisa dikatakan) paviliun, yang juga bagian dari rumah orangtua saya. Jika ingin ke dapur Mama, maka Cachan harus lewat halaman belakang. FYI, Cachan baru-baru ini saja nikah, belum ada setahun, jadi yang bersiul di awal kami tinggal disini nggak mungkin suaminya Cachan kan yaaak.. Hehehe.. 

Jam 3 dini hari itu.. Cachan melihat ada orang sedang mengambil wudhu di depan musholla. Nggak kelihatan wajahnya karena dia menunduk. Kali ini sosok itu pakai gamis putih.

Baiklah tiga kejadian itu terjadi di sekitaran musholla. Padahal cukup sering kami berkumpul di musholla. Kami rutin sholat berjamaah, terutama saat Subuh dan Maghrib. Termasuk juga teman-teman Vania yang suka sholat berjamaah di musholla ini. 

Satu ayunan penuh anak kecil. ^_^

Vania dan teman-teman, bersama tante Selvi. Biasanya kalau sama anak-anak ini saya yang mengimami sholatnya.

Namun, beberapa hari ini.. Kejadian-kejadian aneh terjadi lagi. Kali ini, bukan hanya di sekitaran musholla. Tapi dimana-mana, di seluruh bagian rumah.

Ada yang mengetuk pintu rumah Cachan jam 12 malam. Tok.. Tok... Tok.. Sambil memanggil-manggil.. "Tuuun... Atuuun..."  Suaranya, adalah suara Mama saya..

Suatu Maghrib, Mama dan Selvi sedang di ruang makan, ngobrol. Selvi kemudian ke dapur sebentar. Handphonenya yang ia letakkan di meja berbunyi beberapa kali. Mama yang mendengar tak sempat mengangkat. Begitu Selvi kembali ke ruang makan, Mama memberitahunya ada telpon. Selvi mengecek handphone. Tak ada apa-apa. Tak ada missed-call. Nothing..

Saya pun mengalaminya. Jam 3 pagi. Saya berniat ingin sahur. Saya di dapur dan pintu dapur membanting di belakang punggung saya. Brakkk! Saya mengurungkan niat saya, nggak jadi puasa!

Papa juga sering melihat sekelebatan lewat. Di dalam rumah, sekitaran Maghrib.

Adiknya Selvi (Leo) yang tinggal bersama Selvi di rumah depan juga melihat ada orang menerobos pintu gerbang yang sudah dikunci satpam jam 9 malam. Pintu gerbangnya dibawah pohon, gelap. Namun sosok bapak-bapak itu tidak heboh memanjat pagar. Samar-samar, Leo melihat sosok itu lewat begitu saja.. Nembus..

Saya tau, hampir di setiap rumah ada ya makhluk seperti ini. Di rumah tante saya pun ada, sesosok kunti. Namun tidak ganggu. Yang saya sayangkan kenapa dia menakut-nakuti saya jam 3 pagi, dan membangunkan si Cachan tengah malam, itu kan namanya sudah menganggu ya..? Lebih hawatir lagi saya, takut jika makhluk itu menganggu Vania. Oleh karena itu jika Maghrib menjelang Vania tak diijinkan sendirian. Dimanapun. Perasaan saya ini, kesal bercampur takut.

Namun memang Papa saya memberi semangat kepada semua anggota keluarga untuk tidak kalah dalam menghadapi makhluk itu. Salah satunya dengan meyakini ayat Kursi. Selama ini, saya hanya membacanya saja. Tapi tetap merinding. Salahnya dimana? Apakah iman saya begitu lemahnya?

Kemudian saya teringat ceramah seorang ustadz. Beliau pernah bercerita tentang seorang ulama yang menginap di suatu tempat. Di tempat itu, sering terjadi orang meninggal keesokan harinya. Ulama itu sudah diperingatkan oleh pemilik penginapan. "Jangan menyewa kamar itu, Pak.. Biasanya besok paginya orang akan meninggal.."

Ulama itu tak bisa mempercayai takhyul tersebut.. Dia bersikeras menyewa kamar itu. Benar saja, saat malam, ulama itu diganggu. Ulama tersebut sangat paham siapa yang menganggunya. Dibacanya ayat Kursi. Berulang-ulang.. Pembacaan ayat Kursi yang pertama, si jin bisa mengikuti.. (Iya! Jinnya hapal ayat Kursi!). Pembacaan kedua pun sama.. Jinnya mengikuti.. Mantep! Jin nggak bisa diusir pakai ayat Kursi! Pembacaan ketiga sampai dengan kesembilan, jin masih bisa mengikuti. Sampai dengan pembacaan ayat Kursi kesepuluh, jin akhirnya menyerah dan meninggalkan ulama tersebut. Bisa jadi ya, orang yang meninggal sebelumnya itu karena serangan jantung saking takutnya.

Inti dari ceramah ini adalah.. Walaupun kita sudah hapal ayat Kursi, bukan jaminan kita akan kebal dari segala-galanya, kalau kita tidak meyakini maknanya.. Bagi saya pribadi ini adalah teguran. Begitu banyak do'a, surat dan ayat yang saya tau, namun saat membacanya ya membaca begitu saja. Hanya sekedar hapalan. Yang mengetahui artinya pun, belum tentu paham maknanya.
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda yang artinya, Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi (HR. Al-Bukhari).
"Wahai Abu Al Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang termulia dari Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Allah, tiada sembahan selain Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri (ayat al kursi)." Ubay berkata, "Maka Rasulullah saw. menepuk dadaku dan bersabda 'Semoga engkau mudah memperoleh ilmu wahai Abu Mundzir'." (HR. Muslim).

Saat ini Papa sudah mendownload beberapa video ceramah dari ustadz tersebut. Beliau adalah Dr. Musthafa Umar_Lc. MA. Termasuk keempat video beliau mengenai kajian tafsir ayat Kursi. Saat ini saya tidak bisa membuka youtube, mungkin masalah koneksi, sehingga saya tak bisa memberikan linknya. Jika sahabat ingin mendengar ceramah beliau bisa langsung masukkan keywordnya. Menurut kami sekeluarga, ceramah beliau adalah salah satu yang sangat enak didengar dan mudah dicerna.

Opa sedang mengimami sholat di Musholla.

Saya juga curhat dengan sahabat pengajian saya semasa kuliah dulu. Menurut teman saya, lebih baik foto-foto di rumah dikurangi, karena jin suka tinggal di situ. Saran dia lainnya adalah lebih rajin tilawah dan sering-sering memutar murotal. Insya Allah bisa mengurangi gangguan-gangguan itu. 

Semoga Allah selalu melindungi kita dari keburukan ya.. Amin ya Allah.. Ya Allah ya Muhaimin..

22 comments:

  1. Saya sepakat dengan saran teman kuliahnya Mbak, dengan mengurangi faktor-fakrto yang disenangi makhluk halus dan mempersempit ruang geraknya dengan memperbanyak membaca Al Qur'an diantara anggota keluarga. Paling tidak sehari kita berinteraksi dengan Al Qur'an dan jika semua melakukannya setiap hari maka Insya Alloh rumah kita akan lebih terang benderang. Semoga Alloh Ta'ala melimpahkan kesabaran pada keluarga Mbak Thia dan dengan kejadian ini justru menguatkan aqidah keislaman kita

    ReplyDelete
  2. wah merinding bacanya, Iya Bun..better foto-foto dirumah di kurangi, saran temannya bagus banget....saran pakies juga oke banget untuk diikuti bun. Mudah2an tidak ada gangguan lagi ya.

    ReplyDelete
  3. hiiiiiiiiiiiii.... aku juga merinding Mbak..jadi ikut merasakan ngeri nya.

    aku punya rumah di surabaya Mbak, ketika kuliah, aku tinggal di situ sama saudara-saudara yang sebaya. sekitar 6 tahun aku disana, sama sekali gak dapet gangguan apa apa, tapi satu saudaraku, mengaku beberapa kali digangguin. kok aneh yaa...
    apa jin dan sebangsanya itu pilih pilih korban untuk digangguin ya???

    setuju sama Pakies, dan temannya Mbak Thia
    kalo setiap saat diperdengarkan murotal quran, mungkin sedikit membantu ya,,, semoga saja. aamiiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. pilih korban.. huhuhu... menyeramkan sekali, mbak El.. :'(
      amin, makasih mbak Elsa :)

      Delete
  4. Tante, hantunya diajak bersahabat ajaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. gmana caranya, Dijaaa.. Gmanaaa.. Huhuhu...

      Delete
  5. merinding bacanya ...
    jangan sampai deh ngalamin, penakut siih..
    tapi kalau ada cerita2 begitu, misalnya di rumah2 dinas papa dulu, kami nggak diganggu.., cuma suara2 aja, itu pun aku nggak pernah dengar sendiri ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. asiknya bun Mon ndak pernah denger sendiri..
      aku ndak pernah liat juga sih bun.. cuma denger aja.. semoga jangan sampe ngeliat.. x_x

      Delete
  6. Semoga Allah selalu melindungi kita dari keburukan ...
    Aminnn ... amin ... amin ...

    Salam saya Thia

    ReplyDelete
  7. Semoga Mbak Thia sekeluarga selalu dilindungi olehNya. Aamiin

    ReplyDelete
  8. hii sereeeem tante >_<
    apa mungkin tante dan keluarga termasuk yang "sensitif" ya
    semoga tante, Vania dan keluarga selalu dalam lindungan Allah, aamiin

    ReplyDelete
  9. aku baca dari awal sampai akhir jadi takut juga, secara di kantor sering banget sendirian.... semoga segera pergi yaa para pengganggu itu

    ReplyDelete
  10. pingsan. .
    Namaku malia mbak. .

    ReplyDelete
  11. Mba Thia, semoga hal yang mengganggu segera berkurang atau hilang dan selalu dilindungi oleh Allah SWT, aaamiin.

    Hm...nahan nafas aku bacanya, hihii

    Salam
    Astin

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)