Thursday, October 25, 2012

Street Boys

Anak jalanan...

Aku yakin tidak satu pun manusia terlahir di dunia ini yang pernah membayangkan menjadi anak jalanan. Tapi siapa bisa mengelak takdir?  Bagaimana cara pandang kita terhadap anak-anak jalanan?

Bukan sembarang anak jalanan yang hanya mengamen atau bermain lakon menjadi anak disabled atau pesakitan. Tapi anak-anak jalanan pengedar narkoba, pemilik senjata api, dan perampok. Pasti kita akan takut pada mereka. Mereka kita cap penjahat. Tapi bagaimana kisah hidup mereka sebenarnya? Buku ini adalah kisah nyata. Bercerita mengenai 7 orang anak jalanan yang tergabung dalam sebuah geng yang paling ditakuti di Angel Town, London.



JaJa, Phat Si, Bloods, Inch, Birdie, Ribz, dan Tempman.. Adalah 7 anak jalanan yang tergabung dalam geng PDC (Peel Dem Crew - yang berarti merampok dengan melucuti habis sang korban). Masing-masing dengan latar belakang berbeda, takdir mempertemukan mereka di Angel Town, sebuah komunitas hunian kulit hitam di kota London.

JaJa adalah satu tokoh yang menjadi panutan teman-temannya, mungkin bisa dibilang dialah ketua geng. Mereka semua memiliki kisah hidup yang berbeda, tapi semua memiliki benang merah yang hampir sama. Perpisahan orangtua, broken home. Ibu JaJa, Sharon mengalami KDRT sehingga ia memutuskan pergi dari kediamannya yang "nyaman" di Bermingham, dan pindah ke sebuah flat kumuh di Angel Town. Dengan 4 orang anak dalam tanggungannya, sebagai single parent ia harus bekerja keras demi anak-anaknya. JaJa adalah anak tertua Sharon. Selama Sharon bekerja, JaJa tumbuh di lingkungan yang jauh dari kondisi ideal. Transaksi para pengedar narkoba, penembakan antar geng yang berselisih, serta perampokan, adalah tontonan yang ia saksikan sehari-hari dari balkon rumahnya.

Anak-anak anggota geng lainnya bahkan ada yang memiliki kehidupan yang lebih buruk. Ditinggal oleh ibunya, ditinggal pula oleh ayahnya. Seperti Phat Si. Kisah Ribz lain lagi, ia memiliki ayah yang punya anak dimana-mana sampai-sampai ia sangat takut mengencani seorang gadis karena khawatir gadis itu adalah adiknya, sedangkan ibunya adalah pengedar sekaligus pengguna narkoba, sehingga ibunya sering didapati teler di suatu sudut kota, atau sering juga di penjara. Kehidupan yang sangat mengenaskan, apalagi mereka mengalami hal seperti ini di usia yang sangat muda, sekitar 7 - 8 tahun. Sehingga belumlah usia 17 tahun, mereka sudah keluar masuk penjara. Mereka pun menangis di penjara, meratapi nasib dan mental mereka yang hampir gila.

Bagaimana jadinya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu? Sudahlah menyakitkan menghadapi perpisahan orangtuanya, kehidupan jalanan yang keras pun menjadi pendidik bagi mereka. Apa jadinya kita bila berada di posisi mereka? Tanpa bimbingan orangtua dan agama, mungkin kita pun bisa menjadi pengedar narkoba dan menjadi seorang pembunuh. Yang penting bisa punya uang, untuk bertahan hidup. Na'udzubillah.

Di buku ini JaJa dan teman-temannya menuturkan jeritan hati mereka yang meminta pertolongan dan dukungan untuk mereka, anak-anak jalanan. Anak-anak yang selama ini diabaikan oleh dunia. JaJa, selama dalam masa penahanan, tetap berfikir positif ke depan, sehingga ia pun dapat mempengaruhi teman-temannya untuk tetap semangat. JaJa akhirnya menemukan jalannya kembali saat ia keluar dari penjara bertahun kemudian, dan membangun karirnya di bidang musik, begitupun dengan sebagian teman-temannya.

Membaca buku ini, aku dapat memetik pelajaran, bahwa seberat apapun hidup ini, sesibuk apapun kita, kita tidak boleh lupa, bahwa anak membutuhkan arahan dan bimbingan kita orangtuanya. Jika ada keluarga yang tidak lengkap lagi, setidaknya satu orangtua harus bertanggung jawab, terhadap masa depan si anak. Semua juga tau bahwa anak adalah amanah, yang harus dipertanggung jawabkan saat kita mati nanti. Bukan hanya tanggung jawab finansial, tapi juga mental spiritual.

Coba kita berkaca, pernahkah kita tertimpa suatu masalah yang membuat kita begitu terpuruknya sehingga menyebabkan kita lupa akan tanggung jawab yang ada di depan mata? Jujur, aku pernah... Dan yang menyadarkan aku bukan hanya buku ini saja, tapi kalau hati kita menjerit kepada Allah minta tuntunan, insya Allah dikabulkan... Walaupun lama diri ini menyadari... Tapi akhirnya lapang juga hati ini akan terasa...

Buku dengan 456 halaman yang ditulis oleh Tim Pritchard ini aku beli saat diskon besar-besaran di sebuah toko buku ternama... *manfaatin diskon yak* Hihihi... :-D

Buku ini juga bermanfaat untuk siapa saja yang sudah menjadi orangtua, atau akan menjadi orangtua. Mengingatkan kita kembali ke tujuan semula kita menjadi orangtua. Jadi... Bismillah, jangan sampai kita salah langkah. Allahumma amin... :-)

28 comments:

  1. asiiik, udah mulai aktif lagi Tia
    TFS ya

    ReplyDelete
  2. wew Jaja, kirain jejen hehehee :D

    menarik yah sptnya buku ini

    ReplyDelete
  3. menarik bukunya ya Thi
    tapi pasti lebih menarik klo kita mengenal mereka langsung :)

    ReplyDelete
  4. mba tyaaa... ih kangen kangen kangen... akhirnya muncul lagi... bb masih lom aktif tho mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mbak... piye klo mau tukeran pin nya ya?

      Delete
  5. wah bisa mengambil manfaat dari cerita buku, itu hal yang sangat baik. Apalagi dengan kondisi yang teralami Mbak Thia saat ini.
    Dan jangan lupa, banyak juga orang tua (single parent) yang sangat kuat dan hebat mengantarkan anak-anak menjadi orang yang sukses untuk kehidupan dunia dan akhirat, shalih secara pribadi dan shalih secara sosial

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus bisa mengarahkan anak menjadi pribadi yang bener dan agamis ya pak.. bismillah...

      Delete
  6. Gak sedikit anak yang turut 'hancur' saat keluarganya hancur ya, Mbak.
    Semoga kita tetap bisa menghargai titipan Allah yang ada pada diri kita, baik itu anak, saudara atau keponakan... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. insya Allah Kak... mudah2an Allah beri kita kekuatan dan kemudahan menjalaninya.. amin

      Delete
  7. aku kira ini film mbak, ternyata buku toh.. emang jadi pelajaran yak dari mereka bahwa anak anak emang seharusnya dalam pengawasan orang tua sampe minimal dia kuliah dan bisa mandiri sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Niee.. tapi bahkan yg udah kuliah pun masih butuh bimbingan spiritual dari orangtuanya :-)

      Delete
  8. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Alhamdulillah kita masih diberi ALLAH SWT , nikmat umur buat menyambut Idul Adha tahun ini,
    semoga rahmat dan karunia ALLAH SWT selalu menyertai kita semua,
    selamat merayakan Hari Raya Idul Adha,
    bila ada salah dan khilaf dalam kata serta sikap selama ini, mohon di maafkan lahir dan batin.
    Wassalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumsalam wr wb.
      Mohon maaf lahir batin :-)

      Delete
  9. review yang sangat bagus dr sebuah buku yang bermanfaat
    terimakasih untuk info dan sharingnya Thya :)

    apa kabar Thya?
    semoga selalu sehat ya...
    bunda sdh lama sekali gak bewe kemari ....
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah baik, Bunda...
      makasih Bun.. :-)

      Delete
  10. wah enaknya yang di kota besar yah..sering menikmati buku bagus dan diskonan..hiks...daku harus ngandelin online plus ongkir neh mbak kalo buku buku seperti ini...*hikmah tinggal dikepulauan..anggap aja hikmah yah mbak..bukan keterbatasan ,...karena apapun tetap bersyukur sama allah karena masyallah kita telah diberikan banyak hal...TFS kayaknya bukunya bagus dan perlu dibaca nieh...ayo semangat membaca lagi nieh emak kinan :)
    bagus mbak review-nya masuk daftar yang untuk dibeli nieh...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaak, di toko2 buku online juga suka ada diskonan loooh... skrg aku ngandalin itu juga.. secara klo harus ke tobuk kan butuh biaya transport jg.. hehehe.. mending keluar ongkir dikit.. ^_^

      Delete
  11. Haha...saya kira mengulas tentang film ternyata bedah buku ya....! Tapi dari sepenggal cerita diatas saya meyakini kalo cerita yang disajikan menarik...HmHm....Salam kenal Mba..

    ReplyDelete

Salam, terima kasih sudah mampir di blog saya :-)