Saturday, June 29, 2013

Vania Saat Bepergian

Bunda bersyukur, pergi kemana-mana Vania nggak terlalu sulit soal makanan. Asal ada menu nasi plus ayam goreng, biasanya Vania makannya gampang. Tentu saja, dengan iming-iming sesuatu juga. Hahaha.. Kalau ada permen menanti, makan jadi lahap.. :-D

Akhir-akhir ini Vania sukanya bawa permen yuppi atau permen lunak lainnya yang rasa buah-buahan. Biasanya Bunda juga bawakan permen Scott's sekalian. Vania suka sekali. Bagus juga kan, karena permen Scott's yang chewy itu sudah mengandung vitamin C.. Hihihi.. :-D

Tas kecil yang selalu Vania bawa kemana-mana (khususnya ke tempat ramai seperti mall, dll), itu berisi identitas Vania, permen, tissue kering dan tissue basah, serta minyak kayu putih. Identitas Vania bunda buat sendiri, foto Vania dan bunda ditempel di kartu sebesar kartu nama, dengen keterangan alamat dan nomor telepon dibawahnya.


Seperti Kitiran
Jika urusan makan tidak ada masalah asal membawa permen, lain lagi urusan tidur. Ini yang membuat bunda pusing 7 keliling. Vania ini tidurnya seperti kitiran! Duh! Semalaman posisinya bisa berubah berkali-kali. Kadang bunda terbangun tengah malam dan mendapati kepala Vania di perut bunda. Tapi dini harinya bunda temukan jempol kaki Vania di depan hidung bunda.. Hmmph.. 

Kalau di rumah, bisa disiasati dengan meletakkan kasur di bawah. Tapi kalau saat bepergian bagaimana?!


Vania bepergian masih bisa dihitung jari.. Biasanya ke Bandung/ Lembang yang paling sering. Yang jauh pernah ke Jogja dan Medan. Waktu di Jogja, karena kami menginap di homestay, kasur busa yang di atas tempat tidur bisa kami turunkan ke bawah. Masih ringan.

Tapi beberapa kali Vania menginap di hotel, kasur springbed yang mereka sediakan terlalu berat untuk digotong ke bawah. Akhirnya mau nggak mau sewa extra bed yang diletakkan di bawah. Penyewaan extra bed lumayan mahal ya. Kalau ke Bandung/ Lembang masih bisa bawa kasur lipat di mobil, dengan catatan nggak menginap di hotel ya (di hotel mana boleh kan bawa kasur sendiri?). Kalau di homestay, cottage, atau villa kita bisa membawa kasur lipat sendiri ya sepertinya.. :-D

Saat keluar kota (bahkan keluar pulau) seperti ke Medan kemarin, akhirnya kami memutuskan beli kasur lipat di kota Medan. Karena kami menginap di mess tentara, jadi silahkan saja bawa kasur dari luar. Harga kasur lipat sekitar 250rb-300rb. Jauh lebih murah daripada kami menghadapi resiko Vania jatuh dari tempat tidur yang mana bisa mencederai kepalanya. Berbahaya sekali.


Gambar di atas itu Vania yang tidur di pojokan kamar mess Yos Sudarso, Polonia, Medan. Ujung sana dibatasi sofa empuk, samping-sampingnya dibatasi guling, dan bunda tidur di sebelah Vania beralaskan bed cover yang dilipat-lipat.

Gambar dari sini.

Begitulah susahnya urusan tempat tidur buat Vania saat kami bepergian. Sahabat Vania disini, ada yang punya masalah seperti Vania nggak? Tidur berputar-putar seperti kitiran? x_x

Ohya.. Catatan sedikit, teman.. Kalau habis makan permen jangan lupa kumur-kumur, gosok gigi anak pakai kassa saja, atau bawa saja sikat gigi nggak pakai pasta gigi juga nggak apa-apa, yang penting nggak ada sisa permen lengket di permukaan gigi.. Hihihi.. ^_^

Thursday, June 27, 2013

Vania's 2nd Long Trip: Medan

Horas :-D

Tepat di hari ulang tahun Jakarta ke-486 tanggal 22 Juni kemarin, kami berangkat ke Medan. Saya jadi sedih tak turut langsung menyaksikan ramainya perayaan kota kelahiran saya dan Vania ini. Hehehe.. 

Ceritanya, adik bungsu saya si Ilham dibuang dimutasi ke Medan. Selvi sebagai istri juga dalam waktu dekat akan menyusul adik saya ke Medan. Agenda kami di Medan, selain untuk mengisi liburan Vania, juga untuk mengunjungi Om Ilham yang sudah lebih dulu berangkat, dan untuk bersilaturahmi dengan saudara kami di kota ini (keluarga Selvi, adik ipar saya yang asli Medan). Asiknya ya Ilham, walau dimutasi tetap dekat dengan keluarga jadinya.. Hahaha.. Saya dan Opa ambil cuti 2 hari untuk acara kami kali ini..


Kami berangkat hari Sabtu pagi. Tak ada delay.. Namun ketika pesawat sedang menunggu giliran lepas landas, ia harus mengantri dulu. Lama. Sepertinya lalu lintas udara sedang ramai-ramainya.. Vania sampai protes berkali-kali ke saya. "Buuun, kok pesawatnya nggak lari-lari sih? Lama banget? Buuuun..."

Ya saya jawab saja bahwa kalau mau lepas landas pesawatnya bisa juga kena macet.. Huhuhu.. Salah nggak ya jawabannya..?


Kali ini rombongan kami ada 4 orang, saya dan Vania, serta Oma dan Selvi. Vania ini, paling nggak sabar menunggu lampu penanda sabuk pengaman padam, karena ia ingin berdiri di kursi kemudian nyebrang ke tempat duduk saya, untuk melihat awan. 

Berbeda dengan perjalanan Vania dari Jogja - Jakarta yang singkat, perjalanan Jakarta - Medan lebih lama, kurang lebih ditempuh selama 2 jam. Seperti biasa kalau suatu perjalanan sudah lebih lama dari satu jam.. Vania bosan. Saya sudah menyiapkan buku cerita. Namun selesai baca buku cerita yang super singkat itu, Vania bosan lagi. Akhirnya Vania nyanyi-nyanyi sendiri, sampai ada penumpang lain yang memperhatikan tingkahnya. Saya harap dia nggak terganggu, hehehe.. Dan alhamdulillah ketika makanan datang, Vania suka dengan menu makaroni dagingnya. :-D



Kami mendarat tepat tengah hari di Polonia Medan. Turun pesawat langsung disergap hawa yang panas. Saya merasa, Medan ini lebih panas dari Jakarta ya. Apa mungkin posisinya yang lebih dekat ke khatulistiwa ya?


Medan ya macet juga. Kata Vania, "Bun, ini di Medan apa di Jakarta sih?"
Nggak ada bedanya ya.. Hahaha..

Agenda kami siang itu, setelah menaruh barang-barang di Mess Yos Sudarso milik TNI AL di daerah Polonia, kami lanjut mengunjungi Mess Ilham di Bara Kuda.


Vania nggak bisa lihat space yang luas. Pasti lari-larian. :-D

Hari kedua dan ketiga kami disana, diisi dengan acara jalan-jalan bareng saudara kami, keluarganya Selvi. Buat saudara kami di Medan, Insya Allah cerita jalan-jalannya menyusul. Hehehe.. Ternyata, saudara kami di Medan juga menjadi silent reader blog ini. :-D

Insiden Baju Vania
Sore hari keempat adalah waktu yang kami agendakan untuk pulang ke Jakarta. Proses kepulangan kami diwarnai insiden kecil yang sangat besar dampaknya untuk kami semua. Sebelumnya, perkenalkan dulu, dibawah ini adalah baju renang Vania yang paling baru. :-D

Ini adalah baju renang Vania yang bersejarah.

Pesawat kami take-off jam 18:30 WIB sore itu. Boarding jam 18:10 WIB. Seumur hidup saya, baru kali ini saya menyayangkan kenapa pesawat harus on time, kenapa nggak delay saja. Hahaha.. 

Yaaa.. Bisa ditebak.. Kami hampir ketinggalan pesawat.

Berawal dari insiden kecil.. Seperti biasa, Opa meminta tolong kepada bapak pengurus dalam (PD) mess untuk urusan check in. Si Oma ribut saja, menyuruh saya mengosongkan satu koper kecil untuk diisi makanan oleh-oleh yang akan dibawa di cabin. Begonya, saya ya menurut saja. Koper kecil yang saat berangkat itu diisi oleh perlengkapan Vania, saya kosongkan. Kemudian perlengkapan Vania seperti baju cadangan dan lain-lain, masuk ke koper besar, yang kemudian dibawa oleh PD pada pukul 17:00 WIB ke bandara, langsung masuk bagasi. 

Kami agak santai karena boarding pukul 18:10 WIB, dan Mess Yos Sudarso yang berlokasi di daerah Polonia hanya berjarak sekitar 5 menit perjalanan mobil ke bandara. Pukul 17:30 WIB adalah rencana kami untuk berangkat ke bandara. Sebelumnya, urusan toilet diselesaikan di mess dulu. Termasuk Vania. Dan ternyata waktu Vania di kamar mandi, celananya Vania jatuh dong ke genangan air di pojokan kamar mandi. Aaarrrggghhh!!!

Betapa! Paniknya saya! Apalagi, ketika saya menyadari bahwa... Bajunya Vania sudah masuk bagasi semua... Aaarrrggghhh!!! 

Lemes, pengen nangis, entah apa lagi. Akhirnya kami pinjam setrikanya milik PD. Saya menyetrika celana Vania yang basah itu di kamar sambil berkali-kali istighfar. Celana panjang Vania yang nggak terlalu basah akhirnya bisa kering. Namun pakaian dalamnya, basah sekali. Tetap saya setrika saja sambil keringat dingin. 

Adik saya, Ilham dan Selvi, mempunyai inisiatif lain. Ilham pinjam motor milik PD. Ia dan Selvi ngebut ke toko baju anak bernama Hermes di daerah Polonia itu juga, yang cukup dekat dengan mess kami. Sayangnya, kok ndilalah, di toko Hermes itu nggak ada pakaian dalam anak-anak. Adanya baju renang. Ilham dan Selvi langsung memutuskan membeli baju renang 2 piece model bikini, dengan harapan Vania bisa mengenakan bawahannya sebagai ganti pakaian dalamnya yang basah.

Pukul 17:45 WIB... 25 menit sebelum boarding..

Pakaian dalam Vania kering juga.. Langsung saya pakaikan. Vania sudah merengek kedinginan di kamar. Ilham dan Selvi belum kembali dari toko. Saya panik dan merasa bersalah. Apalagi saat kami pulang itu, berbulan-bulan mungkin kami baru bisa bertemu dengan Ilham lagi. Oma sedih. 

Akhirnya kami naik ke mobil juga. Kami mengajak salah satu PD ikut di mobil, dengan harapan ketika kami bertemu di persimpangan jalan antara arah ke Bandara dan arah ke Hermes dengan Ilham dan Selvi, PD yang akan membawa pulang motornya sedangkan kedua adik saya itu langsung ikut di mobil. 

17:55 WIB.. 15 menit sebelum boarding. Kami stop di persimpangan. Dengan berdebar-debar menunggu Ilham dan Selvi yang belum nampak juga. Jika berada di posisi ini, saya merasakan waktu tercepat dan terlama. Satu menit bisa lama sekali saat menunggu adik saya, pada saat yang bersamaan satu menit itu juga terasa cepat sekali mendekati waktu keberangkatan pesawat.

Opa memutuskan jika sampai pukul 18:00 WIB mereka belum datang juga, kami langsung ke Bandara. Untungnya, sekitar pukul 17:58 WIB, motor PD yang dikendarai Ilham terlihat berbelok di tikungan. Mereka langsung berhenti di samping mobil, Ilham dan Selvi naik ke mobil, motor dibawa PD pulang ke mess. Cusss ke bandara.


Anehnya, bisa-bisanya kami pakai nyasar.. Salah masuk ke bagian kedatangan.. Wuah, ngebut mobilnya.. Setibanya kami di bandara, waktu menunjukkan pukul 18:05 WIB. Kami semua lari menuju gate masuk. Di depan gate, kami berpisah. Terharu melihat Oma yang memeluk Ilham dan Selvi sambil menangis. Bapaknya Selvi juga hadir mengantar kami. Saya, Vania, serta Opa dan Oma, langsung lari lagi menuju tempat boarding.

Saya kok merasa seperti di film Home Alone.

Ternyata sudah panggilan terkahir. Tepat pukul 18:10 WIB kami sudah menaiki shuttle bus. Ngos-ngosan. Oma sampai sesak. Hirup symbicort dulu untuk melegakan nafasnya. Ketika kami masuk ke pesawat, semua orang sudah duduk manis di kursinya, saya merasa malu jadinya. Ternyata seperti ini ya rasanya terlambat. Pintu pesawat langsung ditutup ketika saya mengencangkan sabuk pengaman.


Perjalanan saat maghrib.. Nggak banyak awan yang dilihat, begitu pikir saya. Tapi saya salah, ternyata, pertujukan spektakuler saya saksikan ketika kami berada di atas sana. Ditambah bonus jantung yang berdebar, sekaligus pasrah kepada Ilahi tentang nasib kami semua. Sekitar sejam semenjak take-off saya melihat segumpal awan di bagian kanan pesawat dengan petir yang sambar menyambar. Indah. Cantik. Menyeramkan. 

Bagaimana jika petir menyambar badan pesawat, adalah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala saya. Namun betapa kami melihat kuasa Allah. Dengan membaca asmaNya dan pasrah kepadaNya, saya bisa lebih tenang.


Kali ini di pesawat saya menyiapkan lebih banyak buku buat Vania. Diantaranya buku mewarnai, supaya ia ada kegiatan dan nggak bosan. Lelah menggambar, Vania makan malam dengan menu kentang. Kemudian nggak lama, ia tertidur.


Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di bandara Soetta tepat pada waktunya.. Pukul 20:45 WIB. Dan satu lagi penguji kesabaran saya.. Ternyata sampai di bandara, kami disediakan tangga untuk turun, bukan belalai seperti harapan saya. Soalnya, saya menggendong Vania berbobot 18 kg yang lumayan banget.. Hihihi... 

Pernahkah sahabat mengalami kejadian (hampir) ketinggalan pesawat? Mudah-mudahan pengalaman kami ini bisa menjadi pelajaran buat sahabat yang lain. Supaya lebih teliti lagi menyiapkan segalanya, apalagi yang berhubungan dengan anak kecil di pesawat. Lebih baik antisipasi daripada berantakan semuanya, bukan? :-)

Dan buat Vania pribadi, mudah-mudahan cerita ini bisa jadi kenang-kenangan tentang kecerobohan Bundanya dan pengorbanan Om Ilham dan Tante Selvi...

Friday, June 21, 2013

Cerita-cerita Musholla

Saya tidak mengerti mengapa, di suatu tempat yang kerap dipakai ibadah pun, bisa terjadi hal-hal seperti ini. Walaupun tampaknya, tak menganggu, namun cukup membuat hati saya ketar-ketir. 


Kami sekeluarga menempati rumah kami ini sejak 3 tahun yang lalu. Bermula dari tanah kosong, orangtua saya membangun dari nol. Awal-awal kami tinggal disini, memang kerap kali kami mendengar bunyi-bunyian yang bukan dari manusia. Begitulah kesimpulan kami, karena halaman belakang rumah kami tertutup (tidak ada jalan masuk dari depan, dan tidak bisa dilewati kecuali jika melintasi bagian dalam rumah). Namun saat Isya menjelang (sekitar jam 8-9 malam), kami sering mendengar orang bersiul dari arah pojok halaman. 

Sebenarnya, kami sudah membuat pengajian dengan warga di sini sebelum kami pindah kemari. Sebelumnya, kami tidak memiliki musholla, hanya tempat sholat saja yang disediakan di satu sudut rumah, itupun bukan sebuah kamar tertutup. Namun dengan segala pertimbangan akhirnya musholla itu dibangun oleh Opa. Letaknya di halaman belakang. 

Suara-suara orang bersiul di halaman belakang rumah itu, kami abaikan saja. Hilang sendiri. Sudah dua tahun lebih tak ada kejadian-kejadian aneh, sampai dengan awal tahun ini. Kejadian-kejadian itu, terjadi lagi. Entah apa pemicunya..

Kejadian pertama terjadi tempo hari, sekitar waktu Ashar. Saat itu, Papa saya sudah selesai sholat dan sedang istirahat di kamar. Mbak Atun (si Cachan), sedang menyapu halaman belakang. Termasuk juga akan menyapu musholla. Namun ketika Cachan akan masuk musholla, dilihatnya seseorang sedang duduk menghadap kiblat (pintu musholla ada di belakang), sedang berdo'a, pakai baju hitam. Cachan tanpa berpikir panjang, langsung keluar musholla. Dikiranya, Papa masih berdo'a. Begitu Papa bangun, keluar dari kamar dengan masih memakai baju koko warna biru muda, si Cachan kaget.

Kejadian kedua, terjadi saat kami berkumpul di ruang makan. Pintu ruang makan ini, membuka ke arah musholla. Saat itu sedang berkumpul saya, Vania dan adik ipar saya, Selvi. Adzan Maghrib berkumandang.. 

Selvi: "Ayooo.. Vania kita sholat nyoook!"

Sebuah suara dari arah musholla: "Ayok, Sel!"

Saya pun mendengar dua kata itu. "Ayok, Sel!"

Selvi: "Tuh, Vania.. Opa udah di musholla.."

Saya, sambil mengerutkan kening, baru ingat sesuatu.. "Sel, kayaknya Opa tadi masih di kamar deh.."

Tepat saat itu, Papa keluar kamar, menuju kamar mandi, baru akan berwudhu. 

Kejadian ketiga, terjadi jam 3 malam.. Saat itu si Cachan ingin ke dapur. Cachan tinggal bersama suaminya di sebuah (bisa dikatakan) paviliun, yang juga bagian dari rumah orangtua saya. Jika ingin ke dapur Mama, maka Cachan harus lewat halaman belakang. FYI, Cachan baru-baru ini saja nikah, belum ada setahun, jadi yang bersiul di awal kami tinggal disini nggak mungkin suaminya Cachan kan yaaak.. Hehehe.. 

Jam 3 dini hari itu.. Cachan melihat ada orang sedang mengambil wudhu di depan musholla. Nggak kelihatan wajahnya karena dia menunduk. Kali ini sosok itu pakai gamis putih.

Baiklah tiga kejadian itu terjadi di sekitaran musholla. Padahal cukup sering kami berkumpul di musholla. Kami rutin sholat berjamaah, terutama saat Subuh dan Maghrib. Termasuk juga teman-teman Vania yang suka sholat berjamaah di musholla ini. 

Satu ayunan penuh anak kecil. ^_^

Vania dan teman-teman, bersama tante Selvi. Biasanya kalau sama anak-anak ini saya yang mengimami sholatnya.

Namun, beberapa hari ini.. Kejadian-kejadian aneh terjadi lagi. Kali ini, bukan hanya di sekitaran musholla. Tapi dimana-mana, di seluruh bagian rumah.

Ada yang mengetuk pintu rumah Cachan jam 12 malam. Tok.. Tok... Tok.. Sambil memanggil-manggil.. "Tuuun... Atuuun..."  Suaranya, adalah suara Mama saya..

Suatu Maghrib, Mama dan Selvi sedang di ruang makan, ngobrol. Selvi kemudian ke dapur sebentar. Handphonenya yang ia letakkan di meja berbunyi beberapa kali. Mama yang mendengar tak sempat mengangkat. Begitu Selvi kembali ke ruang makan, Mama memberitahunya ada telpon. Selvi mengecek handphone. Tak ada apa-apa. Tak ada missed-call. Nothing..

Saya pun mengalaminya. Jam 3 pagi. Saya berniat ingin sahur. Saya di dapur dan pintu dapur membanting di belakang punggung saya. Brakkk! Saya mengurungkan niat saya, nggak jadi puasa!

Papa juga sering melihat sekelebatan lewat. Di dalam rumah, sekitaran Maghrib.

Adiknya Selvi (Leo) yang tinggal bersama Selvi di rumah depan juga melihat ada orang menerobos pintu gerbang yang sudah dikunci satpam jam 9 malam. Pintu gerbangnya dibawah pohon, gelap. Namun sosok bapak-bapak itu tidak heboh memanjat pagar. Samar-samar, Leo melihat sosok itu lewat begitu saja.. Nembus..

Saya tau, hampir di setiap rumah ada ya makhluk seperti ini. Di rumah tante saya pun ada, sesosok kunti. Namun tidak ganggu. Yang saya sayangkan kenapa dia menakut-nakuti saya jam 3 pagi, dan membangunkan si Cachan tengah malam, itu kan namanya sudah menganggu ya..? Lebih hawatir lagi saya, takut jika makhluk itu menganggu Vania. Oleh karena itu jika Maghrib menjelang Vania tak diijinkan sendirian. Dimanapun. Perasaan saya ini, kesal bercampur takut.

Namun memang Papa saya memberi semangat kepada semua anggota keluarga untuk tidak kalah dalam menghadapi makhluk itu. Salah satunya dengan meyakini ayat Kursi. Selama ini, saya hanya membacanya saja. Tapi tetap merinding. Salahnya dimana? Apakah iman saya begitu lemahnya?

Kemudian saya teringat ceramah seorang ustadz. Beliau pernah bercerita tentang seorang ulama yang menginap di suatu tempat. Di tempat itu, sering terjadi orang meninggal keesokan harinya. Ulama itu sudah diperingatkan oleh pemilik penginapan. "Jangan menyewa kamar itu, Pak.. Biasanya besok paginya orang akan meninggal.."

Ulama itu tak bisa mempercayai takhyul tersebut.. Dia bersikeras menyewa kamar itu. Benar saja, saat malam, ulama itu diganggu. Ulama tersebut sangat paham siapa yang menganggunya. Dibacanya ayat Kursi. Berulang-ulang.. Pembacaan ayat Kursi yang pertama, si jin bisa mengikuti.. (Iya! Jinnya hapal ayat Kursi!). Pembacaan kedua pun sama.. Jinnya mengikuti.. Mantep! Jin nggak bisa diusir pakai ayat Kursi! Pembacaan ketiga sampai dengan kesembilan, jin masih bisa mengikuti. Sampai dengan pembacaan ayat Kursi kesepuluh, jin akhirnya menyerah dan meninggalkan ulama tersebut. Bisa jadi ya, orang yang meninggal sebelumnya itu karena serangan jantung saking takutnya.

Inti dari ceramah ini adalah.. Walaupun kita sudah hapal ayat Kursi, bukan jaminan kita akan kebal dari segala-galanya, kalau kita tidak meyakini maknanya.. Bagi saya pribadi ini adalah teguran. Begitu banyak do'a, surat dan ayat yang saya tau, namun saat membacanya ya membaca begitu saja. Hanya sekedar hapalan. Yang mengetahui artinya pun, belum tentu paham maknanya.
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda yang artinya, Apabila engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi (HR. Al-Bukhari).
"Wahai Abu Al Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang termulia dari Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Allah, tiada sembahan selain Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri (ayat al kursi)." Ubay berkata, "Maka Rasulullah saw. menepuk dadaku dan bersabda 'Semoga engkau mudah memperoleh ilmu wahai Abu Mundzir'." (HR. Muslim).

Saat ini Papa sudah mendownload beberapa video ceramah dari ustadz tersebut. Beliau adalah Dr. Musthafa Umar_Lc. MA. Termasuk keempat video beliau mengenai kajian tafsir ayat Kursi. Saat ini saya tidak bisa membuka youtube, mungkin masalah koneksi, sehingga saya tak bisa memberikan linknya. Jika sahabat ingin mendengar ceramah beliau bisa langsung masukkan keywordnya. Menurut kami sekeluarga, ceramah beliau adalah salah satu yang sangat enak didengar dan mudah dicerna.

Opa sedang mengimami sholat di Musholla.

Saya juga curhat dengan sahabat pengajian saya semasa kuliah dulu. Menurut teman saya, lebih baik foto-foto di rumah dikurangi, karena jin suka tinggal di situ. Saran dia lainnya adalah lebih rajin tilawah dan sering-sering memutar murotal. Insya Allah bisa mengurangi gangguan-gangguan itu. 

Semoga Allah selalu melindungi kita dari keburukan ya.. Amin ya Allah.. Ya Allah ya Muhaimin..

Thursday, June 20, 2013

Orientasi Kampus ^_^

Kenapa juga bisa ada judul "orientasi kampus" di blognya Vania ya? Hihihi... Emangnya udah mau kuliah, apa? Waks.. :-P

Jadi, ceritanya Vania ini suka sekali kalau Bunda ajak ke kampus. Kamis minggu lalu, sudah kali ketiga Vania jalan-jalan ke kampus Bunda. Vania pulang sekolah langsung Bunda bawa ke Salemba. Apa ya kira-kira yang membuat Vania senang di kampus?

Kampus Bunda yang tadinya teduh.. Kenapa juga pohonnya ditebang..? Huhuhu..

Hmm.. Mungkin karena suasananya yang teduh.. Mungkin Vania bisa bertemu tante-tante yang imut-imut teman kuliah Bunda dulu (dimana sekarang mereka sedang mengambil pendidikan spesialis), mungkin karena bisa bertemu Eyang Nuning (adiknya Opa yang bekerja sebagai Tata Usaha Pascasarjana UI), atau paling memungkinkan adalah makanannya yang enak.. Hehehe.. :-P

Bunda Vania sendiri, beberapa kali ke kampus untuk suatu urusan. Pertama kali menginjakkan kaki di kampus setelah bertahun-tahun adalah untuk urusan SIP. Kemudian meminta surat rekomendasi dari salah satu dosen Bunda (Bunda perkenalkan kepada Vania sebagai Bu Gurunya Bunda), supaya Bunda Vania bisa melanjutkan sekolah (bukan melanjutkan sekolah spesialis loh). Pesannya bu gurunya Bunda itu, jika sudah pengumuman hasil ujian masuk, diminta untuk mengabarkan ke beliau.

Jadi, agendanya kemarin ya itu.. Mumpung ada waktu, sowan ke Drg. Hendrarlin Soenawan, Sp.KGA (Kepala Program Studi Spesialis Ilmu Kedokteran Gigi Anak UI). Panggilan beliau, adalah Drg. Lin. Dokter Lin ini, adalah salah satu dosen berhati malaikat di kampus Bunda. Bersama almarhum suami beliau (Drg. Soenawan, Sp.Prosth - dosen prosthodonti), keduanya adalah penyelamat Bunda saat Bunda kuliah dulu.

Jujur saja, dulu Vania suka malas sekolah dan malas belajar. Terlebih, jika teman-teman di sekitar rumahnya mengajak main. Hari libur mereka kan ndak sama. Bisa saja jika teman-teman tetangga libur, Vania masih masuk. Ini nih yang membuat Vania tiba-tiba bisa mogok sekolah. Dulu, hal ini membuat Bunda Vania berang. Sempat keluar kata-kata kasar, "mau jadi apa kalau kamu besar nanti?!"

Astaghfirullah! Tapi, sekarang Bunda sudah sadar kesalahan Bunda. Yaa.. Sekarang, Bunda berusaha menyikapinya dengan tenang. Dan ternyata, beberapa kali Bunda ajak ke kampus bisa juga mengobati kemalasan Vania ke sekolah. Hahaha... :-D

Vania di Taman FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan).

Di pojokan Taman FIK itu, dulu bunda Vania pernah menangis sehabis ujian lisan. Bunda ingat dulu itu ujian lisan Konservasi Gigi. Bunda sendirian, dosennya tiga. Merasa gagal, bunda lari ke taman ini dan menangis sampai puas. Semoga kejadian seperti ini tak dialami Vania nanti ya, Vania harus mempersiapkan semua sebaik-baiknya. Sukalah dengan belajar, mulai dari sekarang. :-)


Lihatlah tante-tante di ujung sana, Vania.. Mereka sedang belajar. Belajar itu nggak boleh ada kata bosan dan capek. Bunda juga belajar sampai tua. Bahkan insya Allah, kalau tidak ada halangan bunda akan melanjutkan lagi belajarnya Bunda.. Vania, yang semangat ya!

Ohya, di Taman FIK ini ada yang unik loh! Sampai sekarang pun, ternyata masih ada! Waaah.. Dua pohon yang dahannya menjadi satu! Bagaimana coba penjelasannya? Karena ini kampus fakultas kesehatan, ndak ada yang peduli dengan keadaan pohon ini (maksudnya, ndak diteliti begitu). Mungkin kalau di IPB sudah diteliti kali ya.. Hahaha..

Pohon yang kanan dan yang kiri, masing-masing punya akar sendiri..

Dahannya menyatu di tengah..

Suasananya sejuk ya? Padahal kampus ini berlokasi di tengah kota Jakarta, dengan jalan raya Salemba yang biangnya macet di jam-jam tertentu. Taman ini benar-benar menjadi salah satu paru-paru kampus deh.. Dulu, bunda Vania sering menghabiskan waktu disini. Untuk belajar kelompok, pengajian, rapat ini itu.. Banyak sekali kenangan disini.. ^_^

Tak jauh dari Taman FIK ada bundaran Pascasarjana (dulu kami begitu menyebutnya). Ternyata sudah ada namanya sekarang, asembly point. Hehehe.. Di sekitar situ ada Kafe Prima. Nah, Vania makan disitu deh.. Paket nasi dan ikan dorry goreng tepung menjadi pilihan. Untuk Eyang dipesankan ikan dorry cabe hijau. Enak banget! Dan Bunda sendiri pesan siomay saja. Murah meriah, sambil mengenang masa kuliah yang biasanya cuma bisa beli siomay saja sebagai pengganjal perut.. :-D

Kafe Prima. Di ujung sana, ada gedung Pascasarjana UI.

Adiknya Opa, Eyang Nuning, adalah salah satu karyawan di bagian Tata Usaha Pascasarjana UI. Dari dulu kalau Bunda butuh apa-apa ya perginya kesini. Kehabisan ongkos pulang, misalkan. Hahaha.. Pernah juga mendapat pasokan pasien dari teman-temannya Eyang Nuning disini.. :-D

Kantornya Eyang Nuning..

Nah.. Setelah makan siang dan sowan ke Eyang Nuning, saatnya sowan ke dokter Lin. Sebenarnya dokter Lin sudah ada di klinik sejak pagi, namun baru available siang hari. Maklum lah, beliau sibuk pastinya. Vania bertemu dengan dokter Lin yang baik hati itu, dipeluk-peluk, diperiksa juga giginya. Sempat deg-degan juga pas Vania disuruh mangap sama dokter Lin. Berasa masih mahasiswa.. Hahaha.. 

Ketemu juga dengan tante Pituy! Tante Pituy nggak mau difoto! Heran! Akhirnya ambil dari belakang saja deh! Nah, si Tante ini adalah teman sekelas Bunda dulu... Sekarang tante Pituy sedang mengambil pendidikan spesialis kedokteran gigi anak. Buat teman-teman Vania yang ingin periksa gigi, coba deh ke Tante Pituy di kampus FKG UI bagian Pedo. Orangnya lucu loh. Hihihi.. :-D

Klinik Gigi Anak, Salemba.

Hmm.. Kalau teman-teman Vania disini, pernah nggak sih malas sekolah dan malas belajar? Nggak ya? Huhuhu... Lalu, kalau sedang jenuh belajar, apa yang bisa jadi motivasi buat teman-teman semua untuk giat belajar lagi..?

Hari ini Vania mau ambil raport.. Setelahnya, liburrr!!! Horeee! Bolehlah istirahat belajar dulu.. Hahahaaa.. Saatnya bermain dan jalan-jalan ya.. Insya Allah.. Selamat liburan juga untuk teman-teman semua! ^_^

Ohya, baju yang Vania pakai itu dijahit sendiri di tukang jahit dekat rumah. Bahannya dari Tante Elsa. Lucu ya, motifnya kepik begitu.. Makasih, tante Elsa! ^_^

Tuesday, June 18, 2013

Kopdar @ Kota Kasablanka

Awalnya, Mbak Rina mendapat kabar bahwa Ayahanda Mbak Keke sedang dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta. Mbak Rina kemudian mengabari saya. Mbak Lidya juga ternyata sudah mengetahui hal ini. Kami bertiga lalu berencana datang menjenguk beliau di RS.

Namun ternyata dalam masa perawatan, Ayahanda Mbak Keke tidak selalu berada di RS. Beliau sempat beberapa hari pulang ke rumah saudara yang ada di Jakarta. Jadi Mbak Keke mengusulkan untuk bertemu dengan kami di Kota Kasablanka saja, sekalian Mbak Keke ingin bertemu dengan temannya di Nu Skin. Lokasi tepatnya di Tebet, Jakarta Selatan. Sayangnya, Mbak Lidya berhalangan datang, jadi yang hadir hanya saya dan Mbak Rina, serta Kanaya. Kebetulan Jum'at minggu lalu (14 Juni 2013), Mbak Rina sedang cuti.

Hari Jum'at kemarin itu, kebetulan mbaknya Vania sedang sakit. Biasanya jika saya pergi-pergi dengan membawa Vania, maka Oma meminta agar saya selalu ditemani, entah oleh si Eyang atau si mbak. Sayangnya semua berhalangan. Jadi yang bisa jalan hanya saya sendiri. Akhirnya Vania dilarang ikut bersama saya karena Oma yang overworried terhadap cucunya ini. Padahal ya, Mbak Rina hanya berdua dengan Kanaya loh! Dari Bekasi pula! Wah, si Oma takjub deh mendengar hal ini. Tapi tetep saja surat ijin membawa Vania jalan-jalan tak saya dapatkan. Hahaha.. 

Saya dan Mbak Rina janjian bertemu di depan UKI. Mbak Rina naik taksi dari rumahnya di daerah Bulak Kapal, Bekasi Timur (Catat: Bunda Kanaya sampai di UKI dalam 15 menit!). Dari UKI kami bersama-sama menuju Kota Kasablanka. Sampai disana sekitar jam 10:30 WIB. Wah, mall masih sepi.. 

Kanaya ingin mainan perosotan atau ayunan, seperti yang banyak kita temui di mall-mall semisal PIM (karena saya seringnya kesini, jadi taunya ini saja, hehe..). Sayangnya di mall ini tidak ada playground seperti itu. Adanya playpark indoor yang luas, yang harga tiket masuknya lumayan mahal (menurut saya) dan boleh main sepuasnya (Chipmunk Playland). Sayang kan, kalau mainnya cuma sebentar. 


Akhirnya kami bertiga berkeliling saja di sekitar mall. Ceritanya, window shopping.. Sembari  bermain-main dengan Kanaya. Hehehe.. Saya ini, paling gemas sama anak kecil.. Kanaya itu mungiiilll banget... Sama deh seperti Aira.. Gemesss! Dan tingkahnya Kanaya itu membuat saya ingin mencubit pipinya berkali-kali.. Hihihi.. Maaf yah Mak Kanaya, hahaha.. Kanaya itu cerewet dan sering berceloteh menanyakan setiap yang dilihatnya pada Bundanya..

Beberapa saat kami menunggu, Mbak Keke belum ada tanda-tanda hadir juga. Akhirnya saya mengontak Mbak Keke untuk menanyakan sampai dimana, namun Mbak Keke yang asli Palembang ini ternyata sempat tersasar. Aduh! Akhirnya Mbak Keke memutuskan naik ojek saja (catat: Mbak Keke sedang hamil 19 minggu), menerobos macetnya Jakarta. Alhamdulillah si abang ojek ini baik orangnya. Mbak Keke akhirnya sampai di Kota Kasablanka dengan selamat.

Makan siang di Rice Bowl.

Yunda dan Hamas saat itu masih di Palembang, masih UAS. Mbak Keke beserta kedua orangtua dan adiknya saja yang berada di Jakarta. Begitu Mbak Keke sampai, kita langsung mencari tempat makan. Kami makan di Rice Bowl yang letaknya di lantai LG. FYI, disini siomay gorengnya ternyata enak. Namun kami agak merasa aneh dengan tidak adanya saus kacang, yang ada saus mayonaise sebagai gantinya. Tetap enakan saus kacang sih.. :-D


Selesai makan kami sholat. Mbak Rina dan saya ingin ke toilet dulu. Dan Kanaya tinggal di musholla bersama Mbak Keke.. Wah hebat deh Kanaya, langsung bisa akrab sama bu dokter yang satu ini.. Padahal baru pertama kali bertemu loh! :-D

Di Musholla.. Musholla di Kota Kasablanka, bagus dan bersih! ^_^

Selesai sholat kami menemani Mbak Keke mencari lokasi tempat diadakannya event Nu Skin. Setelah sampai ke lantai 5, kami akhirnya bertemu juga dengan temannya Mbak Keke itu.. Ooohh, ternyata Mbak Enung Syafaah Fauziah, pemilik blog It's Life, yang sayangnya sudah lama ndak  update blognya. Hihihi.. ^_^

Dari kiri ke kanan: Mbak Enung, Mbak Rina dan Kanaya, saya, Mbak Keke.

Saya dan Mbak Rina sempat dites kadar antioksidannya. Wah ternyata hasil tes saya parah nih, lampu merah. Hahaha.. Menunjukkan saya harus segera memperbaiki pola hidup.. Hasilnya Mbak Rina lebih bagus nih dari saya. Haaa... :-D

Siang itu, waktu sudah menunjukkan pukul 14:00 WIB. Mbak Keke masih ada beberapa urusan terkait Nu Skin. Sayangnya saya ndak bisa menemani lebih lama, karena harus jaga warung sorenya. Hehe.. Kanaya juga sudah terlihat mengantuk. Tadinya Mbak Keke ingin bareng pulangnya. Namun sayangnya kami berlawanan arah. Mbak Keke ke barat sedangkan saya dan Mbak Rina ke timur. 


Di mobil, Kanaya tertidur. Capek ya... Lucuuu deh..! ^_^
Mbak Rina dan Kanaya kemudian melanjutkan ke Bekasi Timur dengan taksi. Saya lanjut jaga warung.. :-D

Sorenya saya menanyakan apakah Mbak Rina dan Mbak Keke sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah oke semua. Dan yang bikin saya geleng-geleng kepala, Mbak Keke si Bumil ini pulang naik bis patas, berdiri pula! Kata Mbak Keke, biar anaknya kuat! Duh duuuh... Bumil.. Beginilah suka dukanya Jakarta.. Mudah-mudahan betah disini yah Mbak.. :-D

Alhamdulillah, Allah masih memberi kami kesempatan bersilaturahmi. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi ya... Walaupun tidak bertemu langsung, tapi kami mendo'akan semoga Ayahanda Mbak Keke lekas sehat.. Dan buat Kanaya juga, semoga sehat selalu ya Deeek.. Amiiin... ^_^

Monday, June 17, 2013

Keju Pizza

Sebenarnya, tulisan ini sudah lama sekali ingin Bunda ceritakan.. Karena memang sudah hampir setahun yang lalu.. :-P

Saat Vania batita dulu, Bunda Vania beberapa kali memberi Vania keju sebagai MPASI (usia Vania di atas 1 tahun). Namun, begitu diberi keju, kulit Vania akan timbul beberapa bentol kemerah-merahan yang gatal. Alergi. Kalau menurut yang Bunda baca, ini karena alergi protein yang ada di susu sapi. Namun anehnya, kalau diberi susu UHT, Vania baik-baik saja..

Ketika browsing-browsing lagi, Bunda Vania menemukan artikel seorang anak balita yang juga alergi keju. Walaupun baik-baik saja saat minum susu sapi. Akan Bunda copas paragraf yang berisi penjelasannya disini.
Menurut Andang Gunawan, ND, ahli terapi nutrisi, seseorang memang bisa alergi terhadap keju. Zat di dalam keju yang dapat memicu alergi adalah tiramin, yang diperoleh dari hasil fermentasi. Jika hasil tes menyatakan Mutia alergi keju, sebaiknya memang ia menghindari konsumsi keju.
Sumber:  myhealthylife

Bisa jadi, dulu itu Vania tidak alergi protein susu sapi, namun hanya alergi pada satu bahan yang merupakan hasil dari fermentasi susu sapi. Seperti kasus di atas. Wallahu'alam.

Namun, sejak Vania usia 4 tahun Vania sudah tidak alergi lagi. Diawali dengan mencoba keju cheddar. Saat kulit Vania sudah tidak timbul bentol-bentol merah lagi, lanjut keju-keju lainnya seperti keju mozzarella yang digunakan sebagai topping pizza. Alhamdulillah.. Bunda senang.. ^_^ Ini artinya Vania sudah bisa diajak wiskul kemana-mana.. Hahaha.. 

Bantuin Bunda di dapur. Vania suka ngemilin kejunya saja.. :-D

Saking sukanya sama pizza, tempo hari sampai-sampai meminta pizza untuk sarapan. Yah, Bunda beli saja roti pizzanya, beri topping sosis dan keju cheddar, selesai.

Sebelumnya Bunda coba pakai mozzarella yang dijual di supermarket tapi kok rasanya ndak sama ya dengan pizza-pizza yang dijual di gerai-gerai pizza ternama itu.. Padahal sudah ditaburi keju parmesan juga.. Kata Vania beda banget, enakan yang beli.. Hahaha.. Ampuuun deh.. Makanya, akhirnya pakai keju cheddar saja.


Vania juga suka kok pizza yang buatan rumah. Apalagi, Vania sendiri yang membantu Bunda membuatnya.. Wah.. Rasanya sedap deh.. Capek masak, nikmati pizzanya.. ^_^

Made with love.. ^_^

Hmm.. Topping pizza apa yang menjadi favorit teman-teman? ^_^

Sunday, June 16, 2013

Cerita-cerita Kanaya

Sehari sebelum saya menulis posting untuk pengumuman pemenang Giveaway Vania tempo hari, Uncle Lozz sudah menyerahkan kelima nama yang dipilihnya. Kebetulan nama pertama yang ada di list adalah Mbak Rina (Bunda Kanaya). Malamnya, langsung saya bbm mbak Rina, sembari menanyakan kabar Kanaya. Tentu saja saya belum memberitahukan hasil pengumuman yang diberikan Uncle Lozz.. Hehehe.. Memang kami sudah sering bercakap-cakap via bbm, tentang apa saja terutama tentang perkembangan dan celoteh Kanaya dan Vania. 

Kebetulan malam itu juga, saya bbm-an sambil sesekali membaca halaman facebook saya. Status yang paling atas saya lihat malam itu adalah statusnya Pakde Cholik, yang woro-woro kepada sahabat blogger untuk mencari pasangan kontes yang akan diadakan dalam rangka HUT BlogCamp yang ke-4. Rincian tentang kontes tersebut baru akan diumumkan keesokan harinya, begitu tulisan beliau di FB. Langsung saya meminta Bunda Kanaya untuk jadi pasangan saya, padahal saat itu kami belum mengetahui kontes yang akan digelar Pakde itu yang seperti apa.. Hahaha.. Saya nekad saja pokoknya. :-D

Jum'at kemarin, alhamdulillah ada kesempatan kami bertemu, bersama mbak Keke juga (cerita kopdar insya Allah menyusul.. :-D), sehingga saya bisa mengenal Mbak Rina dan Kanaya lebih dekat lagi. Blog Jejak Cinta Kanaya, adalah blog yang dibuat Mbak Rina untuk putri cantiknya, Kanaya. 

Jejak Cinta Kanaya

  

Bunda Kanaya adalah seorang ibu yang bekerja di luar rumah, sama seperti saya. Bagi kami, dengan anak usia pra-sekolah yang masih sangat membutuhkan waktu bersama ibu, keputusan untuk bekerja di luar rumah bukan hal yang mudah dijalankan. Oleh karena itu kami sering saling curhat tentang suka dukanya. Tentang perasaan bersalah, tentang prejudis, tentang kekhawatiran, dan macam-macam lagi. Tapi, bukan hal yang mustahil, ibu-ibu seperti kami pun, insya Allah bisa menjadi ibu yang baik.


Bunda Kanaya sangat rajin mencatat perkembangan Kanaya. Secara khusus, tulisannya memang diperuntukkan sebagai catatan pribadi. Tapi, bagi yang membaca pun bisa mendapat banyak masukan. Bunda Kanaya, dalam banyak tulisannya, tidak hanya menulis tentang Kanaya saja, namun juga menyertakan teori-teori parenting yang sangat bermanfaat buat siapa saja. 

Ini karena Bunda Kanaya rajin membaca tentang parenting dari berbagai sumber, yang diramu menjadi tulisan yang apik. Salah satu contohnya, adalah ketika Kanaya sedang giat-giatnya mewarnani. Tentu saja Bunda Kanaya bercerita tentang kemajuan Kanaya itu. Namun, di tulisannya tersebut juga disertakan tentang manfaat mewarnai bagi si kecil. Hal ini tentu saja adalah pengetahuan yang baru bagi saya.

Sidebar blog yang berisi link ke aneka situs parenting.

Saya bisa mengetahui situs-situs parenting yang sangat bermanfaat dari sidebar blog Jejak Cinta Kanaya.

Walaupun sebagai seorang ibu yang bekerja di luar rumah, namun rasa cinta dan kasih sayang Mbak Rina untuk Kanaya bisa terbaca dari tulisannya. Dan memang terbukti benar, karena walau singkat tapi saya sudah melihat sendiri bagaimana Mbak Rina mendidik dan mengurus Kanaya. Apa yang ditulis Mbak Rina, memang seperti itulah adanya. Kanaya yang ceria dan menggemaskan, dan tentu saja Mbak Rina yang sangat memahami karakter Kanaya. Tidak ada si mbak yang menyertai saat kami kopdar kemarin. Wah, saya sendiri mungkin belum tentu bisa semandiri ini.. :-D


Menurut saya, ini adalah motivasi bagi ibu bekerja manapun, bahwa walau bekerja di luar rumah, tetap bisa menjadi ibu yang baik bagi buah hati tercinta.  Membaca blog Jejak Cinta Kanaya, bagi saya pribadi, selain untuk bertukar pengalaman, juga adalah untuk menambah wawasan saya, terutama dalam hal parenting.




Tuesday, June 11, 2013

Tempat Kerja Opa Dulu

Semalam sempat bincang-bincang via BBM dengan Mama Cal-Vin tentang Kolinlamil. Wah, percakapan itu membawa Bunda ke kenangan jaman dahulu kala saat Bunda Vania masih kuliah di daerah Salemba. :-D

Saat itu, Opa Vania sedang menjabat Kadiskomlek Kolinlamil (Kepala Dinas Komunikasi Elektronika Kolinlamil) sekitar tahun 1998-2002. Setiap berangkat kuliah, biasanya Opa nge-drop Bunda di kampus. Memang Opa melewati jalan Salemba setiap hari. Jika Bunda Vania pulang kuliah sore, biasanya sering dijemput untuk kemudian dibawa ke kantor Opa, menunggu sampai selesai jam kerja, baru pulang bareng ke rumah. Saat itu jalanan tidak semacet sekarang tentunya.. 

Hari Minggu kemarin, Vania diajak Bunda jalan-jalan untuk melihat dari dekat sekaligus naik ke kapal Rainbow Warrior milik organisasi Greenpeace. Bunda Vania jadi ingin menceritakan pengalaman saat Vania ikut berlayar di sekitaran Teluk Jakarta 4 tahun yang lalu. ^_^

Sekitar bulan Mei 2009, saat itu Opa Vania menjabat sebagai Komandan Seskoal. Di akhir tahun ajaran Opa mengadakan acara Joy Sailing untuk semua Pasis (Perwira Siswa) beserta keluarganya. Vania ndak ketinggalan tentunya.. ^_^

Acara Joy Sailing diadakan tanggal 23 Mei 2009. Kapal berangkat berlayar pagi-pagi ke sekitaran Teluk Jakarta, kemudian malamnya menginap di atas kapal, untuk akhirnya kembali menepi di pelabuhan tanggal 24 Mei 2009. Singkat, tapi menyenangkan.  ^_^

Kapal KRI Tanjung Nusanive. Foto ini diambil oleh fotografer Seskoal.

Kami berangkat pagi-pagi dari Pelabuhan Tanjung Priok, sehari setelah ulang tahun Vania yang pertama.. This is the best birthday gift ever, right Vania? ^_^

Vania masih bayi.. Masih digendong Bunda.. ^_^

KRI Tanjung Nusanive. Setahu Bunda, bendera berbintang dua menunjukkan pangkat orang tertinggi yang ada di atas kapal.

Foto diambil oleh fotografer Seskoal.

Foto diambil oleh fotografer Seskoal.

Aroma mesin sangat kuat tercium di area ini..

Seingat Bunda, di belakang Bunda dan Vania itu adalah bermeter-meter tali tambang yang mengikat jangkar, dan kemudian menggulung saat kapal akan berangkat. Di bawah ini adalah pemandangan di sekitar Teluk Jakarta, yang (menurut Bunda) indah sekali.. ^_^

Berbaris-baris kapal milik TNI AL.

This is beautiful..

Ramainya Teluk Jakarta..

Kami sekeluarga.. ^_^

Tidak hanya Vania dan Bunda saja yang ikut, tapi juga Eyang, adik-adik Opa lainnya serta sepupu-sepupu Bunda. Rame! ^_^

Vania kecil bersama Opa dan Oma di kamar tidur. Foto ini diambil oleh fotografer Seskoal.

Jujur saja, ini pertama kalinya Bunda dan Vania ikut berlayar. Hehehe.. Yang membuat Bunda Vania takjub adalah arah kiblat yang berubah-ubah.. Sesuai kemana arah kapal menghadap.. Setiap waktu sholat tiba, diumumkan oleh ABK kemana arah kiblatnya. Biasanya mengacu ke bagian-bagian kapal. Entah menghadap ke dek, atau ke anjungan. Lucu.. Kenapa selama ini ndak pernah terpikir bahwa di atas kapal arah sholatnya bisa berubah-ubah ya... Hihihi...

Menikmati matahari terbenam. Salah satu pulau di Kepulauan Seribu terlihat di kejauhan.

Angin malam di atas kapal. Vania pakai jaket, lengkap tertutup rapat. Takut kedinginan.

Saat itu, Vania masih makan bubur saring. Wah, perjalanan ini cukup membuat Bunda bingung. Akhirnya, mau ndak mau Bunda bawa saja bubur instan. Sebenarnya Vania ndak terlalu suka. Sering dilepeh. Namun hampir semua rasa Bunda bawa, supaya bisa ganti-ganti. Merknya Bunda lupa apa. Bunda juga bawa buah pisang, serta biskuit dan roti yang bisa dilumatkan dengan susu UHT. Ohya, Vania masih ASI juga.. :-D

Paginya, kami menikmati indahnya matahari terbit. Subhanallah...

As above so below..

Pagi hari, diadakan senam bersama untuk semua peserta Joy Sailing di dek kapal yang sangat luas itu.. Ada hadiah balon untuk anak-anak.. ^_^

Ini kapal besar sekali.. Sekocinya saja banyak berjajar-jajar...

Pagi hari tanggal 24 Mei 2009, kapal siap untuk menepi di pelabuhan. 

Jemputan bis dan kendaraan untuk para peserta Joy Sailing sudah siap di tempat.

Di depan KRI Tanjung Nusanive. Bunda, Vania dan Tante Ayu (Mamamnya Aira). Saat itu Aira belum lahir, hehe..

4 tahun kemudian...

Vania di Kolinlamil, saat pulang dari melihat kapal Rainbow Warrior-nya Greenpeace.

Sepulangnya kami dari Tanjung Priok kami memang mampir di Kolinlamil, untuk sholat Dzuhur.

Cuaca panas terik.. Foto kanan bawah, tempat kerja Opa yang dulu...

Opa dan Oma. Kolinlamil, 9 Juni 2013.

Saat ini, Opa dan Oma Vania sudah masuk masa pensiun. Menikmati hari tua. Semoga dengan tulisan ini, Vania kelak akan bangga kepada Opa dan Oma, sehingga bisa memotivasi Vania untuk selalu berusaha dan memberikan yang terbaik, baik di sekolah maupun di lingkungan pergaulan Vania nanti.. 

Semoga cerita ini juga dapat menginspirasi teman-teman Vania juga ya.. Supaya kelak semakin mencintai dan memajukan dunia maritim Indonesia.. Amin. :-)