Monday, December 16, 2013

Melihat Permasalahan Dari Dua Sisi

Sudah dua bulan lebih saya tidak menyambangi blog ini.. *bersih-bersih debu yang menumpuk*
Fuih...

Alasannya, ah tidak usah pakai alasan mungkin ya...?
Saya hanya sedang asyik menikmati hidup saya yang sekarang, sampai-sampai saya hampir melupakan blog kesayangan saya serta teman-teman blogger yang sudah menemani saya dalam suka dan duka... Hiks.. Maafkan..

Akhir-akhir ini... Ada satu hal yang cukup menganggu bagi saya... 
Bukan mau curcol, namun justru sebaliknya...
Saya ingin mengajak sahabat semua untuk melihat semua permasalahan dari dua sisi..

Mungkin sebagian sahabat blogger saya sudah mengetahui bahwa saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana di jurusan Magister Manajemen Rumahsakit UGM, di Jakarta.

Masalah yang kami hadapi adalah, jadwal yang selalu tentatif..
Kami sebagai mahasiswa Jakarta berusaha memaklumi, dikarenakan hampir semua dosen berdomisili di Yogyakarta, jadwal kuliah Jakarta bisa sewaktu-waktu berubah. Kadang sudah ada jadwal kuliah namun tiba-tiba batal. Kadang yang tadinya jadwal kosong tiba-tiba bisa jadi ada kuliah.

Saya sebagai sekretaris kelas, kadang merasa bersalah... Apalagi jika yang tadinya jadwal kosong kemudian tiba-tiba ada kuliah. Bukan apa-apa, sebagian teman sekelas saya banyak yang sudah sepuh, dan beberapa beliau-beliau ini adalah direktur/ direktris rumahsakit yang sibuknya di luar nalar. Suatu kali saya pernah mendapat keluhan dari beliau-beliau, karena yang bersangkutan sudah sudah membeli tiket ke luar kota sedangkan tiba-tiba ada jadwal kuliah..

Baiklah. Tapi tidak apa. Selama perubahan masih H-1, kami mahasiswa masih memaklumi.

Kejadian yang baru saja terjadi dua hari kemarin adalah yang terparah.
Jadwal kuliah adalah hari Jum'at 13 Desember 2013, pukul 14:00 WIB.

Pukul 13:00 WIB. Saya sudah siap berangkat, ketika admin MMR UGM Jakarta mengkontak saya untuk mengabarkan ke mahasiswa lainnya, bahwa kuliah dibatalkan.

WHAAAT?!?!

Oke... Tarik nafas dulu. Kuliah dibatalkan 1 jam sebelumnya.

Sedangkan teman-teman saya berdatangan dari segala penjuru JaBoDeTaBek. Menembus macetnya Jakarta yang luar biasa...

Bete?! Oooh sangat...  

Dan mereka bertubi-tubi memenuhi timeline grup di blackberry dan whatsapp dengan berbagai keluhan... Tapi alhamdulillah pada akhirnya kami saling menyemangati untuk sabar dan tabah...

Beberapa dari kami, termasuk saya, akhirnya tetap ke kampus tanpa pulang balik. Kami belajar bareng dan diskusi. Nah, tidak sia-sia juga kan...?

gambar pinjam dari sini

Baiklah... Mari kita melihat permasalahan dari kedua sisi...

Yang akan mengisi kuliah kami Jum'at siang itu adalah direktur salah satu rumahsakit besar di Jakarta. Saya mendapat kabar dari seorang teman dekat saya, bahwa rumahsakit itu sedang mengalami permasalahan yang cukup pelik. Adalah Pak Giman, salah satu admin MMR UGM Jakarta yang akhirnya mengatakan kepada kami, dosennya sampai-sampai hampir menangis karena menyesal tidak bisa datang mengajar hari itu...

Nggak perlu mengeluh dan complain tidak karuan, kan?

Coba kita menaruh diri kita di posisi si dosen... Hmm..

Dan kalau saya bisa mengambil hikmah yang lebih besar lagi...

Memang MMR UGM, khususnya yang Jakarta, dosen sering tidak masuk dan jadwal kuliah sering tidak jelas. Kedengaran seperti reputasi yang kurang baik ya...?

Tapi coba ditilik dari sisi lain... Bahwa memang dosen MMR UGM adalah orang-orang hebat yang luar biasa sibuk... Dan coba tebak, betapa beruntungnya kita yang bisa dapat kesempatan menuntut ilmu dari mereka..? Insya Allah... Yang penting berusaha saja... :-)

gambar pinjam dari sini

Hal kedua yang ingin saya ceritakan...

Setelah perceraian, saya menjadi sosok yang sangat sensitif. Saya sempat merasa rendah diri. Saya pun trauma terhadap sosok laki-laki. Apalagi, mereka yang sudah pernah menikah kemudian bercerai. Dalam pikiran saya, pastilah si istri yang jadi korban, dan pada setiap perceraian, yang salah sudah pasti suaminya. Seperti kasus saya sendiri.

Jangankan untuk tujuan menikah, berteman pun mungkin saya enggan dengan mereka yang berstatus duda...

Tapi, tunggu dulu...

Sebelumnya, ingin sekali saya menuliskan ini... Mengingatkan diri sendiri dan kita semua.. Bahwa Allah Maha Mendengar... Allah lebih dekat dari urat nadi, dan kesedihan sekecil apapun, Allah pasti tau...

Perkenalan saya dengan seorang duda bermula saat Idul Adha kemarin.

Seperti kita semua tahu, setiap selesai sholat Ied, ada khotbah. Pak ustad yang berceramah saat itu mengatakan bahwa... "Wanita yang tidak punya suami itu tidak punya harga diri. Tidak punya tempat untuk berbakti."

Saya yang duduk mendengarkan langsung terdiam. Sekujur tubuh saya kaku. Hati saya sakiiitttt sekali... Ingin saya berteriak... "Wahai pak ustad, bagaimana dengan takdir saya...? Saya dulu punya suami yang kemudian saya gugat! Apakah itu menjadikan saya wanita rendahan..? Tidak punya harga diri...?"

Astaghfirullah...

Saya berjalan pulang, dan selama di perjalanan air mata saya tak terbendung. Orangtua saya hanya bisa memaklumi, dan membesarkan hati saya, bahwa seorang ustad bisa saja salah bicara..

Saya kemudian curhat di grup blackberry di antara teman-teman dekat saya semasa kuliah di FKG dulu.. Semua menyatakan bahwa perkataan pak ustad tidak ada dalilnya... Dan di tengah kegalauan saya, saat itulah (kalau saya melihat ke belakang)... Allah menjawab beribu pertanyaan dan keraguan saya...

Salah seorang teman baik saya di grup blackberry tersebut langsung japri ke saya... "Li... Lo sekarang lagi single? Mau nggak gue kenalin ke kakak gue? Kakak gue juga divorce.."

Dalam hati... Saya langsung ciut... Hah?! Duda dong...? Gimana nolaknya ya...?

Tapi hati kecil saya berbisik, jangan dulu berprasangka...

Setelah cerita banyak, saya pun paham... Bahwa tidak selalu pihak suami yang salah saat perceraian terjadi.. Bermula dari situ, kami berkenalan...

Lupakan saja tentang persepsi pribadi yang negatif dan berusaha melihat setiap permasalahan dari kedua sisi, secara objektif, dan tentu saja positif... 

Coba saja kalau saya memelihara pikiran picik saya... Mungkin saya tidak akan pernah berkenalan dengan duda baik hati yang telah menjadi sahabat baik saya saat ini... 

Bahkan, Vania pun sudah mulai suka bermain dengannya... 

Saya ambil positifnya dari persahabatan kami... Dengan saling tukar pikiran dan pengalaman, saya merasa bisa lebih memahami permasalahan rumah tangga, dan tentu saja mengikis sedikit demi sedikit rasa trauma saya... 

gambar pinjam dari sini

Entah bagaimana rencana Allah ke depan... Saya pasrahkan semua kepada-Nya...

Yang jelas, untuk saat ini... Saya menikmati persahabatan kami... Insya Allah, alhamdulillah...

Apa kabar sahabat blogger semua..? Bismillah.. Mulai bewe satu per satu aaah... Kangeeen.. ^_^

Wednesday, October 9, 2013

Memilih Lokasi Rumah

Berbicara tentang pemilihan lokasi rumah, keluarga kami punya pengalaman yang cukup unik. Saat ini, kami tinggal di sebuah perumahan di daerah Jakarta Timur. Sebelumnya keluarga kami tinggal di sebuah komplek Angkatan Laut di daerah Jakarta Selatan. Kami pindah ke perumahan umum dikarenakan Papa saya pensiun. Memiliki rumah sendiri yang bersertifikat hak milik menjadi tujuan kami saat kami akan pindah dulu.

Setelah keluarga kami pindah ke rumah baru yang baru dibangun, saat itu usia Vania sekitar 3 tahun. Meninggalkan rumah tempat Papa tinggal selama 50 tahun lebih, membuat kami sedih tak terkira. Papa mendokumentasikan seluruh sudut rumah, serta lingkungan tempat kami tinggal, setiap jalan, gang serta tikungan. Lucunya, Vania tiba-tiba menangis histeris saat kami semua meninggalkan rumah tempat saya dibesarkan itu. Anak batita, bagaimana ia bisa mengerti bahwa sebuah rumah bukan hanya tempat kita tinggal? Tapi sebuah rumah juga tempat dimana hati kita tinggal.

Dalam memilih lokasi rumah, setiap keluarga tentu saja memiliki kriteria masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Untuk kami pribadi, kami memilih lokasi yang masih banyak terdapat pepohonan, asri dan sejuk. Keluarga kami juga ingin mendesain sendiri eksterior serta interior rumah, oleh karena itu kami sekeluarga sepakat untuk mencari kaveling yang bersertifikat hak milik, sehingga kami pun dapat membangun rumah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kami. 


Kondisi lingkungan yang asri dan sejuk dengan pepohonan adalah syarat pertama kami dalam mencari lokasi rumah. Kesegaran udara menjadi tujuan kami demi kesehatan seluruh anggota keluarga.

Hal kedua yang kami pertimbangkan dalam memilih kaveling untuk membangun rumah, adalah akses jalan. Tentu saja, walau sejuk dan asri tapi akses ke jalan raya sulit, berliku-liku dan tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan,  hal ini akan merugikan penghuni perumahan tersebut. Syukurlah kami mendapat kaveling di sebuah perumahan yang letaknya dekat dengan pintu tol, sehingga memudahkan bagi aktivitas kami sekeluarga.

Ketiga, yang jadi pertimbangan kami adalah tersedianya air bersih. Hal ini berkaitan dengan poin pertama. Lingkungan yang asri dan sejuk karena banyaknya pepohonan biasanya memiliki air tanah yang berlimpah. Tentu saja pemeriksaan air tanah di laboraturium tetap kami lakukan demi kesehatan seluruh anggota keluarga.

Hal keempat yang menjadi pertimbangan adalah warga sekitar. Pada beberapa kasus, pembelian kaveling tidak sama dengan pembelian unit rumah di dalam cluster/ real estate. Dalam sebuah cluster/ real estate hampir dapat dipastikan semua warga adalah pendatang baru. Di perumahan saya, ada mereka yang kami sebut sebagai warga asli. Membangun hubungan antar tetangga yang baik terutama dengan warga asli akan sangat membantu kenyamanan tempat tinggal kita secara jangka panjang. Konflik sekecil apapun dapat mengakibatkan dampak negatif.

Kelima, tentu saja kebersihan lingkungan sekitar. Masih berkaitan dengan poin nomor empat. Tetangga kami ada yang merupakan warga asli. Kita tentu tidak akan "didengar" oleh mereka yang "menguasai wilayah" jika kita menolak adanya pemeliharaan hewan ternak seperti kambing, ayam atau kelinci. Pemeliharaan hewan ternak tentu saja berdampak kurang baik bagi sebuah lingkungan tempat tinggal, apalagi jika kotoran hewan ternak tersebut berceceran di jalan. Hal ini dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit infeksi saluran pernafasan atas.

Keenam, yang menjadi pertimbangan kami berikutnya adalah masalah keamanan. Hal ini dapat diketahui dari menggali informasi tentang reputasi dari lokasi yang akan dituju. Kerjasama antar warga untuk membangun pos satpam serta menggaji satpam adalah hal yang baik untuk dilakukan.

Seperti yang saya tulis di atas, sebuah rumah bukan hanya sebuah tempat tinggal, namun juga sebuah tempat dimana hati kita berada. Kenyamanan dan keamanan jangka panjang adalah sesuatu yang mutlak. Lebih baik mempertimbangkan segala hal dimuka daripada menyesal di kemudian hari. ^_^

Wednesday, September 11, 2013

Jalan-jalan Jogja dan Sekitarnya

Alhamdulillah akhirnya Bunda Vania menyempatkan juga meng-update blog Vania yang sudah lama terbengkalai ini. Hahaha..

Walau selama di Jogja kami tidak menyediakan waktu khusus untuk jalan-jalan, tapi kalau di Jogja nggak jalan-jalan rasanya pasti ada yang kurang.. Hehehe... Selain Malioboro dan aneka toko oleh-oleh, kami juga mengunjungi rumah saudara kami di Magelang, pabrik cokelat Monggo, serta Taman Pintar.

Magelang.

Saya dan Vania suka sekali jalan-jalan ke rumah saudara kami di Magelang. Masih banyak sawah.. Hijau, teduh, asri... Apalagi banyak sekali kupu-kupu di sini.. Surga buat Vania.. :-D

Di lain hari, saat Bunda tak ada jadwal kuliah, sepulang sekolah Vania, kami menyempatkan beli oleh-oleh di pabrik Cokelat Monggo. Lokasinya yang berada di Kotagede cukup dekat dengan penginapan kami di daerah Bintaran Kidul. Namun letak persisnya pabrik Cokelat Monggo ini yang lumayan bikin mumet ternyata. Masuk ke dalam perumahan warga, untung saja ada seorang penduduk yang sangat baik hati mengantarkan kami sampai ke tujuan dengan motornya.. :-D


Hari Jum'at, hari terakhir Vania sekolah di Jogja, sepulang sekolah kami menyempatkan ke Taman Pintar Yogyakarta. Dalamnya mirip dengan PP IPTEK yang di TMII. Tapi, menurut Bunda Vania, Taman Pintar lebih menyenangkan dan alat peraganya lebih banyak... Vania senang sekali.. ^_^

 

Masuk ke Taman Pintar yang terletak di Jl. Panembahan Senopati, Yogyakarta ini, HTM-nya adalah Rp.15.000,- per orang dewasa dan Rp.8.000,- per anak-anak. Buka jam 09:00 WIB dan tutup jam 16:00 WIB (Selasa - Minggu). Ini khusus untuk tiket terusan tour di Gedung Memorabilia, Gedung Oval dan Gedung Kotak. Ada taman khusus anak-anak usia 2-7 tahun yang HTM-nya hanya Rp.2.000,- dengan seorang pendamping di dalamnya, karena orangtua dilarang masuk. Sayangnya, Vania kurang tertarik dengan wahana satu itu.. :-D

Gedung Memorabilia.

Di Gedung Memorabilia terdapat sejarah raja-raja di Indonesia, beserta presiden RI dari yang pertama sampai saat ini.. Penjelasan tersedia di layar touchscreen yang cukup menarik untuk anak-anak.


Dari Gedung Memorabilia, lanjut ke Gedung Oval. Disini terdapat aquarium air tawar.. Dan di ujung lorong aquarium di sebelah sana, terdapat Zona Kehidupan Purba. Naaah, Vania takutttt, ndak mau masuk... Apa sebab? 

Opa dan dinosaurus.

Ada dinosaurus! Hahaha...!
Dinosaurus yang lebih besar daripada manusia dan bergigi tajam ini, ternyata bisa bergerak-gerak dan mengeluarkan suara yang bagi Bunda pun cukup mengejutkan. Akhirnya Vania Bunda gendong melewati Zona Kehidupan Purba ini.. Hahahaa...

Setelah Zona Kehidupan Purba ini, terdapat ruangan berbentuk Oval dengan aneka alat peraga beserta ilmuwannya. Cukup menyenangkan, walaupun ada beberapa alat peraga yang tak bekerja dengan baik. Naik ke atas Gedung Oval, kami menuju ke Gedung Kotak. Disana juga banyak terdapat alat peraga yang menyenangkan buat anak-anak...


Sampai capek kami keliling-keliling, tapi sepertinya Vania belum puas juga.. Hihihi..
Sepertinya kami harus kesana lagi kalau ada kesempatan ke Jogja.. Insya Allah..
Dan pastinya Bunda Vania juga mupeng sama beberapa tempat wisata setelah mbaca ceritanya DzakyFaiRaffa, hehehe...

Hmm... Tempat liburan apa nih yang paling berkesan buat teman-teman akhir-akhir ini? :-D

Yogyakarta

Duh.. Kangennya diri saya dengan aktifitas ngeblog.. ^_^
Selain (lagi-lagi) masalah koneksi dan paket internet dari provider yang nggak bersahabat dan bikin kantong bolong (hiks), saya dan Vania sedang menjajal pengalaman baru.. Insya Allah..

Berawal dari niat untuk berbuat lebih demi sang buah hati, saya akhirnya memutuskan untuk kuliah lagi. Walau otak pas-pasan namun dengan modal bismillah, lillahi ta'ala, semoga bisa dimudahkan sampai selesai..

Awal September kemarin, saya, Vania serta Opa Oma berkesempatan ke Yogyakarta. Kami stay disana selama seminggu. Kami disana tidak untuk jalan-jalan (walau kami tetap meluangkan waktu untuk itu, hehehe..). Selama saya sibuk dengan urusan kampus, daripada Vania ndak ngapa-ngapain, lebih baik Vania sekolah. Ide saya timbul ketika mengetahui bahwa TK Komimo punya cabang juga di Yogyakarta. 


Setelah mendapat ijin dan surat pengantar dari kepala sekolah TK Komimo di Jakarta,  hari Senin tanggal 2 September 2013, Vania bersekolah di TK Komimo Jogja. Vania ditemani Opa dan Oma. Sedangkan saya pergi sendiri, dengan kendaraan umum. 

Vania sempat salah kostum, karena walau seragamnya sama, tapi urutan hari pemakaiannya beda. Nah, ngambek lah Vania di hari pertama. Sudahlah masuk ke sekolah baru, dengan guru baru, teman-teman baru, salah kostum pula. Akhirnya Oma menemani Vania sebentar di dalam..


Awalnya, Vania belum mau beraktifitas bersama dengan Bu Guru dan teman-teman barunya. Vania membawa kamera poket milik saya, dan dia menyibukkan diri dengan memfoto apa saja... :-D

Setelah sibuk memfoto ini itu, akhirnya ndak lama Vania mau juga ditinggal. Ibu guru melapor Vania sudah mau berkomunikasi dengan bu guru di hari pertama, walau belum mau sama teman-temannya. Dan Vania sudah mau mengikuti semua aktifitas di sekolah.

Di bawah ini, beberapa gambar hasil foto Vania setelah ia ditinggal sendiri di dalam kelas..

Ruang kelas... Kata Vania sekolahnya lebih luas daripada di Jakarta.. hehehe.. :-D

Bu Shanti dan teman-teman Komimo Jogja TK B.

Itu hari pertama...
Hari Kamis, Opa berinisiatif mengambil foto-foto Vania di dalam kelas. Namun karena tak mau menganggu kegiatan belajar mengajar, maka Opa menitipkan kamera kepada salah satu guru kelas Vania.

Naaah, terlihat Vania sudah mulai mau bermain dan belajar dengan teman-teman barunya. Saya senaaang sekali melihatnya.. Alhamdulillah, Vania bisa beradaptasi. Ini hal yang penting sekali, mengingat sebentar lagi Vania mau masuk SD...

Saya senang banget lihat gambar ini... Alhamdulillah.. Walau pendiam tapi mau dan bisa beradaptasi..

Vania lancar bersekolah di TK Komimo Jogja dari Senin - Jum'at tanpa absen.. :-D
Sabtunya, giliran saya bisa bawa kamera.. Hehehe..

Sabtu tanggal 7 September 2013 kemarin adalah jadwalnya kami Mahasiswa Baru untuk orientasi kampus. Untunglah, ospek S2 ndak seperti ospek S1. Udah pada emak-emak dan bapak-bapak ya soalnya.. Hahaha..

Mudah-mudahan dalam waktu 2 tahun, angkatan kami bisa diwisuda disini.. Amin! @ Graha Sabha.

Bersama teman-teman satu kelompok. Sukses semua untuk teman-teman IKM FK UGM 2013. ^_^

Kendala belajar? Pasti banyak ya.. Mudah-mudahan saya bisa memaksimalkan kesempatan yang sudah Allah berikan untuk saya... Awal perkuliahan dan orientasi kampus di Jogja, selebihnya saya akan kuliah di Jakarta. Yap! UGM punya kampus di Jakarta. Memang lebih mahal daripada yang di Jogja ya... Kita mahasiswa kan harus membayar transport dan akomodasi para dosen kemari.. Hehehe..

Walaupun Vania berkali-kali mengeluh kangen dengan teman-teman di Jakarta, tapi Vania senang karena suasana di Jogja asri, banyak pepohonan dan banyak kupu-kupu. Alhamdulillah pengalaman seminggu di Yogyakarta adalah sesuatu banget... Buat saya.. Apalagi, buat Vania.. ^_^

Hmm... Nah, sekarang saatnya blogwalking.. ^_^
Mohon maaf ya sahabat semua, bukannya ndak mbalas kunjungan... Saya masih mengandalkan wifi rumah orangtua... Hahaha..

Saturday, August 3, 2013

Menyambung Silaturahmi

Salah satu perbuatan baik yang dicontohkan oleh Nabi kita Rasulullah SAW adalah menyambung silaturahmi. Alhamdulillah hari Jum'at kemarin saya mendapat kesempatan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman. Pertama, silaturahmi dengan sobat blogger, kemudian siangnya saya bertemu dengan teman-teman kuliah yang sudah tersebar se-Jabodetabek. :-D

Sebelumnya di tulisan saya disini yang menceritakan betapa senangnya Vania jalan-jalan ke kampus saya dulu, mbak Fitri bundanya Dzaky Fai Raffa, berkomentar bahwa beliau juga bekerja di kampus UI Salemba. Wah, kebetulan lah ya.. Langsung saya catat dalam hati, insya Allah suatu hari jika ke kampus lagi saya ingin bertemu dengan mbak Fitri.. 

Alhamdulillah, kemarin kesampaian juga bertemu dengan mbak Fitri. Biar kata Pakde, "kopdar nggak pake makan yo kecut, rek.." tapi tetap senang kok.. Hahaha... Apalagi mbak Fitri orangnya ramah bangettt.. Padahal baru ketemu ini.. ^_^


Saya sampai Salemba sekitar jam 10:30 siang itu, langsung saya sms ke mbak Fitri, dan alhamdulillah nggak lama mbak Fitri tiba di depan kantin Prima. Ngobrol tentang keluarga dan aktivitas ngeblog, sampai nggak terasa setengah jam sudah berlalu. Padahal, mbak Fitri masih ada kerjaan yang menumpuk, tapi masih menyempatkan bertemu. Makasih yo mbak.. ^_^

Foto di atas diambil oleh salah seorang temannya mbak Fitri sesama karyawati di Maksi UI.. :-D

Kemudian siangnya saya dan teman-teman kuliah, bertemu di Pondok Indah Mall. Berhubung kami berempat semua sedang nggak berpuasa berjamaah, dan kami sudah mulai berkurang aktivitas di luar, yo wis lah jadi jalan deh.. Hehehe.. :-D

Minta maap sama yang lagi puasa.. :-P

Hidup itu lengkap rasanya. Ada manis, asin, asam, pahit. Bertemu teman-teman itu menyenangkan. Hari Jum'at yang membawa berkah. Alhamdulillah. Tapi, di hari yang sama itu juga, saya sekeluarga mengalami musibah (kecil?). Insya Allah (hanya) musibah kecil, ya.. Insya Allah saya akan ceritakan di posting selanjutnya. Buat teman-teman yang akan mudik lebaran, semoga perjalanannya menyenangkan ya.. ^_^

Thursday, August 1, 2013

Menekuni Hobi Hingga Menghasilkan

Saya ingin menceritakan tentang seorang teman baik saya, Nina namanya.. Nina adalah salah seorang dokter gigi yang menekuni hobinya di bidang fashion hingga insya Allah bisa menghasilkan. Awalnya, Nina hanya berjualan pakaian via online (blackberry) sebagai reseller, sampai kemudian sekarang dengan modal nekat (baca: tekad yang kuat), teman saya itu berhasil membuat brand pakaian sendiri, berupa hasil desainnya sendiri juga pastinya.. ^_^


Nama Dayyina dipilih Nina sebagai nama brand dari pakaian produksinya. Dayyina adalah nama dari putri kedua Nina, yang sekarang usianya dua tahun dan imut-imut bin unyu-unyu.. Hehehe..

Walau website yang baru dibuatnya masih dalam tahap perbaikan, namun karya awalnya Butterfly with Rhinestone Belt, alhamdulillah sudah banyak diorder oleh kami teman-teman dekat serta kerabat yang memang sudah percaya dengan kualitas dari barang-barang penjualannya..

Pada saat awal Nina ingin memproduksi pakaian dengan brandnya sendiri, sebenarnya saya juga diajak berbisnis pakaian. Tapi saat Nina tanya, "Cin, lo bisa gambar desain baju nggak?"

Hahahaaa... FYI, gambar saya itu sama bagusnya dengan gambarnya Vania.. =D

Lagipula, dari jaman kuliah Nina memang sudah fashionable lah ya, nah kalau saya? Hahahaaa.. Bisa-bisa orang tak akan percaya desain baju yang saya buat. Sayanya saja nggak ngerti fashion kok.. Hehehe.. Masing-masing orang punya kelebihannya sendiri-sendiri, kan? ^_^

Baiklah, tempo hari saya mendapat kiriman satu stel baju Butterfly, berupa dress terusan tanpa lengan, lengkap dengan kardigan motif kupu-kupu yang bahannya halus dan adem.. ^_^

Butterfly dress.. ^_^

Kardigan motif kupu-kupu yang cantik dan nyaman dipakai.. ^_^

If I should remember the old times.. :-D
Saya sampai sekarang masih berkutat dengan gigi, sedangkan Nina sudah melebarkan sayapnya.. :-D

Saya dan Nina di Menara Keagungan, Gorontalo, 2006.

Nggak nyangka deh, teman kuliah yang sama-sama berjuang di kampus hijau, kemudian takdir kembali mempertemukan kami untuk sama-sama berjuang mengabdi negara selama masa PTT di Gorontalo, ternyata akhirnya melangkah ke dunia fashion industry.. Hihihi... Amin..!

Buat Nina, gue cuma bisa ngedo'ain semoga usaha lo sukses... Siapa tau one day, lo bisa setenar the merchant's daughter a.k.a. Dian Pelangi.. Hehehe.. Well Nina, I'm proud of you, keep up the good work, my friend.. ;-)


Book Review: Seri Sains Dasar

Ketika Vania berkesempatan ke Keong Mas tempo hari, ternyata Gramedia juga sedang membuka stand buku-buku diskon di sana. Alhamdulillah Bunda Vania dapat beberapa buku yang oke, diantaranya adalah buku Seri Sains Dasar, seharga Rp.5000,- masing-masingnya.. :-D

Buku Seri Sains Dasar ini berisi tentang penjelasan sains dari benda-benda yang kita temui sehari-hari, dengan bahasa anak yang mudah dimengerti. Ditulis oleh Adrienne Mason, yang memang seorang penulis buku-buku sains baik untuk dewasa maupun untuk anak-anak.



Di buku ini juga banyak ide-ide untuk percobaan yang menunjang penjelasan tentang isi dari buku tersebut. Buat Vania sendiri yang sedang liburan, tentu ini adalah keuntungan buat Bundanya. Ide aneka eksperimen ini sangat menyenangkan buat anak-anak.. :-D

Di antara yang Vania coba di rumah...


Dari buku seri tentang Materi dan Benda.. Vania diminta untuk mengumpulkan lima macam benda yang berbeda-beda, untuk kemudian dibuat kolase nama "VANIA"... Dengan begini Vania bisa belajar tentang unsur-unsur materi benda yang berbeda-beda.. :-D


Kalau yang di bawah ini adalah percobaan tentang struktur. Macam-macam benda terdiri dari beberapa benda lainnya, bukan..? Termasuk kue.. ^_^

Percobaan membuat "struktur"


Nah kalau gambar di atas dan di bawah, masih dari buku Materi dan Benda.. Vania sedang belajar tentang massa benda, dengan menggunakan penggaris sebagai timbangan sederhana. Vania heran, mengapa es batu dan batu yang ukurannya sama bisa berbeda beratnya... :-D  Tentu saja itu semua kembali ke massa benda tersebut, ya nggak Vania.. Batu lebih padat tentunya, daripada air yang beku.. Hehehe... Tapi dijelaskan begini, Vania belum paham benar, yah nggak apa, pelan-pelan ya Nak.. ^_^


Menebak benda dengan mata tertutup ini, dimaksudkan supaya anak bisa menjelaskan sifat dari benda yang dimaksud, baik itu teksturnya, baunya, bentuknya, dan lain-lain.. Bunda Vania jadi ingat, dulu Bunda pernah ada permainan menebak benda dengan mata tertutup seperti ini saat Pramuka di SD. ^_^

Buku-buku sains seperti ini tentu saja banyak manfaatnya untuk anak-anak, karena dengan membaca dan mempraktekkan ide dari buku ini, anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan.. ^_^

Hmm.. Kalau teman-teman Vania, ada ide mengisi liburan yang seru..? Cerita-cerita ya.. Siapa tau bisa jadi ide liburan untuk Vania juga.. ^_^

Tuesday, July 16, 2013

Pengalaman Pertama Nonton Bioskop

Liburan sebelum Ramadhan kemarin, Vania bunda ajak nonton bioskop. Ini adalah pertama kalinya untuk Vania pergi ke bioskop. Bunda juga sebenarnya agak nggak yakin juga. Pikir bunda, pasti Vania akan bosan duduk selama sekitar 1,5 jam. Oleh karena itu, bunda ajak salah satu teman Vania, tetangga dekat rumah, untuk bersama-sama nonton bioskop, antisipasi kalau-kalau Vania bosan.

Kami berangkat ke PIM pagi hari, ke toko obatnya Oma dulu, bermain sebentar, kemudian makan di Food Court PIM 2.. ^_^


Bunda pilihkan yang jam tayang pukul 12:30 siang.. Filmnya, Monster University.. Karena di PIM 2 tiket nontonnya lebih mahal, maka bunda pilih Cinema XXI yang di PIM 1 saja.. Hehehe.. Saat itu hari Selasa, HTM Rp.40.000,-

Vania ini sudah 5 tahun usianya, oleh karena itu bunda pikir bisa lah ya, mengerti situasi dan berusaha tenang. Tapi, ternyata bunda salah. Hahaha..

Bunda ajak Kak Ayu yang berusia 10 tahun. Dan ia sama bosannya dengan Vania.. Waduuuh... Kami berempat, Oma tidur, Kak Ayu dan Vania bosan (bosannya Ayu ditandai dengan duduk di kursi, kemudian sebentar-sebentar berdiri, kemudian tiduran nggak jelas, dan selalu berubah posisi). Sedangkan Vania lebih vokal. Film baru berlangsung 30 menit, kemudian Vania bilang bosan. Hadeuh! 

Otomatis yang menikmati film ya bunda sendirian.. Hahaha.. Bundanya sih cuma bawa anak tetangga satu. Coba satu RT ya mungkin bisa lebih rame. Tapi alamat bangkrut bundanya ini.. Hahaha..

Kalau kendala bahasa... Hmmm... Padahal bunda sudah berusaha menjadi penerjemah yang super cerewet (walau bisik-bisik) selama film berlangsung. Tapi tetep Vania bosan. Jadi, mungkin kendala bahasa bukan faktor utama kebosanan.

Selesai makan popcorn, timbul bosannya.

Akhirnya dengan segala bujuk rayu, Vania mau juga menonton film sampai selesai. Fuiiih..!


Beberapa hari kemudian, Vania kedatangan saudara dari Semarang, Kakak Cia, yang bunda ceritakan disini. Karena liburan, maka bunda ajak jalan-jalan Vania bareng Kak Cia. Tujuannya yang dekat saja, karena siangnya Bunda harus kerja. Ke TMII, nonton di Keong Mas. Hihihi.. ^_^


Tiket sekali nonton teater imax adalah Rp.30.000,-.. Film diputar pukul 12:30 siang juga. Film dengan judul Indonesia Indah III ini hanya berdurasi sekitar 45 menit. Lebih aman lah ya buat anak seperti Vania.. :-D

Buat emak-emak sekarang, film Indonesia Indah III pasti nggak asing lagi ya? Hehehe.. Iya, itu sepertinya film yang sama dengan yang bunda Vania lihat dulu saat masih SD. Walau begitu, Vania takjub sekali melihat layar yang bessaaarrr sekali...

Oma, Mama Cia, Kakak Cia, Vania. Kali ini, Oma nggak ketiduran. Hahaha..


Perpaduan antara layar yang besar, bahasa Indonesia yang jelas, serta film yang tidak monoton (karena menyoroti aneka budaya Indonesia dari berbagai daerah), sukses membuat Vania betah duduk tenang. Apalagi pengambilan sudut pandangnya yang bagus.. Pegunungan dilihat dari atas.. Melintasi lautan, lembah, sungai... Seperti kita ini mengalaminya sendiri.. Ini juga yang membuat bunda Vania saat kecil dulu terkesan sekali melihat film di dalam teater imax ini...  ^_^

Vania tertawa senang melihat keindahan alam Indonesia.

Sayangnya, film Indonesia Indah ini seharusnya dibuat versi terbarunya. Mosok, di film ini masih ada propinsi Timor Timur? Duh duh.. Bagaimana ya? Banyak sekali pelajar yang nonton film ini, bisa jadi salah persepsi dong ya nantinya? 

Jika ada pihak pariwisata Indonesia (khususnya pihak TMII) yang kebetulan membaca blog Vania ini, kami ingin mengusulkan bahwa memang sangat perlu dipertimbangkan pembuatan film Indonesia Indah versi baru. Pasti laku! Apalagi, saat kami nonton itu, banyak juga loh bule-bule yang nonton juga.. ^_^

Buah Berformalin

Tempo hari saya dan Vania seperti biasa, belanja bulanan.. Namun saat pulang saya teringat satu buah yang Vania suka, dan lupa saya beli... Jeruk.. Untungnya di dekat rumah saya banyak sekali kios-kios buah.. Kebetulan kemarin saya mampir di satu kios buah dimana saya belum pernah mampir.. 

Di kios buah yang satu ini, buah-buahannya jauuuh lebih murah.. Jeruk buat Vania, anggur, buah naga, dan pear korea.. Semua rata-rata Rp.5.000,- sampai Rp.10.000,-.. Yang paling membuat saya kaget adalah, saya baru saja membeli pear korea di supermarket, dua buah, seharga sekitar Rp. 28.000,-.. Sedangkan di kios itu saya bisa dapat pear korea dua buah hanya seharga Rp.10.000,-.. Bagus-bagus pula.. Saya sempat bertanya-tanya, tapi akhirnya saya beli juga.. 

Saya sempat menanyakan ke beberapa teman saya, dan semuanya nggak tau kenapa harga buah-buahan di kios buah begitu murahnya.. Kemudian, hari minggu kemarin teman saya mengabarkan saya bahwa ada acara Reportase Investigasi di Trans TV, bahasannya adalah tentang buah berformalin. Kebetulan, pikir saya.. 

Sayangnya, saya hampir telat menontonnya. Acara hampir habis. Tapi saya sempat lihat bagian yang menjelaskan tentang bagaimana membedakan buah berformalin dengan buah segar asli. Ada tiga cara, yaitu:
  1. Menggunakan test kit khusus untuk mengetahui adanya kandungan formalin yang harganya lumayan mahal. Namun di Trans TV kemarin ditampilkan cara lain menggunakan buah naga, yang sayangnya kurang saya pahami benar-benar langkah demi langkahnya. Cara dengan buah naga ini adalah hasil inovasi siswa SMU di Jawa.
  2. Mencium baunya. Bau buah yang direndam formalin tidak segar seperti khas buah pada umumnya. 
  3. Tangkainya. Jika tangkainya layu sedangkan buahnya segar, maka buah itu kemungkinan sudah direndam dalam formalin.

Kebetulan saya membeli pear korea di supermarket dan di kios buah. Maka kedua pear itulah yang saya bandingkan. Benar saja. Dari baunya sudah beda. Tangkainya juga kelihatan bedanya. Yang kiri yang masih ada stickernya adalah buah yang saya beli di supermarket, sedangkan yang kanan adalah buah yang saya beli di kios buah. Dari tekstur kulitnya juga ternyata beda. Kita tau bahwa pear korea kulitnya sedikit berbulu.. Nah, buah yang kanan sudah tidak ada lagi bulunya.. Halus, mulus...

Bisa di klik gambar untuk memperbesar. Tangkai buah yang kanan sudah layu.

Namun tidak seharusnya dengan adanya kejadian ini kita jadi takut makan buah ya? Untuk lebih berhati-hati, tim reportase investigasi juga memberitahu cara mengantisipasinya.. Selain lebih jeli memilih, setiap buah yang akan dikonsumsi juga selayaknya dicuci bersih. Idealnya, dicuci dibawah air mengalir selama 1-2 menit, kemudian dikupas.

Selain dilapisi lilin, buah-buahan import seperti apel, pear, anggur dan jeruk sunkist ternyata bisa juga direndam formalin ya.. Pantas saja bisa tahan sampai berbulan-bulan lamanya. 

Memang sebaiknya kita kembali ke buah-buahan lokal ya.. ^_^

Pepaya, mangga, pisang, jambu.. Dibeli dari pasar minggu.. 

Hihihi..
Lagu itu saya hapal saat saya kecil dulu..
Dan sepertinya ya, apa yang tumbuh di dekat tempat tinggal kita adalah yang terbaik dari Allah untuk tubuh kita.. Zat gizi dari buah-buahan khas Indonesia pasti lebih pas buat tubuh orang Indonesia ya..? Wallahu'alam.. ^_^

Karena kemarin saya beli jeruk medan di antara buah-buahan import yang (walaupun tidak 100%, namun sepertinya hampir semua) diberi formalin, saya jadi ragu untuk memberikannya ke Vania. Jangan-jangan disuntikkah atau gimana? Kalau secara manis sih ya manis jeruk biasa ya.. Mudah-mudahan aman ya..

Untuk para pelaku perendaman buah dengan formalin, apa nggak terpikir ya kalau anaknya makan buah itu bagaimana akibatnya? Saya rasa penjual di kios-kios buah tidak mengerti hal ini, mereka hanya mengambil buah secara grosir.

Saya cuma bisa berdo'a supaya penggunaan formalin tidak merambah ke buah-buahan lokal.. Amin ya Allah..

Tuesday, July 9, 2013

Kemajuan Renang Vania

Posting ini hanya sebagai catatan pribadi.

Sama seperti posting sebelumnya tentang membaca, posting ini pun bunda buat sebagai catatan pribadi, bukan untuk membandingkan Vania dengan anak lainnya namun untuk pembandingan Vania dengan keadaan Vania sendiri sebelumnya.

Selama libur sekolah dua minggu ini, Vania cukup sering menghabiskan waktu di kolam renang. Bisa dibilang hampir setiap hari minta berenang. Bunda hanya sukses menolak permintaan Vania di hari-hari mendung yang dingin, hehehe.. Ada perasaan takut jika masuk ke air yang suhunya dingin begitu, Vania pernah bibirnya sampai membiru, tubuhnya menggigil, namun dengan keras kepalanya masih mau main di air. Kalau bunda nggak marah saat itu, mungkin Vania bisa terserang hypothermia. Na'udzubillah.

Pemanasan dulu.. ^_^

Alhamdulillah, selama libur sekolah tahun ini, Vania kedatangan teman bermain dari Semarang. Hehe.. Bukan teman sih, lebih tepat disebut "tante". Kakak Cia, begitu Vania memanggilnya. Kakak Cia ini sebenarnya adalah sepupunya bunda, namun karena usianya lebih dekat dengan Vania, hanya 3 tahun lebih tua, Kakak Cia menolak dipanggil "tante".. :-D

Tentu saja kegiatan berenang jadi semakin asik kalau ada temannya ya.. Sebelum masuk ke air, tentu harus pemanasan dulu.. Peregangan dan lari-lari kecil, supaya otot nggak kaget dan supaya tubuh lebih hangat.. ^_^


Sebelumnya, jika masuk ke kolam renang, maka otomatis Vania harus bunda pegangin.. Mulai dari tangga hingga bagian tengah kolam, ya masih bunda pegangin.. Belum mau dilepas, bahkan ketika pakai ban juga Vania takut jika bunda atau Opa Oma jauh-jauh.. 

Sekarang, ada kemajuan.. Vania sudah mau (dan bisa) sendiri.. Walaupun bunda khawatir juga, karena tinggi air di bagian paling dangkal ini saja mencapai hampir setengah kepala Vania. Tapi Vania tenang saja dan mau berlatih gerakan kaki di palang besi tanpa bantuan bunda. Gerakannya sudah cukup bagus, insya Allah..


Kalau berenang ke tengah kolam, tentu saja Vania masih pakai ban karena belum bisa mengambang.. Bunda hanya konsentrasi ke gerakan Vania.. Bagaimana caranya supaya Vania bisa berenang maju dengan gerakan kaki dan tangan yang benar..


Ketika bunda lihat Vania sudah ada kemajuan dalam hal menjaga keseimbangan, maka ban diganti dengan pelampung yang di lengan. Menurut pengamatan bunda, dengan menggunakan pelampung di lengan ini, Vania berusaha lebih keras dalam menjaga keseimbangan.. Dan insya Allah hal ini akan membantunya dalam hal belajar mengambang, bukan?


Selain bunda, yang mengajarkan Vania berenang tentu saja Opa dan Oma. (Oma nggak ditampilin fotonya karena kami sama-sama pakai kerudung, tapi masuk ke kolam renang dilepas..)


Terlihat Vania mudah lelah jika memakai pelampung di lengan ini. Mungkin karena Vania berusaha berenang dan dalam waktu bersamaan harus manjaga keseimbangan juga..

Sebenarnya, Vania semangatnya luar biasa.. Hanya saja bunda yang selalu harus cek kondisi Vania setiap saat. Warna bibirnya, warna tangannya, detak jantungnya (pegang dada kirinya). Jika dirasa detak jantung Vania terlalu cepat, maka bunda akan suruh Vania istirahat sejenak, duduk di tangga. Rasanya mengkhawatirkan jika dipaksakan.


Insya Allah Vania sudah bisa berenang dengan bantuan pelampung di lengan ini. Kemarin baru saja lomba dengan Oma dari ujung ke ujung (di kolam yang panjangnya hanya sekitar 10 meter). Tapi, menurut bunda itu sudah lumayan jauh untuk ukuran anak 5 tahun. 


Di akhir satu putaran lomba dengan Oma, detak jantung Vania cepat sekali. Kalau sudah begini harus istirahat dulu.. Bunda juga nggak paham seratus persen ya, mungkin lain waktu bisa konsultasi dengan dokter olahraga jika ada kesempatan.

Setelah belajar berenang yang benar dan melelahkan, boleh berenang santai sambil main bola.. ^_^

Kalau sudah beberapa kali bolak balik dan bunda rasa sudah cukup buat Vania, biasanya bunda masukkan bola-bola plastik ke kolam dan Vania boleh berenang santai dengan ban. Yaaa, dengan bantuan ban Vania berenangnya bisa lebih santai, dalam artian nggak ngos-ngosan lagi, karena keseimbangan sudah dibantu dengan ban. 


Biasanya, sekali berenang bunda kasih jatah waktu 30-45 menit. Bahkan pernah sampai bunda kasih kelonggaran hingga 1 jam. Bundanya saja capek ya apalagi Vania hehehe.. Tapi setiap kali disuruh udahan pasti ribut.. Vania nggak mau keluar dari air, padahal sampai jari kakipun sudah keriput semua. Dasar anak-anak ya.. Main air itu adalah surga sepertinya bagi mereka, hehe.. ^_^

Monday, July 8, 2013

Pasien Lansia

Saya masih sibuk memikirkan pasien lansia yang tempo hari tertidur di kursi gigi, ketika saya hampir diserempet motor yang mengebut di halaman kampus, menuju tempat parkir.

Saya merutuk dalam hati. "Dasar anak muda! Pasti mahasiswa baru!"

Ketika pengemudi motor itu akhirnya turun dari kendaraannya, ia langsung menyapa saya dengan tertawa riang.

"Mbak, ayo kita lanjutkan pembuatan gigi palsunya!" ujarnya sambil memamerkan mulut ompongnya.