Friday, May 24, 2013

Aroma Pohon Pinus

Setiap kali saya mencium aroma pohon pinus, saya selalu ingin menyendiri...

Seperti saat saya dan keluarga menginap di Lembang pertengahan Februari lalu, walaupun bu Bintang Timur mengatakan bahwa rumah yang kami tempati itu sering ada yang "gangguin", namun kalau nanti ke Lembang lagi, saya tetap ingin punya beberapa menit untuk menikmati kesendirian, hanya ada saya dan pikiran saya yang penuh kenangan...

Saat yang lain masih berselimut selepas sholat Subuh, saya langsung pergi sendiri ke teras ini, menikmati aroma pohon pinus.. Mumpung Vania yang cerewet itu masih tidur..

Saya adalah orang Jakarta asli, bukan maksudnya saya ini suku Betawi (orangtua saya adalah Jawa Timur dan Sulawesi Utara), namun karena seumur hidup saya, sedari lahir sudah tinggal di Jakarta dan ndak pernah pergi kemana-mana, oleh karena itu saya mengatakan saya orang Jakarta saja. :-D  Di Jakarta, sepertinya belum pernah saya menemukan ada pohon pinus.. :-D  Ya iyalah ya... Daerah panas begini, sepertinya hampir ndak mungkin pohon pinus bisa tumbuh disini. Mereka butuh udara dingin di ketinggian tertentu dari permukaan laut ya, kalau saya ndak salah.. :-D

Seingat saya, saat saya kecil belum pernah saya diajak orangtua ke Bandung/ Lembang atau daerah dingin lainnya. Sehingga aroma pohon pinus pertama kali saya cium di suatu daerah yang sangat jauuuh dari tempat asal saya...

Saat saya kelas 5 SD, Mama saya pergi ke Monterey, California, untuk menemani tahun terakhir Papa di Naval Postgraduate School. Saya dan kedua adik saya tinggal bersama Eyangti (ibu dari Papa saya) di Depok. Suatu ketika, terjadi sesuatu yang mengubah hidup kami sekeluarga...

Oma saya (buyutnya Vania) meninggal karena serangan asma. Jenazah beliau baru dikebumikan seminggu setelahnya, karena menunggu kedatangan Mama saya dari AS. Oma saya adalah penganut Kristen (Protestan), sehingga masalah kapan dikebumikan bukan sesuatu yang harus segera dilakukan. Saya ingat jenazah Oma ada batu es yang besar-besar di bawah peti matinya.

Usia saya saat itu, hampir 10 tahun. Saya ingat saat menjemput Mama di bandara, sejak turun dari pesawat, sampai di rumah duka, sampai di pemakaman, sampai berhari-hari setelahnya, Mama menangis terus. Mungkin sedih yang sangat antara tak bisa menemani ibunda tercinta di saat-saat terakhirnya, dan menghadapi kenyataan bahwa Mama tak lagi punya orangtua. Karena sedih yang mendalam inilah, akhirnya Mama memutuskan untuk kembali ke Monterey, California, berkumpul bersama Papa dengan membawa kami bertiga. Mama tak ingin berpisah dengan kami, sehingga apapun diperjuangkan demi keberangkatan kami semua ke AS. Papa pun memaklumi. Walaupun bagi kami berat, terutama dari segi finansial. Tapi demi menjaga kondisi kejiwaan Mama, apapun Papa lakukan.

Perjalanan belasan jam dengan Garuda Indonesia (Ya.. Dulu Garuda Indonesia masih terbang sampai ke bandara Los Angeles, California), bukan sesuatu yang mudah bagi Mama. Saya menemani salah satu adik saya ketika adik saya yang lainnya mabuk perjalanan (untungnya saya tidak), entah muntah-muntah atau masuk angin hingga diare-diare tak berkesudahan. Luar biasa perjuangan Mama..

Sampai di LA, kami sudah dijemput Papa. Kami dibawa ke apartemen Papa di kota kecil Monterey.. Satu kota kecil yang indah, tidak terlalu ramai, bersih dan sejuk... Masa sekolah Papa tinggal 6 bulan ketika kami semua menyusul kesana, dan akan diakhiri dengan wisuda di akhir tahun. Selama 6 bulan itu, tidak mungkin saya dan adik saya (yang usia 5 tahun) tidak pergi ke sekolah. Maka saya dan adik saya didaftarkan di salah satu public school disana, yaitu Monte Vista Elementary School. Saya kelas 5 SD, dan adik saya TK. Adik bungsu saya yang berusia 3 tahun belum sekolah.

Tahun 1990. Saya yakin bagi yang usianya seangkatan dengan saya, pasti tahu bahwa, di tahun 90an, belum banyak siaran televisi menyangkut kehidupan di luar negeri. Yang sering saya tonton adalah TVRI, acara lenong bocah atau acara pramuka. Jadi ketika saya harus masuk sekolah, tanpa satu pun orang Indonesia selain saya serta dikelilingi oleh manusia-manusia aneh berambut pirang dan cokelat yang berbicara dengan bahasa yang entah dari planet mana, saya shock berat. Masuk sekolah hari pertama, sukses membuat saya pucat pasi seperti akan dihukum mati. Mereka pun aneh melihat saya. Berkulit cokelat dengan rambut hitam yang nggak nyambung diajak ngomong.

Hari-hari pertama saya di sekolah, anak-anak lain berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa tarzan. "Did you come here with an airplane?" tanya salah satunya, dengan merentangkan tangannya ke sisi tubuhnya, bergoyang-goyang seperti pesawat. Saya hanya mengangguk.

Papa memasukkan saya ke sekolah itu dengan perhitungan tentunya. Ada kelas khusus untuk murid-murid yang belum bisa berbahasa Inggris. Kelasnya diadakan periodik, beberapa kali dalam seminggu. ESL (English as Second Languange). Di kelas itu ada saya dan beberapa murid lainnya, yang seingat saya kebanyakan dari benua Eropa/ Rusia. Ada juga orang Hispanik. Semua berkulit putih.

Di masa awal saya bersekolah di sana, karena saya tidak bisa bergaul dengan teman-teman karena kendala bahasa, maka saya pun menyendiri. Saya menjelajahi lingkungan sekolah. Banyak pohon pinus tumbuh disana. Saya mengelupasi batang pohonnya, memetik daun-daunnya, mengumpulkan buahnya (atau bunganya?), menikmati harumnya... Ingatan saya saat menyendiri dan hanya punya teman pohon pinus itu begitu melekat di pikiran saya. Sampai sekarang..

Teman-teman dan guru saya di sekolah sering kasihan melihat saya. Karena keterbatasan uang yang orangtua saya miliki, orangtua saya tak mampu beli jaket untuk saya. Kami sekeluarga belanja keperluan ini itu di salah satu toko barang bekas di sekitaran komplek kampusnya Papa. Namanya saya lupa. Mungkin thrift shop. Tapi saya ingat itu toko barang bekas. Bukan barang bekas second hand lagi, tapi sudah third hand, atau hand-hand yang kesekian.. Intinya, barang-barangnya adalah bekas barang bekas. Barang bekasnya orang Amerika, alhamdulillah masih bagus, dan masih sangat layak pakai. ^_^

Mama biasa membelikan sweater buat saya dan adik-adik saya di toko itu. Dari rumah ke toko, kami biasa jalan kaki, lagi-lagi, sambil menikmati aroma pohon pinus di kanan kiri jalan. Mama pernah dapat jaket kecil seukuran adik-adik saya. Tapi mungkin yang seukuran saya ndak ada, atau kalau adapun mahal. Biarlah, adik-adik saya yang kecil lebih membutuhkan jaket daripada saya. Sehingga saat musim dingin, saya yang tidak punya jaket akan mengenakan sweater berlapis-lapis. Guru saya pernah menegur saya, "Why aren't you wearing a jacket? You can get sick!!" Saya hanya tersenyum.

Papa yang seorang mahasiswa saat itu, hanya punya uang yang sangat sedikit, biaya hidup yang cukup untuk satu orang, dari Angkatan Laut. Tidak mungkin Papa cari kerja tambahan, karena Papa harus belajar, jika nilai anjlok maka beasiswa akan dicabut. Apalagi ketika kami bertiga ikut datang kesana. Tambah berat beban yang harus Papa tanggung. Sehingga, setelah sebulan dua bulan kami tinggal di apartemen,  Papa dan Mama memutuskan pindah ke daerah pinggiran. Saya lebih senang di tempat tinggal yang baru, karena bentuknya rumah, bukan apartemen.

Lingkungan tempat tinggal kami sepi, jauh dari pusat kota Monterey. Di sekitar rumah, lagi-lagi saya menemukan berbaris-baris pohon pinus. Maka, setelah saya punya teman main di sekolah dan tidak terlalu sering lagi menjelajah halaman sekolah sendirian, saya tetap berdekatan dengan pohon pinus. Di rumah, selain kedua adik saya, saya tidak punya teman main lagi. Maka saya membuat aneka permainan sendiri dengan pohon-pohon pinus itu. Membuat "kerajinan tangan" dari daun-daun dan buah pinus yang berjatuhan menjadi agenda keseharian saya. Bukan sesuatu sih, hanya ditempeli saja di kertas gambar, membuat entah apa. Nggak jelas. Hehe....

Selain itu, Mama juga bekerja di restoran milik orang Indonesia di salah satu pusat perbelanjaan, menjadi pramusaji. Alhamdulillah, jika ada sisa-sisa makanan yang masih layak, seperti bahan-bahan makanan yang tak habis terpakai (orang di Amerika mudah sekali membuang makanan), Mama membawanya pulang untuk kami sekeluarga.. Lumayan, bisa sedikit menghemat uang belanja, meringankan beban papa...

Jika Papa sudah pulang kuliah, maka Mama berangkat kerja. Saat malam tiba, kami bersama-sama menjemput Mama. Jika masih banyak pelanggan yang harus dilayani, maka saya dan adik-adik saya bermain-main dulu disekitar pusat perbelanjaan itu. Bentuknya bukan mall, tapi sederetan kios-kios kecil, dengan pohon-pohon pinus berjajar di sekelilingnya.

Tak terasa 6 bulan kami tinggal disana. Saatnya Papa wisuda. Dan saatnya kami pulang ke Indonesia. Saat inilah yang membuat saya sering menangis jika teringat kembali. Bukan karena sedih berpisah dengan teman-teman. Tapi karena perjuangan Papa. Papa, lagi-lagi tak punya uang untuk memulangkan kami ke Indonesia. Padahal kami sudah membuka garage sale, menjual tak seberapa banyak barang yang kami punya. Tapi uang tak kunjung terkumpul juga. Maka, ada satu teman Papa yang baik hati, yang bersedia meminjamkan uangnya untuk kami. Beliau adalah teman sekelas Papa, mahasiswa Angkatan Laut dari Taiwan. Yu Chen Ko, namanya.

Saya ingat suatu ketika kami sekeluarga diajak barbecue dipinggir danau bersama teman Papa orang Taiwan itu, beserta keluarganya. Saya dan adik-adik saya bersama anak-anak Taiwan itu bermain-main di sekitaran danau yang banyak berjajar pohon pinusnya. Saya dan adik-adik saya tak mahir bahasa Inggris, begitupun mereka. Lagi-lagi kami berkomunikasi dengan bahasa tarzan. Saat pulang ke rumah, wajah Papa sumringah. "Alhamdulillah, Papa sudah dapat pinjaman untuk beli tiket kamu semua pulang ke Jakarta."

Saat kami tiba di Bandara LA, Mama saya yang membawa begitu banyak barang titipan orang-orang (serius deh, kalau sekarang saya pikir-pikir, kenapa begitu teganya menitipkan barang yang berat-berat kepada orang lain, apalagi perjalanannya lintas benua), ditegur petugas di gate masuk. Mama yang masih juga terbatas bahasa Inggrisnya, terbata-bata menjelaskan. Untungnya, Mama dibantu oleh orang Malaysia, yang jago berbahasa Inggris dan bisa memahami bahasa mama, karena sama-sama orang Melayu. Papa tak bisa bantu, karena kami berempat dahulu yang pulang. Papa belakangan, harus mengurus ini itu menyangkut sekolahnya.

Setelah mengantar kami ke Bandara, Papa pulang ke rumah. Karena mobil kami sudah dijual, mobil rental juga sudah dikembalikan, sedangkan Papa tak punya uang untuk naik bus, maka dari Bandara ke rumah Papa jalan kaki. Berjam-jam.

Papa dengan perjuangannya demi kami.. Dan terlebih Mama dengan perjuangannya membantu mencari nafkah dan menjaga kami bertiga selama belasan jam (lagi) dalam perjalanan pulang ke Indonesia... Adalah sesuatu yang akan saya ingat seumur hidup saya. Maka ketika membaca giveaway Kakaakin tentang Cerita di Balik Aroma, yang pertama kali muncul di benak saya, adalah aroma pohon pinus... ^_^

Vania dan Aira di Lembang.

Saya begitu jatuh cinta dengan pohon pinus.. Pahit manisnya hidup mungkin dirasakan kedua orangtua saya saat itu. Berusaha bertahan hidup di negeri orang. Mudah-mudahan kelak Vania dan Aira pun bisa membaca kisah kakek neneknya dalam membesarkan kami bertiga ini.. Entah apa kejutan Allah yang menanti kami di masa yang akan datang.. Apapun itu, kita harus siap, bukan?

Beberapa saat setelah Papa pulang ke Jakarta, Papa sempat sakit berat memikirkan hutang-hutangnya kepada Yu Chen Ko. Padahal Yu Chen Ko itu baik, tak menetapkan batas waktu kapan harus dibayar. Dikembalikan nanti jika sudah ada rezeki, demikian yang Papa ceritakan tentang temannya itu. Alhamdulillah, setelah sekitar dua tahun di Jakarta, Papa ditugaskan lagi ke AS, tepatnya di kota Philadephia, Pennsylvania, selama 2 tahun lamanya. Kami ikut semua. Kali ini bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai perwira penghubung TNI AL (Indonesian Liaison Officer for the US Navy). Saat itu, Papa sudah bisa mengembalikan semua hutangnya ke temannya itu. Alhamdulillah. Dan baru saat di Philadelphia itu, saya dan adik-adik saya punya jaket, yang.. semua baru!!! Yeayy!! ^_^

Setiap mencium aroma pohon pinus, maka kenangan itu seperti film yang otomatis diputar di kepala saya.. Bermula dengan kejadian meninggalnya Oma saya... Dan film pun berlanjut...

45 comments:

  1. aroma pinus yang mampu menggali kenangan thia sampai ke negeri nan jauh.. kenangan akan masa-masa sulit namun sebenarnya indah.. krn berkat masa2 sulit itu kita sekeluaga semakin kuat dan saling mencintai.

    sukses buat kontes kenangannya ya thia..

    ReplyDelete
  2. Thia ...
    One of your best post ...

    Saya suka sekali postingan ini ...
    begitu mengalir ... begitu sedih ... begitu tegar ... silih berganti ...

    dan yang membuat saya menghela nafas adalah ...
    Bukan barang bekas second hand lagi, tapi sudah third hand, atau hand-hand yang kesekian. ...

    dan juga papa harus jalan kaki berjam-jam setelah mengantar ke bandara ...

    Sebuah perjuangan yang berat

    Salam saya Thia

    (tidak bermaksud untuk mendahului juri ... namun jika saya jurinya ... maka saya akan menempatkan tulisan ini sebagai salah satu kandidat-nominasi juaranya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya Om NH.. :-)

      Delete
    2. setuju banget kali ini dengan Om Trainer...
      selamat ya Mbak....
      postingannya memang menang!!!!!!

      bagus sih... aku yang baca aja jadi ikut merasakan beratnya perjuangan, ikut mendayu dayu, ikut sedih, ikut gembira.... subhanallaaahhhh

      Delete
    3. Betul prediksi saya ...

      Selamat untuk Bunda Vania

      Salam saya

      Delete
  3. Pindah kesini yuk, banyak jajaran pohon pinus di sini.
    Di halaman rumah juga ada 1 pohon pinus yang saya awet2 ngga boleh di tebang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. enak ya teh tinggal di Parongpong mah.. adem.. banyak pohon pinusnya.. hihihi..

      Delete
  4. heummmm,kl inget pohon pinus inget d Malang dulu..ademmmm,jd pgn kemping mbk hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. bau pohon pinus itu identik dengan bau gunung ya miss Hanna.. jd kangen masa kuliah dulu.. :-D

      Delete
  5. suka postingan ini..

    sukses ya mbak GA-nya..

    ReplyDelete
  6. Haru Mba bacanya....berasa perjuangan Mba sekeluarga disana...
    Btw didepok dulu masih ada loh pohon pinus...dulu saya suka rute jalanan itu...serasa di puncak...tapi sekarang tentu saja tidak lagi, sudah dibangun perumahan :( sedihnya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. depok skrg udah panas yah Des.. hihihi..

      Delete
  7. mengharukan kisah keluarga ini ya..
    tapi mungkin hikmahnya semua jadi tambah dekat satu sama lain ya ..
    keren sekali tulisan in thia

    ReplyDelete
    Replies
    1. insya Allah, Bunda...
      makasih apresiasinya Bun..

      Delete
  8. Waow, seperti biasa setiap ikutan GA, Mbak Thia selalu menyajikan tulisan yang sangat berkesan. Saya jadi ingat waktu saya ngadakan GA dulu dan Mbak Thia pemenangnya. Itu karena tulisannya mengalir dan memberikan inspirasi pada siapa saja yang membacanya.
    Dan di tulisan ini, saya merasakan banyak hal atas aroma pinus yang membawa banyak hal dalam perjalanan hidp manusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan yg mengingatkan bahwa perjuangan orang tua dan jasa2nya takkan hilang ditelan waktu, dan menjadi inspirasi sekaligus peneguh dlm menjalani kehidupan ...

      Delete
    2. makasih atas apresiasinya, PakIes... saya juga hanya menuliskan apa adanya pak... alhamdulillah jika bermanfaat utk sesama... semoga berkah utk kita semua ya Pak.. amin o:)

      Delete
    3. terima kasih juga apresiasinya mas Anton.. semoga bisa bermanfaat o:)

      Delete
  9. Waw..bagus bgt postingan aroma Pinusnya Bunda..jadi terharu deh...

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah.. itulah hikmah dibalik pengalaman hidup yang dikatakan sengsara ya mbak Thia. Justru sekarang kita akan tersenyum saat mengingat kembali masa lalu kita. Semua tinggal bagaiamana cara kita mensuykuri semua nikmat yang saat ini kita terima.

    ah andai saya juri, mungkin artikel akan saya pilih menjadi salah satu pemenangnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap yang terjadi, pasti ada hikmahnya yah Uncle Lozz.. susah senang dinikmati saja.. Hidup cuma sebentar ya kan.. :-D

      makasih apresiasinya Uncle :-)

      Delete
  11. Mewek bacanya...masyallah perjuangan orangtua yah...
    cerita masa lalu jadi kenangan indah..terutama cerita kenangan tentang aroma pohon pinus..hmmm jadi ingat hutan pohon pinus di gunung wilis kota kelahiran saya..:)
    sukses kontesnya mbak thia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti mama Kinan punya kenangan manis juga dengan pohon pinus, ya kan.. :-)

      Makasih mama Kinan.. :-D

      Delete
  12. aaaah baguuus ceritanyaa :D bisa segitunya ya memori, sedikit pemicu mengalir deh ceritanya :) yang saya ingat dari pohon pinus ya di suatu malam saat sedang pelatihan kepecintaalaman, pohon pinus membantu membesarkan api dari lilin kami yang ditaruh di celah batangnya, karena pohon pinus mengandung gas (atau semacamnya, zat mungkin hhehhe) yang mudah terbakar.
    apa kabar tante Lyli :D blognya gg update ternyata pindah #kemanaa aja akuuu :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah Tiaraaa... maafkan aku blm menyapa blogmu... nanti aku kesana ya.. insya ALlah...

      pohon pinus itu identik dengan gunung.. dekat dgn pecinta alam yah Tiara.. makasih nih infonya ttg pohon pinus, jadi nambah pengetahuan saya, Tiara.. :-D

      Delete
  13. Perjalanan hidup yang sarat akan kenangan yg tdk bisa dilupkan ya...

    ReplyDelete
  14. waduh ceritanya bener2 mengharu biru, nih, Mbak. Suka sy bacanya :)

    ReplyDelete
  15. hi mba,....

    tulisannya mengharu biru.. bikin aku mewek pagi2 di kantor..

    perjuangan seorang ayah.. subhanallah..

    ReplyDelete
  16. Mbakkkkk, arom apohon pinusnya ..saya malah belum pernah tahu aromanya. Pdhl saya kan bukan org kota, malah O'on gak tahu aroma pinus


    #feeling bakalan menang neh

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau Ririe aroma padi deh pasti ya nggak? aku juga suka aroma padi... Apa aroma sawah ya? Pokoknya aku jg suka nongkrong di sawah.. hehehe...

      Delete
  17. Hmm..awalnya saya baca terputus², karena saya meng-korupsi waktu di kantor, hehe. Tapi setelah saya baca lagi dari awal pada jam istirahat, subhanallah, seandainya kisah perjuangan Eyang Kakung Vania dan keluarga saat itu di filmkan pasti akan lebih bagus lagi.

    Saya mengamini semoga kelak Vania dan Aira membaca postingan ini. Pasti mereka kan bangga dengan kegigihan keluarga Mbka Thia dalam berthan hidup di negeri orang dan lika likunya

    Terima kasih partisipasinya, Mbak, sudah tercatat sebagai panitia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... ngakak nih baca komen kang sofyan. "Sudah tercatat sebagai panitia"
      Maaf ya, Mbak. Kangjur-nya sambil ngerjain laporan palingan. Hehe...

      Delete
    2. Hahaha...salah ketik :))

      Delete
    3. asik jadi panitia... ahaha...

      Delete
  18. Sepertinya di Samarinda jarang ada pohon pinus. Tapi di daerah pantai di Balikpapan, ada banyak pohon pinus. Saya lupa bagaimana aromanya, karena keasyikan min di pantai. Hehe...

    Terima kasih sudah ikutan GA Cerita di Balik Aroma ya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin pinus gunung sama pinus pantai beda kali yah Kak.. aku belum pernah nemu pinus di pantai... ah sapa tau ntar kapan2 bisa ke Balikpapan.. main2 di pantainya hehe..

      makasih jg Kak.. :-D

      Delete
  19. Kisah yang sangat menyentuh, Mbak. Saya juga suka aroma pohon-pohonan dan dauan2. Makanya kami agak berat bila harus pindah dari kompleks tepat tinggal sekarang. Masjidnya nyaman, tanahnya luas dengan puluhan pohon pinus dan cemara. Sangat seru memandangi daun-daun serta batang pohonnya pas abis shalat. Apalagi pas Ramadan, atmosfernya luar biasa. Makasih telah berbagi kenangan indah ini. Memang layak sebagai pemenang. salam dari Kota Hujan :)

    ReplyDelete
  20. Keren Tiaaaa, saya sampe larut dalam cerita ini!
    Perjuangan papa dan mamanya Tia begitu luar biasa, di negeri orang pula...duh, nggak kebayang deh kalo saya yang harus melakukannya...
    Salam hormat dan salut saya buat mereka ya, Tia :)

    ReplyDelete
  21. jadi terharu dengan aromanya. ^_^

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)