Saturday, November 16, 2019

Menulis Dari Hati

Bismillah...

Apa kabar, sahabat?

MasyaAllah rindunya saya menulis disini, dan bertukar kabar dengan sahabat semua. This blog is like my talking diary..

Saya percaya menulis adalah salah satu kegiatan yang berdampak positif bagi jiwa. Kegiatan menulis dapat menjadi cara bagi seseorang untuk mengelola stress. Dengan mengekspresikan perasaan dan pikiran melalui tulisan, dapat menurunkan tingkat kecemasan dan risiko depresi yang mungkin dialami oleh seseorang.

Stress atau tekanan dalam kehidupan sehari-hari pastinya tidak dapat dihindari. Stress dapat berdampak positif maupun negatif. Karena adanya stress, manusia akhirnya bergerak maju untuk terus bertahan hidup. Bandingkan jika tidak ada stress dalam hidup, mungkin kita akan kehilangan dorongan atau motivasi untuk selalu melakukan hal-hal positif.

Hanya saja, kunci dalam menghadapi stress adalah pengelolaan yang baik.

Saya menulis hari ini, di saat saya merasa banyak tekanan, hahahaha....

Source

Tapi saya yakin, beban pekerjaan yang Allah berikan kepada seseorang sudah Allah ukur, sesuai dengan kemampuan kita.

Saya ingin bercerita, betapa bersyukurnya saya sudah Allah berikan kesempatan merasakan berbagai pengalaman dalam hidup. Setelah lulus kuliah S2 2 tahun yang lalu, selain praktik dokter gigi, saya berusaha mencari tempat dimana saya dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah Allah beri kepada saya, untuk kepentingan banyak orang. Memanfaatkan kenalan adalah wajar, tapi ternyata Allah tidak menghendaki saya mendapat pekerjaan dengan mengandalkan manusia lain. Maka berbagai jalan itu tertutup bagi saya. Dan jalan yang terbuka bagi saya datang dari arah yang tidak saya perkirakan, dalam artian, bukan dari kenalan saya. Saya tidak kenal satupun orang di institusi ini sebelum saya bergabung dengan mereka. Alhamdulillah.

Pekerjaan ini sebenarnya, sangat saya hindari. Setiap ada lowongan pekerjaan ini, selalu saya skip. Saya pada dasarnya orang yang kurang percaya diri. Tidak merasa punya ilmu, oleh karena itu saya menganggap saya tidak akan pernah bisa berbagi ilmu. Tapi akhirnya saya coba juga, dan ternyata saya mencintai pekerjaan saya! Alhamdulillah :')

Sudah sekitar 1,5 tahun saya bergabung dengan institusi ini. Rencana ke depan, apakah saya tetap disini atau Allah sudah rencanakan hal lain bagi saya, saya serahkan kepadaNya.

Tapi, sementara ini saya sangat bersyukur dengan keadaan yang Allah beri. Bertemu dan saling bertukar cerita dengan mahasiswa adalah hal yang menyenangkan buat saya. Walaupun saat ini kami sedang menghadapi hal besar yaitu akreditasi perguruan tinggi, namun insyaAllah selalu ada cara untuk meredakan tekanan yang ada di pikiran dan perasaaan saya. Seperti menulis di blog ini salah satunya. ^_^

Ngerujak dan makan siang bareng ^_^

Do'a saya semoga sahabat semua disini memiliki pekerjaan yang dicintai, sehingga kita bisa bekerja dengan hati bahagia (walaupun banyak tekanan, hahahaa!).

Aamiin ya Rabb.

IMDS

Bagi sahabat yang kebetulan sedang berada atau tinggal di sekitar Cikarang, Bekasi. Silahkan mampir ke Institut Medika Drg. Suherman, yang satu lokasi dengan RS Sentra Medika Cikarang. Satu lokasi, karena memang satu grup. InsyaAllah nanti kita bisa kopdar sambil ngebakso, hahaha!

Info: hari Senin tanggal 18 November 2019, insyaAllah diadakan kegiatan donor darah. Jika ada sahabat yang kebetulan satu lokasi, silahkan bergabung. Donor darah akan berdampak baik bagi kesehatan, jika memang sahabat memenuhi syarat sebagai pendonor. ;-)

Baiklah... Semoga hari ini menjadi hari yang baik untuk sahabat semua. Happy weekend!

Friday, May 18, 2018

Kursi Roda Untuk Alvino

Bismillah...

Akhirnya saya menulis lagi disini. Semoga sahabat blogger semua dalam lindungan Allah SWT.

Adalah Alvino, yang membuat diri ini akhirnya memutuskan menulis lagi.

Suatu hari, teman saya drg spesialis kedokteran gigi anak yang dinas di salah satu RS rujukan nasional di Jakarta, menghubungi saya supaya kita bersama-sama menggalang dana untuk salah seorang pasiennya. Teman saya tergerak hatinya untuk membantu pasien ini, Alvino namanya.

Alvino adalah seorang anak dengan kelumpuhan otak (Cerebral Palsy). Dikarenakan tidak bisa membersihkan gigi dengan baik, dia mengalami kerusakan gigi yang cukup memprihatinkan. Di poli gigi itulah awal perkenalan teman saya dan Ibu Alvino.

Alvino dengan segala keterbatasannya, harus digendong ibunda kemana-mana. Termasuk saat berobat ke RS yang lokasinya di Jakarta Pusat, padahal rumahnya di Bogor. Ibu Alvino dan Alvino menggunakan transportasi KRL dan bajaj. Jika setiap hari harus bolak balik ke rumah sakit, ibu Alvino stay di rumah singgah sekitar RS tersebut.

Ibu Alvino curhat ke teman saya tentang kondisinya, dimana Alvino semakin hari semakin berat. Tahun ini Alvino insyaAllah 8 tahun usianya. Beratnya 24 kg. Masih digendong ibunda dengan gendongan bayi. :-) Ibu Alvino bercerita dia naksir kursi roda yang dijual di apotek RS tersebut, sehingga dia bisa terbantu saat harus membawa Alvino kemana-mana. Tapi harganya mahal, 1,5 juta rupiah.  Ibu Alvino berdo'a, siapa tahu suatu saat Allah membantu dan ada orang berbaik hati membelikan kursi roda untuk Alvino.

Kami bersama-sama mencoba menggalang dana di kalangan kami sendiri, para alumni teman kuliah satu angkatan. Alhamdullah kurang dari 1 minggu, terkumpul dana sebesar 3,2 juta rupiah. Terharu saya. MasyaAllah. Ini rezeki Alvino. Alhamdulillah, Kamis kemarin (Ramadhan hari ke-1), ibu Alvino dan Alvino ke RS untuk ambil hasil CT Scan, sehingga kami bisa bertemu disana.


Ibu Alvino langsung membeli kursi roda di apotek 24 jam RS. Sesuai dengan yang ia ingini. Hijau warnanya. Tidak berat, mudah dilipat, dan mudah dibawa-bawa terutama untuk bepergian dengan KRL. Segala puji bagi Allah, alhamdulillah.

Sisanya sebanyak 1,7 juta rupiah, kami serahkan ke ibunda Alvino. Alvino masih butuh pampers, padahal sudah besar. Alvino butuh size 3XL, padahal yang banyak di pasaran adalah maksimal 2XL. Alvino butuh susu Pediasure, sesuai kebutuhan gizinya, padahal harganya mahal, sehingga ia hanya minum D*ncow sesuai kemampuan ibunya, yang adalah seorang buruh cuci.


Avino bahagiaaaa.... Ibunya juga bahagiaaa.... Sampai gemetar dan ia ingin berurai air mata haru. MasyaAllah. Alhamdulillah, Allah memberi kami kesempatan untuk mengantar Alvino sampai ke stasiun. Belum bisa kami antar sampai rumahnya di Bogor karena satu dan lain hal. Sepanjang jalan, ibu Alvino bersedia bercerita kepada kami tentang keadaan keluarganya.

Ayah Alvino sudah pergi meninggalkan mereka. Orangtua ibu Alvino sudah tua renta. Bersyukur ibu Alvino masih punya kakak laki-laki, yang sangat baik hati. Walau hanya bawa ojek, tapi sering teringat kepada keponakannya Alvino, sehingga ia sering mampir membawakan pampers dan susu.

Dan, saya tak kuasa menahan air mata saat ibu Alvino bilang...

"Kakak saya bilang ke saya, biar abang suka kasih-kasih buat Vino, tapi rezeki abang nggak pernah kurang. Malah berkali-kali lipat..."

MasyaAllah, janjiMu pasti ya Allah... :')

Dan merinding saya, saat ibu Alvino bercerita...

"Saya pernah nggak punya uang sama sekali, padahal Vino harus diterapi hari itu. Akhirnya saya mau pulang. Eh udah di statiun, ada ibu-ibu colek saya dari belakang. Tiba-tiba kasih amplop isinya 500 ribu rupiah. Saya langsung balik lagi ke RS buat lanjutin terapi Vino. Saya nggak tau ibu tadi manusia apa malaikat..."

:') :') :')


Ibu Alvino adalah seorang wanita yang kuat luar biasa. Belum tentu diri ini kuat menghadapi ujian seberat dirinya. Semoga Allah selalu melindunginya dan keluarganya semua.

Sahabat, jika suatu saat sahabat sekalian berkesempatan ke stasiun Manggarai atau Cikini dan bertemu dengan Alvino,sahabat sudah tau ceritanya dari blog ini. Jika tergerak hati, jangan ragu untuk berkenalan dengan Alvino. Ibu Alvino orangnya sangat ramah.

Do'a terbaik saya untuk sahabat semua. :-)

Thursday, April 20, 2017

Jogja Trip Bersama Vania

Bulan April ini sebagian teman-teman saya seangkatan menghadiri pelantikan mereka di Jogja. Saya jadi teringat, ingin merekam cerita jalan-jalan ke Jogja bulan Januari lalu.

Jogja... Saya selalu merindukan kota ini... :)

Saya dan keluarga tiba disana dua hari sebelum hari H. Niatnya, supaya bisa jalan-jalan. Vania juga saya ijinkan dari sekolah seminggu lamanya. Bablas. Hahaha....

Berangkat ke Jogja adalah saya, Vania, Nanu (sepupu Vania yang akan menyusul ceritanya disini), serta kedua orangtua saya. Nanu yang baru berusia 1,5 tahun tentu saja membawa kehebohan tersendiri. Apalagi, Nanu traveling tanpa kedua orangtuanya karena tugas dan sekolah di luar kota. Akhirnya saya dan Opa yang bergantian menggendong Nanu.