Thursday, November 22, 2012

Dentophobia

Sebenernya posting ini adalah edisi curcol... :-P

Ternyata aku hiatus lagi yaaa... Lamanyaaa nggak posting... *tutup muka*

Well, kalau mau cari alasan sebenarnya banyaaak... Antara urusan pengadilan, belajar karena ingin coba daftar sekolah lagi, dan nggak bisa isi pulsa karena gaptek akut *colek mbak Lidya*

Hehehe...

Eniwei...

Mau curcol aja sedikit tentang kejadian yang baru saja aku alami... Hehehe...Entah dentophobia ini (fear of dentist) banyak diidap oleh anak-anak, ataukah banyak juga dewasa yang mengidapnya? :-D

Gambar dari sini.

Biasanya yang namanya anak2, akan takut ke dokter gigi. Namun, biasanya dengan bujuk rayu dari kami, mereka akhirnya bisa diberi perawatan sampai selesai... Tapiii, ada beberapa kasus yang sangaaaaat alooot, hingga aku pikir kutulis saja deh disini...

Aku hanya ingin memberi sedikiiit saja masukan buat orangtua yang masih memiliki anak balita.. Alangkah baiknya sebelum anak dibawa ke drg, mereka diberi pengertian dahulu tentang mengapa mereka harus ke drg, serta akibatnya jika tidak ke drg. Tolong ceritakan hal yang sebenarnya. Jangan ditakut-takuti, jangan juga dikurang-kurangi... Dan jangan lebaaayyy dalam menjanjikan hadiah... :-D

Tempo hari, datang seorang anak usia 7 tahun yang sudah duduk di kelas 1 SD. Saat masuk ruangan sudah kuperkirakan, bahwa anak ini akan "alot". Setelah dibujuk rayu olehku, si cantik akhirnya mau juga duduk di kursi gigi, namun apa yang kukhawatirkan terjadi juga. Ia mingkem dong... (btw, "mingkem" ini bahasa baku bukan ya?)

Si cantik tidak mau buka mulut. Kedua orangtuanya mulai hilang kesabaran. Mereka akhirnya mengeluarkan jurus-jurus, seperti...

Nanti habis cabut gigi akan mampir C*rrefour dan beli es krim. (Kedua orangtua masih memanggil sayang kepada anaknya).

Nggak mau buka mulut juga... Diberi janji lain yang lebih heboh...

Nanti habis cabut gigi akan dibelikan iPad.. (Kedua orangtua mulai cemberut)

Masih nggak mau buka mulut juga.... Akhirnya keluar ancaman...
 
Nanti kalau tidak mau buka mulut, akan dilaporkan ke nenek... (Orangtua mulai membentak)

Belum mempan... (Kedua orangtua sudah hilang kesabaran dan merasa malu)

Dokter giginya baik kok, nggak akan berdarah...

Nggak mempan juga...

Akhirnya setelah sekian jurus hadiah dan ancaman yang diberikan, jurus terakhir adalah...

Nanti Papa sama Mama tinggalin kamu disini! (Sampai disini anak akan merengek ditambah sebutir dua butir air mata mengalir di pipinya).

Namun kejadian tempo hari, jurus mereka yang paling membuat aku ingin tertawa geli adalah...

Biarin!!! Nanti Mama tinggalin kamu di lampu merah! Biar suruh ngamen aja!!!

Dalam hati aku... Muahahahaaaa..!!!

Masya Allah... Tega bangeeeet!!!

Yang baca ini jangan ketawa atau komentar dulu ya... Let me explain... Hehehe... :-D

Aku paham orangtua dalam keadaan hilang kesabaran dan merasa malu (dengan drg dan perawatnya) akan melakukan apa saja demi menunjukkan bahwa anaknya tidak seharusnya berlaku demikian. Tapi tolong dipahami juga oleh orangtua bahwa membohongi anak, membentak dan mengancam anak juga tidak layak. Mereka ini orangtua yang aku nilai berpendidikan dan aku yakin mereka paham, bahwa mengancam anak itu sangat tidak patut. Lalu kenapa kalau sudah di ruang drg seakan mereka lupa dengan prinsip itu? :-D

Ada juga yang saking frustasinya, si Mama sampai menangis didepanku. Anak berlaku demikian adalah hal yang wajar. Pelan-pelan anak-anak bisa diberi pengertian kok. Yang sabar saja. Nggak usah putus asa. Jika anak tidak mau buka mulut, bisa kembali di lain waktu, ketika anak lebih siap.

Dan, sekali lagi tolong ceritakan yang sebenarnya. Tidak usah berbohong. Misal: cabut gigi tidak akan berdarah... Salah! Nanti jika kedapatan berdarah anak akan hilang kepercayaan dan tidak mau lagi ke drg, padahal ada 20 gigi yang harus ganti.

Kemudian kalau yang dijanjikan setelah cabut gigi adalah iPad... 20 gigi berarti 20 iPad. Orangtua udah siap belum menyediakan 20 iPad? Nggak boleh ingkar janji loooh sama anak... :-D

Dan semua ancaman itu tentu akan berdampak tidak baik buat kejiwaan anak.

Aku sebagai operator, ingin membujuk sang anak, namun sudah "kalah" suara oleh ancaman dan hadiah yang dijanjikan orangtuanya. Di depan anak, aku dan orangtua seharusnya seiring sejalan. Namun yang sering terjadi adalah kami kontradiktif. Anak jadi bingung kepada siapa ia harus percaya dan akhirnya ia tambah tak mau membuka mulut.

Seharusnya, menurut pendapatku, ceritakan saja yang sebenarnya.. Misalnya... Bahwa jika gigi goyang harus dicabut di drg karena lebih bersih sehingga jika berdarah tidak akan infeksi. Berdarah sedikit, tapi kan itu untuk kecantikan dan kesehatan gigi ananda... Dan jika gigi lubang maka akan mengakibatkan bengkak, dan itu jauuuh lebih sakit daripada hanya ditambal sebentar sama om dan tante drg yang baik hati itu. ^_^

Lebih baik, anak balita diajak berkenalan saja dengan drg sedini mungkin. Tidak harus tunggu sakit gigi, tidak harus tunggu goyang. Pernah beberapa kali ada orangtua yang membawa anaknya yang berusia 2-3 tahun ke ruang drg, hanya untuk berkenalan. Pegang alat-alat yang tidak tajam juga (bagi aku pribadi) akan aku bolehkan, sehingga ia akan yakin bahwa itu tidak menyakitkan. ^_^

Sooo, sekian edisi curcol kali ini.. :-D
Mudah-mudahan bisa bermanfaat... :-D

Monday, November 5, 2012

Memaafkan

Hal positif apa yang telah engkau berikan untuk orang lain...?

Membaca pertanyaan di atas, mungkin sebagian orang merasa berhak menjawab, sebagian lagi malu atau bahkan tidak yakin... Kebaikan apa saja yang sudah kuperbuat untuk orang lain?

Baiklah, mungkin dengan keadaan yang sekarang sedang kujalani, aku bisa yakin akan satu hal positif yang kuberikan untuk orang lain, bahkan setelah orang tersebut melukai hatiku sedemikian rupa. Ya, memaafkan. Lama sekali baru aku bisa memaafkan. Berbulan-bulan lamanya...

Untuk giveaway sahabat Nia Angga, pada dasarnya, tulisan ini bisa saja masuk kategori "pencapaian tertinggi dalam hidup hingga detik ini.."

Aku yakin, tidak semua orang bisa bertahan menghadapi cobaan seperti yang aku alami. Banyak orang yang kukenal dulu, ingin mengakhiri hidupnya karena putus cinta, atau lebih jauh lagi mengalami prahara dalam rumah tangga.

Kita manusia normal yang tidak mengalami masalah serupa tentu akan berfikir orang-orang tersebut sangat pendek akalnya, dan tidak ingat Allah. Hanya karena masalah seperti itu ingin mengakhiri hidupnya, padahal pasangannya belum tentu mengalami hal yang sama.

Memang benar, mereka sangat pendek akal dan tidak ingat Allah. Tapi dulu ketika aku menyaksikan mereka yang mengalami hal ini, tidak sedetik pun terlintas dalam pikiranku, bagaimana rasanya jadi mereka? Ternyata, rasanya sakit sekali. Tak usah dibayangkan rasanya. Hanya mengertilah, mereka yang tidak mengalami, tidak pernah akan tau rasanya. Ini, tidak sama dengan putus dengan pacar. Karena ada darah dagingnya yang harus kita pelihara dan sudah diamanahkan Allah kepada kita. 

Berjuta pertanyaan berkecamuk, sampai-sampai kita menyalahkan Allah atas takdir-Nya tanpa kita menyadari bahwa kita telah melakukan hal berani itu. Bertanya kepada Allah, kenapa hal ini terjadi padaku, sama dengan menyalahkan Allah, bukan? Sikap tidak terima atas segala keputusan-Nya. Menghunus pedang! Ingin melawan Allah! Astaghfirullah...

Menyalahkan Allah, dan juga menyalahkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan apapun yang pernah dilakukan, sampai hal-hal terkecil yang pernah lalai dilakukan... Membuat aku sekian lama menghukum diri ini, terpuruk dalam lubang tak berdasar... Hingga hilang semangat hidup.

Ya Allah, ampuni aku atas segala khilafku...

Ikhlas memang mudah untuk diucapkan, tapi tidak untuk diamalkan. Sulit! Apalagi jika seseorang telah mendzalimi dirimu sampai terasa hilang harga dirimu, walaupun bukan fisik yang disakiti, tapi hati yang luka sulit untuk diobati.

Terlepas dari fakta bahwa setiap manusia pernah salah, termasuk diri ini, namun kenyataan bahwa seseorang merasa boleh berlaku sekehendaknya terhadap diri kita adalah hal yang sulit untuk diterima.Inginnya kita berdo'a kepada Allah supaya menghukumnya. Inginnya dia merasakan sakit yang sama dengan yang kita rasakan.

image dari sini

Aku yakin sering mendengar seseorang bergumam sambil mengurut dada, "biar Tuhan yang membalas.."

Ya... Memang Allah Maha Adil... Dan ya memang setiap perbuatan ada balasannya...

Tapi... Mampukah seseorang yang telah disakiti, kemudian ia memaafkan sepenuh hati, dan bahkan mendo'akan orang yang telah menyakitinya?

Awalnya, itu mustahil bagiku. Tapi alhamdulillah, setelah melalui proses yang cukup panjang, pergulatan batin yang cukup lama... Aku akhirnya bisa memaafkan, dan bahkan kini aku pun mendo'akan dia, semoga dia dan keluarganya mendapat kehidupan ke depan yang jauh lebih baik daripada kehidupan sebelumnya.

Jujur saja, aku bangga dengan diriku sendiri. Bukan aku sombong. Bukaaan. Tapi aku merasa spesial.. Aku sangat bersyukur... Karena Allah masih memberikan pikiran yang waras kepadaku, serta hati yang lapang. Aku bisa seperti ini karena aku tidak sendirian, teman. Allah menurunkan bala bantuan-Nya, berupa orangtua sholeh/sholeha dan saudara serta sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengingatkan aku kepada-Nya. Alhamdulillah....

Ujian hidup ini jauh melampaui sulitnya ujian universitas manapun. Buku referensinya tidak bisa dicari di perpustakaan. Kita hanya bisa mencari jawaban, dengan satu keyakinan yang amat sangat kepada Allah SWT. Yakin!

Yakinlah apapun rencana-Nya... Dia Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya... Allah tidak mungkin mendzolimi hamba-Nya...

Tidak usah dibahas lagi yang telah lalu...
Tidak usah dibicarakan lagi kepada orang lain...
Tidak usah diungkit-ungkit...
Dan terlebih... Tidak usah menyalahkan orang lain...
Lebih baik introspeksi saja, dan tata kehidupan ke depan supaya lebih baik...

Aku bangga... Inilah pencapaian tertinggi dalam hidupku sampai detik ini... Tapi aku juga yakin, bahwa maaf dan do'a yang kuberikan untuk dia yang pernah menyakitiku, adalah hal terbaik yang pernah kuberikan untuk orang lain...

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi sahabat, untuk lebih mudah memaafkan... Amin Ya Rabbal'alamin..

* * *



Tuesday, October 30, 2012

ESQ Mission Statement & Character Building

Alhamdulillah, Sabtu & Minggu kemarin, aku berkesempatan mengikuti training ESQ tahap II, yaitu Mission Statement & Character Building.

Aku yakin, banyak yang pro dan banyak pula yang kontra mengenai ESQ 165, tapi mari kita kesampingkan dulu semua perbedaan, karena semua orang punya tujuan yang sama.. Yuk, kita hargai perbedaan pendapat, dan biarlah aku mencatat ini sebagai pengingat minimal bagi diriku sendiri.

Pelatihan ESQ ini terdiri dari beberapa tahap. Aku sendiri kemarin baru menyelesaikan tahap kedua, sedangkan tahap pertama yang basic aku ikut sekitar tahun 2009.. :-D

Sebagai pendahuluan, bagi yang mungkin belum mengetahui.. ESQ 165 adalah sebuah pelatihan, yang mengedepankan keseimbangan antara sisi intelektual, sisi emosional dan sisi spiritual seseorang. Sebab secara prinsip, untuk menjadi pribadi yang berhasil dunia akhirat, seorang manusia harus dalam keadaan seimbang antara IQ, EQ dan SQ. Sedangkan angka 165, berarti 1 hati, 6 prinsip, dan 5 langkah, yang secara nyata berarti Rukun Ikhsan, Iman dan Islam.


ESQ Model

Bagi aku pribadi, pelatihan ESQ membuat aku kembali fokus kepada visi dan misi hidupku. Buat apa aku hidup? Mau dibawa kemana hidup ini? Untuk tujuan apa? Dan bagaimana menjalani hidup supaya tercapai visi dan misi hidup tersebut.

Pada intinya, semua manusia (seharusnya) punya visi dan misi yang SAMA. Visi kita adalah untuk masuk surga, dan misi kita adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Sebuah visi yang jauuuuh ke depan, cita-cita di akhir perjalanan, sehingga dari sekarang pun kita harus mengerahkan segala upaya demi tercapainya visi atau cita-cita tersebut.

Mungkin bagi sebagian orang, cita-cita masuk surga adalah urusan nanti. Sekarang ya sekarang. Tapi, coba kita pikir lagi.

Apa cita-citamu?

Bagi anak-anak mungkin banyak jawabannya, ada yang mau jadi dokter, jadi pilot, jadi arsitek, atau apa pun yang menurut mereka, keren gitu loooh.

Kemudian tidak lama kita beranjak remaja dan cita-cita itu mulai berubah.

Lalu kita pun beranjak dewasa. Sebagian ada yang tercapai cita-citanya. Sebagian tidak.

Bagi yang sudah tercapai cita-citanya, sukses di pekerjaan, sukses di keluarga, punya uang banyak, lalu...

Mau apa lagi? Mau kemana lagi?

Bagi yang tidak tercapai cita-citanya, lalu...

Harus bagaimana lagi?

Aku yakin sebenarnya yang didamba oleh semua manusia adalah untuk beroleh kebahagiaan. Mungkin caranya dengan punya pekerjaan mapan? Atau uang yang banyak?  Kesehatan yang prima? Keluarga yang utuh?

Banyak orang bijak menasihati, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Lihat si Fulan, uang banyak tapi sakit-sakitan. Lihatlah si  Fulanah, kerjaan mapan tapi cerai dan keluarganya berantakan.

Berarti.. Apakah kebahagiaan itu tidak bisa dimiliki oleh mereka yang sakit? Mereka yang tidak punya pekerjaan tetap? Mereka yang mengalami perceraian seperti diriku?

Ternyata aku bisa bahagia juga, kawan.. Semua orang memandang aku dengan tatapan kasihan. Aku pun dulu merasa merana. Merasa atap langit akan runtuh di atas kepalaku. Tapi ternyata nggak juga tuh... :-D

Mari kita renungi tujuan hidup kita lagi... Jika kita punya visi jauuuuh ke depan, tercapai atau tidak cita-cita kita di dunia ini, bukan lagi sebuah masalah. Yang ada, kita menjalani hidup yang sudah digariskan Allah dengan penuh keikhlasan dan itu akan membawa kebahagiaan.

Apa ikhlas berarti kita statis tanpa inisiatif? Justru sebaliknya...

Bukankah... Ikhlas berarti percaya penuh kepada Allah yang Maha Kuasa? Ikhlas juga berarti kita mengabdi total kepada Allah? Ikhlas berarti kita harus berusaha supaya kita dijauhkan dari siksa kubur dan siksa api neraka? (Allahumma amin).

Lalu bagaimana caranyaaa...? Ternyata resepnya sederhana saja, teman...

Bekerjalah dengan giat, sepenuh hati dengan diniatkan semua untuk Allah SWT.

Sederhana, tapi tidak mudah.

Aku ingin cerita sebuah kisah pendek. Ada seorang laki-laki biasa, ia adalah seorang yang tawadu, ikhlas menjalani kehidupan, dan meniatkan semua untuk Allah SWT. Apakah hidup laki-laki ini statis? Hanya karena dia ikhlas? Ternyata tidak. Ia tetap mempunyai visi dan misi yang mulia. Ia memiliki cita-cita ingin memperbaiki sistem di suatu organisasi terbesar di negeri ini, semuanya demi Allah SWT. Niat ikhlas karena Allah. Dan walaupun manusia dari segala arah berusaha menjegal langkahnya, tapi siapa yang bisa menghalangi kalau Allah sudah memberikan jalan? Dan ketika Allah menyampaikan ia di posisi itu, tidak ada kesombongan dalam hatinya, karena ia hanya melakukan tugasnya untuk Allah SWT.

Dari luar, ia dipandang sebagai seorang pejabat. Tapi di hatinya, ia hanyalah seorang hamba Allah, yang kewajibannya untuk mengabdi padaNya. Tak ada bedanya dengan hati seorang pemulung, yang juga menjalani hidupnya dengan ikhlas untuk menjaga kebersihan karena Allah SWT. Tidak ada bedanya juga dengan seorang ibu rumah tangga yang ikhlas menjalani tugasnya karena Allah SWT, setiap potongan bawang pun bisa menjadi pahala baginya.


Anyway, kembali ke topik...

Lalu, apa itu Mission Statement?

Aku yakin para sahabat disini sering melihat orang-orang hebat, tapi dalam keadaan fisik yang tidak lengkap, misalnya? Apa yang menyebabkan mereka dapat begitu hebatnya dengan segala kekurangannya?

Motivasi? Tapi darimana motivasi itu berasal? Apakah motivasi lahir dari cita-cita dan harapan? Untuk mencapai cita-cita tentu membutuhkan keyakinan diri, bukan? Tapi, darimana keyakinan itu berasal?

Ternyata kita umat Islam punya sumber motivasi yang lebih hebat dari sumber motivasi apapun itu. Sebuah janji kita kepada Tuhan, bahwa apapun akan kita lakukan demi Tuhan. Kita mengucapkan keyakinan itu setidaknya lima waktu dalam sehari, kawan. Iyaa... Syahadat! Mungkin terlalu sering kita sembari syahadat dalam sholat, pikiran kita memikirkan nanti anak mau dikasih makan apa ya? (Ini jujur pengalaman pribadi, hehehe..).

Apakah itu sebabnya selama ini aku sering galau, mungkin? Karena sumber keyakinan terhebat itu tidak aku yakini sepenuhnya? Mudah-mudahan ke depan, walaupun pikiran ini sulit sekali diam di tempat saat sholat, tapi minimal berusaha keras agar dia tidak kabur kemana-mana. Blas! Yang 4 roka'at, kenapa bisa jadi 5? Yang pernah mengalami ini, coba ngacung! :-D

Ternyata kalau kita meyakini dan meresapi arti dari dua kalimat syahadat, tentu akan berdampak luar biasa bagi motivasi diri ya, teman? Semoga selamanya kita semua akan istiqomah dengan keyakinan ini. Amin.

Kemudian, apa itu Character Building?

Pembentukan karakter? Bagaimana kita bisa mengabdi kepada Allah SWT kalau kita tidak berkarakter?

Jujur saja, aku dulu mudah emosi. Terkadang angkuh. Kurang peduli kepada sesama. Mengapa aku seperti ini?

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut: 45).

Berarti.. Ada yang salah dengan sholatku?!
Mungkin aku terlalu terburu-buru sehingga menjadikan aku orang yang tidak sabar...
Mungkin aku tidak sepenuh hati memaknai sujudku sehingga menjadikanku orang yang angkuh...
Mungkin aku juga tidak memahami arti salamku sehingga menjadikanku orang yang tidak peduli...

Oh, subhanallah... Ternyata sholat itu sungguh hebat maknanya. Dimulai dari membiasakan diri untuk bersih dengan wudhu, disiplin dengan waktu, senantiasa membersihkan hati dengan selalu mengingat-Nya dan belum lagi segudang manfaat kesehatan yang didapat dari rangkaian gerakan sholat.

“ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat.” (Adz-Dzariat: 56-58).

Jadi terbukti ya secara logika, sholat memang merupakan suatu pendidikan karakter bagi manusia, dan kita melakukannya lima kali sehari bahkan bisa lebih... Subhanallah.. Sekali lagi, semoga kita semua bisa istiqomah dan menjalani sholat dengan sepenuh hati. Amin ya Rabb..

Ah ya...

Tulisanku ini juga kupersembahkan untuk teman-teman seangkatan ESQ MCB kemarin.. Dimana lagi kita bisa berada satu ruangan, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dengan para petinggi dari Polri? Hehehe... Untuk semua sahabat baruku dari berbagai profesi, bahagia sekali rasanya bisa berkenalan dengan sahabat semua... Semoga jalinan persahabatan ini bisa langgeng ya... Semoga bisa kumpul2 dan ketemu lagi... :-)

Sebagian alumni ESQ MCB 034 (akhwat). Until we meet again.. *salam semut*

Begitu banyak pelajaran yang kudapat... Dari kisah Wali Songo... Dari kisah Muhammad Ali... Dari kisah Muhammad Al Fatih... Mereka semua pengukir sejarah dengan kehebatannya, dan mereka melakukan itu semua untuk Allah... :-D


Semoga tulisanku ini bisa dipahami. Setidaknya sebagai pengingat untuk diri sendiri...

Thursday, October 25, 2012

Street Boys

Anak jalanan...

Aku yakin tidak satu pun manusia terlahir di dunia ini yang pernah membayangkan menjadi anak jalanan. Tapi siapa bisa mengelak takdir?  Bagaimana cara pandang kita terhadap anak-anak jalanan?

Bukan sembarang anak jalanan yang hanya mengamen atau bermain lakon menjadi anak disabled atau pesakitan. Tapi anak-anak jalanan pengedar narkoba, pemilik senjata api, dan perampok. Pasti kita akan takut pada mereka. Mereka kita cap penjahat. Tapi bagaimana kisah hidup mereka sebenarnya? Buku ini adalah kisah nyata. Bercerita mengenai 7 orang anak jalanan yang tergabung dalam sebuah geng yang paling ditakuti di Angel Town, London.



JaJa, Phat Si, Bloods, Inch, Birdie, Ribz, dan Tempman.. Adalah 7 anak jalanan yang tergabung dalam geng PDC (Peel Dem Crew - yang berarti merampok dengan melucuti habis sang korban). Masing-masing dengan latar belakang berbeda, takdir mempertemukan mereka di Angel Town, sebuah komunitas hunian kulit hitam di kota London.

JaJa adalah satu tokoh yang menjadi panutan teman-temannya, mungkin bisa dibilang dialah ketua geng. Mereka semua memiliki kisah hidup yang berbeda, tapi semua memiliki benang merah yang hampir sama. Perpisahan orangtua, broken home. Ibu JaJa, Sharon mengalami KDRT sehingga ia memutuskan pergi dari kediamannya yang "nyaman" di Bermingham, dan pindah ke sebuah flat kumuh di Angel Town. Dengan 4 orang anak dalam tanggungannya, sebagai single parent ia harus bekerja keras demi anak-anaknya. JaJa adalah anak tertua Sharon. Selama Sharon bekerja, JaJa tumbuh di lingkungan yang jauh dari kondisi ideal. Transaksi para pengedar narkoba, penembakan antar geng yang berselisih, serta perampokan, adalah tontonan yang ia saksikan sehari-hari dari balkon rumahnya.

Anak-anak anggota geng lainnya bahkan ada yang memiliki kehidupan yang lebih buruk. Ditinggal oleh ibunya, ditinggal pula oleh ayahnya. Seperti Phat Si. Kisah Ribz lain lagi, ia memiliki ayah yang punya anak dimana-mana sampai-sampai ia sangat takut mengencani seorang gadis karena khawatir gadis itu adalah adiknya, sedangkan ibunya adalah pengedar sekaligus pengguna narkoba, sehingga ibunya sering didapati teler di suatu sudut kota, atau sering juga di penjara. Kehidupan yang sangat mengenaskan, apalagi mereka mengalami hal seperti ini di usia yang sangat muda, sekitar 7 - 8 tahun. Sehingga belumlah usia 17 tahun, mereka sudah keluar masuk penjara. Mereka pun menangis di penjara, meratapi nasib dan mental mereka yang hampir gila.

Bagaimana jadinya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu? Sudahlah menyakitkan menghadapi perpisahan orangtuanya, kehidupan jalanan yang keras pun menjadi pendidik bagi mereka. Apa jadinya kita bila berada di posisi mereka? Tanpa bimbingan orangtua dan agama, mungkin kita pun bisa menjadi pengedar narkoba dan menjadi seorang pembunuh. Yang penting bisa punya uang, untuk bertahan hidup. Na'udzubillah.

Di buku ini JaJa dan teman-temannya menuturkan jeritan hati mereka yang meminta pertolongan dan dukungan untuk mereka, anak-anak jalanan. Anak-anak yang selama ini diabaikan oleh dunia. JaJa, selama dalam masa penahanan, tetap berfikir positif ke depan, sehingga ia pun dapat mempengaruhi teman-temannya untuk tetap semangat. JaJa akhirnya menemukan jalannya kembali saat ia keluar dari penjara bertahun kemudian, dan membangun karirnya di bidang musik, begitupun dengan sebagian teman-temannya.

Membaca buku ini, aku dapat memetik pelajaran, bahwa seberat apapun hidup ini, sesibuk apapun kita, kita tidak boleh lupa, bahwa anak membutuhkan arahan dan bimbingan kita orangtuanya. Jika ada keluarga yang tidak lengkap lagi, setidaknya satu orangtua harus bertanggung jawab, terhadap masa depan si anak. Semua juga tau bahwa anak adalah amanah, yang harus dipertanggung jawabkan saat kita mati nanti. Bukan hanya tanggung jawab finansial, tapi juga mental spiritual.

Coba kita berkaca, pernahkah kita tertimpa suatu masalah yang membuat kita begitu terpuruknya sehingga menyebabkan kita lupa akan tanggung jawab yang ada di depan mata? Jujur, aku pernah... Dan yang menyadarkan aku bukan hanya buku ini saja, tapi kalau hati kita menjerit kepada Allah minta tuntunan, insya Allah dikabulkan... Walaupun lama diri ini menyadari... Tapi akhirnya lapang juga hati ini akan terasa...

Buku dengan 456 halaman yang ditulis oleh Tim Pritchard ini aku beli saat diskon besar-besaran di sebuah toko buku ternama... *manfaatin diskon yak* Hihihi... :-D

Buku ini juga bermanfaat untuk siapa saja yang sudah menjadi orangtua, atau akan menjadi orangtua. Mengingatkan kita kembali ke tujuan semula kita menjadi orangtua. Jadi... Bismillah, jangan sampai kita salah langkah. Allahumma amin... :-)

Monday, October 22, 2012

Posting Pertama di Blog Baru

Salaaaam....

Duuuh kangennya bertegur sapa dengan teman-teman semua...

Apa kabar?

Akhirnya kuniatkan juga membuat blog baru...

Iyaaaa... Si Tia ganti alamat blog lagiii... Hehehe... :-P

Hmmm... Mau tulis apa ya?

Kabar kami terbaru saja deh... *masih belum tuning nih*

Alhamdulillaaahhh... Jika teman-teman pernah baca blog TheGreenPensieve dulu, tentu tau bagaimana kondisi Vania di sekolah... Tapi 4 bulan sekolah di TK/ KB Komimo (menurut laporan gurunya), Vania mengalami perubahan yang cukup drastis... Vania mulai banyak bercerita di sekolah (padahal sebelumnya ia diam seribu bahasa), dan mulai aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah... Pendekatan yang guru-guru lakukan disana terhadap anak-anak cukup baik... Alhamdulillah...

Memang benar, tidak ada yang statis di dunia ini... Kalau kita mau memohon kepada Yang Kuasa, tentu Allah akan memberi jalan...

Mungkin di antara sahabat ada juga yang pernah baca blog Vania, pernah kucerita disana bagaimana kecewanya aku mendapati raport bahasa Inggris Vania dan huruf "D" terukir indah disana. Anak-anak playgroup itu belum juga 4 tahun usianya, tapi sudah dinilai sedemikian rupa.

Baru saja kemarin aku terima raport mid-semester Vania... Disana tidak ada penilaian dengan angka ataupun huruf, atau apalah istilahnya... Hanya tertera singkatan BM (belum muncul), MM (mulai muncul), dan SM (sudah muncul), di setiap aspek perkembangan fisik psikis anak. Cukup komprehensif penilaiannya... Menurut guru-guru disana, tidak ada anak yang tidak bisa. Semua anak pasti bisa, dan semua anak pasti pintar, hanya saja waktu "muncul"nya kemampuan ini dan itu variatif tentunya.

Digabungkan dengan penilaian aku terhadap kemajuan Vania, bisa dibilang aku acungkan jempol lah untuk sekolah yang berada dibawah yayasan Mentari Indonesia asuhan Kak Seto ini... :-)

Sedangkan kabar aku sendiri, alhamdulillah sudah ikhlas menerima apapun itu yang menjadi takdir... Aku yakin Allah sudah punya skenario sendiri buat hidupku... Tidak ada jalan hidup satu orang manusia pun di dunia ini yang sama... Karena Allah Maha Kaya...

Aku sekarang hanya sedang berusaha untuk kuat, baik secara fisik, mental spiritual, dan juga finansial, untuk membesarkan anak sendiri, menjadi single parent...

Mohon do'anya... Do'aku juga untuk sahabat semua... *hug*

Wednesday, October 17, 2012

Tentang Saya

Salam kenal, sahabat... :-)

Panggil saya Thia..

Saya adalah seorang perempuan biasa yang lahir ke dunia ini di tahun 1980, seorang single parent dan sedang berusaha untuk menjadi seorang bunda yang luar biasa untuk putri saya, Vania Anandita, yang alhamdulillah Allah titipkan kepada saya pada suatu hari di bulan Mei 2008. :-)

Tahun lahir, bagi saya pribadi, perlu untuk diinformasikan dalam sebuah perkenalan.. Karena menurut saya, hal ini menentukan akan bagaimana saya bersikap dan bagaimana saya memanggil orang yang baru saya kenal tersebut... ^_^

Saya adalah anak kolong, yang pertama dari 3 bersaudara (Papa adalah seorang pensiunan TNI AL). Perpaduan antara JawaTimur dan Sulawesi Utara, yang alhamdulillah diberi Allah kesempatan mengecap pendidikan S1 di FKG UI Jakarta angkatan 1998.

Saya ingin menggunakan blog ini sebagai catatan pribadi saya, yang merekam apapun kegiatan saya & keluarga, yang juga merekam cara berfikir saya serta proses perubahan yang menyertainya dari waktu ke waktu, insya Allah... Tentu saja, semua tulisan disini beserta beragam komentar dari sahabat yang masuk, saya persembahkan untuk sang penerus mimpi.. Gadis kecil saya... ^_^

Saya juga berharap bisa menggunakan blog sebagai media berbagi tentang apa saja dengan sahabat... Dan saya yakin, ilmu atau pengalaman, sekecil apapun itu jika dishare, semoga bisa bermanfaat, insya Allah...

Kontak saya: lyliana.thia@gmail.com


Regards,
Lyliana Thia