Tuesday, April 16, 2013

Pentol Korek Api

Jika berbicara tentang korek api, ada dua kejadian yang membekas di ingatan saya.. :-D

Yang pertama... Akhir Maret kemarin, saya berkesempatan mengikuti training ESQ yang tahap tiga, yaitu ESQ Self Controlling and Strategic Collaboration.

Pada tahap ini dimaksudkan untuk mendalami makna dari Rukun Islam yang ketiga (puasa) dan keempat (zakat). Tentu kita semua sudah paham apa makna dari puasa dan zakat untuk kehidupan kita sehari-hari. Puasa, adalah untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak baik. Sedangkan zakat adalah persiapan bekal kita di hari akhir nanti, dengan strategi yang matang.

Pada sesi pembahasan mengenai Self Controlling (puasa), ada satu perumpamaan yang sangat berkesan bagi saya.. Yaitu, analogi pentol korek api.

Iyaaa... Pentol korek api... Mari kita pikir sejenak, apa bedanya pentol korek dengan kepala kita..?

Tentu saja tak ada satu pun manusia yang rela kepalanya disamakan dengan pentol korek bukan? :-D

Tapi jika saya melihat aneka berita di televisi...
Senggol sedikit?!?! BACOK!!
Tersinggung sedikit?!?! BAKAR!!
Lewat batas sedikit?!?! TEMBAK!!

Mirip nggak ya? Dengan pentol korek api.. Yang digesek sedikit, dia langsung terbakar..???

Pinjam dari sini.

Tapi ndak usahlah kita melihat orang lain. Apalagi meneliti kesalahan orang lain... Satu demi satu... Coba kita bercermin dulu... Sudahkah kepala kita benar-benar berbeda dari sekedar pentol korek api?

Fast track!

Bertindak secepat kilat tanpa dipikir. Rasanya saya pun demikian...Cepat tersinggung... Cepat marah... Ah, betapa hinanya diri saya ini...

Mungkin fast track dibutuhkan jika kita melihat bahaya. Misalkan, gempa bumi, ular berbisa, tsunami.. Jika menemui hal-hal seperti ini memang baiknya ndak usah dipikir, lekas saja bertindak sesuai insting untuk menyelamatkan diri.. Ya kan? :-D

Tapi jika berhadapan dengan makhluk Allah lainnya yang bernama manusia.. Seharusnya kepala kita yang bukan sekedar pentol korek api, digunakan untuk berpikir, karena Allah sudah memberi kita akal toh?

Jika ada sebuah mobil menyalip di depan kita dengan gaya ugal-ugalan, tentunya yang sering saya lihat (keluarga saya sendiri bahkan), akan mengklakson mobil tersebut dengan emosi yang terbakar, bahkan terkadang disertai dengan sumpah serapah. Tapi kita kan ndak tau ya, apa yang ada di dalam mobil tersebut. Bisa jadi dia mengantar orang yang sedang sekarat. Wallahu'alam.

Begitu pula saya, yang juga sering fast track di rumah, apalagi jika saya sedang terburu-buru kemudian Vania menangis meraung-raung yang entah-karena-apa. Duluuu, saya pernah membentak. Walaupun sekarang sudah tidak, tapi jika suara tangisan yang tak jelas sebabnya itu masuk ke telinga saya, rasanya mau putus saraf ini.

Tapi sekali lagi harus saya ingatkan diri saya sendiri, untuk tidak menjadi seperti pentol korek api. Tentu saja saya harus menghadapi Vania dengan kepala dingin.. Hmm.. Ambil air segayung, siram ke kepala..  Atau bisa juga dengan cara yang lebih elegan... Berwudhu. :-D

Pinjam dari sini.

Kejadian kedua yang mengingatkan saya kepada pentol korek api, adalah waktu saya menjalani masa Ospek (Orientasi pengenalan kampus).

Suatu pagi, kami para mahasiswa baru, diberikan masing-masing satu kotak korek api, seperti gambar yang di atas itu. Kami diberi instruksi untuk menghapal tulisan yang tertulis di kotak tersebut. Jonkopings Tandsticksfabriks Patent... dan seterusnya... Kemudian siang hari setelah istirahat makan siang kami akan ditagih hapalannya, begitu instruksi awalnya.

Sulit ya buat saya (dan teman-teman), melakukan sesuatu yang absurd seperti itu. :-D
Tapi saya paham sih maksudnya kakak kelas kami, mungkin agar kami terbiasa menghapal banyak dengan waktu terbatas dan dalam kondisi di bawah tekanan. Setelah kami mempersiapkan hapalan, ternyata siang hari itu agendanya beda..

Kami digiring masuk ke kamar mayat RSCM dengan mata tertutup. Tentu saja ini horror bagi sebagian besar dari kami. Satu per satu kami disuruh pegang-pegang sesuatu (yang katanya sih mayat, tapi masih hangat), dan juga pegang-pegang tulang belulang. Kemudian setelah berputar-putar dalam ruangan berbau formalin selama beberapa saat, kami dengan mata masih ditutup digiring lagi entah kemana. Sepertinya keluar ruangan.

Ketika satu per satu kami diperintahkan untuk membuka penutup mata, ternyata ada seorang kakak kelas di depan kami yang tiba-tiba berteriak, "Haaaa!!!!"

Hal itu menyebabkan (pengalaman saya sih), jantung saya nyaris copot. Lalu saya  langsung dibentak, "Mana hapalannya?!?!?! Manaaa?!?! Cepat!!! Cepat!!!"

Kata-kata aneh di kotak korek api tadi yang sudah saya hapal.. Buyar semua. :-D

Anyway, cerita kotak korek api jaman kuliah itu hanya intermezo sedikit dari apa yang ingin saya tulis disini... :-D

Tapi ya, jika saya bisa menyambungkan maknanya... Hmm.. Coba perhatikan ketika ospek berlangsung.. Perhatikan para kakak kelas itu yang berteriak-teriak memarahi adek-adek kelasnya, sampai otot leher mereka jelas terlihat... Wahai kalian para kakak kelas yang suka marah-marah, saya mau tanya.. Kepala kalian itu ada otaknya, atau hanya sebatas pentol korek api saja? :-D

Baiklah... Rasanya ini adalah catatan saya sendiri sebagai pengingat diri sendiri... Jika bermanfaat buat yang lain, ya alhamdulillah... Semua yang benar dari Allah datangnya.. Yang salah dari saya.. Mohon dimaafkan ya jika ada kata-kata yang kurang berkenan (halah kayak apaan aja ya?) :-D

Rasulullah bersabda "Kemarahan itu itu dari setan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah" (H.R. Abu Dawud).
 Dalam sebuah hadis dikatakan, "Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah" (HR Ahmad).
"Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)." (HR Tirmidzi).

28 comments:

  1. Hmm kayaknya saya sering mbak melakukan aksi fast track yang membuat semua jadi berantakan hehe

    Diam dan berpikir sejenak memang perlu agar kita bisa berpikir secara jernih ya mbak..

    matur nuwun untuk artikel yang begitu gurih hari ini mbak Thia

    ReplyDelete
  2. mba Thia, aku kepengen nangis baca tulisan ini, aku juga sering terbakar emosinya bahkan pada hal2 yg sebenarnya kecil, dan biasanya penyesalan tiada henti sesudahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Rinaaa... saya sendiri juga sangat membutuhkan orang2 disekitar saya, entah keluarga maupun sahabat yang akan selalu mengingatkan saya utk calm down...

      Manajemen emosi, bagi saya, adalah salah satu ilmu yang mudah dipahami namun sulit diimplementasikan..

      tapi memang jalan yang benar itu penuh duri bukan?

      Delete
  3. Dalam Al-Qur'an juga ada Kak, "wanahan nasfi 'anil hawa"

    Nafsu amarah itu adalah watak yang diberikan oleh_Nya, manusia harus bisa me-manage dan mengendalikannya :)

    Sip, Kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marah yang diperbolehkan hanya marah atas nama agama dan dalam membela agama ya, Kang Sofyan? correct me if i'm wrong...

      Delete
  4. hehehee.. iya Mbak...
    ketika denger Dija nangis gak jelas, aku juga gampang tersulut. aku seperti pentol korek api

    ReplyDelete
    Replies
    1. anak-anak memang sering bikin qta fast track mbak... tapi abis marah nyeselnya lebih sakit drpd rasa marahnya itu tadi.. :-(

      Delete
  5. Dhe juga sepertgi pentol korek api mba, kadang-kadang suka cepat sx tersulut oleh rekan kerja yang ngeselin, atau tetangga yang berantam terus. Dengan postingan ini bisa jadi pembelajaran diri buat Dhe, akan Dhe pampang hadist di atas di papan catatan di rumah. makasihhh mba Thia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2, Dhe... qta saling mengingatkan yah Dhe... ingatkan sy klo sy sedang khilaf.. ^_^

      Delete
  6. Artikel yg menarik, thanks untuk infonya
    Terima asih atas infromasi yang sdah disampaikan sangat menarik sekali gan !
    ditunggu ja kunjungan bailknya

    ReplyDelete
  7. Wah menarik banget...
    Jadi introspeksi nih, suka dikit dikit tersinggung je :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sy jg Una... memang sulit ya... mgkn apa sy harus bawa pentol korek ya kemana2 supaya ingat ndak cepat marah... hihihi... ^_^

      Delete
  8. Huaaa saya juga masih pentol korek mbak apalagi menghadapi 3 krucil yang setiap harinya heboh semua. Membuat tanduk di kepala saya sering tumbuh (kalo sudah sadar, tanduknya masuk lagi).

    Hiks ...

    Perlu sering2 istighfar dan dzikir ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya yang satu saja suka kewalahan, apalagi tiga yah mbak..
      hihi.. saya yakin karena Allah sudah memberikan hadiah itu sama mbak Niar, pasti mbak Niar yakin mampu mengatasi apapun tanpa jadi pentol korek.. :-D

      *mengingatkan diri sendiri*

      Delete
  9. Saya sekali dengan artikel penuh makna ini.
    Pak Joko (mantan Dirkersin yang saya gantikan) pernah bercerita bahwa seorang anak berkata kepada mamanya:" Kalau mama yang antar sekolah, orang2 kok tampak baik-baik ya. Tapi kalau papa yang antar banyak benar manusia yang jahat" Mendengar kata anaknya sang mama bertanya:"Kok bisa begitu" Si anak dengan kalem menjawab:" Lha iya, papa suka berteriak.."babi loe"..."setan nyabrang seenaknya", hei monyet,edan kowe"...

    Puasa memang bisa menjadikan sabar dan bisa mengendalikan diri. Jika hal ini sudah menjadi karakter maka akan bagus dampaknya.

    Kalau lampu mati umumnya kita berteriak:"Yaaaaa" Begitu menyala lagi rame-rame bilang:"Hlaaaaaaaa". Kemana ya ucapan"Alhamdulillah" nya?

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. haduh mengerikan Pakde sumpah serapah itu.. x_x
      saya harus berpikir keras kalau Vania tanya kenapa ada orang bilang orang lain dengan sebutan binatang2 itu.. :-(

      mudah2an qta sama2 berjuang menteladani Rasulullah yg ndak pernah marah ya Pakde.. Amiiin..

      Makasih Pakde.. :-)

      Delete
  10. Kalo pas pentol korek tersiram air atau mlempem (bahasa planet) kan sulit menyala mbak,, heheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeeeiii... kalo itu sy jg ndak mau..
      ndak mau jd orang yg melempem...

      hehehe.. :-)

      Delete
  11. bagus sekali perumpamaan pentol korek api dengan kepala kita,dan memang manusia sering berlaku seperti itu. Kalau aku nyetir dan disalip orang yang buru-buru, aku selalu bilang, "Ngga papa, kasian dia kebelet pipis" :D dan berusaha sabar.
    Makanya perlu sekali mendinginkan kepala jika berada dalam situasi begitu ya. Jangan buru-buru bertindak. Tenang tapi penuh perhitungan. Semoga kita bisa menjadi spt itu

    ReplyDelete
  12. Saya ini jelas pentol korek api. Gampang tersulut sama yang menurut saya kelewatan. Tapi juga gampang surut.... biasanya saya tergantung mood sih. Yang penting harus kenyang. Kalau enggak, gampang marah hahaa...

    ReplyDelete
  13. kalau ini, sy sering istighfar bunda...dan membaca surah lainnya yang saya pahami. memang terasa dingin dan tentram dirasakan ketika kondisi marah kemudian ingat dan membacanya.

    ReplyDelete
  14. Aq kalo marah diam dan bisa ditahan sih Mbak, tapi jatohnya jd sediiiiih bgt (krn -entah kenapa- ga bisa marah) dan kemudian nangis deh *halah* hahahaha

    Jadi kepengen ikutan training ESQ..

    ReplyDelete
  15. emank kemarahan ini bisa diibaratkan penthol korek yah, kena gesekan dikit bisa langsung membara kayak penthol korek tapi untungnya kepala manusia ini bukan untuk kemaraha thok juga bisa digunakan berpikir tapi jikalau ane sedang marah pasti barang-barang didekatnya bisa hancur semua alias pada di banting hehehehe emang emosi ini sangatlah susah untuk di kontrol yang paling tepat adalah dengan berpuasa tadi

    ReplyDelete
  16. sering juga sih mbk,tp kl dah selesai suka nyesal juga kadang..mungkin itu ya dampaknya buru2...
    al ajallatu minassyaithonnnn... :D

    ReplyDelete
  17. kalo melihat aneka pemberitaan di tipi, rasanya banyak orang yang kepalanya terisi obat pentol korek yang gampang terbakar mengumbar amarah, bentrok, saling bunuh saling caci, saya seringkali mengelus dada menyaksikan seperti itu.
    Padahal, seharusnya semakin dewasa semakin memahami makna pengendalian diri, berpikir sebelum bertindak. Maka sangat tepat Al Qu'an mengajarkan untuk bersabar dan sholat sebagai penolong

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)